Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 53


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Suara nyaring dari nada dering ponselku menggema di seluruh dinding kamar tidur ini. Membuat emosi sedikit tersulut karena sudah mengganggu nyenyaknya tidur ini. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan tidur senyaman dan selelap itu.


Sambil mengusap salah satu mata, aku bangkit dari tempat tidurku lalu mengambil ponsel di atas nakas. Belum sempat aku membaca nama siapa yang menelepon tiba-tiba saja panggilan itu sudah berakhir.


“Sial!” gumamku.


Jemariku dengan lincah langsung menekan beberapa kode password yang memang sudah aku hidupkan beberapa waktu lalu di ponsel ini. Padahal siapa juga yang akan membukanya? Tidak akan ada yang penasaran dengan isi ponselku ini.


Helaan napas keluar begitu saja dari kedua lubang hidungku. Kedua mataku juga sudah mulai menemukan titik terang saat melihat layar ponsel dengan begitu jelas. Dan sialnya, aku masih menggunakan foto berduaku dengan Dave sebagai wallpaper.



Salah satu tangan kini aku gunakan untuk memijit pelan pangkal hidungku. Segera aku mengarahkan jari jempol pada layar untuk membuka fitur galeri dan mengganti wallpaper ponsel ini menjadi putih polos. Karena seperti itulah harapan kecil yang ada dalam hati ini.


Putih bersih, tanpa ada noda sedikitpun. Aku sadar, sepertinya sangat mustahil jika menginginkan keadaan yang bersih sedangkan diri ini sudah ternoda. Bahkan sangat bernoda.


Entahlah, aku tidak bisa berpikir yang terlalu berat saat ini. Aku hanya bisa fokus pada kuliahku dan segera mencari pekerjaan. Ya, pekerjaan sampingan yang paling tidak harus segara aku jalani, sebelum tabunganku kembali habis.


Tiba-tiba ponselku kembali berdering, di saat aku baru saja memejamkan mata sejenak untuk berpikir. Dan sepertinya aku membuang banyak waktu untuk berpikir.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Kali ini sebuah panggilan telepon dari Julia berhasil ditangkap oleh kedua mataku pada layar kaca ponsel ini. Dengan gesit jempolku langsung menggeserkan tombol berwarna hijau pada layar dan menempelkan benda tipis ini pada telingaku.


“Hallo?”


Di seberang sana, suara Julia kembali menyahuti sapaanku. Lalu dia langsung saja menyampaikan maksud dan tujuannya untuk apa menghubungiku. Julia lagi-lagi mengajakku untuk pergi ke sebuah party, tetapi kali ini bukan ke rumah temannya, melainkan ke sebuah klub. Tentu saja bukan klub yang dulu pernah kami datangi, bukan tempat di mana aku dan Dave bertemu.


“Aduh, Jul. Duit gua sisa dikit. Gua harus cari kerja buat nyambung hidup. Lu aja deh sana, gua di kamar aja.” Aku kembali menolak ajakannya itu.


Tetapi tiba-tiba saja, di seberang sana Julia menawarkan sesuatu padaku. Yang mana tawaran itu cukup membuatku tertarik.


“Seriusan lu?”


“Trus trus? Em ... ya udah deh. Tapi jemputin gua ya? Gua udah males pake itu mobil. Iya, gua tunggu, bye!”


Sejenak aku berpikir, menimbang-nimbang kembali tawaran Julia. Lalu aku menoleh meliat jam di dinding, baru jam sebelas malam. Artinya tadi aku tidur cukup lama.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk segera membersihkan tubuhku dan bersiap-siap pergi menemani Julia malam ini. Pergi ke salah satu klub malam yang mungkin aku juga sedang membutuhkan itu. Sebagai penyegaran otak yang terlalu letih ini. Dan lagi, besok tidak ada jadwal kelas kuliah untukku.


**


Tepat dua puluh lima menit kemudian ponselku kembali berbunyi, kali ini sebuah nada singkat sebagai nada notifikasi sebuah pesan telah berhasil aku terima. Segera aku meraih ponsel itu lalu memeriksanya.

__ADS_1


Sebuah pesan dari Julia yang mengatakan jika dia sudah berada di basemen gedung ini dan sedang malas untuk naik ke atas menjemput. Aku tersenyum memakluminya. Lalu segera aku menutup pintu balkon dan menguncinya.


Saat keluar dari pintu apartemen, aku berpapasan dengan Athria, pemilik gedung ini. Kami hanya saling tersenyum untuk menyapa lalu dia terus melangkah menuju kamarnya. Sedangkan aku melangkah menuju lift dan segera masuk.


Jelas saja Julia malas untuk naik ke kamarku, sebab lift gedung ini terlihat sangat menyeramkan dan bunyi-bunyi gesekan talinya terdengar dengan sangat jelas. Belum lagi jalannya yang lambat.


Tok tok!


Aku mengetuk kaca jendela mobil Julia hingga membuatnya terpekik. Lalu menekan sebuah tombol untuk membukakan kunci pintu mobilnya dan aku segera masuk. “Sorry ya lama, lu tahu sendiri 'kan, lift gedung ini gimana? Mau pake tangga, entar gua keringetan.” Aku beralasan sembari menarik safety belt dan memasangnya.


Klik!! Safety belt telah terpasang.


Julia memandangiku dalam cahaya remang lampu basemen yang tidak terlalu terang benderang. “Kenapa?” tegurku lalu mendelik kedua mataku.


“Elu udah bisa dandan sendiri. Bahkan terlihat elegan sekarang. Gue jadi minder,” aku Julia.


Tertawa pelan aku menjawab ucapannya. “Inget, ini job gue. Elu tugasnya jagain gue dan bawa gue pulang kalau semua sudah kelar. Oke?”


“Siap, Bos!!”


Kemudian Julia menyalakan mesin mobilnya dan segera meluncur pergi meninggalkan kawasan tempat tinggalku. Dalam perjalanan ponselnya selalu saja berdering. Entah siapa yang menghubunginya dan Julia pun seakan tidak peduli dengan dering itu.


“Elu gak mau terima itu telepon?” selorohku.


Julia terlihat menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Tolong dong, Lis,” Julia menyerahkan benda tipis itu kepadaku, “aktifin mode senyap aja. Gue gak mau ntar diganggu kalo lagi kerja.”


Aku mengambil ponsel itu lalu segera melakukan permintaannya untuk mengaktifkan mode senyap. Lalu mengembalikan ponsel itu lagi padanya, tetapi dia memintaku untuk memasukkan ponsel itu ke dalam tas kecil yang ada di kursi belakang.


Sebenarnya aku masih sedikit bingung dengan pekerjaan yang sedari tadi dia sebut-sebut itu. Dan aku baru tahu jika ada pekerjaan yang begitu mudah untuk mendapatkan uang dengan cepat.


“Emang ini kerjaan apa sih, Jul?” tanyaku penasaran.


Aku benar-benar penasaran dengan apa yang akan kami lakukan malam ini. Sebab Julia hanya memintaku untuk menemaninya saja kali ini, memantaunya dari jauh lalu membawanya pulang jika sudah selesai. Karena Julia takut jika malam ini dia akan mabuk.


Setidaknya itulah yang dia katakan saat di telepon. Hanya saja, semua yang dia ucapkan terlalu terdengar ambigu bagiku. Ditambah lagi saat dia mengatakan akan memberikanku upah nanti. Dan upah yang akan Julia berikan tidak sedikit, yaitu 250 £ (Pound sterling) yang mana itu artinya setara dengan uang empat juta rupiah lebih.


“Udah, lu santai aja. Liat sendiri. Gua males jelasin panjang lebar.” Kemudian Julia memutar kemudi setirnya memasuki sebuah basemen dari gedung tinggi yang begitu mewah. Lalu kami melangkah masuk ke dalam gedung bersama dengan aku yang membontel di belakangnya.


Suasana klub ini tidak jauh berbeda dengan suasana klub lain pada umumnya. Dentuman musik yang kencang, bar yang dipenuhi dengan berbagai jenis minuman beralkohol. Lantai danda yang luas dan beberapa lantai dansa pribadi juga terlihat di dalam beberapa bilik yang ada. Ditambah lagi dengan wanita penghibur yang berpakaian minim serba sexy.


“Maaf, permisi, saya mencari Tuan Antonio,” ucap Julia pada salah seorang pelayang yang baru saja melintas di depanku.


Pelayan itu memerhatikan Julia dari ujung rambut hingga ujung kakinya. “Mari ikut saya.” Pelayan lelaki itu langsung menunjukkan jalan pada kami untuk menemui orang yang dicari oleh Julia.


“Beliau ada di dalam.” Kemudian pelayan itu kembali melangkah pergi meninggalkan kami berdua.


Julia berbisik padaku, “Eluu tunggu gua di bar aja. Paling gua cuman nemenin minum bentar sampe dia mabuk.” Aku mengangguk menurutinya lalu meninggalkannya berjalan menuju bar dan duduk sendirian.


Aku memesan segelas minuman Old Fashioneds pada seorang bartender yang berada di depanku. Old Fashioneds adalah salah satu minuman cocktail yang dibuat sederhana dengan campuran rye whiskey alias wiski dari gandum hitam dan beberapa tetes minuman jenis Angostura bitters yang terasa pahit.


Minuman jenis ini hanyalah sebuah minuman campuran yang dibuat dengan cara kuno, menggunakan beberapa bahan sederhana dan tanpa hiasan apapun pada gelasnya saat disajikan. Sebenarnya aku bisa membuat minuman jenis ini sendiri sebab saat dulu bersama Dave, dia pernah mengajariku untuk membuatkan minuman ini untuknya.


Hah!!


Lagi-lagi Dave!


Otakku sepertinya benar-benar sudah dipenuhi olehnya. Di mana pun kaki ini melangkah, selalu mengingatkanku padanya. Benar-benar payah.


Dengan perasaan yang tidak menentu ini, aku mengangkat segelas minumanku tadi dan menegak isinya sampai habis. Lalu berselang beberapa saat Julia tiba-tiba kembali datang menghampiriku.


“Martini, please!” seru Julia seraya duduk di sampingku. Lalu dia melipat satu lengannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya sambil tersenyum menatapku.


“Udah? Cepet banget?!” tanyaku bingung. Tetapi Julia tetap saja menatapku dengan tatapannya yang begitu aneh.


Aku membalas menatapnya dengan bingung. “What?!”


Lalu perlahan tangannya yang satu lagi bergerak membuka tas lalu memperlihatkan isinya kepadaku. Spontan aku membuka mulutku dengan lebar saat melihat sebundel uang kertas bermata uang Pound sterling itu. Lalu menatap Julia yang tersenyum tipis dan menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1



Aku membenarkan posisi dudukku lalu menutupi mulutku dengan telapak tangan kiriku. Berkali-kali aku melirik ke arahnya lalu kembali ke posisi semua. Tidak menyangka jika Julia akan dengan mudah dan secepat itu mendapatkan uang.


Julia langsung mengangkat segelas martini-nya dan menghabiskannya dengan sekali angkat. “Again?” tawarnya sambil memberikan gerakan penawaran minuman padaku. Aku tertawa ringan melihatnya dan mengangguk tidak percaya.


“Two Martini, please!” pesannya kembali pada seorang bartender yang sama sejak aku duduk di kursi ini.


Aku benar-benar takjub melihat puluhan lembar uang kertas bernilai dua puluh pound sterling yang terikat dalam beberapa bagian.


“Kita menang banyak!” bisik Julia di telingaku yang seketika membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak.


Begitu dua gelas cocktail kami tersaji, Julia mengajakku untuk melakukan cheers atas pekerjaannya kali ini yang berjalan dengan mulus. Benar-benar sangat mudah baginya mendapatkan uang itu. Apa benar Julia hanya menemani lelaki itu minum?


Pikiranku sudah melayang ke mana-mana memikirkan segala kemungkinan di depan mata. Dan sekali lagi aku menatap tubuh Julia. Sungguh masih rapi dan tidak ada yang berubah.


Bahkan selembar syal kecil yang menghiasi bagian lehernya saja masih terikat dengan rapi di sana. Jadi rasanya tidak mungkin jika Julia melakukan hal yang aneh-aneh.


Lalu kami hanya bisa saling berpandangan lalu sesekali tertawa. Seakan sudah memahami betul dengan apa yang terjadi malam ini.


Julia mengambil beberapa lembar uang dari tumpukan itu lalu memberikannya pada sang bartender untuk membayar beberapa gelas yang kami minum tadi. Namun tiba-tiba saja sang bartender mengatakan jika minuman kami tadi telah di bayaran oleh seseorang.


“Sudah dibayarkan oleh Tuan muda yang ada di sebelah sana dan ini bonus untuk Anda berdua,” ucap bartender itu sedikit berteriak sambil menunjukkan jarinya ke salah satu arah.


Aku dan Julia berpandangan, lalu perlahan menoleh mengikuti tunjukan jari sang bartender. Dan menemukan seorang lelaki yang duduk pada sebuah bilik sofa terbuka bersama teman-temannya yang lain.


Lelaki itu tersenyum lalu mengangkat sebuah gelas di tangannya. Aku langsung berbisik pada Julia, “Itu orang yang tadi elu temuin?”


Julia menggeleng tipis, nyaris tak terlihat. “Bukan.”


Kemudian Julia menyenggol lenganku sembari menatapku. Aku yang ditatap seperti itu seakan paham lalu berbalik, kami sama-sama mengambil gelas minuman yang tadi di sajikan untuk kamj secara gratis olehnya lalu membalas mengangkat gelas kami dan meminumnya hingga habis.


Setelah itu Julia menoleh padaku lalu entah mengapa kami berdua tertawa terbahak-bahak dan mengucapkan terima kasih pada sang bartender. Julia tetap memberikan uang yang sudah keluar dari tasnya tadi pada lelaki bartender itu, dengan meletakkannya di bawah gelas minuman kami tadi.


“For you. Thanks.” Julia sedikit berteriak karena musik semakin terdengar nyaring, lalu Julia menarik tanganku untuk segera pergi mengikuti langkah kakinya.


Sambil tertawa tidak jelas, kami melangkah kembali ke dalam mobil. “Gua malam ini tidur di tempat elu aja ya? Besok temenin gua ke bank.” Julia memohon, aku mengangguk girang melihat pencapaiannya malam ini, bahkan hanya hitungan beberapa jam kami keluar dari rumah.


Waktu saat ini baru menunjukkan pukul satu dini hari. Julia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil mendengarkan sebuah lagu dari Samantha Harvey yang mengalun lembut dari audio dashboard mobilnya ini. Sebuah lagu lama yang di-cover ulang olehnya berjudul Like I'm Gonna Lose You.


Dan entah mengapa kami berdua melantunkan lagu itu dengan penuh kebahagiaan, padahal lalgu tersebut termasuk dalam jajaran lirik galau.


**


Kini kami sudah terbaring telentang di atas tempat tidurku. Dengan napas yang terengah karena kami naik melalui tangga darurat, bukan menaiki lift reyot itu. Sesekali aku terkekeh geli, menertawakan kehidupanku yang begitu sial.


Masa remaja yang hilang begitu saja karena kedua orang tua yang meninggal, lalu cinta pertama yang termasuk gagal. Kemudian cinta lain yang tadinya aku pikir sempurna untukku, tanpa tahu ternyata cinta itu milik wanita lain.


Aku tertawa lalu memiringkan posisiku menatap Julia yang memejamkan mata, tetapi senyuman di wajahnya tidak pernah hilang. “Jul ... Juls!” seruku memanggilnya, tapi sepertinya Julia sudah terlelap masuk ke dalam alam mimpinya.


Dengan kedua mataku yang sedikit tertutup lalu terbuka pelan, aku berkata, “Cinta itu cuman sebuah kebull*hitan. Gak ada yang namanya cinta sejati. Yang ada hanya cinta sehati dan saling menyakiti ....”


Kekehan kecil berhasil aku lontarkan lalu perlahan kedua mataku terasa semakin berat kemudian aku ikut terlelap tidur.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2