Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 38


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dave POV.


'Semoga saja Tasha tidak bisa menemukan Lisa di mana pun. Wanita itu benar-benar sudah gila!' batinku menyumpah, setelah selesai melakukan video call dengan Lisa.


Bagaimana aku tidak kesal jika tiba-tiba saja wanita gila itu mengirimkan sebuah pesan yang mengatakan bahwa dirinya akan mencari tahu tentang Lisa dan akan menghancurkan hubunganku. Agar aku dapat kembali padanya. Sungguh tidak masuk akal.


Dia yang mengkhianatiku, dia yang merusak kepercayaanku serta segalanya macam yang sudah aku serahkan padanya dan sekarang dia malah berniat untuk menghancurkanku. Apa namanya jika bukan wanita gila? Sebutan itu sangat cocok untuk Tasha yang selalu mengagumi sebuah ketenaran dan juga harta kekayaan. Mungkin baginya dulu, rasa cinta dan kesetiaanku tidak berarti apa-apa.


Untung saja, saat ini aku memiliki kekasih seperti Lisa. Wanita yang satu ini selalu menghubungiku jika dia akan pergi bersama temannya. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengabariku saat kami terpisah akan jarak. Seperti tadi siang selepas waktu kuliahnya berakhir.


Lisa mengatakan, jika dia akan pergi mengelilingi kota bersama dengan teman wanitanya. Tapi tidak aku sangka jika teman wanita yang dia maksud itu adalah temannya yang berasal dari Indonesia. Aku pikir dia akan pergi bersama dengan Julia, teman wanitanya yang mengenalkan kami dahulu.


Dengan lega aku mengembuskan napas, setelah melihat Lisa yang sedang baik-baik saja bersama temannya melalui panggilan video call. Hingga aku dapat bekerja dengan tenang di sini, mengurusi segala macam keperluan yang karyawanku lakukan untuk memajukan usahaku. Serta ikut melayani para calon investor yang melirik usahaku ini.


Menit demi menit yang aku lalui saat ini begitu terasa lambat berlalu, apabila Lisa sedang tidak berada bersama denganku di sini. Berbeda di saat aku bersama dengannya, waktu begitu terasa cepat berganti. Hingga rasa-rasanya aku selalu memiliki waktu kurang saat bersamanya. Mungkin ini yang di katakan sebagai bumbu dari percintaan. Terpisah jaraj dan juga waktu.


Sejenak aku kembali teringat akan status hidupku. Napas ini sekali lagi berembus dengan beratnya, berkali-kali aku mencoba untuk memikirkan kalimat apa yang pas untuk aku ucapkan pada Lisa, tentang statusku ini, selepas aku kembali nanti dan bertemu dengannya. Karena jujur saja, aku tidak ingin menyembunyikan semuanya. Aku ingin hidup bebas dengan Lisa tanpa ada sesuatu yang harus aku rahasiakan padanya. Aku ingin ketenangan.


Lantas, apa nanti dia akan tetap seperti ini kepadaku? Apa sikapnya akan terus semanis ini?


Jujur, sebenarnya ada sedikit rasa ragu dalam hati ini. Bukan ragu pada Lisa, tetapi ragu akan jalinan hubungan ini. Aku takut jika hubungan ini hanya sementara. Aku takut jika aku harus merasakan kembali bagaimana rasanya kehilangan wanita yang aku cintai, setelah aku benar-benar merasa hidup bergantung dengannya. Tergantung karena sebuah rasa cinta yang teramat dalam.


“Pak ... Pak Dave?”


Suara seorang lelaki yang aku ketahui sebagai asistenku di kantor berhasil memudarkan lamunanku. Menyelamatkanku dari beberapa pemikiran dan pertanyaan ketidakmungkinan yang terlalu aku cemaskan.

__ADS_1


“Ya, ada apa Leo?” Aku menatapnya yang berdiri di sampingku.


“Mr. Mike Lewis ingin bertemu dengan Bapak,” sahut Leo dengan pelan sambil mengarahkan jemarinya ke salah satu sudut. Di mana rekan kerjaku sedang berdiri dan tersenyum ke arahku.


Aku melambaikan tanganku untuk menyapa secara jauh. “Makasih ya!” Aku menepuk pundak Leo sambil berdiri dan melangkah mendekati rekan kerjaku itu.


Mr. Mike Lewis adalah salah seorang pengusaha wall street ternama di kota Manhattan, New York. Dia juga merupakan pelanggan tetap untuk beberapa furniture milikku. Sampai perabotan di rumahnya saja, juga dari hasil dari karyaku sendiri. Satu-satunya dan dia berani untuk membeli mahal karyaku itu. Bisa dibilang, dia merupakan salah satu orang terkaya di kotanya.


(Anggap saja bahasa percakapan di bawah sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Soalnga kalau nulis bahasa Inggris, takutnya ada yang gak paham. Padahal ini hanya alasan Author saja, soalnya aku juga masih belajar bahasa Inggris yang baik dan benar. *lol)


“Hai, Mr. Lewis ... apa kabar?” sapaku seraya mengajaknya untuk berjabat tangan. Dia nyambut jabatan tanganku dengan ramah. “Kali ini apa yang membawa Anda jauh-jauh pergi ke sini?”


“Aku hanya ingin menemuimu, sebab aku ingin kamu mendesain sesuatu untuk hadiah ulang tahun anakku.” Mr. Mike Lewis menepuk pundakku. Lalu aku mengajaknya untuk duduk di mejaku, menjauh dari acara exhibition yang begitu ramai.


**


“Bagaimana?” tanyanya sekali lagi.


“Untuk besok ... di siang hari, aku sudah harus kembali ke pusat kota, maaf sekali.” Aku menolak tawarannya secara halus.


“Sepertinya mendadak sekali, apa kekasihmu sudah tidak sabar ingin segera bertemu?” godanya padaku.


Mr. Mike Lewis memang selalu pandai untuk urusan goda-menggoda. Apalagi jika sudah menggodaku untuk urusan pribadi. Beliau hampir mirip dengan orang tuaku dulu saat aku masih anak-anak. Mereka sering menggodaku yang dekat dengan anak tetangga. Saat aku masih tinggal di Indonesia.


Aku masih ingat betul dengan wajah anak perempuan itu. Dia lucu, periang bahkan sering mengetuk pintu rumah orang tuaku hanya untuk mencariku. Namanya Clara. Kedua orang tuaku sering mengajak keluarganya untuk makan bersama kami.


Semua itu terjadi begitu saja, sebelum kedua orang tuaku mulai kehilangan akal sehatnya dan melakukan kesalahan untukku dan juga adikku. Sampai akhirnya keluarga Clara pergi meninggalkan kami. Mungkin mereka tidak tahan dengan sikap kedua orang tuaku. Karena hanya keluarga Clara saja yang mau menjadi tetangga kami dulu. Dulu sekali, saat aku masih sangat kecil dan Dana belum sekolah.


Entahlah, tiba-tiba saja aku kembali mengingat anak perempuan itu. Entah di mana sekarang dia berada. Semoga saja dia selalu bahagia.

__ADS_1


“Sepertinya dugaanku benar, kamu kembali tersenyum sendiri sambil mengkhayal, pasti memikirkan kekasihmu. Aku menjadi penasaran, bagaimana rupanya wanita itu.” Lagi-lagi Mr. Lewis menggodaku, membuatku tersadar akan lamunanku hingga aku tidak bisa berkata apa pun lagi, hanya tersipu malu karena ucapannya itu.


“Berapa lama rencananya Anda berada di sini? Mungkin kita bisa mengatur ulang jadwalnya.” Aku menawarkan, sebab aku tidak ingin membuatnya kecewa atas penolakanku tadi.


“Benarkah? Bagaimana jika aku saja yang pergi ke pusat kota?“


“Jika Anda bersedia mendatangiku di sana, tentu aku tidak akan keberatan. Tetapi aku tetap harus bertanya terlebih dahulu dengan kekasihku.”


“Sungguh lelaki idaman. Aku akan menunggu kabar darimu dan semoga saja ... kekasihmu itu mau bertemu dengan lelaki tua sepertiku ini.”


Gelak tawa kami pecah secara bersamaan. Mr. Lewis sungguh humoris. Hingga tidak terasa saat ini kami sudah berjalan sampai keluar galeri dan mobilnya sudah datang menghampiri bersamaan dengan seorang supir yang membukakan pintu mobil untuknya.


Kemudian beliau masuk ke dalam mobil dan menurunkan kaca jendelanya lalu berkata, “Jangan sampai lupa untuk mengabariku, jadi aku memiliki waktu untuk pergi ke salon terlebih dahulu,” ucapnya seraya kembali diakhiri dengan tawanya yang pecah.


Aku melambaikan tanganku untuk melepas kepergiannya itu, hingga mobilnya menghilang di antara keramaian jalanan di depan gedung ini. Sekilas aku kembali mengingat Lisa. Entah mengapa aku ingin sekali mengenalkannya kepada rekan-rekan bisnisku, bukan tanpa alasan, tetapi karena aku merasa bangga memilikinya.


Berbeda jauh saat aku memiliki Tasha, aku malah selalu ingin menyembunyikannya. Begitu pula sebaliknya. Kami seperti merahasiakan segalanya dari dunia.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk memberika like dan juga kasih komen yang banyaaaakkk.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2