
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
Hari berganti hari aku lalui dengan terpaksa dan memaksakan diri. Sebab aku masih harus menyelesaikan kuliahku saat ini. Beberapa bekas luka dan cakaran pada wajah dan tubuhku juga sudah berangsur membaik. Bahkan ada beberapa yang sudah menghilang tanpa meninggalkan bekas.
Lalu untuk beberapa barang pemberian dari Dave, sebagian masih aku gunakan seperti biasanya. Seperti tas, beberapa pakaian dan juga mobil sebagai fasilitas untuk aku kuliah. Bukannya tidak tahu malu, hanya saja awalnya aku merasa wajar menggunakan semuanya, tapi lama kelamaan aku menjadi risih sendiri.
Belum lagi tentang pendidikanku, tidak ada yang tahu jika kuliah beasiswaku di awal pindah ke sini telah dicabut beberapa tahun yang lalu. Di saat aku lebih memilih bekerja mencari uang daripada menempuh pendidikan.
Tetapi semenjak bersama Dave, dia menyuruhku untuk berhenti bekerja dan sebagai gantinya dia sudah membayarkan uang kuliahku hingga kelulusan nanti, jadi aku bisa sedikit tenang saat ini. Setidaknya aku tidak perlu berhenti kuliah lagi karena pusing akan membayar dengan cara apa.
Perlahan aku mulai kembali mencoba mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan untuk kartu debit dan kartu kredit yang Dave berikan, sebenarnya masih ada di dalam dompetku, hanya saja tidak lagi aku gunakan. Aku tidak ingin menggunakan uangnya untuk kebutuhanku sehari-hari. Dan sebenarnya, dia juga tidak pernah meminta barangnya untuk dikembalikan sampai detik ini.
Hingga tidak terasa waktu terus berlalu. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu dan beberapa bulan berlalu. Dave tidak pernah lagi datang mengunjungiku. Bahkan untuk menghubungiku pun juga tidak lagi. Aku juga tidak pernah mencoba untuk menemuinya, hingga tidak pernah lagi aku mendengar kabarnya.
Sepanjang kelas yang aku ikuti dari pagi hari, otakku tidak bisa berkonsentrasi. Tiba-tiba saja selalu teringat dengan Dave. Apalagi saat melihat beberapa dosen lelaki yang mengenakan setelan rapi, lengkap dengan jas ataupun tuksedo, selalu membuatku teringat dengannya. Hingga berkali-kali aku kedapatan melamun di dalam kelas. Sungguh memalukan!
Hingga akhirnya kelas berakhir pada siang hari. Dengan santai aku melangkah keluar dari kelas setelah selesai memasukkan beberapa buku ke dalam tas.
“Lisa!!!” Teriak seseorang yang aku hafal betul siapa pemilik suara ini. Dan dia adalah Julia. Dia berlari menghampiriku.
“Malam ini Cila ngadain party di rumahnya, lu mau ikutan gak?” ajak Julia.
Seperti kataku yang sudah-sudah, untuk urusan party, Julia selalu tidak pernah absen. Dia selalu ada di setiap acara yang di adakan oleh teman-teman di kampus ini.
“Enggak dulu ya? Hari ini aku lagi kurang bersemangat. Maunya cepet-cepet pulang aja trus tiduran,” usahaku untuk menolahnya.
“Nice try! Ya udahlah kalo gitu. Aku mau ke salom dulu. Bye!” pamitnya seraya memasuki mobilnya yang terparkir tepat di samping mobilku.
Dengan senyuman yang tersimpul manis di kedua sudut bibir ini, aku melambaikan tanganku sambil mengiringi kepergiannya begitu saja. Aku tatapi bagian belakang mobilnya hingga menghilang saat di persimpangan gerbang kampus.
Tiba-tiba saja aku terpikir untuk melewati apartemen Dave saat ini. Hanya melewati, tidak untuk mengunjunginya. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia masih ada dan tidak hilang ditelan bumi. Itu saja.
Sebab sejak terakhir aku menolak lamarannya dan bertengkar hebat, dia tidak pernah terdengar lagi. Seperti pemikiranku yang sudah-sudah, dia menghilang begitu saja.
Dengan kecepatan sedang aku melintasi jalanan di depan gedung apartemen itu. Sebuah tempat yang beberapa bulan lalu masih sering aku kunjungi dan juga menjadi tempat terakhir yang menimbulkan luka di hati ini. Di depan gedung itu masih seperti yang dulu dan tidak ada satu pun sosok seseorang di sana yang mirip dengan Dave.
Aku memutar arah, mencoba sekali lagi melintasi bangunan tinggi tersebut. Dan begitu aku hendak kembali melintas, dari kejauhan terlihat sebuah mobil yang keluar dari lintasan parkir di pinggir jalan. Dengan cepat aku menginjak pedal gas mobil menuju ke tempat itu lalu memarkirkan mobil ini.
Dari seberang, aku memandangi gedung itu. Tampak sepi dan mungkin Dave sedang tidak ada di kamar apartemennya, karena ini masih termasuk jam kerja. Aku menarik napas dengan rakus lalu mengembuskan perlahan sambil menatap tinggi gedung itu.
Kemudian aku bertekat untuk mengembalikan semua benda yang pernah dia berikan untukku, begitu aku mendapatkan pekerjaan sampingan nantinya.
__ADS_1
Aku pikir, menikmati pendidikan yang dia berikan padaku itu sudah cukup. Aku harus kembali pada kehidupanku yang dulu agar aku bisa lebih mandiri lagi. Tidak tergantung pada dia ataupun pada siapa pun.
Dan dia ... mungkin dia harus kembali pada istrinya. Aku harap dengan usahaku untuk melupakannya, dia juga bisa melupakan aku. Melupakan wanita rendahan sepertiku yang tidak ada apa-apanya ini.
Tadinya aku berniat untuk menghubunginya, tetapi segera aku urungkan niat itu lalu aku segera masuk kembali ke dalam mobil dan melemparkan ponselku ke kursi di samping. Lebih baik aku pulang dan segera mencari pekerjaan. Agar tidak terlalu lama berlarut-larut dalam kondisi ini.
**
Dua jam lebih aku habiskan waktu dengan sia-sia untuk menulis surat lamaran kerja. Baru terpikir olehku, mengapa tidak aku ketik saja di laptop dan mengirimkan surat lamaran itu melalui email? Bukankah akan lebih mudah dan efisien dalam menghemat biaya untukku?
Akhir-akhir ini otakku sepertinya lebih lambat bergerak dari biasanya, entah karena apa aku menjadi lebih sering kehilangan fokus dalam melakukan sesuatu.
Kemudian aku mulai mencari beberapa lowongan pada situs pencari kerja di internet. Membuat draft-nya lalu mengirimkannya ke beberapa perusahaan kecil. Aku sengaja mencari lowongan di perusahaaan kecil yang memerlukan karyawan seumuranku, agar aku bisa bernegosiasi tentang jam kerja dan tidak mengganggu jam kuliahku. Hingga akhirnya ponselku berdering.
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
Segera aku berdiri dari tempat tidur untuk menghampiri ponselku yang sengaja aku letakkan di atas meja rias, lalu melihat ke layarnya untuk memeriksa siapa yang sedang menghubungiku saat ini. Dan ternyata telepon itu dari Tika. Aku tersenyum tipis melihat namanya yang tertera.
“Hallo?” sahutku lalu menghentikan kegiatanku.
“Lagi di mana lu?” seru Tika dari seberang sana. Lama tidak mendengar suaranya membuat hatiku sedikit merasa merindukannya.
“Di apartemenlah, di mana lagi kalau sudah sore begini?”
“Oalah, kirain lagi cemiwiw sama kekasih pujaan hati.” Tika tertawa terbahak-bahak sedangkan aku hanya tersenyum kecut.
Entah mengapa kali ini aku merasa dia sedang mengejekku. Menertawakan hidupku yang selalu saja tidak seberuntung dia. Tawanya terdengar sangat mengolok-olokku. Rasanya ingin sekali aku matikan sambungan telepon ini dan aku menyesal sudah menerima teleponnya kali ini.
“Gue lagi sibuk, kalau gak terlalu penting bisa lewat chat aja, Tik. Sorry!”
“Eh! Eh! Tunggu dulu dong! Gue 'kan gak tahu ini penting atau enggak buat elu. Yang jelas, gua wajib ngabarin.” Tika terdengar serius.
“Apaan?”
“Itu udah gue kirimin foto undangannya. Max nikah bulan depan. Trus kata mamah sama Reza, kamu bisa pulang kalau kamu mau. Dan Reza bakalan kirimin tiketnya,” cerocos Tika yang terus saja berbicara di seberang sana tanpa henti.
DEEEGGG!!!
__ADS_1
Jatungku langsung terasa berhenti berdecak untuk beberapa detik, saat mendengar Tika mengatakan bahwa Max akan menikah. Apa dengan wanita yang sering bersama Tika di Instaglem-nya itu?
“Lis ... Lisa?” panggil Tika di seberang sana.
“Ah, iya? om Reza belum ada ngomong apa-apa sama gue. Mungkin belum kali ya?” kilahku.
Memang pernah beberapa kali om-ku itu menanyakan, apa aku ingin liburan pulang ke Indonesia atau tetap di sini. Tetapi aku selalu menolaknya. Dan terakhir beliau menghubungiku sekitar satu minggu yang lalu. Itu pun hanya menanyakan kabarku dan mengirimiku uang saku.
Memang om Reza selalu mengirimkan 'jatah' bulanannya untukku, tetapi aku selalu merasa kurang untuk biaya keseharianku di sini. Apalagi jika nanti aku sudah mulai mengembalikan semua barang mahal pemberian dari Dave ini. Dan aku harus mulai mempersiapkan semua itu, 'kan?
“Mungkin Reza lupa. Tapi kemarin katanya bakalan kirimin kamu tiket buat hadirin acaranya Max. Ya sudah, aku mau mandi dulu. Bye!” tuturnya lalu memutuskan sambungan telepon ini.
Aku menghela napas, aku tidak bisa membohongi hati ini. Cinta pertama memang selalu yang termanis tapi belum tentu menjadi yang terakhir. Seberapa pun kuatnya aku menolak dan mencoba melupakan, di sudut terdalam hati ini akan selalu ada satu bagian kecil untuknya. Dan entah sampai kapan bagian kecil itu akan aku jaga.
Waktu kini sudah menjelang malam, langit di luar kamarku perlahan mulai meredup. Aku membalikkan diri bertelentang di atas tempat tidur, sambil menatap langit-langit kamar ini. Menikmati embusan angin yang silih berganti memasuki kamarku, melalui pintu balkon yang sengaja aku biarkan terbuka sejak awal.
Lalu tiba-tiba bayangan Dave kembali terlintas. Senyumannya, canda tawanya, bahkan raut wajahnya yang di saat sedang merajuk pun begitu membuatku gemas padanya. Tetapi, begitu kembali mengingat Dave, aku juga sekaligus mengingat kembali semua sikapnya yang membodohiku.
Wanita mana yang mau di bodohi?
Dan di saat aku merasakan sakit hati yang begitu dalam, dia malah semudah itu langsung melamarku. Dia benar-benar tidak bisa menempatkan situasi.
Aku bangkit dari tempat tidur lalu membuka sebuah laci yang berada tepat di samping tempat tidurku. Mengambil sebuah kotak lalu membawanya duduk bersama denganku di tengah tempat tidur ini.
Perlahan aku membuka tutup kotak itu. Yang mana isinya adalah beberapa barang pemberian Dave. Sepatu terakhir yang aku kenakan, topi kecil khas wanita Inggris, jan tangan, sebuah kalung bermatakan liontin berbentuk hati, beberapa tiket masuk tempat wisata bahkan sebuah cincin berlian yang terakhir dia berikan padaku.
Tak terasa kedua sudut bibirku tertarik sempurna, menghasilkan sebuah senyuman yang sudah lama rasanya tidak aku lakukan. Apalagi begitu melihat sepasang sendal jepit dan juga sebuah pembalut yang sengaja aku sisakan satu, sebagai pengingat awal kisahku bersamanya.
Aku mengambil cincin itu lalu kembali merebahkan diri memandangi berlian yang menjadi mahkota cincin lalu perlahan memasukkan cincin itu di jari manisku. Indah! Begitu berkilauan dan ukurannya sangatlah cocok di jari itu.
Perlahan air mataku mengalir. Apa pantas aku menyesali semuanya lalu kembali mengemis cinta darinya?
Atau perasaan ini hanya sebuah ketakutan kembali ke hidupku yang susah dan melarat?
Kemudian perlahan aku turunkan jemari yang aku tatapi itu lalu memandangi pintu balkon kamarku. Mengembuskan napas dengan perlahan. “Aku harus melupakannya ...,” gumamku.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Babay 💋
__ADS_1
Terima kasih.
@bossytika