
Tika POV.
Setelah membantu Alex memilihkan beberapa barang untuk dijadikan sebagai kado ulang tahun keponakkannya, dia segera membayarkan semua di meja kasir. Kemudian kami menunggu sebentar agar karyawan toko tersebut dapat membungkuskan barang itu dengan menggunakan kertas kado.
"Lu laper gak?" tanya Alex sambil melirik jam tangannya, "udah sore ini." Kemudian ia melirikku yang berdiri di sampingnya. Aku menggelengkan kepalaku dan mengatakan padanya jika aku masih merasa kenyang akibat makanan tadi siang.
Namun seolah tak mau menyerah, Alex kembali menawarkan padaku untuk sekedar menikmati secangkir kopi sambil melewati senja dikala itu. Akhirnya aku menerima tawaran itu, sebab aku merasa masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya aku ajukan padanya.
Kini semua belanjaan terbungkus dengan rapi di dalam sebuah kotak besar dan sudah terbalut dengan lapisan kertas mengkilap dengan gambar lucu yang mengelilinginya. Alex mengangkatnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Ia meletakkannya di bagian kursi belakang, lalu bergegas masuk menyusulku yang sudah duduk di kursi depan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alex segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke salah satu kedai kopi yang tadi sempat ia katakan padaku.
"Jadi rencananya lu bakal kuliah keluar kota?" tanya Alex memecah keheningan di antara kami berdua, saat segelas kopi pesanan milik kami masing-masing telah tersaji.
Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu. Lalu menyeruput ice caramel latte di depanku dengan perlahan. Sebenarnya Alex adalah lelaki yang baik. Aku sudah cukup lama mengenalnya, sejak sekolah dasar dan hanya terpisah saat sekolah menengah atas. Dan kali ini kami kembali bertemu.
"Boleh gua nanya sesuatu?" Aku meminta izin padanya untuk mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi terlintas dalam otakku. Yang mana ia menjawabnya hanya dengan sekali dehaman.
Disaat aku hendak melontarkan pertanyaanku, tiba-tiba Alex mengangkat tangannya, memberi tanda seolah menyuruhku untuk menahan pertanyaanku dulu. Ia menelan minuman yang sudah berada dalam mulutnya, lalu berkata, "Boleh nanya, asal jangan pertanyaan yang sama atau sejenis kayak tadi."
Aku melongo, "Kenapa?"
"Apa masih perlu gua jawab?" Alex balik bertanya. Aku menimbang lagi jawabanku sebelum membalas pertanyaannya. Disaat aku kembali menatapnya, ternyata ia sudah terlebih dulu mematapku dengan lekat. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya lalu kulemparkan pandangan mataku ke arah lain. Untuk menutupi irama jantungku yang terasa semakin berpacu.
Alex menghela napas kemudian mengembuskannya dengan kasar, terlihat seperti ia sedang mencoba untuk melepaskan rasa sesak dalam dadanya. Aku dapat mendengar dengan jelas desahan napas itu. "Gua cuman mau tahu aja, kenapa elu masih mau bantuin gua tadi. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, gua udah jahat banget nolak lu tanpa kasih alasan yang jelas." Aku mencoba meluapkan rasa ketidaknyamananku pada lelaki di hadapanku saat ini.
"Sayangnya itu pikiran lu aja." Alex menjawab cuek tanpa menoleh lagi menatapku. Ia sibuk dengan secangkir kopi v60 miliknya dan juga layar ponselnya.
Aku menatap langit di luar sana, piringan matahari yang secara perlahan bergerak menghilang dari cakrawala. Di mana terangnya langit akan berubah menjadi semakin gelap. Sebagai tanda bahwa semua kisah yang terjadi hari ini akan segera berakhir dan berubah menjadi sebuah kenangan. Begitu pun dengan hariku yang akan segera berlalu, tapi tidak untuk kisahku.
Aku dan Alex masih di tempat ini, duduk berdua tetapi tidak untuk saling bercengkrama. Kami terhanyut akan benda tipis yang masing-masing kami genggam sedari tadi. Hingga akhirnya aku melihat Alex melepaskan benda tipis itu dari tangannya. Meletakkannya di atas meja lalu menopang dagunya pada salah satu telapak tangan yang sengaja juga ia letakkan di atas meja, sebagai penyangga.
Kali ini aku dapat merasakaan jika dia sedang memandangiku. Kami memang duduk saling berhadapan, akan tetapi posisiku sedang menghadap ke arah lain dengan punggungku yang bersandar pada dinding. Aku menoleh dan mendapatinya yang sedang tersenyum melihatku.
"Kenapa?" tanyaku pelan. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Aku merubah posisi duduk menjadi benar-benar menghadap padanya. Lalu memangku kedua tanganku ke atas meja, menatapnya dengan lekat.
"Jadi kenapa?" lirihku. Aku terus saja memandanginya.
"Apanya?" sahutnya santai kemudian tersenyum. Senyumannya memang terlihat manis. Kini aku yang menggelengkan kepala untuk membalas perlakuannya.
Tiba-tiba aku teringat pada Lisa yang kutelantarkan bersama dengan Max saat di mall. Aku meminta izin pada Alex untuk menelponnya. Hanya untuk memastikan, apa mereka masih di sana atau langsung kembali pulang setelah aku meninggalkan mereka.
__ADS_1
***
Sebuah cahaya kembali menyilaukan mataku, sesaat setelah mobil Alex keluar dari pagar rumah. Langkah kakiku terhenti sebelum mendorong pintu depan. Cahaya itu berasal dari sebuah mobil yang kukenali sebagai mobil Max. Ya, itu memang mobil Max yang perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan garasi.
"Baru pulang?" tegur Max yang kini berjalan mendekatiku.
"Iya," sahutku yang kemudian menegok ke belakang Max, mencari sosok sahabatku. "Mana Lisa?"
Max menjawabnya dengan gelengan kepala lalu menyingkirkan tanganku dari kenop pintu, agar ia dapat mendorong pintu tersebut dan berlalu dari hadapanku. Aku sedikit merasa aneh dengan jawabannya itu.
"Aku kan minta dia buat nginep di sini," ucapku lagi sambil berusaha mengejar langkah kaki Max yang lumayan cepat.
"Coba aja tanya dia lagi. Hapenya udah di charger kok. Aku capek mau tidur!" Max melambaikan tangannya sambil terus berjalan dan menghilang di balik pintu kamarnya yang berada di lantai bawah.
Aku mendengus kesal, merasa tidak puas dengan jawabannya itu. Lalu segera menaiki tangga untuk menuju ke kamarku yang berada di lantai atas. Sambil menaiki tangga aku mencoba menghubungi Lisa.
"Hallo, lu katanya mau ngambil baju doang, kok gak ikut balik ke sini sama Max?" protesku langsung setelah Lisa menjawab teleponku.
Terdengar suara embusan napasnya yang begitu berat dari seberang sana. Membuatku sedikit khawatir dengan kondisinya. Kemudian Lisa mengatakan permohonan maafnya karena dia tidak bisa menemaniku malam ini untuk menginap di sini. Sebab ia tiba-tiba ingin menyendiri. Aku menghargai keputusannya itu. Tapi apa mungkin itu berhubungan dengan Max?
(bossy)
Lisa POV.
Selepas kepulangan Max, aku segera mengunci pintu depan lalu berlari masuk ke dalam kamarku, menuju kamar mandi lalu memutar keran shower. Aku berdiri di bawah pancuran air, lengkap dengan pakaian yang tadi aku kenakan, tanpa menanggalkannya. Membasahi diri kemudian merosot jatuh ke lantai.
Aku malu ...
Rasanya bodoh sekali mengatakan semua itu kepadanya. Mestinya aku tahan saja. Aku sudah ceroboh untuk menciumnya. Lalu malah aku tambah lagi dengan semua perkataan dan pelukan tadi!! Sial!
Rasanya aku sudah tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengannya. Lalu bagaimana aku akan melewati hariku selanjutnya?
Cukup lama aku terduduk di bawah pancuran air, menyesali perbuatanku tadi. Aku memang sudah lama mengagumi kakak lelaki dari sahabatku itu. Tapi entah mengapa, tiba-tiba saja tadi aku bersikap seperti itu. Seperti wanita murahan yang mencoba menggodanya. Seharusnya aku sadar, aku bukan lah siapa-siapa. Aku tidak sederajat dengan mereka dan Max hanya menganggapku sebagai teman adiknya, tidak lebih!
Cukup lama aku termenung bersamaan dengan tetesan air mata yang menjadi satu dengan air yang membasahi tubuhku. Kemudian aku teringat akan impianku hidup bersama beasiswaku yang harus aku jalani. Aku menarik napas dengan rakus kemudian mengembuskannya dengan kasar.
"Untuk apa aku malu? Anggap saja kejadian tadi tidak pernah ada. Lagi pula minggu depan aku juga sudah tidak ada di sini lagi," gumamku seraya berdiri dan menyelesaikan kegiatan mandiku.
Setelah itu, aku mengeringkan tubuhku dab segera menggunakan piyamaku, lalu menaiki ranjang. Aku sudah siap menarik selimutku dan mematikan lampu tidurku. Baru saja aku mencoba memejamkan mata, tiba-tiba saja ponselku berdering.
__ADS_1
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
Aku membalikkan tubuhku lalu meraih benda tipis yang berbunyi itu dari atas nakas. Lalu melihat nama Tika yang tertera pada layar. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo?" sapaku. Baru saja aku mengatakan sepatah kata, tapi Tika malah langsung cerewet menanyakan mengapa aku tidak menginap di rumahnya malam ini, padahal sebelumnya aku sudah menjanjikan untuk menginap di sana.
"Em, gua capek, Tik. Mungkin besok kali ya, gua nginep di sana. Sorry ya?" Aku mengungkapkan penyesalanku karena tidak bisa menepati janjiku sebelumnya. Selain itu aku juga memiliki alasan lain yang tidak aku sebutkan. Ya, cukup aku saja yang mengetahui alasan itu.
***
Mentari pagi bersinar dengan begitu indah. Cahayanya masuk melalui celah tirai jendela yang tidak tertutup rapat. Menghangatkan wajahku dengan mata yang masih tertutup oleh mimpi. Sebuah bunga tidur yang akhir-akhir ini selalu muncul pada tidurku. Membuat aku serasa enggan untuk membuka mata dan tak rela untuk sedetik saja kehilangan bayangan dirinya dalam mimpi yang sangat ... sangat terasa indah!
Ya, beberapa hari terakhir ini aku menjadi lebih sering memimpikan sosok Max. Sosoknya yang begitu tenang tanpa riak. Membuat diriku terasa damai dan tentram hanya dengan melihat wajahnya. Walaupun hanya sedekar di dalam mimpi, aku merasa puas.
Perasaanku benar-benar kacau pagi ini. Lelap tidurku tadi malam tidak mampu mengikis gundah dalam hati ini. Sudah berjam-jam lebih aku uring-uringan di atas kasur tanpa melakukan apapun. Pikiranku melayang ke sana kemari tak tentu arah. Tidak biasanya aku seperti ini.
Teeettt teeettt ...
Suara bel di depan pintu rumahku berbunyi. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur menuju pintu depan untuk melihat siapa yang mengunjungiku sepagi ini. Aku sempat melirik jam dinding yang berada di ruangan tengah, masih pukul 9 pagi.
Ceklek ceklek ...
Aku memutar anak kunci dan langsung membuka pintu, ternyata Tika yang berdiri di ambang pintu sambil menatapku dengan lekat.
"Gua kira siapa pagi-pagi begini ...." Aku langsung berbalik arah lalu berjalan menuju ke sofa, dia mengikuti di belakangku. Kuhempaskan bokongku pada sofa itu lalu meraih remote televisi dan menyalakannya.
"Lu kenapa? Abang gua apa-apain lu ya?" selidiknya.
Sontak aku menatapnya terkejut, tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Aku menegakkan dudukku lalu menyangkal kalimat Tika itu. "Bukan. Gua cuman kangen orangtua gua aja kok, gak lebih." Arah pandanganku kembali pada layar televisi yang kunyalakan sedari tadi, tapi pikiranku melayang, menerka-nerka mengapa sahabatku satu-satunya ini bisa sampai mengatakan hal itu. Apa Max sudah cerita sama dia tentang sikapku padanya tadi malam? Atau ia memang hanya menebak saja?
Aku menghela napasku, lalu aku meliriknya, ternyata ia masih saja memerhatikanku. Setelah itu, kami larut dalam keheningan.
__ADS_1
Bersambung ...