Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 39


__ADS_3

Di sepanjang jalan, kami hanya mendengarkan lagu yang mengalun dari music player sambil sesekali kami bernyanyi pelan. Pikiranku melayang, andai setiap hari aku bisa menemani Tika. Mengantarnya pergi ke kantor, menjemputnya. Sarapan, makan siang dan makan malam bersamanya. Belum lagi jika setiap hari bisa mendapat bonus melihat aksinya yang menggodaku seperti tadi. Aku tertawa kecil.


"Kamu kok senyum-senyum sendiri sih?" tegurnya membuyarkan pikiranku.


"Enggak kok."


"Iya kamu senyum-senyum, trus tadi cekikikan gitu."


"Masa sih?" pertegasku lagi.


"Serius! Kamu fokus nyetir gak sih? Klo kamu ngantuk, biar aku yang nyetir."


"Jangan! Kalo kamu yang nyetir, nanti tiba-tiba kamu berhenti di pinggir jalan trus pindah duduk ke pangkuanku."


"Apaan sih ah."


Aku tertawa nyaring, "Ciee malu yaaaaa? Hahahhaa."


Tak lama kami sampai didepan kantornya. Aku men-drop nya didepan pintu masuk kantor.


"Kamu pulang jam 5 kan?" tanyaku saat dia mengambil tasnya di kursi belakang.


"Iya jam 5, kenapa?"


"Nanti aku jemput."


"Ga usah, aku bisa naik taksi kok."


"Ya udah, aku jadi taksinya kalo gitu. Jam 5 ya.." tegasku lagi.


Tika tersenyum, "Ya udah kabarin aja kalo ntar udah arah sini."


"Oke. Ciumnya mana?" pintaku.


"Apaan sih? Bye." pipinya merona lalu dia segera keluar dari mobilku.


Aku hanya senyum sendiri lalu melanjutkan kembali perjalanan ku menuju apartment Alex.


Hari sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sebelum berbelok memasuki gedung apartment Alex, aku memutar setirku memasuki suabuah minimarket. Aku ingin membeli sekotak rokok dan beberapa minuman segar serta camilan. Setelah selesai aku kembali melanjutkan perjalanan ke apartment.


Sesampainya di dalam apartment, aku kaget. Ternyata disana sudah ada Dodi, Brandy, Cleo dan tentu saja Alex.


"Hei Bro, kok kalian pada disini? Lu juga gak bilang Lex kalo ada mereka?"


"Ya kan lu ga nanya.." jawab Alex santai.


"Gua pikir lu izin ga masuk gegara ada hal penting. Tau nya malah leyeh-leyeh." umpat Brandy.


"Sorry.. Tapi emang ada urusan penting kok. Suer deh!"


"Pentingnya elu juga paling ngajak Paula jalan kan?" tebak Dodi.


"Enggaklah, Paula lagi keluar kota. Bebas gua."


"Tumben lu ga ikut?" tanya Dodi.


"Mulai saat ini gua males ikut-ikut Paula belanja. Ntar ujung-ujungnya gua jadi babu, disuruh jadi sopir, tukang angkat barangnya, belum lagi perintah-perintah lainnya." ucapku kesal.

__ADS_1


Lalu kami mengobrol hingga melebarkan topik pembahasan kami. Saling tertawa, mengejek, makan, minum, merokok. Kami selalu berkumpul seperti ini. Namun sayangnya, siang ini Kaisar tidak ada karena urusan pekerjaannya.


"Kita-kita udah denger cerita lu dari Alex. Jadi gimana? Lu milih siapa?" tergas Brandy.


Suasana tiba-tiba berubah hawanya. "Kok kayak lagi di kantor penyelidikkan ya?"


"Bukan gitu Jeff, kita disini mau bantuin lu. Kalo lu ada rasa sama Tika, disini ada Alex yang bisa bantu karena dulu mereka temen sekolah. Trus kita-kita juga ikut bantuin lu pepetin dia." saran Cleo.


Aku memandangi mereka satu persatu sambil menyulut sebatang rokokku. Menghisap lalu menghembuskannya kasar.


"Lagian Jeff ya, umur lu udah kepala 3, mau sampe kapan lu begini aja. Bini gua bentar lagi brojol. Brandy udah ngelamar ceweknya. Disini tuh tinggal kalian betiga yang bujangan." lanjut Cleo lagi.


"Nyokab lu juga pernah tuh cerita ke nyokab gua. Kalo lu paling ga suka idup lu di urus-urusin gini. Tapi jujur ya, gua terpaksa harus ngomong ini. Perihal umur siapa yang bisa nentuin? Lu ga kesian sana nyokab bokap lu, kapan lagi mereka liat lu bahagia? Trus idup lu, mau....." jelas Cleo panjang lebar.


"Iya iya gua ngerti. Cuman gua bingung aja."


"Yang bikin lu bingung apaan sih?" tanya Alex yang mengambil vaping nya.


"Ngapain lu bingung lagi sih? Kalo gua di posisi elu sekarang, jelas gua pilih Tika. Cantik, royal, mandiri, ngehargain posisi cowo, trus single broo, ga ada buntutnya." ucap Dodi.


"Yes, that's right. Dan itu ciri-ciri elu bisa dengan mudahnya ngenalin dia ke nyokab bokap lu." timpal Cleo lagi.


"Oke oke udah, sekarang kita biarin dulu Jefri yang ngomong." cegat Brandy.


Aku seakan terpojokkan disini. Otakku pusing rasanya, "Taulah pokoknya gua bingung!"


"Bingung nya kenapa? Lu cerita aja, kita kan disini buat nyari solusi, ngasih opsi berbeda walaupun pada akhirnya lu sendiri yang nentuin mau pake opsi yang mana, mau pakau jalan yang mana. Gituuu." tegas Alex lagi.


Ku tarik nafasku banyak, lalu ku hembuskan kasar melalui mulutku, "Oke jadi gini.. Akhir-akhir ini gua emang rada males banget sama Paula, gak kayak biasanya. Jalan sama dia males. Angkat telponnya males. Sampe chatnya pun kadang gak gua balas, cuman gua read doang."


"Trus?" Brandy penasaran.


"Trus lu bingungnya dibagian mana?" tanya Brandy lagi.


"Ya gimana mutusinnya, ga ada salah apa-apa."


"Lu mau mutusin pake masalah?" kini giliran Alex yang mencerca.


"Ya habis gimana dong?"


"Jadi fixed nih ya, lu sama Tika?" tekan Cleo.


Dengan spontan aku menganggukkan kepala bersemangat. Anak-anak langsung berdiri dan high five. Aku hanya ikut-ikutan.


***********


Tika POV.


"Gimana Mett? Udah kelar?" sapaku.


"Udah kok. Beres semuanya. Tadi Bos pesen, katanya klo lu dateng, lu disuruh ke ruangannya."


"Aishh ada apaan lagi sih ini? Thanks ya Met."


Aku segera meletakkan tas ku dan mengambil ponselku lalu berjalan menuju ruangan Bosku.


Ternyata didalam ruangan sudah ada Dana dan tentu saja Bos ku yang mempersilahkan aku untuk duduk.

__ADS_1


"Tadi Pak Dana sudah melakukan final meeting untuk revisi sama Metta. Trus buat cek penataannya nanti apa bisa kamu yang handle? Soalnya Pak Dana minta kamu langsung yang handle ke sana, bukan begitu Pak Dana?" ucap Bos ku dengan lantang.


"Iya betul, saya sendiri yang mau Anda untuk menata nya di tempat. Untuk akomodasi dan segalanya biar saya handle." ujar Dana menimpali.


"Gimana kalo sambil jalan produksi sambil saya pertimbangkan lagi? Soalnya pekerjaan saya dengan vendor lain juga masih terjadwal untuk 4 bulan yang akan datang. Tapi ga menutup kemungkinan saya bisa kesana, toh paling juga 4-5 hari disana bukan masalah." jawabku seadanya dengan sesekali senyum tipis.


"Oke kalo gitu, semua beres." Bos ku berdiri dan aku pun mengikutinya, "Semoga Pak Dana puas dengan pelayanan kami." sambil bersalaman dengan Dana.


Dana pun berdiri dan menyambut shake hand Bosku. Aku tersenyum tipis. Dana berpamitan dan aku ditugasi Bos ku untuk mengantarnya sampai keluar kantor.


"Sekali lagi makasih ya, kamu udah mau mempertimbangkannya." ucap Dana saat hendak masuk ke dalam mobilnya.


"It's ok. Tapi aku ga janji ya. Yang jelas aku usahakan. Tapi aku minta satu hal dari kamu, tolong professional ya, jangan bawa masa lalu."


"Iya aku usahain juga, aku minta maaf kalo beberapa kali aku selipin masa lalu terus dipertemuan kita."


Aku hanya mengangguk. Dana menutup pintu mobilnya dan pergi. Belum sempat aku memasuki pintu kantor tiba-tiba ponselku berbunyi.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes...


🎶


Ku lihat layar ponselku.


Lisa calling.


Ku geser tombol hijau.


"Hallo?"


"Lu dimana?" tanya Lisa.


"Ya di kantorlah, masa gua di pub siang begini. Kenapa?"


Lisa cekikikan, "Gua habis ngedropin tante gua ke mall, dia mau nyalon katanya. Nah gua kesepian, sekalian juga ada yang mau gua tanyain sama lu. Gua jemputin yaa, udah jam istirahat kan lu?"


"Gila lu, baru juga 2jam gua ngantor. Mau bilang apa gua sama Bos."


"Ayo dong, bilang mau ketemu calon client kek ato apa gitu. Pleaseee..."


Aku berpikir sejenak, aku juga ingin tahu ada apa dia dengan Dana, "Ok gini deh, lu langsung parkir ke basement aja. Ntar gua ke sana."


"Oke 5 menit lagi nyampe." Lisa menutup telponnya.


Aku segera berjalan menuju ruanganku. Mengambil tasku dan beranjak pergi dari sana. Di depan pantry aku berpapasan dengan Metta.


"Loh lu mau kemana lagi?" tegur Metta.


"Sssttt, kalo Bos nanya, bilang gua ketemu calon client di luar. Oke?"


"Alasan itu lagi nih?"

__ADS_1


"Ya kalo lu punya alasan yang lebih masuk akal lagi sih ga papa, kasih tau aja gua ntar, biar klop. Daahhh."


Kutinggalkan Metta yang menggerutu dengan secangkir kopi ditangannya.


__ADS_2