
Lalu Mamah mempersilahkan semuanya untuk menikmati makanan yang telah disediakan. Sebagian ada yang duduk di kursi meja makan. Sebagian lagi duduk di sofa tempat kami bekumpul tadi. Lalu sisanya ada pula yang makan di halaman belakang di kursi jemur dekat kolam.
Jefri mendekatiku saat yang lain sedang asik dengan hidangan diatas meja makan.
"Ga papa kan 11 Januari?" tanyanya sambil menarik kedua tanganku, mengenggam erat.
"Ada apa sama tanggal itu?"
"Kamu lupa?"
Aku mengernyitkan sebelah alisku, "Apa?"
"Tanggal 11 itu tanggal pertama kali aku ngerasa tertarik sama kamu. Setelah 2 minggu kita kenalan." jelasnya.
Aku mengerucutkan bibir ku, "Ohh, trus kenapa Januari? Kan kalo ga salah kita kenalnya bulan Mei tadi kan?"
"Kamu mau nunggu sampe bulan Mei? Artinya 7 bulan lagi kita baru nikah.." lirihnya didepan wajahku.
Aku refleks menggelengkan kepalaku cepat.
"Makanya Januari aja." senyumnya.
"Tante tante, Jordy pinjam itu boleh?" Jordy tiba-tiba mendatangi kami dan merengek manja.
Jefri segera melepas ganggamannya padaku, lalu menggendong Jordy.
"Boleh pinjam, asal makan dulu yang banyak. Gimana?" tawarnya.
Jordy merengek kesal minta diturunkan, lalu berlari menangis mendatangi Mamanya. Aku menepuk bahu Jefri pelan.
"Usil banget sih." lalu kami berjalan ke meja makan bergabung dengan yang lainnya untuk makan malam bersama.
**********
Beberapa minggu berlalu.
Lisa POV.
Aku terbangun dari tidurku. Keringat dingin menyelimuti seluruh tubuh. Nafas ku tersengal, aku ngos-ngosan. Seperti lari maraton sambil di kejar anjing. Aku barusan mimpi buruk. Mengerikan, batinku.
Aku masih duduk di atas ranjang, mencoba mengatur nafasku. Sambil mengingat-ingat lagi kejadian demi kejadian dalam mimpi ku itu. Aku berpikir keras. Mengapa aku memimpikan sahabatku yang sebentar lagi akan melepas status single nya?
Aku segera berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu ku basahi wajahku. Harusnya aku berbahagia untuknya. Dan harusnya lagi mimpi itu mimpi yang menyenangkan, bukan mengerikan seperti ini.
Sebagai seorang sahabat, aku memang mengetahui semua tentangnya. Jika ada masalahpun biasanya dia meminta advice pada ku. Seperti dalam urusan mempersiapkan acara pernikahannya ini.
Memilih kebaya akad, gaun resepsi, lalu party after ceremony sampai urusan catering pun dia selalu melibatkan aku. Begitu pun dengan Jefri. Dia selalu menanyakan tentang kesukaan tika padaku.
Semoga semuanya baik-baik saja, doaku dalam hati.
Ting.
Ting.
Ting.
Suara notif ponselku.
Segera ku ambil, ku lihat layarnya.
Alex :
Sayang kamu dimana?
Hari ini sibuk?
Bentar lagi aku ke sana ya, boleh?
Ku lirik jam di poselku. Astaga jam 11 siang, batinku terkejut. Lalu segera ku balas chat dari Alex.
Me :
Iya di rumah aja kok ini, ke sini aja.
Alex :
Oke 😘
Ku letak kan kembali ponselku. Aku segera beranjak dan membereskan ranjangku, lalu pergi mandi.
Teeetttt..
Teeetttt..
Teeetttt..
Aku memundurkan langkah kaki ku.
Suara bel? Cepet banget si Alex sampai, batinku lagi.
Ceklek.
"Loh Tika.. Kenapa muka lu? Eh masuk.." sambil ku buka lebar pintu rumahku.
__ADS_1
Tika masuk dengan lesu nya, lalu di lemparkannya tubuhnya di sofa ruang televisi. Aku heran melihatnya.
"Ga ada Alex kan di kamar?" lirihnya hampir tidak terdengar.
"Hah? Alex? Ga ada sih, tapi katanya ntar mau ke sini." sahutku lalu pergi ke dapur mengambil minuman lalu memberikannya pada Tika.
"Lu kenapa? Kok lesu?" tanyaku sambil meletakkan bokongku di sampingnya.
"Haikal tadi malam nelpon."
"Truss?" aku heran.
Tika menghembuskan nafas panjang, "Hm. Haikal ngeliat Jefri di rumah sakitnya."
"Jefri masuk rumah sakit? Kok Alex ga cerita sama gua kemaren?" aku panik dan mulai menatapnya.
"Bukan Sa. Jefri ga sakit. Haikal liat dia dateng ke rumah sakit."
"So?" aku makin bingung dan penasaran.
"Anak Paula masuk rumah sakit. Dan kata Haikal, anak itu sudah di rawat 2 bulan lebih." lirihnya.
"Emang Jefri ga pernah cerita?"
"Pernah. Bulan lalu." Tika meneguk minumannya.
"Trus?"
"Hm. Gua pikir dia ga bakalan jenguk. Karna waktu gua tanya, dia bilangnya ga penting. Berarti kan ga ada yang perlu gua khawatirin."
"Emang tadi malem dia ga bilang mau jenguk tu anak? Em, sorry kalo gua lancang, ini emang privasi lu, gua....."
"It's oke beb, i need your hug." lirihnya, setetes air jatuh dikedua sudut matanya.
Aku memeluk erat sahabatku ini. Dia bagaikan saudara ku, the only one!
"Ssssttt.." aku menepuk pundaknya, Tika mulai menangis, meluapkan isi hatinya.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain ini.
**********
Alex POV.
Hari ini aku memutuskan untuk mengajak Lisa bersantai. Entah itu menonton film atau sekedar hangout. Sepertinya sudah lama aku tidak pergi mall. Dulu saat dengan Rossi, hampir seminggu 4-5 kali ke mall, entah itu hanya untuk menemaninya belanja atau sekedar mengantarnya ke salon.
Sungguh berbeda dengan calon istriku yang satu ini. Rencana nya setelah acara pernikahan Jefri dan Tika, aku akan meminang Lisa juga. Mendatangi keluarganya yang kini tinggal di luar negeri. Ya Tante nya yang berteman dengan Ibu ku.
Aku tersenyum sendiri saat mengingat betapa frustasinya sahabatku itu. Galau memilih jalan hidupnya. But now, I'm happy for him. Pilihan yang tepat untuk menikahi Tika.
Kini aku terkekeh sendiri didalam mobil. Menyetir sambil mengingat lagi saat aku menyukai Tika. Pribadi nya yang benar-benar tidak bisa di tebak. Mungkin jika aku di posisi Jefri, aku juga akan melakukan hal yang sama. Secepat dan sesegera mungkin mengikat Tika dengan pernikahan. Dia tidak pantas untuk dibiarkan bekerja sendiri, dia harus segera di nafkahi, agar tidsk terlalu stress.
Dan itu juga yang aku lihat sekarang ini pada Lisa. Aku tidak menyangka dia sahabat Tika. Memang suatu kebetulan. Lisa yang sudah hidup seorang diri, harus segera aku nafkahi. Dan ku jadikan ibu dari anak-anak ku kelak, pikirku.
Aku segera memarkirkan mobilku masuk ke halaman rumah Lisa. Ku lihat ada mobil Tika terparkir di pinggir jalan.
"Kok tadi Lisa ga bilang kalo ada Tika?" gumamku saat menuruni mobil.
Ku buka pintu rumah Lisa dengan anak kunci cadangan yang diberikan Lisa.
Ku lihat mereka saling berpelukan. Tika menangis tersedu.
"Ssssttt.." Lisa menepuk-nepuk pundak Tika.
Aku berjalan mendekati mereka. Kemudian duduk di sofa sebelah Tika.
"Udah.. Udah.." Lisa mencoba menenangkannya.
"Kenapa sih?" ujarku.
Tika tiba-tiba berhenti tersedu, melepaskan pelukannya dengan Lisa, menghapus airmata dipipinya lalu menoleh padaku.
"Lu kenapa Tik?" tanyaku heran.
"Ga papa kok, cuman lagi kepingin nangis aja." sahutnya.
Aku menatap Lisa, dia hanya menggeleng pelan.
"Oke, gua duduk dibelakang deh, kalian lanjut aja." pamitku tidak nyaman pada mereka.
Aku segera keluar dan merokok.
**********
Tika POV.
"Kenapa sih Tik?" tanya Lisa padaku saat Alex sudah tidak ada.
"Gua sama Jefri hubungan nya gak kayak elu. Yang kemana-mana mesti laporan. Karena gua gak mau repot."
"Serius lu? Jadi selama ini...."
"Sistem kepercayaan." selaku.
__ADS_1
"Trus hari ini dia ada ngehubungin elu gak?"
"Gua telepon hp nya gak aktif." aku menatap Lisa.
Lisa langsung berdiri, menarik lengan bajuku, membawaku keluar mendatangi Alex.
"Yang, Jefri ada ngehubungin kamu?" tanya Lisa yang kemudian duduk disebelah Alex.
"Em. Ga-ga ada sih hari ini." jawab Alex bingung, "Kenapa emang?" sambil melihat aku dan Lisa bergantian.
Aku duduk di sisi Alex yang satunya.
"Ada apaan sih? Boleh gua tau gak?" tanya Alex bingung.
Aku menyulut rokokku yang sedari tadi ku pegang.
"Jefri nemuin Paula." ucapku sambil menghembuskan asap pertama ku.
"Nemuin anaknya." ralat Lisa cepat.
"Apa bedanya Sa? Kan ketemu mantannya juga." sewotku.
"Ya-ya iya sih, tapi kan ga mungkin karena mantannya. Pasti tujuannya ketemu anaknya."
"Ya pokoknya gitu deh, ketemu anaknya sama ketemu emaknya sekalian." kesalku.
"Dia ga izin atau ga ngabarin?" tanya Alex perlahan.
"Both." aku dan Lisa menjawab serempak.
Alex tidak mampu berkata-kata. Ia menyulut rokoknya lagi.
"But wait, lu tau dari mana Jefri ketemu mereka? Lu liat?" tanya Alex menoleh padaku.
Aku menggeleng, "Kakak gua liat dia dirumah sakit."
Alex mengusap mulutnya yang menganga secara kasar. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sibuk dengan ponselnya.
"Nomernya ga aktif." ujar Alex tiba-tiba.
Aku mengerdikkan kedua bahuku. Kami semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
Ponselku berbunyi didalam rumah.
Aku berdiri dan segera mengambilnya ke dalam.
Aku terkejut.
Jefri calling.
Aku ragu untuk menerima telponnya. Sambil menghembuskan nafas panjang, ku geser tanda hijau di layarku perlahan.
"Hallo." jawabku berusaha santai.
"Sayang, kamu dimana? Sorry ya tadi pagi aku ga jemput kamu buat ke kantor, kamu pasti nungguin."
"Ga papa kok, lagian hari ini aku ga masuk kerja."
"Loh kenapa? Kamu sakit?" suaranya khawatir.
"Enggak kok."
"Trus?"
"Aku lagi pingin istirahat aja."
"Ya udah kalo gitu aku ke rumah kamu ya?" izinnya.
"Aku ga dirumah."
"Loh trus dimana?"
"A-aku...." jawabku ragu.
"Kamu kenapa sih sayang? Dari tadi jawabnya singkat-singkat gitu? Oh aku tau, pasti dari...."
"Udah dulu ya, aku kebelet pipis, dahh." selaku dan langsung ku geser tanda merah di layar ponselku.
Detak jantung ku berpacu cepat. Kaki ku serasa melemah. Ku hempaskan bokongku disofa. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan ini pada Jefri. Memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Dengan alasan kebelet pipis lagi.
Ku gigiti bibir bawahku sambil meletakkan ponselku diatas meja. Ku tutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Seketika butiran demi butiran air keluar dari kedua sudut mata ku. Hatiku terasa sakit....
__ADS_1