
Selamat membaca ...
——————————
Dave POV.
Semakin hari aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya itu. Lagi-lagi dia terlihat santai setelah membunuh seseorang, seperti bertahun-tahun yang lalu sikap ini muncul begitu saja. Tidak terkendali.
Dana seperti seorang psikopat tetapi masih memiliki perasaan kepada lawan jenis, bukankah seorang psikopat tidak memiliki hati? Yang aku tahu psikopat tidak bisa di kendalikan, tetapi kenapa dia selalu mematuhi aturanku secara diam-diam? Berbagai pertanyaan itu selalu muncul tetapi selalu dengan cepat pula tidak aku pedulikan.
Ah, aku jadi melupakan pertanyaan penting yang ingin aku tanyakan padanya. Semestinya aku menanyakan perihal Lisa. Apa benar dia kemarin pagi ke kampus Lisa dan bersama Lisa? Ada hubungan apa mereka?
Aku segera menghentikan sarapanku karena sudah tidak berselera lagi, lalu mengambil benda pipih yang sedari tadi berada di atas meja makan dan di samping piring makanku.
Menekan sebuah rangkaian angka yang selalu aku hubungi hampir di setiap hari. “Hallo, Leo? Di mana?”
Leo mengatakan bahwa dirinya sedang berada di kantor pagi ini untuk menyiapkan beberapa dokumen meeting yang diperlukan oleh Dana nanti siang.
“Oh oke, nanti aku akan ke kantor. Untuk urusan tadi malam, bisakah kamu—”
Belum selesai aku mengucapkan kalimatku, tetapi Leo sudah lebih dulu mengatakan akan berjanji untuk merahasiakan semuanya. Sebab tadi malam, kami berdua sama sekali tidak menyentuh Tasha. Aku dan Leo hanya membersihkan semua sidik jari yang ada pada rumahnya itu. Dan semoga saja tidak ada yang terlewat sedikit pun.
“Terima kasih, Leo.”
Tak berapa lama kemudian aku kembali melihat Dana yang melintas pergi, lalu aku berniat akan membuntutinya kali ini, siapa tahu dia kembali mengantarkan Lisa. Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri.
Dengan kecepatan sedang, mobil Dana melaju di lintasan jalan utama, hanya berjarak beberapa mobil di depanku. Lalu ternyata dia mengambil jalan menuju ke kantor. Aku segera menelepon Leo untuk terus mengawasi Dana nantinya setelah dia pergi dari kantor. Sedangkan aku kembali melaju menuju ke apartemenku.
Sudah hampir setahun aku tidak pernah lagi ke apartemen itu. Selain karena kecelakaan dan proses pemulihan yang aku jalani, aku merasa tempat itu terlalu banyak meninggalkan kenanganku bersama dengan Lisa. Membuat hati ini terasa sakit jika kembali mengingat sikapnya terakhir kali padaku.
Tapi karena itulah aku menjadi seperti sekarang, lebih kuat dari sebelumnya bahkan karena dialah aku bersemangat untuk bisa kembali berjalan. Dialah yang membuat tujuan hidupku menjadi jelas dan mungkin inilah saatnya aku kembali menemuinya.
Bagiku sudah cukup waktu yang selama ini aku berikan padanya untuk berpikir jernih. Dan semoga saja, apa yang aku lihat beberapa hari lalu hanyalah halusinasiku saja. Rasanya tidak mungkin jika dia bersama dengan Dana.
Aku membelokkan kemudi setir memasuki basemen apartemenku dan betapa terkejutnya aku begitu melihat sebuah mobil Marcerdas-Benz yang pernah aku berikan pada Lisa, terparkir rapi di sana. Segera aku memarkirkan mobilku di samping mobil itu, lalu keluar untuk memeriksanya.
Benar, ini memang mobil yang aku hadiahkan pada Lisa lalu aku juga melihat beberapa kotak kerdus di dalamnya, berada tepat di atas kursi penumpang belakang. Tetapi mobil ini terlihat berdebu, begitu tebal.
“Selamat datang, Pak,” sapa seorang pemuda yang sepertinya penjaga baru di gedung apartemen ini. Yah, itu terlihat dari seragam yang dia kenakan dan dia tidak menyebutkan namaku.
“Oh iya, em, apa pemilik mobil ini ada di kamar saya?” tanyaku padanya. Wajahnya terlihat bingung saat aku menanyakan hal itu. “Sudah lupakan saja. Biar aku melihat ke kamarku langsung.”
Aku lamgsung berjalan masuk ke dalam melalui lobby dan entah mengapa kali ini aku menggunakan lift di lobby, padahal biasanya aku selalu menggunakan lift pada basemen.
“Tuan Winston, tunggu!!” seru seorang wanita yang membuatku menoleh dan ternyata dia adalah salah satu pegawai pada bagian resepsionis. Aku melewatkan pintu lift yang sudah terbuka karena melihat pegawai itu berlari kecil menghampiriku.
“Maaf, Tuan, saya tidak sopan. Tidak seharusnya saya berteriak memanggil Tuan,” ucapnya sopan sambil menundukkan wajah.
Lalu wanita itu menyerahkan sebuah kunci padaku dan berkata, “Setahun yang lalu Nona Lisa kemari dan menitipkan kunci ini pada kami.”
Aku terkejut melihat kunci tersebut yang mana itu adalah kunci mobil yang ada pada parkiran basemen. Segera aku mengambil kunci itu lalu kembali ke basemen dan membuka pintu belakang. Memeriksa isi kotak itu. Satu per satu aku membukanya dan menemukan semua barang yang pernah aku berikan pada Lisa kembali padaku di dalam kotak ini.
Kacau, perasaanku saat ini. Bingung, marah, kesal dan takut bercampur menjadi satu kesatuan dalam diriku saat ini. Aku kembali menutup pintu mobil itu lalu masuk ke mobilku. Meninggalkan semua kotaknya lalu menyalakan mesin mobil untuk segera pergi dari apartemenku menuju ke apartemen Lisa.
Lagi-lagi aku menginjak pedal gas mobil hingga habis dan melesat pergi. Tidak aku pedulikan lagi kondisi kakiku yang baru saja sembuh total, sejak kemarin. Aku sungguh tidak menyangka jika Lisa melepaskan semuanya. Benar dugaanku tentang kartu kredit yang dahulu pernah aku berikan padanya, dia tidak pernah lagi menggunakannya dan mengembalikan semuanya dengan cara seperti itu, pantas saja.
Sesampainya di basemen gedung apartemennya, aku langsung memasuki lift dan menuju ke kamarnya. Hingga akhirnya aku kembali menggedor pintu kamarnya, persis sama seperti setahun yang lalu.
Aku berharap dia ada di dalam dan segera keluar. “Lisa!! Lisaa! Buka ... ini aku, Dave!! Buka Lisa, aku mohon!” Tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam sana.
Sampai seorang wanita muncul di ujung lorong. Masih wanita yang sama, yang membantuku setahun yang lalu. “Pagi-pagi sekali dia sudah pergi,” ucap wanita itu bersandar pada daun pintunya.
“Apa kamu tahu dia ke mana?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya. Kemudian terlintas sebuah tempat dalam otakku, yang pasti akan di datangi oleh Lisa jika pagi hari seperti ini. Ya, di mana lagi juka bukan di kampusnya. Bergegas aku berpamitan dengan wanita itu dan langsung berlari pergi begitu saja.
Di sepanjang perjalanan, aku berusaha menghubungi nomer teleponnya yang ternyata sudah tidak aktif lagi. Dan aku baru saja mengetahui hal ini. Rasanya beberapa bulan yang lalu aku masih mencoba menghubunginya, hanya saja dia tidak menerima panggilan teleponku karena aku menggunakan nomer yang baru. Dan bodohnya aku tidak mengirimkan sebuah pesan padanya.
Aku terus saja merutuki kebodohan yang aku lakukan, menyepelekan perihal dirinya yang pasti akan menungguku karena aku sudah memberikan segalanya untuknya. Tapi untuk pengembalian semua barang itu, benar-benar tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Aku tidak menyangka dia akan mengembalikan semuanya dengan cara seperti itu.
Sesampainya di depan halaman kampusnya, aku segera memarkir lalubkeluar dari mobil. Berlari menuju ke dalam kampusnya. Bertanya kepada semua orang yang aku temui.
“Maaf, apa kalian kenal dengan Lisa? Lalisa Florencia dari Indonesia.”
“Fakultas?”
__ADS_1
Aku berpikir sejenak, aku melupakan fakultasnya. “Aku lupa,” sahutku.
Kemudian salah seorang dari mereka segera menyarankanku untuk menuju sebuah gedung dan menanyakan perihal absensi Lisa di sana.
“Terima kasih.”
Aku kembali berlari menuju gedung yang dimaksudkan oleh beberapa orang tadi lalu menanyakan tentang Lisa. Tapi tiba-tiba saja seseorang berseru memanggil namaku. “Dave?! Benarkah ini kamu, Dave?!”
Saat aku membalikkan diri, aku langsung bisa mengenali sosok wanita itu, dia adalah Julia.
“Di mana Lisa?” selorohku langsung padanya dengan mencengkeram kedua lengannya dan mengguncangnya.
Julia tidak mengatakan apa pun lagi, tetapi dia langsung menarik tanganku lalu membawaku ke suatu tempat. “Tunggu di sini, aku bawain dia ke sini.” Aku berdiri menunggu di depan sebuah gedung, tepatnya di bawah pohon yang lumayan rindang saat itu.
Hingga akhirnya Julia benar-benar membawakan wanita yang aku cari. Lisa mematung di sana menatapku, begitu pun aku yang akhirnya bisa bertemu dengannya dan melihatnya secara langsung seperti ini. Julia lalu meninggalkan kami berdua di tempat ini.
Perlahan, aku mendekati Lisa lalu meraih masing-masing tangannya dan mengecupnya sambil terus menatap kedua matanya yang terlihat mulai berkaca.
“Maaf aku baru kembali. Aku sudah selesaikan semuanya. Aku sudah resmi bercerai dengannya. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.” Aku terus menatap kedua bola matanya. Dan tanpa kata Lisa langsung memelukku seraya terisak menangis.
Aku juga melakukan hal yang sama. Aku terus mengecup puncak kepalanya, aku merindukannya dan dalam setahun berlalu tanpa dirinya, tanpa kabar darinya, perasaan itu masih sama, tidak berubah sedikit pun.
Tidak ada lagi kata yang dapat aku ungkapkan saat ini, selain terus memeluknya. Merasakan semua rasa yang bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya ponselku berbunyi.
🎶
Thinking you could live without me
Thinking you could live without me
Baby, I'm the one who put you up there
I don't know why (yeah, I don't know why)
🎶
Aku terpaksa melepaskan dekapan kami lalu aku merogoh saku celanaku dan mendapati nama Leo tertera di sana. Kemudian aku menggeser tombol hijau yang ada pada layar dan menerima panggilan telepon itu. Sambil melihat Lisa yang mengusap air matanya dan tersenyum padaku, aku kembali menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapanku. “Haloo, kenapa Leo?”
Baru saja aku merasa bahagia, tiba-tiba aku kembali dikejutkan dengan keadaan rumahku yang sedang di geledah oleh polisi. Mereka sudah menemukan mayat Tasha lalu menjadikan aku sebagai tersangka karena pernah terlibat tertikaian dan juga sidang cerai yang terlalu lama. “Shitt!” umpatku begitu mendengar penjelasan dari Leo.
“Dengarin aku, apa pun yang terjadi tunggu aku kembali. Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan. Jangan pernah tinggalin aku lagi atau berpikir pergi dengan lelaki lain. Paham?!” Lisa hanya mengangguk saat aku mengatakan itu dan entah mengapa sebelum pergi, aku ingin sekali mengecup bibir ranumnya itu kemudian aku lakukan begitu saja. Sampai Julia kembali datang dan menegur kami berdua, mengatakan jika saat ini giliran Lisa melakukan sidang tugas akhirnya.
“Setelah ini aku akan jemput kamu, jadi tunggu aku.”
Lagi-lagi aku memeluknya sebelum akhirnya kami berpisah. Lisa kembali ke dalam gedung itu untuk tugasnya, sedangkan aku melangkah menuju mobil dengan perasaan yang sedikit lega, untuk kembali pulang ke rumah.
**
Mobil beberapa polisi terlihat benar-benar sedang memyambangi rumahku saat ini. Di sana hanya terlihat mobil Leo, tidak ada mobil Dana. Bukankah aku menyuruh Leo untuk membuntuti Dana, mengapa malah dia yang ada di rumah seorang diri?
Baru aku memarkirkan mobil, Leo sudah berdiri di depan teras. “Ada apa?”
Leo terlihat guguoy dan juga sedikit panik. Ya, aku bisa melihat kecemasannya itu. Begitu aku sedikit mengikis jarak, barulah Leo berkata, “Tuan Dana, kabur,” bisiknya dengan tatapan mata yang masih mengarah ke dalam rumah, sebab ada seorang polisi yang sedang memerhatikan gerak-geriknya.
Aku sedikit syok, lagi-lagi dia berbuat seperti ini. Aku menghela napas sebelum akhirnya memasuki rumah dan berbicara pada kepala kepolisian.
“Saya pemilik rumah ini, ada yang perlu saya bantu?” ucapku santai.
“Apakah benar ini milik Anda?”
Seorang polisi itu memperlihatkan sebuah plastik yang berisi dengan kemeja yang memang memiliki noda darah di sana. Kembali aku menghela napas lalu membenarkan temuan itu, bahwa kemeja itu memang milikku.
“Jika seperti itu, mari ikut kami ke kantor sekarang juga,” ucap polisi itu dengan tegas.
“Segera hubungi pengacaraku dan katakan padanya kalau aku menunggunya di kantor polisi.” Hanya itu yang aku ucapkan pada Leo sebelum akhirnya aku masuk ke dalam mobil polisi itu lalu pergi.
Di pikiranku saat ini, hanya ada Lisa. Lagi-lagi aku berbohong padanya, menyuruhnya untuk tetap menungguku di sana, padahal aku tahu jika akhirnya akan seperti ini. Ya, aku selalu saja melindungi Dana. Hanya alu yang terus-terusan membersihkan semua masalah yang dia ciptakan dari kecil hingga saat ini.
Seharusnya dia memang segera dirawat, tapi aku selalu menolaknya, sebab aku pikir dia akan sembuh dengan sendirinya dari penyakit itu. Dan lagi, aku selalu menolak percaya jika Dana memiliki penyakit itu.
Skizofrenia.
Nama penyakit yang Dana derita sejak kecil. Penyakit gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Penyebab pasti skizofrenia tidak diketahui, tetapi kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin berperan atas terjadinya gangguan tersebut.
Aku pernah memeriksakannya saat dia masih sekolah. Sebuah gangguan pikiran, delusi, amnesia, disorientasi, kebingungan mental, kelambatan dalam aktivitas, keyakinan bahwa kejadian biasa memiliki arti khusus dan pribadi, keyakinan bahwa pikiran bukan milik satu orang dan juga merasa bahwa dirinya superior. Begitulah Dana.
__ADS_1
——————————
Lisa POV.
Sore hari menjelang, ujianku telah selesai. Julia juga masih menemaniku di sini, di depan kampus untuk menunggu Dave.
“Tuh 'kan, apa gue bilang? Dia pasti kembali karena dia cinta. Dia pergi bukan buat selamanya, hanya buat menyelesaikan masa lalunya.”
Aku tersenyum mendengar celotehan Julia sejak tadi. Dia benar-benar cerewet jika dalam situasi dan kodisi tertentu.
Satu jam berlalu ...
Dua jam dan tiga jam, tidak ada tanda-tanda jika Dave akan datang. Hingga kafe di depan kampus pun akhirnya tutup. Itu artinya saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan saat aku melirik jam tanganku, benar saja, memang sudah jam sepuluh malam.
“Coba hubungi dia, kali ada dia lupa,” usul Julia.
“Gue lupa nomernya. 'Kan gue sudah ganti nomer baru.”
“Astaga Lisa!! Gue pikir elu menyalin semua nomer telepon.” Julia mulai kembali cerewet. Sedangkan aku tertunduk lemas.
'Rasanya tidak mungkin jika dia melupakan janjinya kali ini,' batinku sambil terus memandangi gerbang kampusku.
Setelah menunggu hingga jam dua belas malam, akhirnya aku putuskan untuk pulang kembali ke apartemenku dengan Julia yang mengantarkanku.
Tapi aku tidak menyerah. Keesokkannya, aku meminta tolong dengan Julia untuk menemaniku ke apartemennya tetapi sesampainya di sana, aku juga tidak menemukannya.
Menuju ke kantornya yang membuatku takjub dengan bangunan gaya baru, tetapi aku juga tidak menemukan siapa pun yang bisa aku tanyai, sebab bangunan itu terlihat tututp tanpa seorang pun yang menjaganya.
Setiap hari, setaip bulan, aku melakukan hal yang sama. Mendatangi kedua tempat itu. Hingga akhir hari kelulusanku tiba, Dave tidak pernah kembali. Kemudian aku putuskan untuk mulai bekerja pada salah satu perusahaan pialang. Bukan tanpa alasan, agar aku tetap dapat tinggal di apartemenku yang sekarang dan tetap dapat mengunjungi kedua tempat itu setiap harinya sepulang bekerja. Namun, semua seperti sia-sia aku lakukan. Hingga akhirnya aku merasa menyerah untuk kembali menunggunya.
**
Dua tahun kemudian.
“Jangan gini dong, Lis. Masa nyerah?” tanya Julia saat kami makan siang bersama.
“Gue kangen Indonesia. Lagi pula, akhir bulan ini kontrak kerja gue udah habis. Jadi gue mau pulang aja.”
“Emang udah cukup uang buat pulang?”
“Cukuplah, buat beli rumah satu di Indo juga cukup. 'Kan hampir tiap malam gue jadi bodyguard elu dan dapet persenan dari elu.” Sambil menyeringai.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, aku pulang ke Indonesia tanpa memberitahukan siapa pun, termasuk Tika. Berpisah dengan Julia dan memintanya untuk mengirimkan sisa barang-barangku nantinya.
“Jangan lupa beli rumah yang cepet. Biar kamar apartemen gua gak sesak begitu,” celetuk Julia yang membuatku tertawa.
“Aku titip salam ya? Kalau semisal ada yang nyari, suruh datengin ke Indonesia.”
Julia memincingkan matanya. “Katanya mau ngelupain, mau move on.”
“Kali aja dia masih niat buat kembali.” Aku mengedipkan mata pada Julia lalu memeluknya.
“Jaga diri baik-baik, berenti jadi anak nakal!”
Aku tertawa terbahak-bahak kemudian mengucapkan salam perpisahan pada Julia. Dan pada seluruh isi kota London, karena telah mengajariku tentang banyak hal. Tentang pemikiran yang terbuka dan tentang berjuang sendiri dalam kehidupan.
TAMAT.
——————————
Terima kasih untuk kalian semua para pembaca. Entah itu yang berkomentar positif ataupun negatif tentang Kisah Lisa karena aku memang ingin membuat cerita yang seperti ini dan bagian untuk KISAH LISA merupakan prequel, jadi kisahnya ini mundur dari MWL dan ada part ending penjelasan dll di judul KTS. (letih aku kasih info ini di bbrp bab dan masih ada yg blm ngerti juga~)
Trus kalo mau baca kisah yg adem anyem atau yg happy ending terus, bisa cari cerita lain, karena aku gak menjanjikan itu sebagai penulis. (Bisa dibaca dong yaa dari judulnya aja udah nyesek~)
Trus aku juga gak memaksa kalian untuk lanjut baca ato enggak, karena itu hak kalian dan hak aku sebagai penulis yaitu menulis apa yang ada diotak ini. Dan kalau kisah ini tidak sesuai harapan kalian 'ya maaf', kalian bisa membuat kisah sendiri yg menurut kalian pantas 😊🙏
*ingatlah bijak sebelum berkomentar, karena walaupun penulis tidak membalas komentar yg kalian tinggalkan, tetapi penulis pasti membacanya. Karena membaca modal awal untuk membuka jendela dunia*
Lanjutan cerita Lisa gabung di judul sebelah:
KEBAHAGIAAN TAK SEMPURNA
Thanks 💋
@bossytika
__ADS_1