Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 47


__ADS_3

Aku mengurung diri dikamar setelah Metta berhasil mengantarku pulang dan masuk kamar tanpa berpapasan dengan siapapun diluar sana. Lalu Metta segera pamit pulang, membiarkan ku beristirahat. Tapi bukannya beristirahat, aku malah kembali terisak pelan di atas ranjang.


Aku sungguh menyesali perbuatanku. Kilas balik setiap kejadian saat aku bersama dengan Jefri kembali terputar dalam ingatanku. Aku mencoba menghapus airmataku. Lalu aku mengganti pakaian kerja ku dengan swimsuit. Aku ingin berenang. Mungkin dengan berenang aku bisa lebih rileks.


Ku lemparkan bath robes yang tadi sempat ku gunakan ke atas kursi jemur. Lalu ku luncurkan tubuhku kedalam kolam, menyusuri panjangnya kolam berkali-kali. Dengan berenang, aku mencoba mengatur pernafasanku. Setidaknya mataku tidak mengeluarkan airmata lagi. Aku bernafas lega, lalu sesekali menikmati terik matahari sore. Aku mengapung terlentang.


**********


Jefri POV.


Aku kembali duduk. Paula sudah asik mengurusi anaknya yang membuka kotak mainan pemberian Tika. Ku panggil pelayan disana untuk meminta bill.


"Kamu mau kemana?" tanya Paula.


"Aku masih harus kerja." jawabku sambil mengambil beberapa lembar uang lalu memasukkannya di buku bill yang diberikan pelayan.


"Tapi kita belum selesai ngomong." cegat Paula sambil mencengkram tanganku kuat.


"Udah selesai, ga ada kata 'kita' lagi." tegasku dengan penekanan sambil melepaskan cengkramannya, mengambil blazer hitam yang tergeletak diatas meja lalu pergi meninggalkan Paula bersama dengan anaknya.


Aku harus tegas.


Aku harus berani meningggalkan Paula.


Aku harus melepaskan diriku darinya.


Begitu kira-kira isi pikiranku.


"Jeff, kamu lupa pengorbanan aku? Aku rela ninggalin Pablo demi kamu." lirih Paula yang mengejarku.


"Apa kamu bilang? Rela ninggalin? Hei kamu lupa?" emosiku meledak.


"Tolong Jeff, please kamu jangan tinggalin aku, gimana nasib Paul, please aku mohon..." rintih Paula mengenggam tanganku erat.


"Denger ya! Aku udah bersabar banget sama kamu. Jangan kamu pikir aku ga tau. 5 tahun yang lalu, waktu kita cekcok kamu pergi kepelukan Pablo. Hilang berbulan-bulan, setelah perut kamu gede, kamu lari ke aku, minta tanggung jawab aku. Kamu kira aku ga tau akal busuk kamu? Untung aja aku ga langsung nikahin kamu ya!" jelasku emosi.


"Tapi Jeff....." Paula mulai menangis.


"Ga ada tapi-tapian. Anak itu bukan darah daging aku. Aku cuman kesian sama anak kamu, aku kesian sama kamu yang terus-terusan diteror sama Pablo. Padahal kalo diliat lagi, posisi aku yang kasian banget. Aku yang mau-mau nya jadi benteng kamu dengan semua drama hidup kamu itu. Dan satu lagi, untuk uang yang dulu kamu keluarin buat aku waktu aku masih pengangguran, rasanya udah impas aku kasih ke kamu. Dengan semua perlakuan kamu ke aku dan semua belanjaan yang pernah aku bayarin. Jadi tolong, tolong banget, terima keputusan aku. Dan tolong banget, jangan sampe bikin aku kelewat batas sama kamu." ku tepis keras lengannya hingga dia tersungkur di lantai.


Sempat ku pandangi anaknya, Paul masih asik dengan Iron Man nya. Lalu ku tatap kembali Paula dengan tangisan lirihnya kemudian aku melangkah pergi.


Aku memukul setir mobil berkali-kali. Meluapkan emosiku. Tadinya aku berusaha untuk tidak terpancing emosi. Tapi entah kenapa hanya dengan secuil sikap Paula yang menarik tanganku itu aku jadi emosi. Belum lagi dia seolah menggantungkan hidup anaknya padaku.


Untung saja Alex dan yang lainnya membantuku mengumpulkan informasi. Dan untung juga blazer ini ada ditangannya, membuatku semakin mudah dan mantap untuk mengakhirinya.


Tapi, bagaimana dengan Tika tadi?


Pikiranku bertambah kacau.

__ADS_1


**********


Tika POV.


"Gua kirain lu di kamar." teriak seorang wanita, ternyata Lisa.


"Sini lu, temenin gua." pintaku.


"Ga bawa swimsuit gua. Lu juga ga bilang kalo mau renang. Kan bilangnya mau cerita."


"Pake daleman aja udah, ntar lu balik gua anter. Jadi aman ga pake daleman." ucapku asal.


"Gila lu!! Nih gua bawain pisang goreng favorite lu. Dekat rumah gua ada yang jual jadi sekalian deh." sambil membawa bungkusan plastik ke pinggiran kolam.


Aku mendekatinya, "Pisang kipas?" tanyaku sambil membuka plastiknya, "Wihh bener pisang kipas. Emm enak enak."


Ku nikmati pisang kipas itu dengan perlahan. Lisa mencelupkan kaki nya ke dalam kolam.


"Lu sebenernya kenapa sih?" tanyanya pelan.


"Maksud lu?"


"Lu masih belum cerita, sebulan yang lalu lu kenapa? Kenapa lu kabur waktu Jefri mau ke rumah gua?" tanya Lisa serius.


"Ga usah bahas itu deh! Bahas yang lain aja. Eh dikantor gua ada lowongan kerja loh."


"Emang ada apaan? Jefri ada cerita apa ke elu?" tanyaku mulai panik.


"Nah itu lu tau klo Jefri ngehubungin gua. Ya dia nanyain elu lah. Katanya elu ngeblockir nomer dia. Trus di line juga, ya WhatsApp pasti kena juga dong."


"Instagram enggak tuh."


"Emang lu temenan sama dia di IG?"


"Enggak sih. Tapi kan paling enggak klo dia mau stalking gua bisa lewat IG, kan update."


"Kecentilan!" umpat Lisa.


Ku comot pisang kipas kedua ku, "Emang dia nanya apa aja?" ucapku pelan.


"Diihh kepo!!" goda Lisa.


"Sialan lu!" ku percikkan sedikit air ke tubuhnya.


Lisa tertawa, "Yakin lu mau ngilangin dia dari idup lu? Kalo dari yang gua liat sih, kayaknya elu yang mau ngilang.."


Aku bersander di dinding kolam dekat kaki Lisa. Sambil mengunyah pisang, "Gua emang ga bisa ngilangin dia dari idup gua. Tapi kan gua bisa berusaha.."


"Tapi aku gak bakal ngilang buat kamu." suara lelaki yang aku kenal, aku menoleh dan tersedak.

__ADS_1


Lisa langsung menarik tanganku. Lelaki itu pun ikut meangkat tubuhku, mengeluarkan ku dari kolam renang. Aku terduduk dipinggiran kolam, masih dengan batuk.


"Tadi nya gua pingin bilang sama lu, kalo makan dalam kolam renang itu ga baik, ya gini nih jadinya! Biiii minta air putih Biii.." omel Lisa sambil berteriak.


Aku memegang tenggorokan ku. Tangan Jefri dengan lembut mengusap punggung atasku. Sesekali aku merasakan bulu kuduk ku berdiri. Berkali-kali pula aku memajukan tubuhku, berharap tangannya segera menjauh dari sana! Tapi Jefri seolah tidak mengerti. Bibi datang membawakan segelas air putih. Aku meneguknya pelan. Jefri berdiri lalu mengambil bath robes dan membalutkannya di pundakku.


Aku kembali memberikan gelas tadi ke Bibi. Lalu ku tarik bath robesnya hingga menutupi tubuhku.


"Kamu ga papa kan?" tanya Jefri.


Aku menggelengkan kepalaku. Aku masih terlalu syok. Lututku rasanya tidak mampu berdiri saat ini. Jefri tiba-tiba mengenggam tanganku. Aku menoleh menatap matanya.


"Yang kamu liat tadi siang, aku bisa jelasin."


Aku menggelengkan kepalaku lagi. Tapi kali ini dengan bendungan air yang siap tumpah menyeruak dibalik pelupuk mataku. Aku masih (berusaha) menahannya.


"Semua ga seperti yang kamu kira. Aku harus jelasin ke kamu. Dan aku pikir kita memang butuh bicara." tegas Jefri lagi.


Aku menggelengkan kepala ku lebih kuat dari sebelumnya, kini aku tidak sanggup menatap matanya lagi, ku tundukkan wajahku, dan dooaarr!!!


Bendungan airmataku tumpah lah sudah membasahi setiap jengkal pipiku.


Jefri memelukku erat. Tanganku lemah, tubuhku seakan tidak bertenaga begitu mengingat kejadian di mall tadi siang. Aku tidak mampu mendorong tubuhnya. Aku menangis terisak dalam pelukannya.


"Tik, udah yaa, lu kenapa sih? Kalian ada apaan sih? Aduuhh udah dong kalo nyokab denger bisa gawat." ujar Lisa menenangkanku, menggenggam tanganku.


"Bi, Mamah nya mana?" bisik Lisa pada Bibi.


"Ada Non, dikamar."


"Ya udah deh, emm, Bibi jangan bilang siapa-siapa ya?" ancam Lisa lirih.


Bibi hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya udah Bibi, tinggalin aja. Ga papa kok." titah Lisa lagi.


Tangis ku agak mereda, namun isakku masih terkadang kembali. Jefri masih memelukku. Menyanderkan kepalaku tepat di dadanya. Dengan mengelus kepalaku pelan. Aku mulai merasa tenang.


"Kita ngobrol ya, mau kan?" tanya Jefri.


Aku menarik tubuhku, memandangnya, "Just talk, nothing else?" tanyaku memastikan.


Dia mengangguk mantap, tersenyum lalu mengusap airmata dikedua pipi ku.


"Kamu bilas dulu, ganti baju, aku tunggu kamu disini. Sa, lu bantuin Tika ke kamarnya ya?" pintanya.


"Ok. Yuk!" ajak Lisa.


Lisa membantuku berdiri, menggandeng ku berjalan menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2