Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 45


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Lisa POV.


“Siapa namamu?” tanyaku pada wanita yang saat ini sedang mengobatiku.


“Ah, nama saya Widi, Nyonya. Maafkan jika cara saya membersihkan luka Anda terasa menyakitkan. Saya hanya memiliki sedikit pengalaman tentang ini.”


“Bukan itu. Aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu yang terasa janggal bagiku.” Aku menatap gadis itu lekat-lekat. “Apa kamu mengenal wanita yang tadi menyerangku?”


Gadis bernama Widi itu tercengang menatapku. “Ah, maaf. Sepertinya aku salah bertanya. Kamu tidak mungkin tahu sebab tidak melihat kejadian tadi.”


“Dulu saya pernah melihat wanita itu beberapa kali ke sini, bahkan beberapa bulan yang lalu. Dan saya tidak menyangka jika beliau ingin menyerang Anda.”


Aku terkejut mendengar semua itu, beberapa bulan yang lalu? Aku sudah lumayan lama bersama dengan Dave. Dan aku baru ... ah ya, aku mengingatnya! Wanita itu adalah wanita yang sama, saat bertemu dengan akubdan Dave di super market beberapa waktu lalu.


Wanita yang menyapa Dave dan membuatnya seketika kesal lalu bersikap kasar padaku. Penyebab pertikaian kami saat itu, hingga aku harus ikut merasa kesal karena tingkah lakunya.


Dengan cepat aku mencengkeram lengan gadis bernama Widi ini lalu kembali bertanya, “Bukankah tidak bisa sembarang orang masuk melalui lift itu tanpa memiliki barcode?” sentakku padanya.


Widi terlihat bingung menatapku dengan matanya yang membulat. Dan tiba-tiba saja pintu kamar bergerak terbuka dan sosok Dave muncul di balik pintunya dengan wajah bingung.


“Apa yang barusan terja—kamu kenapa?” Dia berlari menghampiriku hingga membuat Widi segera menyingkirkan diri.


Tidak ada satu patah kata pun yang aku ucapkan, bahkan saat tangannya hendak menyentuh pipiku saja, langsung dengan cepat aku tepis.


“Maaf ... saya permisi dulu Nyonya, Tuan.” Widi segera berpamitan, mungkin karena dia merasa tidak enak berada dalam situasi antara aku dan Dave saat ini.


Tak lama setelah gadis muda itu keluar, Dave kembali bertanya, “Ada apa? Kamu kenapa bisa begini? Kamu jatuh? Di deoan aku lihat berantakan.” Nada suaranya terdengar panik di telingaku.


Jujur, dalam pikiranku masih begitu banyak yang ingin aku tanyakan langsung padanya. Hanya saja rasa amarahku saat ini terlalu besar. Apalagi saat Widi mengatakan pernah melihat wanita itu ke sini beberapa bulan yang lalu. Apa Dave selingkuh?


Pantas saja beberapa waktu lalu saat bertemu dengan wanita itu di super market dia terlihat kesal. Apa itu hanya reaksi palsunya saja, agar aku marah dan tidak menemuinya beberapa hari dan dia bisa dengan bebas bertemu wanita itu? Dasar lelaki ba*ingan!


“Minggir!!” Aku menghentakkan lenganku dan menghardiknya hingga dia terpekik.


Dengan tidak memedulikannya aku langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Menangis di sana lalu kembali mengganti pakaian dengan gaun yang kemarin aku kenakan.


“Kamu kenapa? Apa yang sudah terjadi?” sergahnya saat aku membuka pintu kamar mandi. Aku sudah memperkirakan ini akan terjadi begitu aku membuka pintu itu.


Dave benar-benar terlihat panik. Sedangkan aku lagi-lagi menepisnya, mendorong tubuhnya agar aku bisa kembali melangkah menuju nakas, untuk mengambil tasku dan segera pergi dari gedung ini.


Dia menarik tanganku tepat di depan pintu kamar, lalu membawaku melangkah bersamanya, keluar dari kamar ini. Entah kemana dia akan membawaku, yang jelas tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Seakan takut aku kabur darinya.


“Masuk!” ucapnya, tetapi terdengar seperti perintah di telingaku saat dia membukakan pintu mobilnya untukku.

__ADS_1


Nyaliku menciut lalu menuruti maunya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah pintu mobilnya ditutup, barulah aku melihat pak tua penjaga apartemen itu mendekatinya. Mereka berbincang pelan, tepat di samping pintuku tetapi aku tidak dapat mendengar jelas apa yang mereka perbincangkan.


Setelah itu, Dave berjalan memutar lalu masuk ke dalam mobil tepat di sampingku di balik kemudi setir. Wajahnya terlihat kesal. Berbeda dengan raut wajah yang sebelumnya saat dia menarik lenganku.


Tetapi aku juga kesal melihatnya yang semaunya bermain di belakangku. Aku juga kesal karena dia tidak berkata jujur padaku. Lagipula mana ada lelaki selingkuh yang akan berkata jujur? Dasar buaya darat! Geramku dalam hati.


Aku memalingkan arah pandanganku dan menatap jalanan di luaran sana. Hingga akhirnya Dave membawaku masuk ke halaman sebuah gedung besar yang bertuliskan hospital di atas gedung itu. Lalu memarkirkan mobilnya.


Dia membuka pintuku lalu memintaku untuk turun, tetapi aku menolaknya. “Antar aku pulang. Aku ingin pulang.” Dengan tegas aku mengucapkan itu.


“Setelah diobati aku akan mengantarmu pulang,” sahutnya lembut.


“Aku ingin sekarang.”


Tiba-tiba saja Dave memasukkan wajahnya ke depan wajahku lalu tangannya melepaskan safetu belt yang membelit di tubuhku. Tanpa permisi ia langsung mengangkat tubuhku masuk ke dalam gendongannya.


“Kamu mau apa?!” pekikku.


“Jangan membantah. Aku tidak suka dibantah jika keadaan kamu aja kayak gini.”


Sangat erat dia menggendongku lalu membawaku masuk ke dalam rumah sakit itu. Lalu berteriak meminta seorang dokter untuk langsung menanganiku.


***


Aku membuka mata dan mengerjab beberapa kali sebab cahaya lampu yang berada di atas langit-langit membuat penglihatanku sedikit silau. Badanku saat ini terasa begitu lemah.


"Aku sudah tahu semuanya, maafkan aku karena belum menceritakan semua itu. Wanita itu Tasha, wanita yang bertemu dengan kita saat minggu lalu di super market,” lirihnya dengan lembut.


Tatapan matanya sangat membuatku damai dan membuatku tidak mampu berpikir jernih saat ini. “Sudah berapa kali?” tanyaku pada akhirnya.


“Hanya beberapa kali,” jawabnya santai.


Astaga!! Dave mengakui jika ia sudah beberapa kali bersama dengan wanita itu di belakangku. Seketika hati ini terasa sakit. Pelan aku melepaskan genggaman tangannya lalu membalikkan tubuhku membelakanginya.


Perlahan air mataku keluar menetes begitu saja membasahi pipiku. Dalam diam aku menangis, menyayangkan sikapnya itu. Berarti benar apa kata pegawai wanita di gedung apartemennya, jika wanita itu memang beberapa kali terlihat datang ke sana untuk menemuinya di belakangku.


“Lisa, Sayang, aku mohon jangan begini. Aku sudah mengakhiri hubungan itu dengannya. Aku hanya menganggapnya masa lalu, tidak lebih. Aku juga tidak bahagia dengannya.” Dave menyentuh pinggangku dan memintaku untuk berbalik menghadapnya. Tetapi aku menolak.


“Tinggalin aku sendiri. Aku mau tenang,” ucapku sedikit tegas, sebab aku tidak ingin dia tahu jika saat ini aku sedang menangis karenanya.


“Aku gak akan pergi. Tapi aku bakalan biarin kamu sendiri di sini dan aku hanya duduk di luar, menunggu kamu sampai kembali tenang.”


Kemudian terdengar suara kursinya yang berdecit lalu Dave mengecup kepalaku. Lalu pergi.


BLAAM!


Kini pintu ruangan ini tertutup dengan rapat lalu mendadak aku tidak bisa menahan rasa sakit hatiku lagi. Aku menangis sekencang-kencangnya. Rasanya hati ini begitu sakit dikhianati oleh orang yang selama ini mengisi hariku. Orang yang tadinya menjadi tujuan hatiku, tempat aku melabuhkan semua rasa.

__ADS_1


Aku sungguh tidak menyangka jika Dave akan seba*ingan ini menjadi seorang lelaki. Begitu berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini padaku. Dia yang terlihat sangat mencintaiku dan mengasihiku, nyatanya hanya sebuah topeng belaka untuk menutupi prilaku bejatnya itu.


Ternyata semua lelaki sama saja. Bisanya hanya membuat wanita berharap lebih tetapi pada akhirnya malah akan menyakiti. Membuat wanita percaya sepenuhnya dan menggantungkan hidup padanya, lalu akhirnya jika bosan akan dengan mudah berselingkuh tanpa merasa berdosa.


Lalu mengapa Tuhan selalu membiarkan wanita menkadi makhluk yang paling lemah? Mengapa Tuhan selalu membuat wanita memaafkan kesalahan lelaki yang jelas-jelas sudah beberaoa kali menyakiti?


Dan aku, apa aku tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan sedikit saja?


Kepalaku terasa pening dan berdenyut. Napasku mulai tidak beraturan diiringi dengan isak tangis yang terus saja aku lontarkan. Sambil melipat dan menarik kedua kaki, aku mendekap kedua kaki itu dengan tubuh yang masih terasa lemah.


Dengan air mata yang terus berlinang, sambil menatap langit cerah di luar jendela pada ruangan itu. Aku kembali menyesali perbuatanku untuk yang kedua kalinya. Menyesal yelah menjatuhkan harapan penuh kepada Dave agar aku dapat melupakan Max. Yang mana ternyata, mereka berdua sama saja sebagai lelaki. Bisanya hanya membuatku sakit hati.


**


Aku kembali membuka kedua mataku. Langit di luar jendela kini terlihat mulai meredup. Lalu jam di dekat jendela sudah menunjukkan pukul lima sore. Sepertinya tadi siang aku kembali tertidur dalam isak tangis yang aku hasilkan sendiri.


Kini aku merasa memiliki tenaga pada tubuhku dan memaksanya untuk beranjak duduk lalu aku menoleh ke sana kemari. Dalam ruanganku benar-benar hanya aku sendiri tapi mungkin di luar sana ada Dave yang menungguku, seperti perkataannya tadi.


Diam-diam aku bangun lalu mengintip keluar pintu, Dave tidak ada. Kursi di depan kamar terlihat kosong. Dengan menarik tiang infus aku berjalan menuju meja perawat dan meminta izin mereka untuk meminjam teleponnya, untuk menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Julia.


Ya, aku hafal betul nomer ponselnya. Sebab hanya dialah satu-satunha teman baikku di kota ini. “Hallo, Julia?”


“Maaf bukan, aku Amelya saudaranya. Dia sedang mandi, apa mau aku sampaikan sesuatu padanya?” sahut suara wanita di seberang sana, yang mengaku sebagai saudara Julia. Padahal setahuku, Julia tidak memiliki seorang pun saudara.


“Oh tidak, katakan saja padanya jika sebentar lagi aku akan ke sana, ke apartemennya untuk bertemu dengannya.” Aku berpesan.


“Oh, baiklah. Tapi maaf, ini dengan siapa? Bagaimana aku akan menyampaikan pesanmu, jika namamu saja aku tidak tahu?”


“Iya, benar. Namaku Lisa, tolong katakan saja seperti itu. Terima kasih. Aku akan segera ke sana.”


Kemudian aku memutuskan sambungan telepon itu dan berterima kasih dengan perawat di balik meja karena sudah mau meminjamkan telepon itu padaku. Lalu aku memutuskan untuk segera kembali ke ruang rawat inap, bukan untuk kembali beristirahat tetapi merencanakan sesuatu.


Begitu di dalam ruangan, aku langsung membuka lemari lalu menemukan pakaianku di sana dan menggantinya. Melepaskan jarum infus yang menancap pada punggung tangan kiriku. Lalu mengendap-endap pergi dari rumah sakit itu.


Menyetopkan sebuah taksi di pinggir jalan lalu mengatakan alamat apartemen Julia pada supirnya, agar segera mengantarkanku ke sana. Pikiranku begitu kacau dan aku butuh Julia untuk bercerita, sebab tidak ada tujuan lain di kota ini yang menjadi arahku selain apartemenku sendiri. Lagi pula saat inj aku tidak membawa ponsel dan juga tasku. Tidak ada uang sepeser pun di tanganku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2