
Selamat membaca ...
——————————
Max POV.
Aku menutup pintu kamarku setelah perdebatan kecil dengan adik bungsuku tadi. Langsung melemparkan tubuhku ke tengah-tengah ranjang dan memejamkan mataku sebentar, sebelum mandi. Sekilas ingatanku kembali melayang pada sikap Lisa tadi saat di rumahnya. Tidak pernah aku melihatnya seperti itu. Dan tidak semestinya ia berbuat seperti itu padaku, bukankah ia sadar jika aku ini adalah kakak dari seorang sahabatnya? Tidak pantas rasanya jika dia bersikap seperti itu, apa lagi jika sampai Tika tahu. Bisa-bisa mereka berkelahi.
Tapi tunggu dulu, pemikiran macam apa ini? Tidak sepantasnya aku memikirkan hal ini. Aku menegakkan tubuhku untuk bangun dari ranjang dan duduk di pinggiran. Aku kembali berkaca diri, mencoba mengingat lagi, apa semua yang terjadi hari ini juga karena sebab dari ulahku? Memang apa yang sudah aku lakukan? Rasanya tidak ada sedikit pun sikapku yang berlebihan. Aku juga tidak menggodanya, tidak pula berbicara gombal padanya.
Aku segara bangun dari tempat tidurku, lalu menghela napas dengan kasar. Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
__ADS_1
Setelah kembali berpakaian, aku memutuskan untuk duduk di halaman belakang. Bersantai sejenak sambil menyulut sebatang rokok. Menikmati setiap hirupan dan embusan dari asap rokok itu, sambil menenangkan pikiranku. Akan tetapi, bukanlah ketenangan yang aku dapatkan melainkan sebuah perasaan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Terlalu abrak dan aku tidak mengerti.
Sambil duduk bersandar di kursi lounger pinggiran kolam renang, aku memandang kerlap-kerlip bintang di atas sana. Dengan kilauan yang sangat kecil tapi indah, begitu memesona. Dan di umurku sekarang, yang sudah bisa untuk dikatakan tua ini membuatku tersadar akan satu hal. Yaitu cinta.
Seorang pasangan yang seharusnya menemaniku. Aku memang banyak mendekati wanita, tapi semua itu hanya sebagai teman, tidak lebih. Dan memang tidak ada yang bisa membuatku tertarik. “Masa iya aku gay?” gumamku sambil terkejut lalu kembali duduk dengan tegak. Aku melipat kedua kakiku untuk duduk bersila di atas kursi. Menikmati rokok.
Bayangan wajah Lisa sekelebat terlintas, membuatku bergidik karena terkejut mendapatkan bayangan itu. Lalu pikiranku kembali melayang, mengingat kembali saat Lisa yang tiba-tiba menyerangku untuk menciumku kemudian di saat ia memeluk dengan detak jantungnya yang begitu keras, hingga aku dapat merasakan semua itu. Tapi aku tetap menganggapnya hanya sebatas adik, tidak lebih—mungkin.
Aku kembali menghela napas, mematikan putung rokok itu pada asbak kemudian kembali bersandar. Dengan kedua tangan yang kuangkat lalu kulipat sebagai tempat kepalaku bersandar. Memejamkan mata untuk sejenak berpikir dikala suasana tenang.
Namun, secara tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dengan pelan. Membuat aku kembali memuka mata dan melihat ke sekitar dan menemukan adik perempuanku yang kini berdiri tepat di sampingku.
__ADS_1
“Kenapa?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“Aku lapar.” Tika mengatakan sambil mengelus permukaan perutnya. Aku akui, umurnya memang sudah besar, sudah cukup bisa untuk mencari makanan sendiri di dapur atau pun mencoba untuk mencari bi Mince dan meminta beliau untuk memasak. Tapi sayangnya adikku yang satu ini bukan anak yang seperti itu. Ia lebih suka untuk mengganggu waktu istirahat kakaknya sendiri.
Aku beralih untuk duduk dan menjatuhkan kakiku ke lantai, kembali pada alas kakiku. Sedangkan Tika langsung merosot duduk di sampingku dengan mulutnya yang mengerucut, cemberut. “Kan bisa cari sendiri di kulkas, apa yang bisa dimakan di sana.” Aku mengusulkannya agar ia bisa mandiri dan berhenti bermanja padaku.
“Aku mau makan di luar,” pintanya lalu menoleh padaku. Aku mengernyitkan alisku lalu menatap jam tangan yang masih tersegel pada lenganku. Sudah hampir jam sebelas malam dan ia meminta untuk makan di luar. Ini sungguh kebiasaan yang kurang baik. Yap! Kebiasaan itu yang dulunya diturunkan papah padanya.
“Kamu punya duit? Aku gak mau bayarin.” Aku membuat alasan agar dia tidak jadi memintaku untuk menemaninya keluar rumah kali ini. Tapi ternyata trikku tidak berguna, ia sudah lebih dulu mendatangiku dengan membawa dompet serta ponselnya. Lalu memaksaku untuk menemaninya yang mana akhirnya menuruti permintaannya.
Bersambung ...
__ADS_1