
Alex POV.
Tuut..
Tuut..
"Hallo?" sapa suara diseberang sana.
"Hallo Kai, lu udah dimana?" tanyaku pada Kaisar.
"Gua udah deket kok, lu udah di bawah kan?"
"Iya udah di pinggir jalan ini."
"Oke, wait yaa."
Sambungan telepon ku matikan.
Hari ini rencananya aku dan Kaisar akan pergi ke rumah Pablo, menemaninya ke lab untuk pemeriksaan DNA. Jefri sudah mengirimkan titik lokasi rumahnya beserta alamat lengkapnya. Aku dan Kaisar memang dengan suka rela membantu Jefri melakukan ini.
Karena jujur saja, kami sudah sejak lama muak dengan hubungan Jefri yang di manfaatkan oleh Paula. Apalagi begitu mendengar kisah Jefri yang masih saja di ganggu oleh Paula sejak mereka putus.
"Lu yang nyetir ya, biar gua GPSnya." pinta Kaisar begitu sampai menjemput ku.
Aku mengangguk bertukar tempat dengan Kaisar lalu pergi melesat menuju rumah Pablo. Sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya kami membahas tentang hubungan Jefri dan Tika. Sudah lama aku tidak melihat Jefri segencar itu. Sampai-sampai aku menceritakan pada Kaisar tentang kekonyolan Jefri yang membeli satu set perhiasan untuk melamar Tika. Padahal posisinya saat itu Tika masih bersikap dingin pada Jefri. Sungguh konyol.
Lalu tak terasa kami pun akhirnya sampai ditempat tujuan. Ku lihat Pablo sudah duduk didepan rumahnya menunggu kedatangan kami.
"Hei Bro.. Gua Alex, ini Kaisar. Gimana udah siap cabut?" sapaku.
"Hai.. Iya gua udah siap."
Kami bertiga segera memasuki mobil lalu pergi menuju Rumah Sakit dimana kami mendapatkan hasil DNA sebelumnya dari Paul dan Jefri.
Setelah beberapa tahapan test selesai. Pablo di perbolehkan untuk meninggalkan ruangan. Aku dan Kaisar sudah menunggu selama ± 3 jam di lobby rumah sakit. Ku lihat Pablo berjalan ke arah kami.
"Gimana?" tanyaku padanya.
"Udah kelar kok. Kata dokternya hasilnya keluar 3 bulan lagi, bisa lebih cepat kalo ga ada trouble." jelas Pablo.
"Iya emang 3 bulan. Jefri kmren sama tu anak juga 3 bulan lebih kan?" sahut Kaisar.
"Trus biaya nya gimana tuh? Mahal loh, gua ga punya duit segitu.." ujar Pablo ngenes.
"Tenang aja lu, Jefri udah ngurusin semuanya kok." ujarku.
"Yok balik. Udah kan?" ajak Kaisar.
**********
Tika POV.
"Mah.. Mamah.." panggilku pada Mamah yang sedang santai di kursi jemur sambil membaca sebuah majalah.
"Iya, kenapa sih? Tumben kamu hari libur bangunnya siang. Biasanya jogging.." omel Mamah tiba-tiba.
Aku duduk di dekat ujung kaki Mamah, "Lagi capek.."
"Capek ngapain? Tiap hari kan udah punya driver baru.." goda Mamah.
Aku terkekeh geli, "Driver driver, udah kayak ojol aja Mamah ih. Tega."
__ADS_1
Mamah menatapku, lalu menutup majalahnya dan menaruhnya di atas meja, "Kamu nerima lamaran Jefri bukan karena Mamah minta cucu dari kamu kan?" ucap Mamah serius.
Aku mengernyitkan sebelah alisku, "Ya enggak lah Ma."
"Soalnya Mamah inget, kata kamu kan baru beberapa bulan kenal dia."
"Ya-ya iya sih Mah, cuman aku ngerasa dia serius aja malam itu. Makanya aku terima."
"Trus tempo hari kamu ketemu orangtua nya, gimana tanggepan mereka?"
Aku cengengesan, "Sebenernya waktu awal-awal kenal, aku udah pernah diajakin ketemu keluarganya sih. Tapiiiiiii....."
Mamah masih mendengarkanku dengan seksama, tentunya dengan tatapan tajam bak ingin menerkam anaknya sendiri.
"Aku ga nyangka aja kalo bakalan sejauh ini. Soalnya kan udah biasa Mah aku ketemu sama keluarga temen aku, mau cewe mau cowo. Iya kan?"
"Mamah tu nanya tanggepan mereka ketemu kamu setelah Jefri ngelamar kamu itu gimana? Bukan cerita sebelum di lamar..." omel Mamah lagi.
"Ya baik-baik aja sih, Mama Papa nya welcome kok. Nah itu juga yang mau aku tanyain sama Mamah. Orangtua nya mau ke sini, ketemu Mamah sama kakak-kakak, kapan Mamah bisa nya?"
"Buat ngelamar officially nih?"
"Maybe, aku kan ga ngerti Mah! Max kemaren kan Mamah sama haikal aja yang datengin."
"Loh kan sekarang Mamah jadi pihak wanitanya, ya sembarang Orangtua Jefri nya aja."
"Mamah maunya lamaran private kita-kita aja, apa pake keluarga besar nih?"
"Loh kok nanya Mamah, ya kamu sama Jefri maunya gimana? Kalian berdua bicarain dulu maunya kalian gimana, nanti kami yang tua-tua ini tinggal ngikutin aja."
Aku mengangguk.
"Tapi beneran deh, Mamah mau nanya sekali lagi, kamu cinta sama Jefri? Cinta sama suka itu beda tipis loh. Pahamkan kamu maksud Mamah?" serius Mamah lagi.
"Kamu sudah yakin mau hidup sama dia? Setiap hari ngeliat dia. Apa-apa sama dia. Trus dia masih ngebolehin kamu kerja gak setelah nikah? Ambition kamu udah di tangan belum, kalo belum gimana pendapat dia? Trus bisa kamu terima gak kalo dia ngebatesin hidup kamu?"
Aku berpikir lagi, tapi kali ini entah kenapa bibirku seakan bergerak sendiri dan menjawab pertanyaan Mamah dengan lantang.
"Aku ga tau semua hasilnya bakalan gimana kalo aku ga berani ambil tindakkan sekarang Mah. Yang jelas, Mamah doain aja aku kuat ngadepin masalah apapun begitu berumah tangga nanti. Dan tolong Mamah ingetin aku lagi, tentang alasan ini, semisal terjadi sesuatu sama hubungan kami."
Mamah langsung memelukku erat. Sambil mengelus rambutku. Seperti anaknya yang masih berumur 5 tahun. Kemudian terdengar isakkan kecil di telingaku.
**********
Hari sudah siang, sekitar jam 12. Aku keluar dari kamarku. Mamah sedang pergi hangout bersama teman-temannya. Bi Mince sedang temu kangen dengan keluarganya yang datang ke kota. Dan aku? Sendirian di rumah.
🎶
Tuninot.. Tuninot.. Tuninot..
Tuninot.. Tuninot.. Tuninot..
Tuninot.. Tuninot.. Tuninot..
🎶
Aku berlari lagi ke dalam kamarku begitu mendengar ponselku berbunyi.
Jefri video call.
"Hai?" jawabku tersenyum.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain libur gini?" tanyanya.
"Em, barusan mau ke dapur, laper."
"Aku juga belum makan, kita makan keluar yuk!" ajaknya.
"Aku lagi males dandan. Males jalan juga."
"Hm. Ya udah kalo gitu kamu masakin buat aku juga deh, aku kesana, makan sama kamu."
Aku tersenyum, sambil berjalan menuruni tangga menuju dapur, "Makan sama aku atau makan aku nya?"
"Jangan mulai deh.."
Aku terkekeh geli.
"Ya udah, aku otw ya, muuuuach!" pamitnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku melambaikan sebelah tanganku padanya lalu dimatikannya panggilan video callnya. Ku letakkan ponselku di meja kitchen. Ku buka kulkas. Ada beberapa bahan yang bisa ku masak. Lalu dengan cekatan ku keluarkan dari kulkas. Aku membuat fried fish and mashed potatoes with tartar sauce.
(buat yang kagak tau itu makanan apaan, bisa cek di aplikasi serba pintar kalian! Itu makanan paling simple dibuat menurut author. Tapi paling simple lagi kalo jadi Jefri. Ntar tinggal dateng, makanan udah jadi. Kayak pergi ke resto-resto aje 🙄 nah loh kok author malah ikutan nyempil ditengah cerita sih? Maaf maaf pemirsahh, author kecentilan nih kayaknya 😁)
Still Tika POV.
Masakkan ku sudah jadi, tinggal membuat tartar sauce. Lalu bel rumah berbunyi. Aku setengah berlari membukakan pintu. Karena aku tahu, yang datang itu calon suamiku.
Aku sumringah membukakan pintu, berloncat memeluknya.
"Waduh kenapa ini?" seru Jefri kaget melihat tingkah bar bar ku.
Ku lepaskan setengah pelukkan ku lalu menatapnya. Ku kecup bibirnya lembut. Lalu ku ajak dia masuk ke dapur.
"Duduk dulu ya, sauce nya belum jadi." ucapku.
Lalu ku lanjutkan kembali membuat tartar sauce untuk pelengkap hidangan ku.
"Ready to reserve!" ucapku sambil menyodorkan dua buah piring dengan isi yang sama.
"Kok rumah sepi?" tanyanya tiba-tiba.
"Mamah sama Bibi lagi ada acara."jawabku sambil melepas celemek.
"Ini makanan nya dijadiin satu piring aja dong." pintanya.
"Ga semua nya buat kamu, satu nya buat aku." sewotku.
Jefri berdiri dari duduknya, bejalan menuju rak piring dan mengambil piring yang lebih lebar. Lalu menumpahkan kedua isi piring tadi menjadi satu. Tidak lupa sepasang garpu sendok juga ada didalam piring itu. Aku yang sedang memegang botol minum air putih, melongo melihat tingkahnya. Kemudian di bawanya piring lebar tadi sambil berjalan menarik lenganku menuju ke ruang televisi.
Di taruhnya piring itu diatas meja di depan sofa lalu duduk sambil menyuruhku duduk disebelahnya. Dinyalakannya televisi, mencari saluran program televisi yang bagus.
"Ya udah makan, katanya laper." ucapnya santai.
"Kegedean piringnya ini, berat, kalo makan di dapur sih ga papa, ini kan susah. Jauh." protes ku karena jarak antara sofa dengan mejanya lumayan jauh.
"Haah! Bawel banget.." gumanya.
Langsung dengan sigap Jefri memangku piring besar itu.
"Nih."
Lalu dengan mudah aku bisa memakan masakkanku tadi.
__ADS_1
"Suapin dong. Kan aku juga mau makan." titahnya.
Secara bergantian ku masukan isi masakkanku antara ke dia atau diri aku sendiri. Sampai akhirnya makanan itu ludes habis kami makan berdua. Lalu ku teguk air putih tadi. Jefri juga meneguk air putih dari botol yang sama denganku. Bergantian.