Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 33


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Lisa POV.


Selesai menikmati rokok, aku dan Tika memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar, mengunci pintu balkon kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Meregangkan otot-otot yang kaku. Seletah sebelumnya kami meminum segelas air putih yang sengaja aku letakan di atas meja riasku.


Aku melupakan rasa kesalku pada Dave, sebab rasa rinduku padanya saat ini terasa jauh lebih besar dari segalanya. Kata orang jarak memang merupakan salah satu penghalang terbesar bagi dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara. Dan kalimat itu benar adanya, aku merasakan itu sekarang.


Kami berdua merebahkan tubuh ke atas tempat tidurku yang berukuran king size. Tanpa suara, kami sama-sama memandangi langit-langit kamar ini. Tika sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu pula dengan aku yang sibuk memikirkan Dave.


“Besok kita—” ucap kami berdua dengan serempak dan saling menoleh. Kemudian kami tertawa bersama.


“Ya udah, lu mau ngomong apaan? Duluan deh.” Aku mengalah padanya yang masih tertawa.


“Lu besok ada kuliah gak?” tanya Tika setelah ia berhasil meredakan gelak tawanya.


“Ada, kelas pagi jam sembilan. Kenapa?”


“Gua ikutan ke kampus lu boleh, ya? Gua mau lihat-lihat aja.” Tika membalikkan tubuh, menopang dagunya dengan telapak tangan kirinya sambil memandangiku.


“Boleh, tapi elu ikutan masuk ke dalam kelas ya? Gua takut kalo ninggalin lu di luar kelas sendirian. Ntar ada yang nyulik lu.” Aku berusaha menggodanya.


Kami terkekeh. “Loh, emang boleh ikutan masuk ke kelas?” Tika keheranan.


“Siapa yang bilang gak boleh? 'Kan di sini cara pengajarnya beda sama di Indonesia.” Kemudian aku menjelaskan sistem pendidikan di negara London yang sangat jauh berbeda dengan negara kelahiran kami. Tika mendengarkan semua penjelasanku, bahkan dia selalu bertanya apa pun yang dirasanya kurang dia pahami.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, beberapa kali, aku melihat Tika merasakan kantuk dan berusaha menahannya hanya untuk menemaniku mengobrol.


“Udah tidur sana, besok gua bangunin.” Tika langsung menganggukkan kepalanya begitu aku menyuruhnya untuk segera tidur. Membalikkan tubuhnya lalu menarik selimut tebalnya. Sedangkan aku beranjak dari tempat tidur, mengambil remote AC dan menaikkan pengaturan suhunya, agar tidak terlalu dingin jika bertemu dengan udara pagi.


“Lu mau ke mana?” sergah Tika saat dia melihatku mengambil ponsel dari atas nakas dan memasukkannya ke dalam saku celana pendekku.

__ADS_1


“Gua lupa, belum ambilin bantal sama selimut buat abang lu. Dia mau tidur pake apa coba? Besok pagi bakalan dingin banget di luar sana,” jelasku sambil berjalan ke lemari dan mengeluarkan dua buah bantal dan satu lembar selimut, “udah lu tidur duluan sana. Good night.”


Kemudian aku berjalan menuju pintu sambil membawa perlengkapan tidur untuk Max itu. Di sofa luar sana memang ada beberapa bantal kecil, tetapi mana mungkin bantal itu enak untuk dijadikan bantal tidur.


Akan tetapi, pemandangan lain yang aku dapatkan begitu sampai ke ruang televisi—Max sudah tertidur lelap dengan beberapa bantal kecil itu, tanpa selimut yang menghangatkan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Tubuhnya meringkuk dengan kedua lutut yang di peluknya.


Aku tersenyum tipis. Namun, ada rasa lain yang muncul saat ini, begitu melihatnya seperti ini. Mungkin rasa yang dulu untuknya, masih tersimpan dalam lubuk hatiku. Tetapi mungkin, rasa itu tidak lebih besar dari rasa cintaku untuk Dave. Mungkin.


Perlahan aku mengembuskan napas, lalu dengan hati-hati aku membuka lembaran selimut dan meletakkan di atas tubuhnya. Namun, tiba-tiba sekejap mata, tangan Max mencengkeram pergelangan tanganku hingga aku terpekik. Dia membuka mata dan menatapku dalam remang cahaya lampu dari dapur.


“Jangan selalu menggodaku.” Max memeringatiku yang sontak membuatku kesal.


'Menggodanya? Yang benar saja!' kesalku dalam hati.


Dengan kasar aku menarik pergelanganku darinya. Hingga membuat pergelangan tanganku terasa sakit sekali. Max pun bangkit dari tidurnya lalu duduk memandangiku.


“Menggoda? Yang benar aja, jangan mimpi, Max! Aku cuman mau kasih selimut doang! Tahu begini, mending gak usah disediain sekalian.” Aku menendang salah satu bantal yang tadinya aku letakan di dekat sofa itu. Kesal.


Max masih pada posisi duduknya saat aku keluar dari kamar tidurku. Dia menoleh padaku sekilas, aku pun melakukan hal yang sama sebelum akhirnya aku kembali melanjutkan langkah kaki ini. Keluar dari apartemenku sendiri.


Aku merutuki niat baikku padanya malam ini. Seharusnya aku biarkan saja dia tidur dengan kondisi seperti itu. Lagi pula, siapa suruh untuk ikut menumpang di sini. “Semestinya dia tidur di hotel aja, biar Tika aja yang di sini. Ngeselin banget sih tu orang,” gerutuku menuruni gedung ini menggunakan lift.


Sesampainya di basemen parkir. Aku langsung menuju ke mobilku. Bukan untuk segera pergi, melainkan duduk di balik kemudi dengan pintu mobil yang sengaja aku buka. Kemudian aku mulai menyulut sebatang rokokku. Sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan dan ke mana aku harus membuang rasa kesal ini?


Aku embuskan napasku dengan berat. Setelah itu, termenung sambil menikmati setiap hirupan asap rokok yang menemaniku. Mataku terus saja memandangi mobil Max yang terparkir tepat di sampingku ini.


Tak lama berselang, tiba-tiba ponselku berbunyi.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?

__ADS_1


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Tanganku langsung merogoh saku celana pendekku dan mengambil benda tipis yang mengalun itu. Nama Dave tertera di home screen, seketika kedua sudut bibirku mengembang. Tertarik sempurna. Tanpa menunggu lama, jempolku dengan sigap menggeser gambar warna hijau pada ponselku. Menerima panggilan telepon dari lelaki yang sangat aku rindukan.


“Hallo? Hai ...,” sapaku padanya.


Hening. Tidak ada bunyi atau bahkan suara apa pun dari seberang sana. Kembali aku mencoba menyapanya. Lalu terdengar suara dehamannya di sana.


“Kenapa lampu kamar kamu masih menyala? Kenapa belum tidur?” tanyanya di seberang sana.


“Kamu di mana?”


“Tepat di mana aku bisa liat lampu kamar tidur kamu menyala.”


Spontan aku menutup teleponnya. Menjatuhkan putung rokokku dan menginjaknya. Lalu dengan segera aku mencari parfum-ku di dalam dashboard depan dan menyemprotkannya ke tubuhku.


Aku akan menemuinya.


Aku sungguh merindukannya.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Terima kasih.


IG : @bossytika

__ADS_1


__ADS_2