
Tika POV.
Selesai meeting dengan client, aku dan Metta memutuskan untuk berkeliling mall. Lagi pula kami juga sudah makan siang tadi. Sekalian refreshing sebentar sebelum balik ke kantor.
"Tik, temenin gua beli mainan buat anak gua ya?" pinta Metta.
"Boleh."
Kami berjalan sambil mengobrol santai, membicarakan tentang anak Metta.
"Anak lu sekarang sudah bisa ngapain?" tanyaku antusias.
"Udah bawel banget, tadi nih kata nyokab dia nyeloteh mulu. Kalo gua datang kerja, langsung tuh lari ke depan pintu minta di gendong.." cerita Metta sambil tertawa kilas.
Kami memasuki Toys Store. Berkeliling sambil melihat-lihat barang disana. Lucu-lucu ya mainan anak zaman sekarang, batinku.
Aku terus mengikuti langkah Metta, sesekali dia bertanya pada ku tentang mainan pilihannya. Aku hanya bisa menjawab : bagus!
"Lu dari tadi gua tanyain ini ono ini ono, jawabannya bagus mulu. Gimana sih?" protesnya.
"Ya abis lu nanya gua, gua nya belom punya anak. Boro-boro anak, punya laki aja kagak. Yang waras lu klo nanya." aku mulai sewot.
Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang anak laki-laki, yang rasa-rasa nya aku kenal. Aku melihat sekeliling nya, tidak ada siapa pun. Aku dekati anak itu perlahan.
"Hai adik kecil.." tegurku sambil berjongkok.
Dia berbalik menolehku, wajahnya cemberut lalu sepersekian detik kemudian dia berseru, "Tante egois!"
Aku terpekik kaget dengan tangan mengelus dadaku, "Kok tante egois?"
"Tante yang waktu itu ga mau ngalah beli es dawet kan?" jelasnya dengan suara lantang.
Aku cekikikan, "Bukannya ga mau ngalah," sahutku sambil mencoel hidung mungilnya, "Tapi Tante kaget, kamu pinter banget ngomongnya, mana cakep lagi." ku kedipkan sebelah mataku.
"Ihh Tante ga boleh gitu, aku masih kecil, ga boleh di goda. Lagian menggoda itu tugas laki-laki, bukan perempuan." sahutnya dengan gaya bak pria dewasa.
Aku tertawa geli, anak ini ngomongnya udah kayak pria dewasa, batinku, "Eh apa itu yang di tangan kamu?"
"Oh ini robot Iron Man Tante, robot masa depan." ucapnya lalu menaruh kembali kotak robot itu ke raknya semula.
"Ohh, Mama kamu mana? Kok sendirian?"
__ADS_1
"Mimi lagi di sebelah, lagi makan sama Papi." dia berbalik hendak meninggalkanku.
"Hei, kita belum kenalan loh?" seruku lagi masih dengan keadaan berjongkok.
Dia menoleh ke arahku, lalu kembali mendekatiku. Menyodorkan tangan kanannya, mengajakku bersalaman, "Kenalkan, namaku Paul."
Aku menyalami tangan mungilnya, "Aku tante Tika. Karena kita sudah kenal. Jadi jangan panggil Tante egois lagi ya, kan tante malu."
"Oke." sahutnya tegas. Lalu melepaskan salaman tangan kami, "Aku pergi dulu tante Tika. Dahh." pamitnya seraya melangkah pergi.
Aku melirik kotak robot tadi, "Paul....." seruku sambil berdiri.
Paul menoleh, "Ya?" dengan wajah gemas khas anak umur 5 tahun.
"Paul mau robot ini?" ucapku sambil mengambil kotak robot Iron Man tadi.
"Tante yang belikan?" dengan mata berbinar.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Paul sudah berlari memeluk pahaku. Sambil beseru kegirangan.
"Yay yay yay Tante baik, tante egois paling baik!"
Aku hanya tertawa geli, lalu seseorang menepuk bahuku, aku menoleh, ternyata Metta.
"Anak orang." sahutku santai, "Ayo ke kasir.." ujarku sambil menggandeng tangan Paul.
"Lu beli itu buat tu anak?" tanya Metta dengan raut wajah aneh.
"Iya, emang kenapa?" jawabku sambil memberikan kotak robot itu ke embak-embak dibalik meja kasir.
Metta menarik lenganku, "Baik banget lu, anak ga lu kenal dikasih begituan. Mending bayarin mainan anak gua." bisiknya sambil setengah mengomel.
Aku tertawa, "Iya sini gua bayarin. Tinggal minta aja bawel banget lu." ku rampas kotak mainan yang sedari tadi di pegangnya.
"Sekalian sama ini mba." lalu ku berikan debit card ku.
"Tante egois, nanti tolong anterin aku ke Mimi ya? Nanti Mimi ga percaya kalo tante yang beliin Iron Man."
"Oke adik kecil." sahutku sambil mengedipkan sebelah mataku.
Ku pegang salah satu tangan Paul, sedangkan tangannya yang satunya lagi memeluk kotak Iron Man itu. Wajahnya sumringah. Bahagia sekali. Aku senang melihat raut wajahnya. Begitu sampai didepan resto yang letaknya bersebelahan dengan toko mainan tadi, Paul langsung melepas tanganku, berlarian sambil berteriak memanggil ibunya.
__ADS_1
"Mimiiiii, aku dibeliin tante egois mainan ini." teriak Paul yang sambil berlarian menuju ke salah satu meja resto.
Mataku mengikuti gerak gerik Paul hingga dia melekat di dekapan seorang wanita. Ya wanita itu pernah berbicara padaku. Ku lemparkan senyum terbaikku pada wanita itu.
Aku tidak terlalu mendengar apa yang dibicarakan Paul dengan ibunya. Saat melihat pemandangan itu, aku baru menyadari ada sesosok lelaki yang aku kenali sedang duduk disamping ibunya Paul.
"Tika??" seru lelaki itu.
Aku mendengar suaranya, aku menganga.
"Kamu kenal?" tanya wanita disebelahnya yang tak lain adalah ibunya Paul.
"Papi kenal tante egois?" tanya Paul sambil menarik jari lelaki itu.
Aku mendengar kalimat mereka dengan jelas kali ini. Aku semakin melongo, seperti takjub. Ku pandangi wajah lelaki itu lekat, lalu ku tarik lengan Metta. Mengajak Metta untuk segera pergi dari sana.
Aku setengah berlari menuju escalator turun. Tidak ku hiraukan lagi Metta yang sesekali memanggil namaku dibelakang sana. Bahkan di escalator pun aku berusaha menyelip banyak orang.
"Permisi.. Misii.."
Dua kata itu mampu menyelamatkanku lebih cepat sampai di lantai bawah, bawah, bawah, hingga lantai basement parkir mobil. Tidak terasa mataku lembab, lalu mengeluarkan tetesan demi tetesan air. Seolah tetesan air itu mewakili perasaan ku saat ini. Aku berjongkok disamping mobil Metta. Ku sembunyikan wajah ku diantara tumpukan kedua lengan diatas pahaku. Aku menangis pilu......
"Tik.. Udah yuk.. Kita masuk mobil ya.. Gua anter lu pulang.." saran Metta sambil mengelus pundakku dan membantuku bangkit lalu memasuki mobilnya.
Disepanjang perjalanan aku hanya terisak. Sesekali airmataku kembali tumpah. Aku tidak sanggup menerima kenyataan yang barusan aku lihat sendiri. Lelaki yang sebulan lalu membuatku bahagia. Lelaki yang sebulan lalu membawaku bertemu orangtuanya. Lelaki yang selama ini mampu mengalihkan duniaku. Lelaki yang telah menikmati setiap jengkal tubuhku. Ternyata dia memiliki keluarga kecil yang begitu harmonis. Bahkan ada malaikat kecil diantara mereka.
Aku kembali menangis sejadi-jadinya. Dengan segala kebodohan dan prinsip ku saat itu, aku secara sukarela menjadi penggoda suami orang.
"Gua anter pulang ya? Tapi please, lu jangan nangis lagi, ntar klo nyokab lu liat trus nanya gua, gua bingung mesti jawab apa.." pinta Metta lirih.
Aku hanya mengangguk pelan dengan pandangan tetap mengarah ke jendela. Aku mencoba mengatur nafaslu. Menghentikan isak tangisku. Setengah kotak tissu di mobil Metta telah aku habiskan dengan sengaja.
Hayolooohhh siapa yang ikutan nangis????
Ngakuuuu??? Hihihii 😁
Author mau ngucapin makasih yaa buat kalian semua yang dengan setia menunggu updatean cerita ini.
Kalo kalian punya kritik dan saran untuk alur cerita selanjutnya silahkan di comment dan jangan lupa buat like setiap part nya trus jadiin favorite kalian deh.
Author juga minta doa nya yah, biar otak author lancar terus buat cerita ini.
__ADS_1
Makasii, lop u readers 😘