
Ku ciumi tekuk lehernya berkali-kali, sesekali ke daun telinganya. Dia mulai meracau pelan.
Tika memutar knop air dengan menggunakan ujung kakinya. Kini air dalam bath up sudah merendam badan kami. Ku hentikan aktivitasku. Ku lihat Tika memejamkan matanya, aku pun ikut memejamkan mataku, sebentar.
Harumnya sabun aromatherapy ini, mampu membuatku merasa rileks. Ya samar-samar memang wangi tubuh Tika. Ku buka mataku lalu ku kecup sudut matanya kilas. Dia membuka matanya lalu menatapku.
Tak betah lama di dalam bath up dengan kondisi seperti itu, aku keluar dan mengeringkan tubuhku dengan handuk yang menggantung.
"Sini," titahku padanya.
Dia beranjak keluar dari bath up dan menghampiriku. Langsung ku lilitkan handuk tadi ke tubuhnya lalu ku angkat dia bak kuli panggul. Dia tertawa cekikikan. Kemudian ku bawa dirinya ke atas ranjang dan ku hempaskan tubuhnya. Aku langsung bermain dengannya.
Kali ini energi ku sungguh terkuras habis. Perlahan ku atur nafasku. Setelah agak stabil, aku berdiri dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dengan kilat. Kini giliran Tika yang ke kamar mandi membersihkan tubuhnya sekaligus mandi berkeramas.
Ku kenakan kembali seluruh pakaianku, lalu berbaring sambil menonton tv. Menunggu Tika selesai di kamar mandi.
Tak cukup hanya disitu, sekarang Tika kembali menggodaku. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggigit bibir bawahnya. Satu handuk membungkus rambutnya ala boneka barbie, kemudian satu handuk lagi membungkus bagian tubuhnya hingga paha atasnya. Lalu menuju lemarinya, memilih satu set pakaian dalamnya.
Dilepaskannya sengaja handuknya dengan ekspresi terkejut dan sebelah tangannya menutup mulutnya yang membentuk oval. Aku tersenyum seraya menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
Aku kembali berhasrat, namun ku lemparkan handukku tepat mengenai punggungnya. Ia tertawa terbahak-bahak. Kemudian ia segera fokus duduk di meja riasnya, bersolek. Selesai, ia kembali ke lemarinya dan mengenakan pakaian kerjanya. Kemeja lengan panjang dengan model leher yang melilit. Lalu rok span hitam yang membentuk bagian pinggang dan menonjolkan lekuk tubuhnya. Sempurna!!
----------------------------
Tika POV.
Aku sudah rapi mengenakan pakaian kerjaku. Berdandan flawless. Kini ku lepaskan handuk yang melilit rambutku, dengan bantuan alat hairdryer ku buat rambutku setengah kering. Ku blow poni ku mengarah ke depan, jatuh di atas mataku. Poni ini memang sengaja ku buat style poni lempar. Jadi bisa poni ala Marsha atau poni samping ala wanita dewasa. Ku cek sekali lagi penampilanku di cermin, setelahnya ku kedipkan sebelah mata kiriku pada Jefri yang sedari tadi memperhatikan aku di meja rias melalui pantulan cermin.
"Nakal!!" ucapnya.
Aku tertawa (lagi). Ku ambil tas dan ponselku lalu berjalan menuju ranjang, tempat Jefri berbaring. Ku kecup bibirnya kilas.
"Anterin aku ke kantor ya?" pintaku manja.
Untung lipstick ku waterproof premium quality. Jadi tidak membekas dibibirnya!
Tapi tunggu dulu,
Dia tadi memanggilku apa????
__ADS_1
Telinga ku belum tulikan????
Kami keluar dari kamar, dengan wajahku yang merona, sangat-sangat M.E.R.O.N.A!
Begitu di dalam mobil, "Pipi kamu kok ngepink banget? Tadi perasaan gak gitu deh," ucapnya sambil menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas.
"Ga usah bawel. Fokus nyetir!" sahutku sambil menyembunyikan wajahku dari pandangannya.
-------------------------------
Jefri POV.
Tika mencium bibirku kilas.
"Anterin aku ke kantor ya?" pintanya.
"Siap sayang.. Muach!" jawabku spontan lalu membalas ciumannya.
Kemudian kami langsung keluar kamar dan menuju mobil. Begitu Tika memasuki mobil, aku baru menyadari pipinya terlihat berbeda dari yang tadi.
__ADS_1
"Pipi kamu kok ngepink banget? Tadi perasaan gak gitu deh," ujarku sambil menjalankan mobil.
"Ga usah bawel. Fokus nyetir!" sahutnya tegas lalu memalingkan wajahnya agar aku tidak bisa melihat wajahnya lagi.