Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 63


__ADS_3

Hari sudah larut malam. Ku putuskan untuk pulang ke rumah. Alex dan Lisa bersikeras untuk mengantarku. Namun aku menolak.


"Yakin lu bisa nyetir dengan keaadan gini?" Alex menegaskan.


Aku hanya mengangguk. Alex dan Lisa tau tadi sore Jefri yang menelpon ku.


"Kita antar aja Tik?" tawar Lisa, "Biar gua yang nyetir, Alex ngikutin, jadi gua pulang sama Alex."


"Ga papa kok, gua bisa." sahutku sambil berjalan kearah mobil.


"Tik, please.." bujuk Lisa lagi.


Aku menoleh pada Lisa dan Alex, "Gua ga papa, masih bisa kok bawa mobil. Kalian tenang aja." senyum ku terpaksa.


Lisa membuang nafasnya kasar. Aku segera masuk ke mobil ku dan pergi dari sana.


Disepanjang perjalanan pikiranku melayang. Membayangkan Jefri yang masih perhatian dengan mantannya. Aku sadar anak itu sedang sakit. Tapi kenapa tadi dia menelponku seolah tidak terjadi apa-apa. Dan ponselnya tidak aktif dalam kurun waktu yang cukup lama. Jefri tidak pernah seperti ini. Airmata ku perlahan kembali jatuh, membanjiri pipi ku.


Apa dihatinya masih ada wanita itu?


Apa anak itu begitu berharga untuknya sampai dia seperti ini?


Tidak mengabari ku seharian.


Apa benar anak itu bukan anaknya?


Yaah, bullshit jika aku berpikir dengan sekejap aku bisa menggantikan posisi wanita yang selama 6 tahun sudah bersarang di hatinya itu.


Aku terlalu naif!!


Tangisku semakin menjadi. Otakku semakin kacau. Dan tiba-tiba kilatan lampu menyilaukan pandanganku dan......


Bruukk..


Praangg..


Tiiiiiiinnnn.......


**********


Jefri POV.

__ADS_1


"Mah, emang Tika ga bilang tadi siang dia pergi kemana?" tanyaku pada Mamah Tika.


Begitu telponku di tutup, aku putuskan untuk segera meluncur menuju rumah Tika. Setelah aku melamarnya, dia tidak pernah seperti ini. Aku merasa ada yang tidak beres dan ternyata benar, begitu aku sampai di rumahnya, dia tidak ada.


"Dia cuman bilang mau jalan-jalan keliling nyari udara segar. Mamah juga bingung, tadi pagi dia ga ngantor. Padahalkan cutinya masih belum acc." jelas Mamah.


Aku menghembuskan nafas panjang. Sekarang sudah jam 10 malam. Sudah 5 jam lebih aku menunggunya pulang. Bahkan telepon ku pun selalu operator yang menjawabnya. Aku mulai khawatir.


"Kalian baik-baik aja kan?" tanya Mamah menatapku tajam dengan nada suara penuh penekanan.


Aku bingung, "Aku rasa baik-baik aja sih Mah. Emang hp aku mati seharian ini. Anak temen aku di operasi jadi aku nemenin di rumah sakit. Dan aku ga bawa charger hp trus ga bisa ngabarin Tika juga."


Mamah terlihat gusar lalu meminum beberapa teguk air dari gelas yang dipegangnya sejak tadi. Namun sialnya saat Mamah mencoba meletakkan gelas itu, tiba-tiba saja gelas kaca itu meluncur bebas dari atas meja dan pecah membentur keramik lantai.


Prang....


Sepertinya Mamah meletakkannya meleset dari atas meja. Aku dan Mamah sama-sama terkejut. Kini pecahan beling berserakkan dilantai. Mamah seperti syok terdiam. Bi Mince berlari mendatangi kami.


"Mah! Mamah ga papa? Ada yang kena ga Mah?" aku panik.


"Astaga Nyonyaa!" seru Bi Mince sekilas.


"Bi, tolong ambilin sapu sama kotak P3K ya, kaki Mamah lecet." pintaku karena aku melihat ada sepercik darah di betis Mamah.


Ku sentuh tangan Mamah, "Mah,"


Mamah seakan terpekik kaget, lalu menatapku tajam.


"Kaki Mamah kegores beling nya," ucapku memberitahu.


Mamah hanya menoleh ke bawah, melihat kakinya, lalu kembali menatapku. Pandangan Mamah seakan kosong. Aku membantu Mamah untuk menyingkir dari sana. Bi Mince segera memberikan kotak P3K itu pada ku, lalu membersihkan pecahan gelas itu dengan teliti.


Ku giring Mamah untuk duduk di sofa ruang televisi. Lalu ku obati luka di kaki Mamah.


"Mamah ga papa kan? Mamah mikirin apa sih kok bisa sampe lepas gitu naroh gelasnya." tanyaku sambil membersihkan goresannya.


Untung saja tidak ada pecahan beling yang tertempel di betis Mamah. Setelah selesai ku bersihkan, dengan segera ku lekatkan plester antiseptik pada permukaan luka itu. Selesai.


"Coba kamu telepon Tika lagi, hp nya ga di matiin kan sama dia?" ucap Mamah panik.


Dengan bingung aku segera berlari mengambil ponselku yang ada diatas meja ruang tamu tadi. Ku lihat Bi Mince sedang mengecek lantai yang sudah dibersihkannya. Aku kembali berjalan menuju Mamah sambil mencari nomer Tika di phonebook. Ku tekan calling. Menyambung..

__ADS_1


Tuutt..


Tuutt..


Tuutt..


Telpon diangkat, suara riuh orang yang terdengar. Ada pula suara ambulance, dan suara-suara gaduh lainnya.


"Hallo Tika?" ucapku bingung.


"Hallo, akhirnya ada yang nelpon juga, dari tadi kami bingung ingin menghubungi kemana, soalnya hp nya ke-lock, ini pemilik hp nya kecelakaan..." jawab lelaki diseberang sana.


"Apa? Sorry ini siapa ya? Tika nya mana? Tolong jangan becanda ya.." cercaku.


"Dia kecelakaan Mas, ini lagi di masukkan ke ambulance, saya ikut mengantarkan. Dibawa ke rumah sakit Soliam. Tolong segera kesana Mas." lanjut lelaki itu panik.


Aku yang mendengar itu serasa tidak percaya. Dengan telepon yang masih tersambung, aku jatuh terduduk menghempas lantai. Lutut kaki ku serasa lemas. Mamah yang melihatku refleks mendekat padaku dan merampas ponselku.


"Tika.. Sayang.. Kamu dimana? Mamah....." cerca Mamah yang kemudian tiba-tiba terdiam.


"Saya segera ke sana, tolong jangan tinggalin anak saya sendiri. Saya segera ke sana." ucap Mamah lagi.


Aku seperti kehabisan nafas. Airmata ku jatuh tidak bisa aku tahan lagi. Sekilas telingaku seakan mendengar suara Tika yang dengan manja memanggilku. Otakku sekilas memunculkan wajahnya yang kemarin sore masih aku lihat tersenyum sambil mengecup pipiku manja. Ku rasakan oksigen seakan menjauh dari sekitarku. Aku mencoba bernafas dari mulutku yang terbuka.


"Jefri Jefri, Mamah mohon kuat. Kamu harus kuat. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" ucap Mamah dihadapanku yang terlihat berusaha lebih tegar dari aku.


"Bi, tolong panggilin Pak Kasim security komplek, minta tolong sama beliau buat supirin kami ke rumah sakit Soliam. Tika kecelakaan." titah Mamah.


"Baik Nyonya."


Tak lama Pak Kasim datang dan segera menyalakan mesin mobil, aku dan Mamah sudah menunggu di samping mobil Mamah.


"Bi, tolong kabarin Max sama Haikal, di rumah sakit Soliam. Kabarin Lisa juga." titah Mamah lagi sambil menggiringku masuk ke mobil.


Lalu kami segera melesat pergi.


Disepanjang perjalanan aku tidak mampu menahan airmataku. Berkali-kali aku mengusap wajahku kasar dan berkali-kali pula aku mencengkram puncak rambutku dan menariknya. Aku takut terjadi sesuatu pada Tika. Aku takut kehilangannya.


Aku tidak pernah merasakan seperti ini. Aku tidak pernah menangisi seorang wanita seperti ini selain Mamaku. Berkali-kali terlintas wajah Tika yang begitu polos, begitu manja jika bersamaku.


Tiba-tiba Mamah menyentuh kedua tanganku yang sedari tadi menggenggam erat ponselku. Aku menoleh, Mamah terlihat tegar, tersenyum paksa memandangku.

__ADS_1


"Tika pasti baik-baik aja. Dia kuat. Tapi kamu harus lebih kuat. Dia butuh kamu. Dan Mamah butuh kamu untuk dia." ucap Mamah tegas.


Aku mengangguk cepat. Ku lihat sekilas dalam remang-remang lampu jalanan pipi Mamah basah dengan airmatanya. Dia pun sama terpukulnya mendengar kabar ini, menangis namun tidak bersuara seperti ku yang terisak disepanjang perjalanan.


__ADS_2