
Selamat membaca ...
——————————
Dave POV.
Beberapa minggu sudah aku lalu, setiap hari aku belajar sendiri untuk berjalan. Dana juga sudah mendatangkan dokter yang lebih profesional dari sebelumnya yang ternyata adalah teman main di ranjangnya. Anak itu benar-benar sialan. Otaknya memang sudah dipenuhi dengan fantasi yang luar biasa.
Beberapa hari yang lalu, saat aku menghubunginya, tidak aku sangka ternyata dia sedang bermain api dengan wanita yang berbeda lagi. Bahkan saat pulang ke sini, dia membawa wanita itu.
“Apa-apan ini, Dan?” tegurku saat melihatnya melintas dengan dipapah oleh seorang wanita seksi. Sepertinya dia dapatkan wanita itu di klub malam.
“Ssstt, sudah waktunya tidur, Abangku sayang!” sahutnya lemah. Sepertinya dia mabuk lagi malam ini. Pantas saja dulu dia memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, rupanya agar aku tidak melihat kelakuannya yang seperti ini.
Kemudian Dana langsung berlalu, kembali melangkah dengan wanita itu untuk menuju ke kamarnya. Sedangkan aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Aku tidak bisa mengejarnya dan tidak bisa untuk bersikap keras padanya saat ini. Hanya dia yang mengurusi dan mau peduli denganku.
Malam berikutnya pun terjadi lagi hal yang sama dan berulang, lagi-lagi Dana mabuk saat aku menunggunya pulang dan dengan wanita yang berbeda lagi. Aku sampai bosan dengan keadaan itu. Hingga suatu hari aku meminta untuk pergi ke Bali. Untuk mengurusi villa milikku di sana.
“Besok carilah tiket untuk pergi ke Bali. Urusi villa-ku di sana, sudah lama aku tidak ke sana dan tidak melihat kondisi di sana,” ucapku saat sarapan pagi ini bersama dengannya.
Dari jarak yang lumayan jauh di antara aku dan dia, hidung ini masih bisa menghiruo aroma alkohol yang masih melekat pada tubuhnya. Walaupun pakaiannya sudah terganti.
“Apa yang akan aku lakukan di sana?” tanyanya dengan malas padaku.
“Apa saja, belajarlah berbisnis. Jangan selalu duduk santai di belakangku.” Aku terus melanjutkan sarapanku tanpa menoleh padanya.
Dana memang berbeda sejak kecil, cara memperlakukannya pun juga berbeda. Hanya saja aku memang selalu memperlakukanmya dengan keras. Karena bagiku, cukup sudah masa kecil kami yang menjadi korban dan aku tidak ingin membuat masa sekarang lebih membuat Dana tertekan.
“Belajarlah mengelola villa itu dan belajar lagi tentang property. Agar kamu memiliki uang sendiri. Nanti aku akan memberikan modalnya. Asal kamu tekuni.” Aku kembali memerintahnya.
“Morniiingg, Sayang!” seru seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul menyapa dengan menggunakan pakaian tidurnya yang sangat seksi bagi mataku.
Dengan cepat aku kembali menatap makanan yang ada di depanku. Sekilas aku melihatnya duduk di atas pangkuan Dana dan mengecup ero*is di sana. Benar-benar wanita yang tidak tahu malu. Dari sikap wanita ini, aku sudah bisa menilai, lagi-lagi Dana membawa wanita di klub malam yang rendahan.
PRANG!!
Aku melepaskan sendok dan garpuku, lalu menghapuskan sisa makanan pada mulut. Kemudian menekan salah satu tombol pada kurai roda untuk segera bergerak mundur.
__ADS_1
“Kenapa, Dave? Makanannya tidak enak?” tanya Dana.
Aku tidak menoleh ke arahnya, tetapi aku malaj langsung melemparkan serbet bekas penghapus mulut ke atas piring makanku tadi sambil berkata, “Bukan makanannya yang tidak enak, tetapi suasananya yang merusak mood-ku. Kembalikan wanita pungut kamu itu ke asalnya. Benar-benar tidak pantas!!” hardikku seraya berputar dan pergi menjauh. Kembali ke kamarku dengan perasaan kesal.
**
Siang ini aku memiliki janji dengan seorang therapist yang aku panggil melalui telepon. Aku melihat tentang track record sang therapist ini melalui salah satu media online. Yang mana di sana mengatakan bahwa dia adalah yang terbaik di kota Newcastle.
Tok tok tok!!
“Permisi, Tuan. Nona Indah sudah ada di depan. Apa Tuan ingin—”
“Bawa saya untuk menemuinya di ruang keluarga. Saya ingin lebih santai kali ini.” Aku menyela ucapan salah seorang maid yang aku lupa dengan namanya.
Kemudian maid itu segera mendorong kursi rodaku. Kursi roda ini memang didesain dengan sangat canggih. Sudah tersedia beberapa tombol untuk memenuhi segala kemauanku. Hanya saja, kali ini aku ingin di dorong, sebab sudah lama aku menggunakan tombol-tombol yang ada itu. Rasanya jari tanganku mulai letih.
“Selamat siang, Nn. Indah. Apa kabar?” sapaku.
Nona Indah kali ini terlihat tidak sendiri datang ke sini, melainkan membawa seorang pria dengan postur tubuh yang lumayan kejar. Ada apa ini?
“Anda yang bagaimana kabarnya? Oh iya, saya membawa seseorang. Kenalkan beliau Mr. Andreas. Hari ini kita akan mencoba cara beliau untuk merendam sebagian kaki Anda dengan campuran garam Epsom.” Nn. Indah memperkenalkannya padaku.
“Saya akan mencoba sambil melakukan pijatan pada kaki Anda, sambil melakukan beberapa titik akupunktur di sana. Semoga saja ada kemajuan,” ucap lelaki yang bernama Mr. Andreas itu.
Tak lama kemudian kedua kakiku telah masuk ke dalam sebuah wadah yang berisi dengan air hangat dan juga larutan garam yang dia bawa sendiri. Lalu dengan menggunakan sarung tangan karet, Mr. Andreas memulai pijitannya.
Pertama dia lakukan pada kedua lututku. Begitu pelan hingga perlahan semakin menguat. Dan saat itu aku mulai merasakan kekuatan dari tangannya saat memijatku. Dia menyuruhku untuk menggerakkan ujung jemariku, awalnya bergerak tetapi kemudian tidak bisa lagi aku gerakan hingga tahapan pijatan yang dia lakukan selesai.
Ada sedikit rasa senang dalam hatiku, karena ini seperti sebagai sebuah pertanda jika aku dapat berjalan kembali. Serasa tidak sia-sia usahaku selama ini untuk mencari sebuah harapan.
“Mungkin harus kita lakukan berulang dan diselingi dengan berlatih berjalan setiap harinya. Dan yang paling utama adalah semangat, jika semangat tidak ada maka harapan pun akan sirna.”
Ucapan Mr. Andreas ini benar sekali. Aku harus terus bersemangat, aku harus terus memiliki harapan. Semakin cepat aku bisa berjalan seperti semula lagi maka akan semakin cepat juga aku bisa menemui Lisa lagi. Memohon maafnya dan memulai semuanya dari awal lagi.
**
Sore harinya, aku sengaja membuka pintu balkon kamarku untuk menikmati udara sejuk sekaligus memandangi matahari yang perlahan terbenam dengan sangat begitu indah.
__ADS_1
Warna keemasannya yang becampur dengan oranye begitu terasa nyaman dipandang dan terasa menghangatkan hati ini. Hati yang sudah lama beku dan dingin kembali merasuki ruang hampa di dalamnya. Jujur, aku begitu merindukannya.
Andai semua bisa aku kendalikan, seperti aku mengendalikan hidupku saat ini, mungkin aku tidak akan berada di sini sendirian. Entah saat ini apa yang sedang dia lakukan, apakah dia sudah merasakan rindu padaku seperti apa kata Mr. Lewis? Atau jarak yang selama ini aku buat belum cukup untuk menebus kesalahanku?
Lagi-lagi aku teringat pada Tasha yang menyebabkan semua ini. Andai saja wanita itu mengontrol dirinya. Lalu aku juga kembali teringat pada sebuah perjanjian yang beberapa bulan lalu aku lakukan pada pengacara Tasha. Tepat di hari yang sama semua tragedi ini terjadi.
Aku langsung bergegas menggerakkan kursi rodaku menuju sebuah lemari lalu mengambil sebuah benda tipis yang tersimpan di sana. Benda itu adalah ponselku yang ternyata masih baik-baik saja saat kecelakaan terjadi padaku. Lalu tepat seminggu setelah kembali ke rumah ini, Dana mengembalikannya padaku. Tetapi belum aku aktifkan hingga saat ini.
Kedua tanganku terasa gemetar saat memegangi benda canggih ini. Kemudian dengan membawa serta charge-nya, aku menuju ke sebuah meja yang terdapat pada salah satu sudut kamarku ini, lalu mengisi mode daya ponsel itu.
Setelah cukup lama, aku memberanikan diri untuk mulai menekan tombol untuk menyalakannya. Menunggu sebuah proses pengaktifan jaringan provider-nya yang lumayan lama, hingga akhirnya ponsel itu menyala dengan sempurna.
Ribuan chat serta notif panggilan telepon mulai di terima dengan begitu brutal, tandanya pada layar depan terus datang silih berganti. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah chat dari Tasha yang isinya meminta maaf dan memohon untuk kembali bersama,
Namun, aku tidak bisa menerimanya lagi. Bagiku, sebuah perselingkuhan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dimaafkan. Dan itu sudah prinsipku semenjak kecil, mengingat dengan apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuaku.
Semilir angin pada senja hari masih masuk dan berputar dalam kamarku ini, membuat aku harus segera kembali melupakan semuanya dan mengingat tujuan awalku untuk mengaktifkan ponsel ini, yaitu untuk menghubungi Leo, sekretaris-ku saat ini.
Setidaknya, itu adalah informasi yang aku dapat dari Dana. Dia mengurus perusahaanku lalu memberikan kuasa kepada Leo untuk mengelola semuanya selama aku tidak ada.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa jika kalian mendukung karya ini,
Tertapi jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?
Terima kasih untuk kalian semua.
(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.
Sekian dulu,
Babay 💋
#salambucin dan terima kasih.
__ADS_1
@bossytika