Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 28


__ADS_3

Still Lisa POV.


Aku melihat dadanya yang menurun dan mengembuskan napas. Lalu tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Max menaiki ranjangku lalu duduk bersandar di sampingku. “Jangan menyesal,” lirihnya. Pandangan matanya lurus ke depan, ke arah televisi yang menempel di dinding kamarku, tapi dalam keadaan tidak menyala.


Aku berpaling menghadapnya, menyampingkan tubuhku lalu menatapnya dengan puas. Terbesit sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja ingin aku tanyakan padanya. Namun, aku ragu untuk mengucapkannya, apa lagi saat ini detak jantungku tidak bisa diajak kompromi. Setelah berulang kali aku yakinkan hati ini, akhirnya aku memutuskan untuk melontarkan pertanyaan yang menyesakkan dadaku. Sebab jika tidak aku utarakan, mungkin aku akan merasa menyesal seumur hidup. Seperti ucapannya tadi.


“Aku boleh nanya?” lirihku pelan, ia menoleh menatapku. Aku anggap tatapnya saat ini adalah sebuah bentuk jawaban dari rasa penasarannya pada pertanyaan yang akan aku ajukan. “Apa kamu gak sayang sama aku?”


Aku sungguh memberanikan diri untuk mengatakan kalimat itu. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bukannya menjadi tenang, jantungku malah semakin kuat lagi berdetak. Hingga aku harus meraih sebuah bantal kecil dan memeluknya di dadaku dengan kedua tanganku.


Max semakin menatapku dengan lekat, lalu berkata, “Bukannya pertanyaan itu sudah aku jawab beberapa hari yang lalu?” ucapnya tegas.

__ADS_1


Aku tertunduk lemas. Aku pikir dia sudah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian di mana aku terlalu liar dan terlalu berani padanya. Dan seharusnya aku bisa menahan diri, menyimpan rasa kagumku sendiri. Karena dari awal aku seharusnya tahu diri, sadar diri dengan statusku yang tidak seberapa ini. Dan lagi, dulunya orangtuaku bukan siapa-siapa sebelum bergabung bekerja pada perusahaan orang tuanya.


Belum lagi diriku sekarang. Aku bukan siapa-siapa. Bukan model, bukan artis, bukan anak pejabat ataupun anak dari seorang konglongmerat. Aku hanya Lalisa Florencia, gadis biasa yang memiliki cita-cita segudang. Memiliki banyak impian yang belum tentu akan terwujud. Aku hanya seorang wanita yang sebentar lagi akan mencoba peruntungan nasibnya di negeri orang. Aku mengembuskan napas beratku.


Tanpa terasa tanganku bergerak menyentuh jemarinya yang tepat ia letakkan di samping tubuhnya. Lalu menyelipkan jemariku untuk saling menggenggam. “Mungkin gak kalo aku gak kenal sama adik kamu, kita bisa sama-sama?” lirihku lagi. Kali ini kalimat yang aku ucapkan sungguh berasal dari lubuk hatiku.


“Mungkin.” Suaranya yang tiba-tiba menjawab pertanyaanku itu sekejap membuatku terkejut. Aku mendongakkan kepalaku menatapnya, bagai sebuah air yang menyirami hatiku yang gersang. Bagai sebuah pelangi yang akud apatkan setelah badai menerpaku. Dan bagai sebuah kehangatan yang aku rasakan setelah berbagai macam penolakan yang aku dapatkan.


Matanya yang tajam kini menatapi kedua bola mataku. Jemarinya yang masih menempel di pipiku kini terasa seperti mengelus lembut, ditambah dengan gerakan jempolnya yang sungguh menghanyutkan belaian itu. Aku turunkan arah pandanganku ke bibirnya yang tebal, membuat jantungku semakin tidak karuan. Dengan susah payah aku menelan saliva-ku begitu melihat ada sedikit celah yang terbuka pada kedua bibirnya. Aku mencoba menahan hasratku hingga akhirnya, Max yang kalah.


Cup!!

__ADS_1


Max kembali menempelkan bibir kami. Lalu ia menarik leherku agar memperdalam ciuman ini. Aku terkejut dengan reaksi yang ia berikan, tapi bukannya menolak aku malah menikmati. Memejamkan mata dan mencoba untuk tetap diam tidak bergerak. Sampai akhirnya dia melepaskan ciuman itu. Menempelkan kening dan menempelkan ujung hidung kami.


Napasnya menjadi semakin berat, begitu pun dengan napas yang aku embuskan. Aku membuka mataku, mencoba menatapnya dengan jarak sedekat ini. Masih bisa aku lihat matanya yang terpejam dalam keheningan.


“Sudah aku bilang, aku lelaki normal,” desisnya dengan sisa napas yang tersengal. Tidak banyak yang aku pikirkan saat itu. Hanya saja, aku menginginkan hal yang lebih dari ini.


Aku mendorong tubuhnya, menempelkan kembali bibir kami. Bantal kecil yang tadinya aku peluk kini sudah menempel di antara dada kami, seolah menjadi pembatas. Namun, aku dapat merasakan kedua telapak tangannya yang memegang pinggulku, lalu berubah menjadi sebuah cengkraman. Di saat itu terjadi, tiba-tiba Max mengeluarkan lidahnya dan menyelipkannya pada kedua bibirku. Aku yang terkejut sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk melakukan pertahanan, setidaknya untuk menutup bbibirku rapat-rapat.


Lidah itu masuk dengan bebas yang menghasilkan berbunyian tipis yang begitu merdu di telinga.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2