
Aku beranjak dari tempat dudukku, memasuki rumah, mencoba mencari Tika, Lisa atau Mamahnya Tika. Aku mendengar suara di dapur. Aku menuju dapur.
"Lisa, Tante berangkat dulu yaa." ujar Mamah Tika sambil mengecup pipi Lisa.
"Iya Tante, Tika udah tau kan Tante jalan?"
"Udah, tadi papasan di tangga." Mamahnya berbalik dan melihatku, "Nak Jefri, Tante tinggal jalan dulu ya."
"Iya Tante, hati-hati di jalan." sahutku sambil menyium punggung tangannya.
Aku dan Lisa mengantarkan Mamah Tika sampai ke depan pintu dan melambaikan tangan kami. Dia pergi...
"Tika mana?" tanya Lisa padaku.
"Ga tau, tadi dia ninggalin gua gitu di belakang."
"Oh, ya udah bentar ya, gua mau ambil tas gua dulu." ujar Lisa.
Aku menaikkan sebelah alisku. Lisa berjalan menaiki tangga lalu meghilang dari pandanganku. Aku berjalan mengelilingi ruang tamu, melihat-lihat foto yang tertata rapi di dinding dan meja-meja. Banyak lemari yang berisikan piala dan piagam.
Ku perhatikan satu persatu piala yang tersusun rapi itu.
Juara 1 Lomba Fashion Show Tingkat Nasional 2005.
Juara 1 Lomba Style Terunik 2007.
Juara 2 Lomba Anak Gadis 2008.
Juara Harapan 1 Lomba Fashion Hari Kartini 2010
Juara Favorite 1 Pemilihan Top Model Nasional 2012
Dan masih banyak lagi piala serta piagam yang terpampang.
Baru kali ini aku mengitari isi ruang tamunya. Kalau dilihat, ternyata Tika memang anak yang berprestasi. Dia selalu juara. Ya pasti ini prestasinya, bukan kakaknya. Karena foto-foto yang terpajang pun juga miliknya. Foto dari berbagai macam perlombaan dalam berbagai pose. Sejak masih anak-anak hingga remaja.
Foto keluarganya juga ada menghiasi dinding ruang tengah. Tika hanya memiliki 1 saudara lelaki. Setidaknya itu yang terlihat jelas dari foto. Aku sudah banyak mengetahui kehidupannya, latar belakang keluarganya, semua info itu aku dapat dari temanku Nando.
Nando dulu berteman juga dengan kakaknya Tika, Max. Dulunya Nando dan Max pernah bekerja di satu perusahaan swasta yang sama. Namun karena Max mencoba peruntungannya di perusahaan BUMN dan diterima, menyebabkan dia harus resign dan tidak lagi sekantor dengan Nando. Menurut Nando, Max adalah orang yang keras. Keras terhadap hidupnya sendiri dan Max memang tipikal pria sejati yang mampu melindungi keluarganya. Dan Max sanggup menjadi tulang punggung saat Ayah mereka tiada.
"Jeff, gua tinggal dulu ya, gua ada panggilan interviews mendadak. Gua udah bilang tadi sama Tika kalo lu nunggu disini." Lisa muncul menuruni tangga dengan mengagetkanku.
"Oke. Good luck ya."
"Thanks." jawabnya sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Lama aku menunggu di ruang tengah. Tika tidak muncul-muncul menemuniku. Aku mulai frustasi. Ku putuskan untuk menyusulnya ke atas. Aku ingin berpamitan.
**********
Lisa POV.
"Tika mana?" tanyaku pada Jefri setelah kami mengantarkan Nyokab Tika pergi.
"Ga tau, tadi dia ninggalin gua gitu di belakang."
"Oh, ya udah bentar ya, gua mau ambil tas gua dulu." ujarku dan berjalan menuju kamar Tika di lantai atas.
Tak ku hiraukan lagi Jefri dibawah sana, ku buka pintu Tika, dia tidak ada. Ku dengar suara gemercik air dari dalam kamar mandinya.
Tokk..
Tokk..
"Tik.. Lu didalem?" seruku setelah mengetok pintu kamar mandinya.
"Iya, kenapa Lis?"
"Gua ada interview mendadak ini, gua mau pamit. Ga papa kan lu gua tinggal sendiri?"
"Iya ga papa kok,"
"Tu Jefri masih dibawah loh nungguin lu, lu cepetan keluar yaa.."
"Ga usah, gua udah order taksi kok. Lu cepetan aja kesian tuh Jefri sendirian dibawah. Bye." ucapku dan pergi.
Saat menuruni tangga, aku melihat Jefri yang sedang melihat-lihat foto di dinding, "Jeff, gua tinggal dulu ya, gua ada panggilan interview mendadak. Gua udah bilang tadi sama Tika kalo lu nunggu disini."
"Oke. Good luck ya."
"Thanks." jawabku lalu pergi.
**********
Tika POV.
Ku biarkan airmata ku tumpah ruah dibawah gemercik air shower. Ku luapkan emosiku melalui airmata ini. Akhirnya.. Sanggup juga mulutku mengatakan hal tadi dengan Jefri.
Setelah sekian lama, sinkron juga semuanya dengan kalimat yang keluar dari mulutku. Dan benar adanya bahwa Jefri sudah memiliki kekasih. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat nama orang yang menelpon nya tadi, "MyPaula," gumamku dibawah shower.
Ku tenangkan diriku dengan guyuran air shower hangat ini. Tanpa ku lepas pakaianku. Aku sungguh wanita bodoh. Mau-maunya aku di perlakukan seperti ini. Memang saat dekat, aku tidak pernah melontarkan pertanyaan apakah dia sudah memiliki pasangan atau belum. Yang jelas untuk pria umuran nya, aku tinggal melihat saja, jika tidak ada cincin dijarinya berarti dia single. Sebodoh itu cara aku menilai lelaki!!
__ADS_1
Ku dengar ada suara orang membuka pintu kamarku. Kemudian...
Tokk..
Tokk..
"Tik.. Lu didalem?" suara Lisa.
"Iya, kenapa Lis?"
"Gua ada interview mendadak ini, gua mau pamit. Ga papa kan lu gua tinggal sendiri?"
"Iya ga papa kok,"
"Tu Jefri masih dibawah loh nungguin lu, lu cepetan keluar yaa.."
"Iya iya, lu hati-hati yaa." sahutku, lalu aku merasa tidak nyaman dengan Lisa. Segera aku keluar dari guyuran shower dan mengeluarkan kepalaku saat pintu ku buka sediki, "Lu mau pake mobil gua?"
"Ga usah, gua udah order taksi kok. Lu cepetan aja kesian tuh Jefri sendirian dibawah. Bye." ucapnya lalu pergi.
Aku kembali masuk ke dalam guyuran shower. Ku tanggalkan semua pakaianku. Aku keramas dan membersihkan tubuhku. Sambil ku pijit-pijit pelan area bawah mataku. Setelah selesai, ku lilitkan handuk diseputaran dadaku. Lalu ku keringkan rambutku dengan bantuan handuk.
Saat aku keluar dari kamar mandi betapa terkejutnya aku melihat Jefri berada di ambang pintu kamarku. Aku memang bukan type wanita yang apa-apa langsung berteriak. Aku hanya melongo melihatnya.
"Sorry, maksudku aku kepingin pamitan. Aku ga tau kalo kamu lagi mandi, maksud aku, aku ga tau kalo kamu bakalan keluar kamar mandi kayak gitu. Maksud aku..." jelas Jefri yang kemudian perkataannya ku sela.
"Iya iya, aku juga salah kok. Sorry boleh aku pake baju bentar?" izinku sopan.
Dengan santai (bukan bukan, aku mencoba untuk santai) aku berjalan menuju lemari bajuku. Dan mengambil 1 set baju rumahku. Otak ku kembali nakal. Tubuhku merindukan sentuhannya. Ku lihat kilas dia masih saja menatapku diambang pintu.
"Kamu mau liat aku pake baju?"
Dia tersenyum, senyum yang mempesona, senyum yang selalu membuat imanku lemah, "Kamu malu? Aku kan udah liat semua bagian ditubuh kamu."
"Ya tetep aja aku malu, aku kan masih normal." sewotku.
"Kalo gitu aku mau liat kamu pake baju." ucapnya tegas.
"Maksud kamu?"
"Ya aku normal. Kan tadi kamu nanya, aku mau liatin kamu pake baju apa enggak? Ya aku jawab iya, aku mau." jelasnya lagi yang semakin membuat aku kesal.
Ku lemparkan baju yang ada ditanganku ke arah wajahnya. Tapi gerakannya terlalu gesit, dengan cepat dia menutup pintu kamarku. Sehingga pakaianku tadi mendarat bebas di balik pintu yang tertutup. Segera ku punguti baju ku dan ku putar anak kunci pintu kamarku.
"Tunggu di bawah aja, bentar lagi aku turun." teriakku.
__ADS_1
Ku dengar tidak ada sahutan. Aku memulai ritualku setelah mandi, ku usapkab merata body lotion favorite ku keseluruh bagian tubuhku. Lalu ku gunakan moisturizer pada wajahku. Selesai. Barulah ku gunakan bra sport ku, kaos gombreng, G-string serta lagging spandex semata kaki. Dengan handuk yang masih melilit di atas kepalaku, menyelimuti rambutku, aku keluar dari kamar dan menuruni tangga.