
Jefri POV.
Aku menunggu Tika didapur sambil memainkan game di ponselku. 10 menit berlalu, aku berdiri mengambil gelas lalu membuka kulkas, ada beberapa botol jus dengan berbagai macam rasa. Ku ambil botol jus rasa orange, ku tuangkan digelasku hingga hampir penuh. Kemudian ku kembalikan dan ku tutup pintu kulkas dengan sempurna.
Ku minum seteguk jus itu, enak, aku menyukai rasanya. Lalu aku berjalan menuju ke pinggiran kolam renang di halaman belakang rumahnya. Duduk di kursi jemurnya dan meletakkan gelas jus ku di mejanya. Ku rogoh saku ku untuk mengambil kotak rokokku. Menyulutnya lalu menghisapnya. Tak berapa lama ponselku berdering.
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'.....
🎶
Paula calling.
Dengan malas ku geser tombol hijau dilayar ponselku.
"Iya kenapa?" sahutku di awal.
"Kok jawabnya gitu sih Pi?"
"Sorry, kenapa nelpon?"
"Jemputin Mimi dong," suaranya manja.
"Loh cepet banget udah balik? Biasa seminggu kalo lagi beli barang."
"Belinya gak banyak, soalnya kan berangkat sendiri. Biasakan Papi ikut bantuin belanja. Bisa kan jemputin setengah jam lagi? Masih nunggu bagasi juga ini.."
"Aduh kayaknya ga bisa deh, sudah janji sama Mama mau makan dirumah bareng yang lain." jelasku.
"Yaah. Ya udah deh Mimi pake taksi aja. Oh iya trus kapan Mimi dikenalin sama Mama Papa?" pintanya tiba-tiba yang membuatku kaget.
"Emm kapan ya, ntar deh ya, nyari timing nya dulu." alasanku, "Ya udah ya, lagi nyetir ini. Ntar kena tilang."
"Ya udah deh, bye Papi, muach."
Langsung kumatikan sambungan telponnya cepat. Aku menggelengkan kepalaku, parah parah, mau sampe kapan aku begini? Batinku.
Aku mulai merebahkan diriku, lalu kembali bermain game di ponselku. Sesekali ku lihat jam tanganku. 20 menit berlalu. 25 menit. Sampai akhirnya ku dengar suara Tika yang mencariku.
"Jeff.. Jefri.. Jeeff.."
"Iya iya, aku disini." sahutku sambil duduk.
Kulihat wajah Tika agak cemberut ketika matanya menangkap bayanganku. Dia berjalan mendatangiku.
"Kamu disini ga bilang-bilang, rebahan lagi, mana keliatan dari sana."
Ku tarik tangannya, "Ga usah bawel. Yang pentingkan aku gak ngilang."
__ADS_1
Tika terlihat mematung dengan ekspresi wajah yang berubah seketika.
"Loh kamu kenapa?" ujarku lagi.
"Enggak, ga papa kok, yuk berangkat. Ntar Mama kamu nungguin lama."
"Yuk." aku berdiri dan ku lingkarkan lenganku ke bahunya. Dia tidak protes. Kami berjalan bersama menuju mobil.
Sesampainya di rumahku..
"Hallo Tika, apa kabar?" sapa Mama ku yang sudah menunggu didepan pintu.
"Baik Tante." Tika membalas pelukkan Mama ku, "Tante apa kabar? Sehat?"
"Sehat dong, kamu udah lama ga main ke sini. Sering dimarahin Dul ya?" ceplos Mama sambit mencubit pinggangku. Untung aku berhasil menghindar.
"Enggak kok Tante."
"Ayok masuk, kita langsung ke belakang aja ya, Om udah nungguin dibelakang."
Tika hanya tersenyum sambil mengangguk. Aku mengikuti langkah Tika dan Mama dari belakang. Sampai di meja makan, ternyata Papa ku sudah duduk disana menunggu kami.
"Udah laper banget Pa?" sapaku.
"Lumayan."
"Maaf ya Om lama, Jef eh Dul, dia mendadak ngasih tau Tika, jadi tadi dikantor sempet leyeh-leyeh dulu ngobrol sama temen."
"Udah ga papa kok, lagian ini mendadak juga, Mama nya Dul tuh yang tiba-tiba aja nelponin nyuruh begini." jelas Papa yang kemudian aku ikut mengangguk, membenarkan pendapatnya.
"Kok jadi nyalahin Mama sih, udah ayok kita makan. Tika duduk disini yaa.."
Kami memulai ritual makan kami. Tika dengan sigap mengambilkan lauk untuk Papa ku, dia juga terkadang melayaniku mengambilkan berbagai macam sajian yang dimasak Mama. Kami berempat saling mengobrol. Kadang Papa menanyakan pekerjaan Tika, tak jarang Mama juga ikut mendominasi menanyakan seputaran tentang latar belakang keluarga Tika. Dan yang ku perhatikan, Tika pun dengan luwes menjawab pertanyaan mereka. Tidak seperti sikap Mama Papa ku ke adik iparku.
Melihat pemandangan ini membuat otakku semakin yakin, aku memang harus memiliki Tika. Bukan sebagai pacar melainkan sebagai pendamping hidupku.
Setelah makan malam selesai, Tika membantu Mama untuk membereskan meja makan, sedangkan Mama mencuci piring. Papa keluar dari rumah, pergi ke rumah adikku u tuk melihat cucunya. Sedangkan aku duduk di meja bar sambil mendengarkan Mama dan Tika yang terus asik mengobrol dengan kesibukan masing-masing.
Aku akui, Tika memang pandai membawa dirinya. Dengan mudah dia bisa mengakrabkan diri dengan Mama. Bahkan dia bisa memberikan lelucon nya pada Papa hingga membuat Papa tertawa lepas. Susah mendapatkan moment seperti itu. Tapi dengan membawanya ke rumah ini, semua terlihat mudah ditangannya.
"Oh iya Tante, kata Dul tadi sore, Tante bikin cake, mana Tante?" tagihnya sambil melirikku saat mengatakan itu.
"Oh iya, bener, Tante bikin sendiri, kamu cobain yaa, tadikan kamu cuman makan sayur, pasti masih laper." ujar Mama melap tangannya lalu membuka kulkas.
"Wahhh. Gede banget Tante." ujarnya terpana melihat cake buatan Mama.
Mama menaruhnya di depanku lalu mengambil pisau serta piring dan sendok. Memotongnya hingga berbentuk segitiga 30° dan membuatnya ke dalam piring lalu menyodorkan nya pada Tika yang duduk disebelahku.
"Cobain, Tante mau denger pendapat kamu?"
"Aku cobain ya Tante," sahut Tika dengan wajah gembiranya lalu memasukkan isi sendok ke dalam mulutnya.
"Emmh, ya ampun enak banget ini. Manis nya pas, trus tetep ada rasa asinnya, ngeblend banget sama rasa cakenya. Enak Tante, enak banget." jelasnya sambil terus menikmati cake dipiringnya.
Ku lihat Mama tersenyum, lalu mengambil piring yang agak besar, memotong seperempatnya.
"Mama ke sebelah dulu, mau kasihin ke cucu. Kalian Tante tinggal dulu sebentar ya." ujar Mama belepotan, mungkin saking bahagianya mendengar pendapat tika. Aku hanya mengangguk.
"Kamu pinter banget ya ngambil hati Mama." ucapku sambil mencoel hidung Tika.
__ADS_1
"Em? Aku beneran kok, ini enak banget. Lebih pas rasanya dibandingin cake yang dulu awal-awal aku kesini."
"Oh ya?"
"Iya, sumpah! Cobain deh.."
"Kan kamu tau aku ga suka strawberry palsu." tolakku.
"Tapi ini ga manis banget, ada asinnya, beneran deh, ga palsu-palsu banget ini rasanya." paksanya.
"Enggak!"
"Tetep ga mau nyoba kalo dari lidah aku?"
Aku kaget mendengar tawarannya. Beberapa detik aku terdiam lalu Tika langsung menyodorkan lidahnya yang penuh dengan strawberry cake di atasnya.
"Emmhhh.." desah Tika saat aku melumat lidahnya kilas untuk mencoba kue itu.
Ku kunyah perlahan, ya benar ujarnya, kue ini komposisinya pas, tidak membuat mulutku memuntahkannya. Dia memandangiku mengunyah hingga aku telan nikmatnya kue itu.
"Enak kan?"
"Iya lumayan." jawabku.
"Mama pasti seneng banget kalo kamu mau makan kue bikinannya. Setau aku, bikin kue ini ribet banget. Mesti sabar, kalo ga sabar, kue nya ga bakalan bisa selembut ini. Trus frosting nya juga ga bakalan bisa nempel sama selainya."
"Emang kamu bisa bikin ini?" tanyaku penasaran mendengar penjelasannya.
Tika tersenyum menoleh padaku, "Aku belum sesabar Mama kamu buat bikin ini. Dan asal kamu tau, setelah kue ini jadi, itu masih harus nunggu. Ga bisa langsung dimakan, mesti dimasukin kulkas dulu sekitar 3 sampe 4 jam. Biar frosting sama selainya ga nyatu waktu di potong."
Aku tersenyum lagi mendengar penjelasannya, "Trus kamu bisanya bikin kue apa?"
"Aku cuman bisa bikin kue kampung, kayak roti goreng, roti pisang, lempeng kelapa, ya pokoknya yang gitu-gitu deh."
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku seraya tersenyum memandangnya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Tika memintaku untuk mengantarkannya pulang. Kami berjalan menyusul Mama dan Papa yang sedang ada di rumah adikku. Kami berpamitan. Lalu aku segera mengantarkannya pulang.
Ditengah perjalanan, Tika memintaku untuk mampir salah satu mini market.
"Kamu tunggu disini aja. Ga usah ikut turun." larangnya.
"Oke oke."
Tak lama Tika kembali dengan tas belanjaannya yang terlihat tidak terlalu banyak isinya.
"Beli apaan sih?" tanyaku sambil mecoel tas belanjanya yang dengan cepat ditariknya kembali.
"Ada deh, kepo banget sih." sahutnya.
Lalu aku menaikkan bahuku kilas kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Sesampainya di depan pagar rumahnya.
"Kamu ga usah masuk ya, aku mau langsung istirahat." ucap Tika yang langsung aku iya kan.
"Met istirahat ya, Good Night!" lalu ku tarik kepalanya ku kecup keningnya sebentar.
Tanpa penolakkan dan tanpa balasan, setelah perlakuanku, dengan cepat Tika keluar dari mobilku. Lalu pergi memasuki rumahnya. Setelah bayangannya hilang dari mataku, baru aku kembali lagi menuju rumahku.
__ADS_1