
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
Malam itu kami lewati bersama dengan mata terjaga dan dengan tentu saja dengan asyik memakan kue ulang tahun pemberian dari Dave. Bertukar cerita, bertukar pengalaman bahkan bertukar canda dan tawa. Aku menceritakan tentang kekasihku, begitu pun dengannya yang menceritakan tentang kekasihnya.
“Pasti kangen banget 'kan kalo pacaran jarak jauh begitu?” tanyaku penasaran.
“Enggak juga, 'kan cuman selama liburan ini aja. Sisanya gua balik lagi kuliah di sana, 'kan. Jadi asyik-asyik aja.”
“Trus kalau jadi, emang dia mau ke rumah?”
“Katanya gitu, bentar lagi toh kelulusan.”
Aku hanya menganggukan kepala, seolag mengerti. Kemudian kami kembali memakan kue manis di depan kami itu, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Tika mengajakku untuk kembali ke dalam, bukan tidur, melainkan pergi ke dapur.
“Ngapain?”
“Gua laper, lu kagak laper apa?”
“Bukannya tadi udah makan kue ya?”
“Dih, itu mana cukup, cake tuh kayak kapas. Masuk tenggorokan udah gak berasa menuhin perut lagi.” Entah dari mana filosofi seperti itu, aku hanya ikut membontel menuju dapur. Kemudian duduk di kursi meja dapur.
Tika mulai membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan dari dalam sana. Aku sempat kebingungan saat melihat isi kulkasku yang tiba-tiba saja penuh dengan berbagai macam sayuran, beberapa lauk segar dan juga beberapa bumbu masakan. Hingga ada beberapa bungkus camilan dan juga minuman botol di sana.
“Max yang ngisi, waktu kami baru dateng dan elu masih rada lemes.” Begitu kata Tika saat aku bertanya padanya.
Aku memang bukan tipe wanita yang suka berbelanja kebutuhan dapur dan juga memasak. Pernah memasak dan bisa, hanya saja semenjak di negara ini aku kembali meninggalkan kebiasaan baik itu. Lagipula ada sebuah kartu debit di tanganku yang selalu terisi, jadi untuk apa aku bersusah payah memasak, jika hanya untuk perutku sendiri?
Wanita di hadapanku ini dengan lincahnya memotong beberapa jenis sayuran. Jemarinya sangat terampil dan juga gesit. Tidak butuh waktu lama, semua sayuran berhasil dia potong kemudian dia mencucinya satu per satu.
“Lu mau juga, 'kan?” tawarnya berbalik menoleh padaku.
“Mau apa?”
“Ini, gue bikin capcay!”
DEG!!
Jantungku serasa dicengkeram begitu mendengar Tika mengatakan ingin membuat capcay. Rasanya seperti dejavu dalam situasi seperti ini.
“Woi!! Lisa!! Mau gak? Malah ngelamun,” hardik Tika padaku.
__ADS_1
“Ah? Boleh boleh, bikin aja.”
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Jelas saja Tika memiliki selera makan yang mirip dengan Max, mereka 'kan bersaudara. Bodohnya aku!
**
Matahari pagi masuk melalui jendela ruang televisi yang tidak tertutup korden, membangunkan aku yang terlelap di atas sofa. Sambil mengerjabkan mata, aku mencari sosok sahabatku itu. Dia tidak ada di sekitarku, padahal seingatku setelah kami selesai makan beberapa jam yang lalu, dia memutuskan untuk tidur di salah satu sofa lainnya di sini.
“Hai ... morning. Kok bangun cepet?” sapanya yang muncul di depan pintu kamarku. Dengan handuk yang membelit rambut di kepalanya. Tika juga sudah berpakaian dengan rapi.
“Udah siap aja. Emang sekarang jam berapa?” Aku melirik ke arah jam dinding di atas televisi. Hampir jam tujuh pagi.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
Aku masih dapat mendengar saat Tika mengatakan bahwa dirinya sudah bangun dan juga sudah siap untuk pergi. Dan dari kalimatnya itu aku sudah dapat menebak jika yang menelponnya pastilah Max.
Tak lama berselang, Tika keluar dari kamarku dengan menarik tas kopernya itu. Di saat aku berdiri hendak menghampirinya. Lalu ponselnya kembali berbunyi, kali ini nadanya terdengar singkat seperti nada sebuah pesan, dia meliriknya lalu menoleh padaku.
“Max sudah di bawah. Gue pulang dulu.” Tika tersenyum tipis padaku dan senyumannya itu entah mengapa membuat hatiku sedikit sedih.
Aku meloncat memeluknya. Erat. Sampai-sampai Tika menepuk pundakku lalu mengatakan jika dirinya tidak bisa bernapas karena ulahku, lalu kami tertawa perlan bersama.
“Maaf kalau gue sama Max bikin repot.”
“Gue anterin lu ke bawah.” Aku merebut gagang tas kopernya. Lalu membawanya dengan mempersilakan Tika berjalan lebih dulu dariku.
Sesampainya di basemen apartemen, aku melihat Max yang sudah siap bersandar pada pintu bagasi mobilnya. Tentu saja dengan pintunya yang juga terbuka, siap untuk memasukkan barang adiknya.
“Masuk duluan, aku mau bicara sama Lisa,” perintah Max pada Tika.
Aku langsung memeluk Tika dan mengatakan, “Have a nive flight and let me know when you arrives.”
“Absolutely! Take care! Bye!” Tika mengecup pipiku kemudian dia segera masuk ke dalam mobil Max. Membiarkan aku yang kini hanya berdua dengan Max.
Kedua bola mata Max menatapku dengan begitu lekat. Awalnya aku pun juga ikut membalas tatapannya, tapi sepertinya aku belum sanggup untuk berlama-lama hingga akhirnya aku membuang pandanganku ke arah lain.
__ADS_1
“Makasih. Maaf kalo ngerepotin. Jaga diri baik-baik. Jangan sering keluyuran pulang pagi.”
DEG!!!
Aku kembali tersentak saat Max mengatakan itu, lalu dengan spontan tanganku meraih ujung baju belakangnya, tepatnya ujung jas hitam yang ia kenakan, saat dia hendak menutup bagasi mobil.
Dengan wajah yang menunduk menatapi kedua kakinya, perlahan tangannya meraih tanganku, melepaskan tarikan jemariku pada pakaiannya. Lalu dari gerakan kakinya aku dapat melihat ia memutar tubuhnya menghadap tepat di depanku. Sepertinya Max tidak jadi menutup bagasi mobilnya.
“Tahu dari mana aku kemarin pulang pagi?” Aku masih menunduk, memerhatikan kedua ujung sepatunya yang begitu mengkilap.
“Kalau kamu bahagia. Aku ikut bahagia,” ucapnya pelan lalu tangannya yang satunya lagi langsung mengusap puncak kepalaku. Sontak dengan spontan aku memeluknya. Melingkarkan kedua tanganku menyelip pada pinggangnya lalu menempelkan telingaku tepat pada dadanya.
Dengan kedua mataku yang terpejam, hidungku dapat menghirup atoma parfum yang dia kenakan. Aromanya dapat membuatku menjadi lebih tenang. Namun, telingaku dapat menangkap dengan jelas untuk ritme kinerja jantungnya. Berdetak begitu cepat. Bahkan sangat cepat.
Setelah beberapa detik, barulah Max membalas pelukanku. Walaupun hanya sebentar sambil mencoba mendorong tubuhku, melepaskan pelukan kami.
Aku belum berani menatapnya, tetapi tiba-tiba saja aku merasakan bibirnya yang menyentuh keningku dengan salah satu tangannya yang menahan kepalaku agar tidak bisa mengelak keinginannya itu.
Sekilas aku membuka mata lalu kembali menutup mataku rapat-rapat, hingga bulir air mata di ujung sudut mataku, berubah menjadi tetesan aliran air mata yang sudah tidak mampu lagi aku tahan.
Kemudian Max melepaskan semuanya, kecupannya di keningku, rangkulan tanganku pada pinggangnya dan dia segera berbalik. Menutup pintu bagasi lalu langsung melangkah masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gasnya. Pergi meninggalkan aku yang perlahan mulai menangis tersedu. Menatap mobilnya yang menghilang begitu keluar dari basemen.
Perasaan apa ini?
Mengapa rasanya begitu sakit melepasnya?
Mengapa saat dia mengucapkan tentang kebahagiaan, rasanya begitu mustahil aku bisa meraihnya jika bukan dengannya?
Mengapa rasa ini terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya?
Perlahan aku menurunkan tubuhku, merosot duduk berjongkok dan memeluk kedua lututku sendiri. Membenamkan wajah di sana lalu menangis sekeras-kerasnya. Meluapkan isi hati yang sering kali membuatku salah dalam melangkah bahkan salah dalam mengartikan tujuan hidupku sendiri.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Babay 💋
Terima kasih.
@bossytika
__ADS_1