Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 5


__ADS_3

Lisa POV.


Aku menghela napasku saat melihat Tika memasuki sebuah mobil di kejauhan sana. Berlalu dengan sebuah mobil sedan yang membawanya. Entah dengan siapa dia pergi dan ke mana, aku tidak mengerti. Aku menghela napasku dengan berat saat kakaknya kini muncul di hadapanku. Ya, Max, dia muncul dengan membawakan sepasang bagel yang diletakkan di atas sebuah piring. Ia meletakkannya di atas meja di depanku lalu juga menyuruhku untuk memakannya.


"Makan dong. Masih kenyang ya?" tanya Max padaku, ia mengambil salah satu bagel itu dan menyantapnya tanpa malu di depanku.


Jelas saja tanpa malu, lagi pula untuk apa dia malu jika hanya untuk menggigit sebongkah gandum hasil dari panggangan oven itu? Aku terlalu berlebihan menilainya. Sesekali aku melemparkan pandangan mataku menatap Max yang sambil menatap layar ponselnya. Seperti ada yang sedang ia baca dengan penuh konsentrasi.


Namun secara tiba-tiba saja, Max menoleh melihatku, membuatku merasa malu karena sudah ketahuan sedang memerhatikannya. Aku segera membuang pandanganku ke arah lain, sambil membenarkan rambutku yang tertiup angin.


"Kamu mau cepet pulang?" Max kembali bertanya, kali ini ia berpindah tempat duduk menjadi berhadapan denganku. Lalu menatapku sambil menghirup isi dari secangkir kopi hangat miliknya. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, membuatnya kembali duduk bersandar dan memainkan ponselnya lagi.


Kalau boleh jujur, aku tidak ingin pulang lebih cepat. Tapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa di sini? Apa terus-terusan membiarkannya terlarut pada ponselnya? Lalu aku mencuri pandang, secara diam-diam memerhatikannya dari tempatku duduk.


Atau aku harus mengajaknya mengobrol? Tapi apa yang akan aku tanyakan? Apa yang menjadi minatnya dalam sebuah obrolan? Masa aku harus menanyakan tentang wanita seksi di Mekdi tadi? Aku menghela napas panjang. Kuambil ponselku dan mulai ikut terhanyut pada ponsel masing-masing.


Sudah hampir 2 jam aku dan Max duduk di tempat ini dan berkutat pada ponsel masing-masing. Aku mulai merasa bosan. Kulayangkan pandanganku, melihat ke sekitar meja kami. Sedangkan Max masih tetap dengan ponselnya dan satu tangannya yang lain sedang memegang rokok. Entah sudah berapa banyak batang rokok yang ia habiskan sejak tadi.


Aku meraih gelas ice latte-ku lalu meminumnya. Ternyata gerakan kecil yang aku lakukan itu mampu mengalihkan pandangan Max dari layar gadget-nya. Aku yang tidak sengaja meliriknya merasa jadi tidak nyaman, saat pandangan mata kami saling bertabrakkan.


"Udah bosen?" tanyanya dengan lembut, membuatku hampir saja tersedak. Aku meletakkan kembali gelas kopiku lalu menganggukkan kepalaku.


Max berdiri dari tempat duduknya lalu menyuruhku untuk menunggunya. Pandangan mataku mengikuti arah langkah kaki yang membawanya untuk masuk ke dalam café menuju ke meja kasir. Entah apa lagi yang dilakukannya, aku kembali membenarkan posisi dudukku lalu mengambil bagel yang tersisa satu untukku dari atas piring dan memakannya.


"Aku pikir kamu gak mau makan di sini, jadi aku mintakan ini," ucap Max secara tiba-tiba, membuatku terpekik kaget. Untung saja aku tidak tersedak saat itu. Dia menyodorkan sebuah paper bag kecil khusus untuk membungkus bagel yang baru saja aku gigit. Untuk menghargainya, aku berdiri dari tempat dudukku lalu memasukkan bagel itu ke dalam paper bag dan memperlihatkan senyuman lebar mirip iklan salah satu pasta gigi.


Tidak ada ekspresi balasan darinya selain berbalik badan kemudian berjalan duluan meninggalkanku jauh di belakang. Aku masih terheran-heran dengan sikapnya itu lalu berlari kecil untuk mensejajarkan langkah kaki di sampingnya.


Lagi-lagi tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut seorang Max. Hanya alunan musik yang menemani kami di dalam mobil, saat perjalanan menuju pulang. Max membelokkan arah setir mobilnya, memasuki sebuah kompleks perumahan. Dan aku mengenali wilayah ini, sebab di sinilah rumahku berada.


Max memberhentikan mesin mobilnya saat memasuki pekarangan samping rumah. Menoleh padaku tapi aku malah sibuk melihat ke arah ujung kedua sepatuku sambil sesekali meliriknya.


"Udah sampai." Max memberitahukan. Aku menoleh menatapnya dengan pandangan mataku yang menyusuri detail wajahnya. Hingga yang tadinya aku berniat ingin mengucapkan terima kasih, menjadi membeku. Lidahku seakan kelu dengan kedua bibir yang mengunci rapat mulutku.


Aku pegangi dengan erat paper bag yang membungkus sisa bagel yang tadi sempat aku makan. Lalu entah apa yang merasuki tubuhku hingga aku berani memajukan tubuhku, lalu mencium kilat ujung bibir Max. Kemudian segera keluar dari mobilnya, berlari membuka pintu rumah lalu masuk dan menutup kembali pintu itu. Aku bahkan lupa untuk menutup pintu mobilnya!


Jantungku berdegup dengan kencangnya, napasku tersengal karena berlari secepat kilat untuk masuk ke dalam rumah. Sebab setelah menciumnya, barulah aku merasa malu. Tadinya saat menatapnya, ia sempat memandang ke arah lain tapi tiba-tiba saja kepalanya kembali bergerak, membuat bibirku dengan cepat mendarat di ujung sudut bibirnya, bukan di pipi!!


"Bodoh! Bodoh!" Aku merutuki kelakuanku yang tidak sopan itu sambil memejamkan mata lalu menyandarkan kepalaku pada daun pintu.


—————


Max POV.


Untuk beberapa detik aku terdiam mematung, tidak menyangka bahwa akan mendapatkan serangan secepat itu dari Lisa, sahabat adikku sendiri. Lalu kembali tersadar dan menoleh pada pintu mobilku yang tidak sempat untuk ia tutup. Dan bayangan dirinya pun sudah menghilang di balik pintu rumahnya.

__ADS_1


Drrtt ddrrrtt!


Suara getaran ponselku yang sebelumnya kuletakkan di atas dashboard mobil. Aku mengerjabkan mataku, agar aku bisa kembali ke dunia nyata. Sebab mendapatkan perlakuan zeperti tadi tidak pernah terlintas sekalipun dalam benakku.


Aku meraih ponsel itu lalu menekan kunci layar hingga lampu layar menyala dan mendapati pesan singkat yang dikirimkan oleh adikku, Tika. Dia menanyakan keberadaanku saat ini. Hanya kupandangi saja pesan itu, tidak kubalas. Lalu kuletakkan kembali ponselku itu ke tempat semula. Keluar dari mobil untuk menutup pintu di sisi satunya. Kali ini ponselku berdering saat aku hendak menutup pintu mobil yang terbuka tadi.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Aku menjangkau benda yang berbunyi itu melalui kursi penumpang dan mendapati nama Tika yang muncul di layar ponselku. Aku menerima panggilan telepon darinya itu.


"Apa?" ucapku pelan sambil melirik ke arah jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


Aku mendengarkan adikku ini yang sedang menanyakan posisi sahabatnya itu dan ia juga memintaku untuk memberikan ponselku pada Lisa, sebab ia ingin berbicara padanya. Tika juga mengatakan jika ponsel Lisa tidak bisa dihubungi.


"Bentar,"jawabku menyahuti permintaannya. Aku meraih kunci mobilku, keluar dari sana dan menutup pintu yang sebelumnya memang ingin aku tutup. Kemudian melangkah berjalan menuju ke depan pintu rumah Lisa.


Aku mengetuk pintu rumah Lisa, sebab aku tidak melihat adanya bel di sekitaran kusen pintu rumahnya itu. Sekali, tidak ada jawaban. Kedua kali, juga tidak ada jawaban. Ketiga kali, masih belum ada jawaban. Baru yang keempat kalinya, daun pintu terbuka perlahan.


"Kalian di mana sih?" sewot Tika saat aku baru melepaskan ponsel dari telingaku lalu menyodorkannya pada Lisa yang sudah muncul dari balik pintu. Berdiri dengan pandangan mata yang tiba-tiba saja ke arah bawah, seperti sedang melihat ujung kakinya.


Aku bisa mengerti mengapa sikapnya seperti ini, pasti karena malu dengan apa yang sudah ia lakukan padaku di mobil tadi. Sambil memandangi kepalanya yang ikut tertunduk, aku memberikan ponselku ke depan wajahnya yang sontak membuatnya mendongakkan kepala membalas tatapan mataku saat ini.


"Tika mau ngomong," ucapku memberitahukan maksud dari sikapku yang menyodorkan benda tipis itu padanya. Lisa menyambut benda itu, sedangkan aku lamgsung menyelonong masuk ke dalam rumahnya tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu. Sebab aku pikir mereka pasti akan mengobrol lama sampai lupa waktu, jadi lebih baik jika aku masuk dan mempersilakan diriku sendiri untuk duduk serta bersantai di sana.


Aku melangkah masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Lisa yang masih berdiri terdiam di ambang pintu. Lalu tak lama kemudian kudengar sayup-sayup suaranya yang mulai mengobrol dengan Tika melalui sambungan telepon itu. Semakin dalam aku melangkah masuk, dengan pandangan mataku yang menyebar ke segala sudut ruangan yang ada di sana. Tidak ada yang berubah!


Ya, semua perabotan serta tata letaknya masih sama dengan yang dulu, saat terakhir kali aku ke sini. Terlihat bersih dan sangat rapi. Ruangan ini juga sangat wangi. Aku memutuskan untuk menjatuhkan bokongku duduk pada sebuah sofa yang mengarah tepat di depan televisi.


Namun tiba-tiba begitu aku menoleh, aku sudah mendapati Lisa yang berdiri di depanku dan kembali menyodorkan ponsel itu, untuk mengembalikannya padaku. Aku menyambut benda itu.


"Gak ada yang berubah, semua masih pada tempatnya," ucapku sambil melemparkan senyumanku padanya.


"Karena memang sudah semestinya begitu." Lisa menyahut dan memutuskan untuk ikut duduk di satu sofa yang sama denganku. Ya, sofa itu memang lumayan panjang dan lumayan nyaman, cukup untuk 4 orang.


Aku masih mengedarkan pandangan mataku, hingga menemukan sebuah foto yang memperlihatkan Lisa saat menggunakan pakaian seragam saat SMP. Mengingatkanku dengan Tika. Saat itu mereka berdua kembali akrab. Bagaikan saudara kembar. Padahal sejak kecil mereka memang sudah bersama.

__ADS_1


Sekilas memori otakku kembali menampilkan kilas balik saat aku masih kecil. Saat di mana aku baru saja mendapatkan seorang adik laki-laki. Setelah setahun berselang aku mendapatkan adik lagi dan kali ini perempuan, yaitu Tika. Sangat senang rasanya. Begitu pula kedua orangtuaku.


Dan tambah lengkap lagi kebahagiaan mereka, saat mendengar kabar jika istrinya om Rizal melahirkan dan mendapatkan bayi perempuan juga. Om Rizal adalah asisten papah, satu-satunya orang kepercayaan papah, yang mana beliau adalah ayahnya Lisa.


Jadi bisa dipastian, bahwa umur Lisa dan Tika hanya terpaut beberapa hari saja. Hingga akhirnya setelah lulus SMP mereka berdua kembali akrab sampai sekarang. Menjalani hari-hari terberat bersama, melewati hari-hari terburuk berbua. Saling mengingatkan dan saling menguatkan. Aku terkekeh saat mengingat itu semua.


Kemudian aku kembali mengingat akan rencana Lisa yang akan melanjutkan sekolahnya le luar negeri, kota London tepatnya. Om Reza yang memberi tahuku saat kami asil mengobrol. Beliau adalah pengganti posisi pak Rizal yang mana, beliau adalah saudara kandungnya sendiri.


"Aku denger kamu dapet beasiswa kuliah di London," selidikku. Lalu menatapnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


"Iya."


"Kapan berangkat?"


"Satu minggu lagi." Lisa menjawab dengan sangat singkat. Padahal aku ingin Lisa bisa kuliah bersama Tika di Malang. Agar aku ataupun mamah bisa dengan mudah mengontrol serta mengunjungi mereka berdua. Sebab aku masih ingat betul akan tanggung jawab yang mamah janjikan kepada kedua orangtua Lisa, saat mereka pergi untuk mengurusi masalah perusahaan papah.


Aku terkekeh geli, "Pasti nanti Tika minta beiin tiket, buat liburan ke sana kalau dia kangen kamu."


Lalu Lisa kembali menyahuti pertanyaanku tadi, "Apa kamu gak akan kangen aku?"


Sontak ucapannya itu membuatku terkejut, aku menoleh padanya yang ternyata juga sedang menatapku. Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Sedangkan Lisa tiba-tiba saja mengubah posisi duduknya. Menjadi lebih dekat dan menghadap tepat di sampingku. Ia menatapku dengan intens, menunggu jawaban yang akan aku ucapkan. "Pertanyaan kamu gak salah?"


Lisa menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian sebuah pertanyaan mengejutkan kembali lolos diucapkan oleh Lisa. "Apa kamu gak tertarik sama aku?"


Sebuah pertanyaan bar-bar yang Lisa ajukan padaku. Dan aku tidak menyangka jika ia akan seberani ini mengajukan pertanyaan itu.


Tapi aku akui, Lisa adalah seorang wanita yang baik. Ya, dia sudah pantas untuk aku sebut sebagai wanita. Sebab ia sudah berhasil menyelesaikan masa sekolahnya dan kini memasuki masa kuliahnya. Bahkan dengan kondisinya saat ini, yang mewajibkan ia harus berpola pikir seperti wanita mandiri pada umumnya, membuat aku salut padanya. Dan sikap itu ia tularkan pada adikku yang kini perlahan meninggalkan sikap manjanya. Aku bersyukur untuk itu.


Namun semua itu tidak lantas membuat aku tertarik padanya. Karena sedari kecil aku hanya menganggapnya sebagai adikku, tidak lebih. "Kamu sama kayak Tika, adik aku."


Setelah mengucapkan kalimat itu, aku langsung berdiri dari tempat dudukku, berniat untuk segera pamit dan mengakhiri obrolan aneh di antara kami. Tapi siapa sangka, baru saja aku hendak berdiri, Lisa sudah menjatuhkan tubuhnya padaku. Membelit pinggangku dengan kedua tangannya dan telinganya yang menempel pada dadaku.


Aku terkejut, akan tetapi akibat wangi dari aroma helaian rambutnya, mampu membuatkh tiba-tiba saja menikmati dekapannya itu. Hingga tanpa sadar aku membelai kepalanya. Bukan! Bukan tanpa sadar, melainkan dengan kesadaran penuh. Tapi tidak lebih, hanya sekedar membelai kepalanya, sama saat aku membelai kepala Tika saat ia memelukku.


"Aku memang adik kamu, tapi kita gak sedarah." Lisa terus saja menolak apa yang menjadi keputusanku. Ia tidak bisa menerima semua perkataanku. Direnggangkannya pelukan itu, ia mendongakkan kepalanya menatapku lalu berkata, "Bukankah kakak-adik yang gak sedarah boleh saling mencintai?"


Pertanyaan bar-bar lainnya yang keluar dari mulutnya membuat aku benar-benar merasa mati akal. Tapi dengan posisi kami yang seperti ini dan dengan tubuhnya yang menempel sempurna padaku, rasanya bull*shit jika aku tidak berpikir liar. Dan lagi, aku adalah lelaki normal, yang pasti akan tergoda jika diperlakukan seperti ini.


Namun berkali-kali aku mencoba menepis pikiran liarku. Menguatkan pendirianku.


Aku mencengkram kedua bahu Lisa dan melepaskan pelukannya dari tubuhku. Lalu aku segera berdiri. "Lebih baik kamu mandi, bersihin pikiran kamu!" ucapku tegas kemudian berlalu, melangkah pergi menuju pintu depan dan keluar dari rumahnya.


Aku segera masuk ke dalam mobilku menyalakan mesinnya lalu menginjak pedal gas, melaju dengan kekuatan penuh untuk keluar dari kompleks perumahan itu. Pikiranku sungguh kacau. Aku tidak mengira jika Lisa akan se-barbar itu dalam mengunggapkan perasaannya. Terlebih lagi untuk mengungkapkannya padaku. Seorang kakak dari sahabatnya sendiri.


Tapi sebagai seorang lelaki, aku juga tidak bisa bersikap acuh seperti itu saja padanya. Aku lelaki normal, yang mana saat ini aku juga tidak memiliki pasangan. Tapi dia adalah sahabat adikku, tidak sepantasnya aku berpikiran seperti ini. Semua kalimat ini saling bersahutan di dalam otakku, mencari pembelaan masing-masing. Membuat perasaanku semakin tidak karuan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2