Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 64


__ADS_3

Still Jefri POV.


Aku dan Mamah segera menuju ruang UGD. Ku lihat ada dua orang lelaki berdiri didepan pintu operasi dengan membawa tas dan ponsel milik Tika. Aku setengah berlari mendekatinya.


"Sorry, Mas yang di telpon tadi ya? Ini barang-barangnya. Maaf tadi jika kami harus membuka tas dan dompetnya. Karena kami harus mendaftarkannya." jelas lelaki itu.


Aku hanya mengangguk dan menerima barang-barang Tika itu. Bibirku serasa kelu, tidak sanggup berucap apa-apa. Mamah menyentuh pundakku.


"Makasih ya Mas, sudah menyelamatkan anak saya." ucap Mamah disampingku.


"Iya Bu, sama-sama. Maaf kami tinggal dulu, soalnya kami mesti ke kantor polisi buat bikin laporan. Karena supir Truk yang menyerempet mobil anak ibu juga mengalami hal yang sama. Dan sedang ditangani juga di ruangan sebelah sana" jelas lelaki yang satunya lagi sambil menunjukkan jarinya ke arah ruangan lainnya.


Aku menoleh ke arah tunjukkan jari lelaki itu, ku lihat seorang wanita juga menangis tersedu sendirian di depan pintu itu.


"Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian." ucap Mamah pada kedua lelaki itu.


"Sudah seharusnya kita saling tolong menolong. Kalau begitu kami pamit Bu, Mas." pamitnya sambil bersalaman dengan aku dan Mamah, "Permisi."


Mereka berlalu. Aku melihat tanda lampu diatas pintu, masih berwarna merah. Kini aku berusaha mengendalikan emosi ku. Aku menahan airmataku. Benar kata Mamah, aku harus kuat untuk Tika.


Tak lama berselang....


"Mah, Mamah..." seru Max yang berlari mengahampiri Mamah dan langsung memeluk Mamah.


Disaat itu tangis Mamah barulah pecah. Dia rapuh, dia terisak lebih kencang dari dugaanku. Tubuhnya yang tadi terlihat tegar menguatkanku, kini lemah tidak berdaya di pelukkan Max. Max mencoba membawa Mamah duduk dikursi, menenangkan Mamah berkali-kali. Ya, Max juga meneteskan airmatanya. Istri Max pun mencoba menenangkan Mamah. Suasana begitu kacau. Nafasku kembali tersengal. Aku bersandar pada dinding dingin yang menyelimuti suasana itu. Masih memegang tas Tika.


Haikal datang, lalu Lisa, Alex, dan kedua orangtua ku.


"Bro, yang kuat ya, semua pasti baik-baik aja." lirih Alex saat memelukku.


Aku hanya membalas dengan senyum terpaksa. Mama ku langsung memelukku dengan airmata yang sudah tumpah di pipinya, dia tidak berkata apa-apa, hanya memelukku erat. Papa hanya menepuk bahuku berkali-kali saat itu dan menatapku. Seakan mengisyaratkan, bahwa aku harus kuat!


Ku tenangkan Mama berkali-kali, bahkan ku giring Mama untuk duduk di dekat Mamah Tika. Mereka saling menyapa dan memeluk. Saling menguatkan. Aku tidak sanggup melihat kejadian itu. Airmata yang sejak tadi ku tahan kini kembali menetes semakin banyak. Aku berdiri, menjauh dari kursi itu dan bersandar pada sebuah tiang.


Agak jauh dari pintu operasi. Tiba-tiba Lisa dan Alex kembali mendekatiku. Refleks Lisa yang sudah dibanjiri airmata pun memelukku dan meminta maaf.


"Sorry Jeff... me-mestinya tadi gua la-larang dia buat pulang, me-mestinya gua paksa d-dia buat nginep aja di ru-rumah gua aja. Se-semua nya salah gua, gu-gua yang me-mestinya celaka, bu-bukan Ti-tika...." ucap Lisa terbata-bata dalam tangisnya.


Aku menatap Alex kaget. Semua kini menoleh, menatap kami karena ucapan Lisa yang lumayan nyaring. Dengan segera ku lepaskan tangannya yang memelukku, ku cengkram kedua tangannya, Lisa menundukkan wajahnya seakan takut melihatku.


"Tika seharian dirumah lu?" tanyaku pelan.


Lisa hanya mengangguk pelan. Sekilas ku lihat mereka semua masih menatap kami. Alex menepuk bahuku pelan.


"Dan mestinya gua sama Lisa juga tetep harus maksa buat nganterin dia pulang." lirih Alex.


Max menghampiri kami, berdiri di belakang Lisa, "Tika baik-baik aja kan pada saat pulang?" tanyanya tegas.

__ADS_1


Ku berikan kedua tangan Lisa pada Alex. Aku tidak sanggup, kaki ku serasa lemas kembali. Aku berjongkok.


"Dia bilang dia baik-baik aja." sahut Alex sambil memeluk Lisa yang sudah terisak hebat dan tidak mampu berkata-kata lagi.


Max menjauh dalam diam. Kini dia hanya berdiri di depan Mamah dan Mama ku. Sejam berlalu. Seorang wanita berpakaian hijau muda membuka pintu operasi dan keluar. Aku berlari mendekati. Semua pun ikut berdiri mendengarkan.


"Maaf kami butuh persetujuan anastesi. Siapa dari pihak keluarga kandung yang bisa ikut saya ke ruangan?" ucap wanita itu lantang.


"Tapi gimana keadaan Tika?" tanya Max.


"Kepalanya mengalami pendarahan. Dibagian pahanya juga ada beberapa luka sobek karena tertancap pecahan kaca. La......"


"Saya yang akan tanggung jawab, dimana saya harus tanda tangan?" ucap Max cepat.


"Mari ikut saya." ujar wanita itu.


Max dan Haikal pergi bersama wanita itu menuju suatu ruangan. Aku sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Bibir ku kelu begitu mendengar penuturan wanita tadi tentang kondisi Tika. Aku kembali bersender di dinding depan pintu operasi, namun kali ini kaki ku terasa getir, aku berjongkok, menundukkan kepala dan memejamkan mataku.


Apa ini murni kecelakaan atau kondisi Tika yang tidak stabil? Batinku.


Tak berapa lama wanita tadi kembali masuk ke dalam ruang operasi. Di ikuti 2 orang wanita lainnya yang berpakaian sama. Max dan Haikal pun sudah begabung kembali duduk bersama Mamah yang sedang memeluk Lisa dan menguatkan Lisa.


Kami semua terpukul hebat dengan kejadian ini. Semuanya tidak menyangka Tika akan seperti ini. Terbaring lemah didalam sana, berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Sedangkan kami hanya dapat duduk diluar sini, berusaha saling menguatkan satu sama lain dan berdoa untuk Tika.


Ada perasaan sesal terlintas di benakku. Entah sesal karena apa....


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 1 lewat malam. Masih belum ada kabar dari dalam ruang operasi. Aku sudah terduduk di lantai. Mamah, Lisa, Mama dan Papa duduk di kursi tunggu, mereka sudah mulai tenang dan kondusif. Sedangkan Alex, Haikal dan Max berbincang disatu sudut berbeda.


Istri Max, Shilla, datang menghampiriku. Memberikan aku secup minuman hangat.


"Jeff, kamu perlu minum dulu, ini buat hangatin badan." ujarnya.


"Makasih, tapi biar buat Mamah aja." tolakku halus.


"Semua udah aku beliin kok. Di paksa minum ya Jeff, aku tau ini berat buat kamu, buat kita semua." ucapnya lirih.


Aku mengangguk, menerima minuman itu dan melontarkan senyum terpaksaku, "Makasih.."


Shila lalu mendatangi Mamah dan yang lainnya, memberikan minuman hangat itu.


Tak lama kemudian, seorang lelaki keluar dari ruangan.


"Maaf pasien kekurangan darah. Apa salah satu dari keluarganya ada yang bergolongan darah B+?" tanya lelaki itu.


"Saya B+ dok," ujar Mamah cepat.


"Jangan Mah, aku B+ juga dok, ambil darah aku aja." selaku cepat.

__ADS_1


"Baik, kamu ikut saya dulu. Ayo." ujar dokter itu.


Aku mengikuti langkahnya dengan cepat. Lalu dia membukakan satu pintu dan menyuruhku masuk.


"Kamu diperiksa dulu, jika cocok, maka transfusi darah akan segera kita lakukan." ujar dokter itu dan meninggalkan aku dengan seorang lelaki lain yang langsung memeriksaku.


**********


Setelah sekantong darah ku berhasil diambil. Tiba-tiba Max memasuki ruanganku.


"Max?" seruku kaget.


"Jeff, lu udah?"


"Mari pak, silahkan langsung sebelah sini." ucap lelaki yang tadi mengurusiku.


"Sorry ini kenapa ya? Darahnya masih kurang?" tanyaku pada lelaki itu sambil mencengkram tangannya kuat.


"Iya Pak, pasien kehilangan begitu banyak darah. Karena sayatan di bagian paha dan bahunya cukup dalam." lelaki itu menjelaskan.


"Ambil darah ku lagi, cepat!" titahku tegas.


"Jeff, jangan, biar kita bagi aja, lagian Haikal udah pergi ke rumah sakitnya buat ambil darah disana." cegah Max.


"Enggak, lagian dia bakalan jadi istri gua, udah sepantasnya darah gua mengalir juga ditubuhnya." ucapku agak kasar.


Ya setelah mengucapkan itu, aku menyadari kalimat itu terlalu kasar untuk aku lontarkan pada Max, yang jelas-jelas kakak kandungnya.


"Sorry Max, gu-gua..."


"Gua ngerti. Tapi gua tetep harus donor, buat jaga-jaga. Kalo lu mau donor lagi, semua terserah sama lu." lirihnya.


"Sorry apa dia bisa donor lagi?" Max menanyakan itu pada lelaki yang dari tadi hanya melihat pedebatan kami.


"Bisa aja, kalo masih memungkinkan. Mari Pak, Bapak sebelah sini, biar sekalian langsung saya periksa." ucap lelaki itu lagi.


Darahku pun kembali diambil lagi, Max juga. Kini yang ada diotakku hanya Tika, tika dan tika...


Begitu aku dan Max keluar dari ruangan itu dan kembali bekumpul bersama yang lainnya. Aku melihat Haikal sedang berbicara dengan salah satu Dokter. Terlihat sangat serius.


Aku dan Max duduk di kursi bersama Mamah dan Mamaku. Lalu Haikal mendekat..


"Mah, Haikal di izinin buat masuk ngeliat kondisi Tika. Mamah yang sabar ya, semuanya juga. Haikal tinggal dulu." pamitnya lalu mengecup pipi Mamah.


Ada sedikit perasaan lega begitu mendengar Haikal bisa melihat ke dalam. Setidaknya Haikal bisa mewakili kami semua untuk membantu Tika berjuang didalam sana.


Sekilas ku lihat Shilla bersama seorang wanita di pintu satunya lagi, memberikan minuman, lalu memeluknya. Mamah yang melihat itu segera berdiri, berjalan menuju ke sana dan memeluk wanita itu. Terlihat seperti saling menguatkan.

__ADS_1


Keluarga ini begitu luar biasa. Mereka begitu ramah, begitu penyayang dan kekeluargaan. Aku kagum dengan mereka semua. Mengapa aku baru saja mengenal mereka? Mengapa baru saja aku didekatkan dengan mereka? Batinku bergemuruh. Sungguh keluarga yang luar biasa.


__ADS_2