Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 14


__ADS_3

Still Lisa POV.


Teeettt ...


Teeettt ...


Tokk tokk tokk!!


"Saa ... Lisaaa ... Liiisaaaa!"


Suara berbagai macam ketukan pintu diluar sana. Julia memang terkadang semenyebalkan ini. Dia selalu saja membuat gaduh suasana. Aku selalu geli jika melihat tingkahnya yang seperti ini. Setengah berlari aku menuju pintu depan lalu memutar anak kunci untuk membukakan pintu itu untuknya.


Ceklek ceklek!


"Sabar kenapa sih?!" protesku saat melihatnya di ambang pintu.


Dia hanya berdecak menyahutiku lalu langsung masuk ke dalam apartemen ku tanpa aku persilakan. Setelah aku menutup pintunya dan berbalik, betapa terkejutnya aku melihat pakaian yang ia kenakan di balik coat-nya. Ya, coat atau bahasa sederhananya mantel yang merupakan baju panjang yang biasanya dipakai oleh laki-laki ataupun perempuan untuk melindungi tubuh agar tetap hangat. Sekaligus bagian dari gaya busana, biasanya selalu dipakai sebagai pakaian luar. Dan biasanya juga orang-orang di sini selalu menggunakannya, sebab cuaca di sini sangatlah dingin.


"Lu pake baju seksi begitu mau ke mana?" seruku yang setengah terperangah melihat pakaian ketat yang dia kenakan.


Julia mengenakan mini dress berwarna hitam yang terlihat begitu terbuka. Dress itu memiliki potongan bagian dada yang begitu rendah sehingga memperlihatkan sebagian anggota tubuhnya. Selain itu dress tersebut hanya cukup untuk menutup setengah pahanya, karena saking pendeknya.


Pada dasarnya tubuh Julia memang ideal dan dia benar-benar cocok dengan balutan pakaian itu. Jika mantelnya dibuka pasti tubuh idealnya akan terekspos dengan sempurna. Ya Tuhan, sejak kapan temanku ini menjadi begitu sembrono dalam berpakaian?


"Lis, gua mau ngajak lu keluar," ucap Julia. Dia terlihat memainkan rambutnya yang panjang menggunakan jari-jari lentiknya. Seperti bukan Julia yang kukenal selama ini, sungguh berbeda.


"Keluar ke mana? Tapi penampilan lu kok aneh gitu?" Aku memicingkan mataku, menatap Julia dengan curiga. Aku jarang melihat Julia seperti ini, apalagi dengan make-up yang terkesan mencolok. Berbeda dengan make-up yang sering ia gunakan saat ke kantor.


"Udah cepat ganti baju sana! Nanti juga tahu." Julia mendorongku untuk cepat-cepat menganti baju. Akhirnya aku menurutinya dan langsung pergi ke kamarku untuk mandi dan mengganti pakaian lalu berdandan.


Julia hanya memerhatikanku sambil senyum-senyum tidak jelas. Tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku merasa sedikit aneh. Namun karena tidak mau membuat Julia menunggu lama, aku pun buru-buru membersihkan diri.


Setelah kira-kira lima belas menit, aku pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit. Aku berjalan kembali ke kamar dan melihat selembar pakaian yang sudah tergeletak di atas tempat tidurku. Aku merasa penasaran dan langsung mengecek pakaian itu.


Jeng!


Mini dress yang tidak kalah seksi dari yang Julia pakai, sudah terpampang di depan mataku. Oh, aku tahu ini pasti ulah Julia yang sudah memilihkan baju untukku. Aku melirik Julia yang saat ini fokus ke layar ponselnya. Dia sedang senyum-senyum sendiri.


"Jul, ini kenapa ada di sini?" tanyaku sambil menunjukkan mini dress yang baru saja kuperiksa.


"Lu pakai itu aja, oke?" Julia menjawab pertanyaanku tanpa menoleh ke arahku. Kenapa kali ini dia tidak semenyenangkan biasanya?


Aku ragu-ragu. Mini dress seperti ini pasti akan membuat tubuhku terekspos. Ini tidak akan mengundang pria-pria berbuat kurang ajar padaku 'kan? Akan tetapi jika dipikir-pikir ini bukan masalah besar, yang terpenting aku memakai mantel.


Akhirnya aku menyetujui permintaan Julia. Aku memakai baju yang sudah disiapkan oleh Julia. Setelah selesai aku pun bercermin di depan kaca, mematut penampilanku di sana. Wow, ini memang bagus di tubuhku.


Ternyata bukan hanya baju, bahkan Julia sudah mempersiapkan sepatu hak tinggi untukku. Ini sepatu yang aku simpan di tempat tertutup, hebat juga dia bisa menemukannya. Aku curiga dia mengobrak-abrik lemariku.


"Sini gua poles sedikit muka lu. Biarpun lu cantik juga masih tetep wajib pake make-up." Julia berkata sambil mendorongku untuk duduk di depan meja rias. Ok, terserah dia mau berbuat apa. Aku malas kalau harus berdebat dengannya saat ini.


Beberapa saat kemudian aku pun selesai. Make-up yang Julia poles ternyata cukup bagus. Aku bisa melihat wajahku yang terlihat lebih fresh, dengan warna lipstick yang tidak terlalu mencolok. Sepertinya aku harus mengacungi jempol untuk ketelitiannya.

__ADS_1


Setelah menyemprotkan minyak wangi aku pun bersiap untuk berangkat. Sebenarnya aku benar-benar tidak tahu ke mana Julia mau mengajakku pergi, tapi aku memang bosan kalau cuma jungkir balik di kasur. Jadi kupikir apa salahnya buat keluar sebentar dan bersenang-senang?


"Jul, lu bawa mobil?" tanyaku.


"Iya bawa dong. Lu tenang aja, pokoknya cuma tinggal bawa badan doang." Julia berbicara dengan santai. Benar saja dia ternyata membawa mobil yang cukup bagus.


Aku pun masuk ke mobil setelah kuncinya dibuka. Julia juga masuk, dia yang menyetir sendiri. Ya iya lah, memangnya mau siapa lagi?


Aku mengenakan sabuk pengamanku dan mobil pun mulai meluncur di bawah keramaian malam kota London. Ternyata jalanan cukup padat juga di jam-jam seperti ini. Namun tentunya masih lebih baik daripada negara asalku yang sering macet sampai berjam-jam.


Perjalanan memakan waktu selama kurang lebih dua puluh menit. Mobil yang berwarna hitam metalik ini berhenti di depan bangunan yang cukup besar. Mungkin ada beberapa lantai, aku malas menghitungnya.


Tapi ada beberapa orang yang keluar masuk dan mereka semua memakai pakaian yang berbeda. Yang wanita kebanyakan memakai pakaian yang cenderung terbuka, sedangkan yang pria kebanyan memakai jas atau kemeja khas orang kaya.


Aku baru pertama ke sini jadi aku tidak tahu tempat apa ini. Aku pun menoleh untuk bertanya pada Julia. "Jul, ini di mana sih? Kita mau ngapain?"


"Cari hiburan, Lis. Masa nggak tahu," jawab Julia dengan asal. Dia memarkirkan mobilnya dengan benar.


Aku mulai curiga. Hiburan? Jangan bilang ini klub malam? Aku melirik ke sekeliling, dan udaranya memang mengarah ke dugaan-dugaanku.


"Lu nebak ini klub malam 'kan? Iya emang, tapi jangan salah, Lis. Ini berbeda dari yang lain," ucap Julia tanpa rasa bersalah. Dia malah membanggakan hasil kerjanya yang telah membawaku sampai di sini.


"Apa yang beda? Paling-paling juga isinya ya yang begitu," ucapku. Meskipun aku merasa sedikit kaget tapi aku juga tidak menolak. Mungkin karena aku juga butuh hiburan, untuk melepaskan pikiranku sebentar.


Akhirnya aku pun keluar dari mobil bersama dengan Julia. Aku dan dia berjalan berdampingan menuju pintu masuk klub yang dari luar saja terlihat sangat mewah. Tidak perlu waktu yang lama untuk masuk ke dalam.


Suara bising musik dj langsung masuk ke telingaku. Udara yang bercampur dengan bau rokok dan alkohol langsung tercium di hidungku. Lampu-lampu yang gemerlap membuat suasana menjadi lebih panas. Di sini sangat bising, rupanya sudah cukup ramai di jam-jam yang belum terlalu larut ini.


Aku bisa melihat banyak botol-botol berisi minuman alkohol yang tertata rapi di lemari belakang bartender. Sedangkan bartender itu sendiri adalah seorang wanita yang cukup cantik. Wow, aku salut saat melihat keahliannya ketika sedang mengocok minuman.


"Lu mau minum apa?" tanya Julia saat dia sudah duduk di kursi depan meja bar. Aku mengikutinya untuk duduk di sana, agak bingung mau memilih minum apa.


"Hai." Tiba-tiba ada suara maskulin yang terdengar di telingaku dari arah belakang. Aku sempat terkejut lalu dengan cepat menoleh, mencari sumber suara itu.


"Haaiii, Dave! Apa kabar?" sapa Julia yang langsung turun dari kursinya dan menempelkan kedua pipinya pada kedua pipi lelaki itu secara bergantian. Apa di sini sudah biasa melakukan hal itu di tempat umum? Maksudku menyapa dengan saling menempelkan pipi.


Entahlah. Cepat-cepat aku mengusir pikiranku yang terlalu kolot itu. Mungkin aku belum terbiasa dengan kebiasaan orang-orang di kota ini.


"Aku baik. Kabar kamu gimana? Sudah lama kamu gak ke sini." Lelaki itu terlihat memincingkan salah satu sudut bibirnya pada Julia. Kemudian Julia pun mendadak malah meletakkan tangan kirinya pada dada bidang lelaki itu. Lagi-lagi aku dibuatnya terkejut dengan tingkah lakunya yang berbeda. Sangat-sangat berbeda. Sungguh!


"Tentu aku baik-baik aja. Oh iya, kenalin, ini temen aku." Julia langsung mengarahkan salah satu tangannya ke depanku. Membuatku seketika menjadi tersenyum dengan canggung.


Mata lelaki itu sangat tajam, ia memerhatikanku dengan seksama. Memandangiku bergerak dari wajah kemudian turun sampai ke kakiku. Aku merasa terintimidasi dengan tatapannya itu. Kemudian ia menaikkan bola matanya untuk kembali menatapku lalu tersenyum.


Astaga!!


Senyumannya begitu manis. Sungguh menggoda!


Aku melihat Julia yang menggerakkan sedikit kepalanya, memberiku sebuah kode, agar aku segera turun dari tempat kududuk. Dengan cepat aku menuruti permintaannya itu.


"Kenalkan, aku Dave, Dave Winston." Lelaki itu berujar untuk memperkenalkan dirinya lalu menyodorkannya tangannga padaku.

__ADS_1


Aku sempat melirik ke arah Julia, untuk meminta persetujuannya menyambut tangan lelaki itu. Lagi-lagi Julia memberikan kode yang sama dan aku mengerti. Kemudian aku segera menyodorkan tangan kananku padanya.


Namun betapa terkejutnya aku, saat lelaki yang bernama Dave itu, malah sedikit merubah posisi tanganku saat dalam genggamannya lalu ia mengecup punggung tanganku. Begitu sopan danb... sweet? Maybe. Tapi bagitu itu sesuatu yang baru.


"Senang berkenalan denganmu," ucapnya penuh dengan kelembutan sesaat selepas ia mencium punggung tanganku. Matanya tidak ada henti-hentinya untuk menatapku dengan senyuman tipia yang selalu terpancar pada wajahnya. Membuatku menjadi salah tingkah sendiri.


"Hmm kalo gitu kalian aku tinggal sebentar ya? Aku mau ke belakang," pamit Julia yang segera disetujui oleh Dave, lelaki yang masih menggenggam tanganku.


Sedangkan aku malah spontan menarik tangan Julia, lalu berbisik mengatakan padanya agar jangan lama-lama meninggalkanku dengan lelaki ini. Ia hanya terkekeh geli mendengar kekhawatiranku. Kemudian segera berlalu pergi dari hadapanku. Menghilang di antara lautan manusia di tengah lantai dansa.


Dengan senyuman yang canggung aku kembali menoleh, ke arah tanganku yang masih berada galam genggaman lelaki yang baru saja aku kenal.


"Ayo duduk," ajaknya padaku yang masih saja memegang tanganku tanpa acuh. Sudah seperti seorang ayah yang ketakutan jika anakmya menghilang di tengah keramaian.


Setelah duduk dan aku menyilangkan kedua kakiku, barulah ia melepaskan tanganku darinya. Tapi ... matanya terus saja menatapku. Membuatku benar-benar merasa risih.


"Maaf, apa ada yang aneh pada wajahku?" tanyaku lantang. Tapi sepertinya ia tidak mendengar dengan apa yang sudah aku ucapkan barusan. Malah ia semakin menatapku dengan arah kepalanya yang semakin miring, nyaris menyentuh bahunya sendiri.


Aku yang semakin merasa aneh dengan tingkahnya itu lalu segera menjetikkan jariku di depan wajahnya. Seketika ia mengerjabkan matanya berkali-kali. Seperti baru sadar dari mimpi indahnya.


"Ah, kenapa? Kamu bilang apa?" tanyanya sambil sedikit memajukan telinga dan tubuhnya. Ya, suara musik yang menggema semakin bertambah volume suaranya, membuat semakin bising ruangan ini. Mau tidak mau membuatku juga harus berbicara dengan dekat pada telinganya.


Aku memajukan tubuhku lalu mencondongkan wajahku dekat telinganya. "Apa ada yang aneh sama wajah aku?" Kemudian aku kembali memundurkan tubuhku dan menatap wajahnya.


Dengan perlahan ia kembali memajukan tubuhnya, kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Lalu salah satu tangannya tiba-tiba menyentuh pinggangku dan mulutnya yang tepat berada di depan telingaku. Membuat bulu romaku sedikit bergidik. Sebab dengan begitu aku dapat merasakan embusan napasnya saat ia berbicara padaku.


"Kamu cantik," ucapnya seraya menempelkan bibirnya pada pipiku kilas. Lebih tepatnya pada pipi atasku sehingga membuatku merasakan kembali gelenyar aneh yang dulu pernah aku rasakan.


Dan dengan santainya, kini ia kembali pada kursinya. Membenarkan posisi duduknya. Mungkin jika tempat ini memiliki cahaya lampu yang banyak dan terang, ia akan bisa melihat wajahku yang bersemu, merona merah akibat perlakuannya yang begitu lembut. 'Sepertinya lelaki ini sangat tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita," batinku lalu kembali melontarkan senyumanku padanya.


Rasanya sudah begitu lama aku tidak diperlakukan seperti ini oleh seorang lelaki. Dan jika dilihat lagi, lelaki ini boleh juga, wajahnya tidak kalah dengan wajah Max.


"Kamu gak minum?" tawarnya padaku dengan cara berbicara yang sama seperti sebelumnya. Saling mendekatkan bibir pada telinga, agar pembicaraan bisa terus menyambung.


Kemudian aku mengatakan padanya jika aku tidak tahu harus memesan minuman jenis apa. Dan dengan baik hatinya, ia memilihkan minuman untukku dan mengatakannya pada sang bartender.


"Kayak biasa ya, Fin!" serunya lantang, terdengar seperti sudah mengenal baik sang bartender itu.


"Kamu kenal dia?" tanyaku penasaran.


Dave menunjuk sang bartender wanita yang tadi disapanya, untuk membuatkan minuman pesanannya tadi. Aku mengangguk untuk mengiyakan sebagai arah pertanyaanku. Lalu Dave kembali mendekatkan mulutnya pada telingaku, anehnya aku malah seakan membiarkan telingaku mendekat ke arah mulutnya.


"Ya, aku sering ke tempat ini," jawabnya singkat lalu kembali tersenyum. Sedangkan aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku tanda mengerti dengan jawaban yang ia berikan.


Malam semakin larut. Aku dan Dave terhanyut dengan berbagai macam obrolan yang kami bicarakan berdua. Saling melontarkan pertanyaan dan jawaban. Mencoba untuk saling memperkenalkan diri lebih dalam. Hingga tidak terasa sudah beberapa gelas sloki kami habiskan bersama.


—————


Jangan lupa untuk terus memberikan like dan komen kalian ya.


Salam sayang dariku.

__ADS_1


Terima kasih 💋


__ADS_2