
Dave POV.
Tingtong!
Aku segera berjalan menuju pintu depan setelah sebelumnya meminta Lisa untuk tidak keluyuran ke mana-mana. Meninggalkannya makan di ruang dapur.
Ceklek.
Aku menarik knop pintu lalu melihat seorang lelaki yang tersenyum-senyum cengengesan. Ia mencoba mencari celah agar dapat melihat isi apartemen-ku. Sambil menyodorkan sebuah paper bag, sesuai dengan pesananku. "Mana liat dong?" ucapnya.
Lelaki ini bukan jasa delivery order, tapi dia adalah adikku, Dana. Ya, biasanya aku akan meminta bantuannya untuk hal yang satu ini. Sebab selera berbelanjanya untuk wanita lumayan bagus dan berkelas.
Tiba-tiba saja Dana hendak melangkahkan kakinya untuk masuk, di saat aku sedang mengintip isi paper bag yang ia berikan tadi. Dengan sigap aku menahan tubuhnya dengan telapak tangaku. "Santai, Bro. Yang ini punya gua, tunggu kalo gua udah bosan. Gua kasih!" ucapku sambil mendorongnya hingga ia mundur beberapa langkah.
"Udah pulang sana!" tambahku lagi sambil mengibaskan telapak tanganku seraya menutup pintu.
Sekali lagi aku mengintip isi paper bag itu lalu menarik sebuah kain berwarna putih. Sebuah blouse dengan bahan kain yang lembut dan dingin. Lalu satunya lagi sebuah celana panjang jeans berwarna biru. Good!
Dengan percaya diri aku kembali memasukkan satu setelan pakaian itu, lalu melangkah kembali ke dapur. Meletakkan paper bag itu di samping piring makan Lisa yang sedang asik dengan isi piringnya.
"Apa nih?" ucapnya terkejut lalu meraih paper bag itu.
Aku hanya menoleh sekilas. "Buat kamu."
Setelah mendengar ucapanku, barulah wanita ini membuka paper bag yang terbuat dari kertas berwarna coklat muda itu dengan kombinasi berbagai coretan gambar.
Ia turun dari kursinya lalu mematutkan dirinya sambil mengepas blouse itu pada pantulan kulkas. Wajahnya terlihat berseri, senyumannya manis dan ... mataku langsung bergerak ke arah bawah bagian tubuhnya yang terbuka. Pahanya begitu mulus.
Deg!
Jantungku tiba-tiba berdetak dengan begitu kencang. Padahal aku hanya melihatnya seperti ini. Masih tertutup dengan selembar kemejaku yang ia kenakan. Sudah banyak wanita lain yang mengenakan kemejaku itu. Tapi pagi ini, melihat dia yang menggunakannya, membuat hatiku berdesir.
"Apa kamu suka?"
Wanita ini mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat. Bahkan senyuman manisnya kembali mengembang pada wajahnya. Cantik. Sungguh natural, bahkan setelah make-up yang ia poles menghilang pun wajahnya masih saja terlihat cantik. Natural.
"Jadilah wanitaku ...," ucapku dengan lantang, membuat ia tiba-tiba menatapku terkejut lalu menjatuhkan blouse itu dari tangannya yang menyilang di depan dadak. Akibat bercermin pada pantulan dinding kulkas.
Dia melongo menatapku. Membuat aku yang mau tidak mau harus turun dari kursiku dan memungut pakaian yang sudah ia jatuhkan ke lantai. Lalu meraih kedua tangannya. Mengenggam erat dengan kedua mata kami saling beradu.
Entah apa yang mendorongku ingin memiliki dirinya seutuhnya. Sebelumnya tidak pernah aku seberani ini dengan wanita. Bahkan terpikir untuk memiliki pun tidak.
Sejak tadi malam, saat pertama kali melihatnya di dalam klub itu dari kejauhan. Aku sudah terpesona. Apa lagi begitu melihatnya pagi ini di bawah cahaya lampu yang terang seperti ini. Dia semakin cantik.
Tanpa meminta izinnya dan menunggu jawaban darinya, mataku tertuju pada bibir mungil berwarna pink yang wanita ini miliki. Ia masih terdiam membeku, lalu kuraih dagunya dan sekilas mengecup bibirnya. Saat kulepaskan ciuman itu, aku melihat matanya yang tertutup. Lalu kuulangi sekali lagi ciuman itu.
__ADS_1
Kutempelkan bibirku pada bibirnya dengan sempurna. Beberapa detik hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menyelipkan lidahku di antara sela-sela bibirnya. Tidak ada perlawanan hingga lidahku berhasil masuk menyentuh lidahnya. Lalu kucecapi dengan lembut.
Aku melepaskan genggaman tanganku pada tangannya, beralih menyentuh kedua pinggangnya. Lalu seketika Lisa membalas kecupanku. Kami saling menghisap, bertukar saliva hingga kedua tangannya tersemat pada pundakku.
Ciuman kami terasa semakin liar. Dengan beberapa bunyi yang tiba-tiba terdengar begitu saja, yang dihasilkan oleh tautan lidah kami. Jemari Lisa mulai menyentuh ceruk leherku hingga meremat rambut belakangku. Semakin membuatku bergairah.
Kami melakukannya dengan rakus. Kemudian aku mengangkat tubuhnya, mengendongnya bak anak kangguru. Lisa membelitkan kedua kakinya pada pinggangku. Sambil terus mencecap tanpa lepas, aku berjalan membawanya masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar berukuran king size milikku. Tampat di mana tadi malam kami bergumul dengan begitu panas.
Kulepaskan pautan kami, lalu kutatap wajahnya yang kini membuka mata. Dengan lututku yang bersimpuh masing-masing di samping pahanya. Sebelah tanganku ada di samping telinganya, sebagai tumpuan lalu sebelah tanganku yang satunya lagi memegangi pinggangnya.
"Aku gak akan mengulangi kalimatku untuk yang kedua kali. Kalau kamu gak bersedia, kamu bisa bangun sekarang." Dengan pelan aku ucapkan kalimat itu.
Tapi wanita ini tetap bergeming.
Perlahan aku menurunkan tubuhku, kembali kukecup bibirnya yang terasa manis akibat susu yang ia minum sebelumnya. Ia membalas ciumanku dan berusaha mengimbangi permainanku.
————
Lisa POV.
Aku menyukai caranya memperlakukanku. Begitu lembut hingga aku dapat membalas perlakuannya. Lidahnya mengabsen setiap jengkal rongga mulutku. Sungguh nikmat dan membuatku candu.
Kini ia melepaskan lidahnya. Menepis pipiku dengan dagunya agar kepalaku sediki menoleh, membiarkan kepalanya masuk ke dalam celah leherku lalu mengecup ceruk leherku di sana.
Tangannya yang sedari tadi memegangi pinggangku, kini perlahan bergerak. Menyingkap kemeja yang kukenakan, lalu menelusup masuk ke dalam. Menyentuh kulitku secara langsung dengan telapak tangannya yang terasa hangat. Permainan lidahnya yang begitu cakap, membuatku kembali rindu akan sentuhan-sentuhan kecil di bagian lainnya pada tubuhku.
Puas dengan bagian ceruk leher dan telingaku, ia mengangkat tubuhnya. Aku membuka mataku dan menatapnya. Aku akui dia masih terlihat sangat rupawan, tapi jika dibandingkan dengan Max, aku rasa umurnya pasti jauh di atas Max.
Tiba-tiba saja saat kami sedang beradu mata, tangannya yang kekar langsung menarik kemeja yang kugunakan. Membukanya dengan paksa hingga kancingnya terlepas dan beberapa bagian kain robek. Aku terkejut melihat tingkahnya itu, berbeda dengannya yang hanya tersenyum.
Kemudian secara langsung ia kembali melakukan aksinya. Mencecapi seluruh bagian tubuhku. Mulai dari leher hingga ke bagian paha dalamku. Bukannya aku tidak bisa mengelak, melainkan aku menyukai perasaan ini. Aku menyukai sensasi geli yang dihasilkan oleh sentuhan tangannya, bibirnya bahkan lidahnya.
Aku memejamkan mataku dengan rapat, hanya untuk merasakan gelenyar aneh yang menjalar pada sekujur tubuhku. Kemudian dengan perlahan ia melepaskan pakaian dalamku setelah sebelumnya ia melepaskan baju kaos dan celana training yang ia kenakan.
Tubuhnya yang kekar kini berada tepat di hadapanku. Dengan dada yang bidang dan bagian perutnya yang membentuk bongkahan roti sobek. Membuat jantungku berdetak dengan tempo yang tidak teratur. Dadaku terlihat jelas naik dan turun untuk bernapas, hanya karena melihat penampilannya yang kini hampir polos.
Berkali-kali ia melakukan pemanasannya padaku. Menyapu tubuhku dengan lidahnya, kembali menambahkan beberapa ruam tanda kepemilikannya pada tubuhku serta menyatukan jarinya hingga membuatku hilang kendali beberapa kali.
Yang mana pada akhirnya, ia menyuruhku untuk membalikkan tubuhku. Sedikit mengangkat bagian pinggulku lalu melakukan penyatuan. Mulutku tiada henti-hentinya meloloskan desahan serta leguhan nakal sebagai tanda menikmati segala-galanya. Sedangkan kedua tangannya menangkup serta memijit pelan kedua bukit kembar yang menjadi pesona setiap wanita. Lalu mulutnya tidak tinggal diam. Mencecapki bagian punggung tubuhku. Membuatku semakin membusungkan tubuhku.
Tidak ada lagi cahaya gelap yang menjadi saksi penyatuan kami pagi hari ini. Tidak ada lagi bayangan siluet yang dapat menggambarkan setiap adegan yang kami lakukan. Yang ada hanya cucuran keringat penuh kenikmatan yang menjadi hasil dari segala nikmat.
Tumbang. Itulah yang terjadi pada aku dan Dave begitu semuanya selesai kami lakukan. Napas yang berkejaran seakan menjadi tanda akhir, bahwa kami berdua telah sama-sama mencapai kepuasan.
Kami berdua masih berbaring di atas ranjang, tetapi berjarak. Aku tengkurap menghadap ke bawah, sedangkan dia bertelentang dengan salah satu tangannya di atas punggungku. Mata kami masih saling menatap, walau sesekali terpejam.
__ADS_1
Tiba-tiba ia bangun dari ranjangnya, mengecup punggungku lumayan lama, lalu mengecup pelipis mataku. Lumrah, begitulah sikap lelaki setelah selesai menikmati wanitanya. Kemudian ia menarik bagian sprei lainnya untuk menutupi tubuhku. Lalu kulihat dia berjalan menuju kamar mandi dengan telan*ang, sedangkan aku, mataku tiba-tiba merasakan kantuk yang lumayan hebat.
***
Aku mengerjabkan mataku, lalu mendapati wajah Dave yang pertama kali kulihat saat membuka mata. Ya, aku tertidur dalam dekapannya, di atas dada bidangnya.
Tak berapa lama berselang, sebuah bunyi ponsel kembali mengagetkanku, begitu pun dengan Dave. Sebab ponselnya lah yang berbunyi.
🎶
Thinking you could live without me
Thinking you could live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why
Thinking you could live without me
Live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why
🎶
Dave segera terbangun dari tidurnya lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas di samping ranjangnya. Kudengar ia berdecak kesal saat melihat layar ponselnya lalu menerima panggilan tersebut. Sedangkan duduk tegap sambil memegangi sprei dan meraih kemeja yang sudah dirobek olehnya tadi.
"Hallo? Iya ... ada sama aku kok ini. Kenapa?"
Aku terkejut mendengar perkataannya lalu berbalik menoleh, ia sedang memandangiku.
"Iya ... iya, bye." Dave mengakhiri panggilan teleponnya.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Julia. Katanya hape kamu gak aktif. Jadi dia khawatir."
"Kamu bilang aku di sini?"
"Gak papa 'kan?" sahutnya lalu bergerak mendekatiku. Menyisipkan anakkan rambut yang terjatuh menutupi sebagian wajahku lalu memegang ceruk leherku. "Kamu 'kan sudah jadi milik aku," lirinya lagi dengan bola matanya yang bergerak menyusuri raut wajahku. Dan bibirnya yang berakhir pada sebuah kecupan kecil padaku.
Bersambung ...
__ADS_1