Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 25


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Max POV.


Sesampainya di rumah, aku membangunkan Tika dan ia turun dari mobil langsung menuju ke kamar tidurnya. Sedangkan aku? Langkahku tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu kamarku. Teringat dengan Lisa yang belum makan malam. 'Apa di rumahnya ada makanan?' batinku.


Aku menoleh melihat Tika yang sudah menghilang di puncak tangga. Sambil kembali menimbang-nimbang lagi pemikiranku sendiri yang akhirnya, membuatku melangkahkan kaki kembali menuju mobil dan melesat pergi, meninggalkan ranjang empuk yang rasanya sudah menantikan tubuhku di kamar.


Dalam perjalanan aku terpikir untuk singgah pada sebuah mini market dan membeli beberapa bahan makanan, mungkin bisa di simpan dalam kulkas, sebagai persediaan untuknya, hingga beberapa hari ke depan. Siapa tahu Lisa adalah tipe wanita yang sama dengan Tika. Yang bisa kelaparan di tengah malam.


Aku membeli sayuran, kentang goreng, nugget bahkan bahan makanan lainnya. Tidak lupa beberapa minuman botol dan camilan untuknya. Entah mengapa aku melakukan ini. Dan sekali lagi aku katakan, aku hanya takut dia memiliki kebiasaan yang sama dengan adikku itu. Setelah selesai berbelanja dan membayar semuanya, aku melanjutkan perjalananku menuju rumah Lisa.


Sesampainya di sana aku langsung memarkirkan mobil di halaman depan garasinya. Tapi setelah mesin mobil kumatikan, aku menjadi ragu untuk turun dan mengetuk pintu rumahnya. Apa aku harus menelponnya lagi seperti tadi pagi?


Aku berpikir sejenak sambil mengetukkan kuku jariku pada setir mobil yang masih dalam genggamanku. Hingga pada akhirnya aku membulatkan tekatku untuk turun dari mobil dan mengambil bungkusan belajaan yang sebelumnya sudah aku beli tadi di kursi belakang.


Aku sempat mengembuskan napasku sebelum menggerakkan kaki untuk melangkah, menuju pintu depan rumahnya. Kulihat cahaya lampu dari dalam rumah sebagian telah padam. Apa mungkin Lisa sudah terlelap?


Langkah kakiku terus saja menapaki rerumputan tipis yang menghantarku hingga sampai ke depan pintu. Untung saja aku melihat sebuah lonceng di pinggir kusen pintu lalu menjentikkannya dengan jariku yang sebagian masih memegang belanjaan. Entah sejak kapan lonceng itu ada di sana, yang jelas tadi pagi aku tidak melihat benda itu.


Telingaku menangkap sebuah suara langkah kaki dari dalam sana, bukan, bukan suara langkah kaki, melainkan suara pintu yang tertutup. Lumayan keras. Sekali lagi dengan bantuan ujung jari telunjukku, aku membunyikan lonceng itu.

__ADS_1


Teeng!


“Iyaa ... sebentar!” Suara teriak Lisa dari dalam, membuat aku mengembuskan napas dengan lega. Karena itu artinya dia belum tertidur. Tak lama aku menunggu, pintu terbuka dan muncullah sosok wanita yang membuatku terpesona. Ya, kali ini aku terpesona dengan rambutnya yang tergerai bebas, hitam legam membuat wajahnya semakin terlihat dewasa. Hanya saja dia masih mengenakan pakaian yang sama.


“Max?!” serunya yang terkejut melihat aku yang berdiri di ambang pintu. Membuatku wajib memberikannya seutas senyuman manis dari kedua sudut bibirku.


“Kamu pasti belum makan. Tadi aku lupa, mestinya kita mampir dulu buat makan malam.” Aku mengangkat kantong belanjaan yang ada di kedua tanganku, bertujuan untuk memperlihatkan kepadanya. “Boleh aku masuk?”


Lisa mengangguk dengan cepat kemudian mundur beberapa langkah untuk mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya. Aku langsung berjalan menuju ke dapur untuk meletakkan semua yang kubawa ini. Dia mengikuti langkahku setelah ku lihat ia menutup rapat pintu depan. Tidak menunggu lama, aku langsung membuka kulkasnya yang kosong dan mulai menyusun beberapa bahan makanan di sana.


“Kenapa malah duduk di sana?” Aku bingung melihat Lisa yang sudah terduduk rapi di kursi meja makannya. Sambil memandangiku menyusun barang belanjaanku tadi ke dalam lemari pendingin.


“Loh, kalo mau minta bantuin, bilang dong!” Seraya berdiri dari kursinya, berjalan mendekatiku. Akan tetapi dengan sigap aku langsung memukul tangannya, sebelum jemarinya berhasil menyentuh seikat besar sayur pakcoy. Dia mengaduh kesakitan.


“Ganti baju sana. Kita makan keluar.” Aku mengatakannya sambil terus melanjutkan memasukkan sayur-mayur ke bagian chiller bawah yang didesain khusus untuk menyimpan segala jenis sayur. Agar tetap segar dan sehat untuk disimpan.


Aku tidak begitu memerhatikan lagi bagaimaana raut wajah Lisa, sebab aku sibuk menyusun sayuran yang kubeli dan ternyata terlalu banyak, hingga tidak cukup untuk aku masukkan semuanya ke dalam sana. Berkali-kali aku membongkar dan menyusunnya lagi, hasilnya masih sama. Selalu ada beberapa sayuran yang tidak bisa masuk.


“Ngapain makan keluar, kalo kamu belanjain isi kulkas aku?” Aku terdiam sejenak mendengar kalimat yang Lisa lontarkan barusan dan semua itu ada benarnya. Spontan aku berdiri lalu berbalik menatapnya. Ia sedang asik melihat beberapa bungkus camilan yang keluar dari tas belanja.


“Kalo gitu, kita makan capcay malam ini,” usulku gembira, lalu membuka kancing lengan kemejaku dan menggulungnya ke atas. Ya, aku sejak pagi memang menggunakan kemeja, sebab aku sempat mampir dulu ke kantor mamah saat itu. Untuk mengurus beberapa berkas yang membutuhkan tanda tanganku. Saat ini perusahaan mamah yang memegang kendali, sementara aku belajar dan mempersiapkan diri untuk menerima jabatan itu.


“Memang kamu bisa masak?” Lisa bertanya dengan nada yang meremehkanku. Aku mengulum senyumku lalu berjalan mendekatinya. Kutarik dagunya lalu aku menurunkan tubuhku menatapi wajahnya yang sedikit terkejut membalas tatapanku.

__ADS_1


Dengan salah satu sudut bibirku yang terangkat sebelah, aku mengatakan padanya dengan percaya diri jika aku bisa memasak apapun yang dia kehendaki saat ini.


Namun, dengan secepat kilat Lisa menarik kembali dagunya lalu memundurkan selangkah kakinya ke belakang. “Udah jangan banyak bacot, kalo mau masak ya udah, sana masak!” protesnya dengan wajahnya yang lucu menggemaskan.


Aku terkekeh geli kemudian menarik lengannya untuk mengikuti langkahku menuju dapur. Aku memintanya menunjukkan di mana letak bumbu dapur dan juga beberapa alat yang aku perlukan untuk memasak. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih kemudian menendangnya keluar dari wilayah dapur, membiarkanku menguasai tempat ini untuk sementara waktu. Aku memulai keahlianku.


“Max!” serunya yang tiba-tiba muncul di belakangku, membuatku menoleh dan mendapatinya yang sedang memegang sesesuatu, seperti selembar kain. Lalu dengan sigap ia mengalungkan sebuah tali yang menyambung pada kain itu dan pada saat itulah aku baru menyadari jika kain itu adalah sebuah celemek. Ya, sebuah kain yang digunakan sebagian orang untuk melapisi bagian depan tubuhnya, agar tidak kotor saat sedang memasak. Sebab saat memasak tidak jarang ada cipratan minyak yang akan meloncat keluar dari penggorengan.


Lisa juga membantuku untuk mengikat bagian belakang tali dari celemek itu. Bukan dengan menyuruhku berbalik arah agar ia bisa lebih mudah untuk mengikatnya, melainkan dengan cara yang lebih sulit. Yaitu dengan tetap membiarkan tubuh kami saling berhadapan, ia melingkarkan tangannya seperti hendak memelukku. Karena masing-masing dari tanganku sedang memegang wajan dan spatula, jadilah aku mengangkat tanganku setinggi-tingginya, agar ia dapat menengok tangannya yang sedang menyimpul tali itu di sana.


Deg!!


Tahu-tahu jantungku langsung berdetak kian cepat, karena jarak tubuhku yang terlalu dekat dengannya. Bahkan aku dapat melihat wajah Lisa yang hampir menempel di dadaku. Posisi ini benar-benar mengikis jarak di antara kami. Membuat mataku bisa lebih jelas lagi melihat wajahnya dari dekat. Dan ini sudah yang kedua kalinya.


Kejadian beberapa hari yang lalu seketika kembali melintas, membayangi pikiranku. Dan jika aku bandingkan wajahnya, saat ini terlihat lebih anggun dan tulus. Lebih manis bahkan saat pandangan mataku turun ke sudut bibirnya yang kemerahan. Membuat aku harus menelan saliva dengan susah payah. Hingga akhirnya ia berhasil memasangkan celemek itu pada tubuhku dengan sempurna.


Aku mengembangkan senyumku padanya yang membuat pandangan mata kami saling beradu. Dari sorot matanya aku merasakan keteduhan kali ini. Ketenangan yang seolah akan mendamaikan hati. Membuat jantungku terus saja berdetak tidak karuan. Bahkan saat ia juga membalas senyumanku dengan ukiran yang sama di wajahnya, semua yang kulihat ada pada wajahnya mampu membuat bulu romaku bergidik. Bukan ngeri atau sebuah ketakutan, melainkan sebuah rasa yang tidak dapat aku deskripsikan saat ini.


Sikapnya saat ini seolah menghipnotisku, ada keinginan lain yang mendorongku untuk melakukan sesuatu dan entah apa itu, aku belum mengerti. Lisa mengerjabkan matanya berkali-kali saat sebelumnya kami saling menatap tanpa berkedip. Kemudian ia memalingkan wajahnya, membuatku seketika sadar dengan kebodohan yang kali ini aku lakukan. Sudah terlalu banyak teman di kampusku yang mengatakan, bahwa mataku ini membawa petaka.


Bukan mala petaka yang sesungguhnya, melainkan membawa masalah yang mampu memikat hati wanita mana pun hanya dengan sebuah tatapan intens. Dan bodohnya lagi, selalu saja aku mencoba hal itu pada beberapa wanita di kampusku. Lalu sekarang, aku melakukannya pada Lisa, walaupun tanpa sengaja, tapi tetap saja terjadi.


Aku menghela napas dengan berat hingga membuatnya menoleh, melirikku sekali lagi, sempat aku perlihatkan senyumanku sekali lagi, sebelum akhirnya aku yang berbalik badan dan kembali pada kegiatan memasakku. Sempat sekilas aku menoleh melihatnya menjauh dari area dapur dan tanpa berbalik lagi, ia juga mengatakan bahwa ia akan pergi ke kamarnya untuk segera mandi, membersihkan tubuhnya setelah seharian berada di bawah sinar matahari.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2