
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
“Jadi mau makan di mana ini?” tanya Max sekali lagi. Membuat aku terkekeh geli. Sudah hampir sepuluh menit kami di jalanan, berputar-putar dengan arah yang arah tidak menentu.
“Terserah Lisa aja deh. Biar Lisa yang pilih, biar adil.” Tika menyuruhku untuk menentukan pilihan. Aku sempat menoleh ke belakang melihat Tika yang sudah duduk bersandar dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. Bersedekap. Aku kembali terkekeh melihat tingkahnya itu.
“Ya udah, lu mau makan di mana, Lis?” tanya Max padaku sambil sesekali menatapku.
Dekat sekali jarak wajahnya padaku, pasalnya Max meletakkan sebelah tangannya di atas dashboard tengah, membuat tubuhnya sedikit condong ke arahku. Dan itu membuat bulu kudukku tiba-tiba bergidik. Akan tetapi aku berusaha untuk mengontrol sikapku.
__ADS_1
'Aku gugup, sialan!' rutukku dalam hati.
“Em ... ju-junk food!” Aku berusaha mengembuskan napasku dengan pelan sambil menoleh melihat mereka secara bergantian.
Tiba-tiba Tika memajukan duduknya, memanjangkan wajahnya di antara aku dan Max. “Tuh 'kan, aku bilang juga apa! Lisa aja milih junk food juga.” Tika membentak kakaknya sendiri dan itu membuat Max seakan kader. Kali ini aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dari mereka.
Max akhirnya menginjak pedal gas mobilnya, memacu laju mobil setelah sebelumnya berbalik memutar arah. Hingga berbelok memasuki sebuah kawasan parkir makanan junk food, Kaefce. Lalu perlahan Max mencari tempat parkir yang sedikit teduh dari sinar matahari yang begitu menyengat.
Kami menuruni mobil dan bersama-sama melangkah bertiga memasuki tenpat makanan itu. “Kalian mau apa?” tanya Max saat kami sudah berdiri, mengantri menunggu giliran kami.
Sebenarnya aku sudah terlalu kenyang, karena saat makan masakan bi Mince di rumah tadi, lumayan banyak. Hanya saja aku tidak mau melewatkan moment jalan-jalan dengan kedua siblings ini. Sebab biasanya, setelah makan, Max akan mengajak kami jalan-jalan ke mall atau sekedar duduk nongkrong di sebuah café. Demi menurunkan kadar makanan yang sudah menyesakkan perutnya.
“Lisa! Dih, di suruh milih malah ngelamun!” hardik Tika, aku hanya menyengir diiringi dengan suara kekehan dari Max. Aku sempat melirik ke arahnya sebentar, dia terlihat manis saat kedua sudut bibirnya itu tertarik.
__ADS_1
“Gua kentang aja deh sama air mineral, masih kenyang soalnya.” Aku mengatakan dengan pelan sambil tersenyum menoleh pada Tika. Sedangkan yang ditatap langsung memasang wajah cemberutnya.
“Enggak-enggak, gua samain aja sama pesenan Tika, tapi burgernya satu. Udah gitu aja, biar adil.” Kalimat Max membuatku terkejut, jelas saja, bagaimana caraku menghabiskannya? Berbeda dengan Tika yang langsung menunjukkan wajah sumringahnya lalu meledekku dengan uluran lidahnya.
Aku sudah tidak bisa menolak lagi jika Max sudah mengatakan keputusannya. Seolah aku terhipnotis akan semua yang ada pada dirinya. Terlalu menawan di mataku. Apa aku bisa membuatnya jadi melihat keberadaanku sebagai wanita nantinya? Entahlah, aku mengerjabkan mataku berkali-kali untuk membuang jauh-jauh pemikiran liarku. Rasanya seperti mengkhayal terlalu tinggi.
Bersambung ...
—————
Jangan lupa subscribe (like, love and comment) trus jangan lupa juga buat kasih 'Vote Poin'.
Terimakasih.
__ADS_1
@bossytika