
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
Aku memasuki Royal Ascot dengan Dave yang terus merangkul pinggangku. Dia juga sudah membeli tiket, yang mana tiket itu juga berfungsi untuk menjelaskan di mana posisi kami duduk, lalu segera membawaku ke sana. Aku merasa bagaikan sepasangan kekasih dari sebuah kerajaan saat memasuki tribun ini. Karena di sini, para tamu terlihat anggun dan juga mewah. Terlihat berkelas.
“Kamu tunggu di sini sebentar, aku beliin minum,” bisik Dave.
“Jangan lama-lama.” Aku menoleh dan melihat sebuah senyuman pada wajahnya.
Sepeninggalnya Dave, kedua mata ini perlahan memandangi ke sekeliling. Lagi-lagi semua orang terlihat rapi, mewah dan juga berkelas. Lalu aku melemparkan pandangan mata ini lurus ke depan, melihat lapangan pacuan kuda di sana, lengkap dengan beberapa kuda yang telah bersiap dengan seorang joki yang menungganginya. Duduk di atas pelana. Terlihat begitu terik tetapi juga ramai. Tak lama setelah itu pertandingan kembali dimulai.
Sebuah gelas kertas tiba-tiba muncul di depanku dari sebuah tangan yang ternyata itu adalah Dave. Dia membelikan minuman dingin yang juga dimiliki oleh orang lainnya di sekitaranku. Kemudian kami menonton acara itu hingga selesai.
Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti dengan pertandingan pacuan kuda ini. Mataku bukan sibuk memerhatikan para kuda di arena yang berlari kencang bersama dengan jokinya. Tetapi aku sibuk memerhatikan wanita di sekelilingku.
Cara mereka berpakaian, cara duduk anggunnya, cara tertawanya yang sopan, bahkan sampai cara mereka meminum minumannya. Sebab semua itu tidak pernah aku dapatkan dan sekali lagi aku katakan dalam hati, aku bukanlah wanita kaya ataupun berasal dari keluarga yang berada. Hingga aku harus mengetahui cara bersikap anggun itu. Jadi paling tidak, aku bisa memperlajari cara bersikap seperti wanita di sekelilingku saat ini.
“Aku lupa bilang sama kamu, kalau aku punya undangan makan malam dari pelanggan setia dari hasil karyaku.” Dave tiba-tiba berbisik di telingaku, membuyarkan kefokusanku.
Aku menoleh padanya. “Kapan?”
“Kapanpun kamu menginginkannya.”
Aku berpikir sejenak. Lalu kembali mengatakan padanya, “Gimana kalau malam ini aja?”
Dave terkejut lalu menggelengkan kepalanya. “Malam ini kita makan berdua aja. Gimana kalau besok?” tanyanya lagi. Aku langsung menganggukkan kepala.
Beberapa pertandingan terlewati hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore. Aku langsung merengek pada Dave untuk segera membawaku pulang, sebab sudah terlalu lama dan aku mulai merasakan bosan dan juga gerah berada di tempat ini. Dave menuruti.
Di sepanjang perjalanan, Dave terus saja menerima telepon dari beberapa orang. Salah satunya asisten di kantornya itu, untuk mengurus beberapa kendala tentang exhibition yang dia tinggalkan. Dan aku baru saja tahu jika sebenarnya pekerjaannya itu belum selesai.
“Oke, nanti kabari aku lagi. Dan untuk design pesanan hotel Blue Moon tolong kirimkan ke email-ku saja.” Dave memerintah Leo.
“Baik, Pak. Lalu untuk ibu Tasha, tadi beliau ber—”
“Kita bicara lagi nanti, aku sedang menyetir.” Dave memotong pembicaraan lalu memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
Lalu aku menoleh padanya. “Ternyata seorang pimpinan juga bisa bersikap tidak sopan ya?” ejekku menatapnya dengan tajam.
“Bukannya begitu ... Leo itu kalau sudah urusan menyampaikan pesan atau apa pun itu, suka panjang dan berbelit. Padahal sebagian laporan itu masih bisa dia sampaikan melalui email.” Dave berdalih.
“Tapi sejak tadi kamu selalu menerima telepon dan keadaannya kamu sedang menyetir. Lalu tiba-tiba semua itu kamu jadikan alasan.”
Dave berdecih dan tersenyum menatapku sekilas. “Apa kamu cemburu karena dari tadi merasa diabaikan?”
“Jangan terlalu percaya diri,” kilahku lalu membuang arah pandanganku keluar jendela.
Kemudian tak lama setelah itu, Dave membelokkan kemudi setirnya, memasuki sebuah mini market. Dia mengatakan jika ingin membeli sesuatu di sana dan aku hanya mengikutinya. Sebelum turun dari mobil, aku melepaskan fascinator yang ada di atas kepalaku dan juga sebuah belt yang melilit di pinggangku, agar tidak terlalu memalukan jika aku memasuki tempat perbelanjaan dengan dandanan seperti ini.
Begitu pula dengan Dave yang melepaskan tuksedo-nya beserta sebuah dasi yang melingkari leher kemeja itu. Kemudian dia juga membuka kancing lengannya dan melipat bagian lengan kemejanya hingga mencapai siku. Setelah itu barulah kami turun dari mobil dan memasuki mini market tersebut.
Belum lama kami berputar di dalam tempat ini, tetapi beberapa pasang mata sudah memerhatikan secara diam-diam bahkan ada pula yang secara terang-terangan memandangi kami hingga memutarkan lehernya.
“Apa aku kelihatan aneh?” lirihku saat Dave sedang memilih beberapa jenis sayuran.
Dia menoleh memerhatikan aku lalu berkata, “Enggak ada yang aneh. Memang kenapa?”
“Beberapa orang yang ada di sini sedang melotot memerhatikan kita. Kamu enggak ngerasa aneh dari tadi dipandangin terus?”
Dave memandangi ke sekeliling kami, lalu kembali menatapku. “Mungkin mereka kagum.”
__ADS_1
“Kagum?”
“Iya ... kamu sangat cantik jika dibandingkan dengan mereka sendiri.” Dengan cuek Dave mengatakan itu yang kemudian aku hadiahi dengan sebuah cubitan di pinggangnya. Dia mengaduh kesakitan.
“Aduh! Sakit, Sayang!!” Matanya melotot menoleh padaku.
“Kamu bercanda terus ih!”
“Siapa yang bercanda?! Orang aku serius.”
Aku hanya mengerucutkan bibirku yang memandangi punggungnya. Sedangkan Dave kembali melakukan aktivitasnya memilih sayuran.
**
Sehari lagi aku lalui bersama Dave kali ini dan dia sungguh membuatku melupakan rasa kesal di hati ini. Dan berkali-kali pula aku mencoba meyakinkan hati ini, saat bayangan Max kembali hadir, bahwa aku harus melupakannya. Benar-benar harus membunuh bayangan diri lelaki itu. Lelaki yang diam-diam selalu mengiris perih di hatiku.
Apalagi di saat ponselku tiba-tiba berbunyi, yang mana ternyata adalah sebuah panggilan telepon dari Tika. Mungkin dia ingin mengatakan jika dirinya sudah sampai dengan selamat di Jakarta.
Namun, aku merasa malas untuk menerima panggilan telepon itu, jadilah aku berinisiatif untuk menyalakan mode silent pada ponsel ini lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Kenapa gak diterima teleponnya?” tanya Dave saat melihatku memasukkan ponsel itu ke dalam tas dan meletakkannya kembali di atas kursi di dalam kamarnya.
Ya, saat ini kami sudah berada di apartemennya. Dia memang sengaja membawaku ke sini, katanya dia ingin memasak sendiri untuk menu makan malam kami.
“Aku gak kenal nomernya. Jadi gak perlu diterima.” Lalu aku melangkah mendekatinya yang masih menggunakan apron.
Melingkarkan kedua tangan pada lehernya dan menarik tubuhnya agar aku bisa mengecup bibirnya. “Kamu cemburu ya?” godaku.
“Tentu aja aku cemburu. Apalagi kalau yang menelpon itu seorang lelaki yang enggak aku kenal.”
Seketika gelak tawaku meledak begitu saja. Dave selalu jujur dengan perasaannya dan terkesan blak-blakan. Tanpa malu mengatakan padaku, tidak seperti lelaki lain yang memiliki gengsi tinggi. Apalagi jika memiliki segalanya, pasti akan berusaha keras untuk berbohong menutupi perasaan yang dirasakan, tapi lelaki satu ini tidak. Dave memang berbeda.
“Kamu lucu!” godaku.
“Jangan mengalihkan pembicaraan,” tegurnya.
——————————
Tika POV.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja, tidak ada yang aku katakan pada Max. Begitu pula saat laju mobilnya melewati jalan menuju ke arah bandara, aku hanya menoleh padanya sekilas, lalu kembali terdiam.
Max tidak membawaku pulang melainkan pergi ke suatu tempat yang aku tidak tahu itu ke mana. Dan aku hanya berusaha diam, menunggu sampai kami berhenti di mana tujuannya.
Tak lama setelah itu, Max membelokkan kemudi setirnya masuk ke depan sebuah garasi rumah. Entah rumah siapa. “Ayo turun. Dan jangan bilang sama Lisa kalau kita gak pulang. Urusanku masih banyak.”
Aku terperangah akan ucapa Max itu lalu segera turun mengejar langkah kakinya yang begitu cepat. “Kenapa Lisa gak boleh tahu? Kamu bilang kalau ke sini aku boleh ketemu Lisa, sekarang kok gini?”
Tingtong!
Jemarinl Max menekan sebuah tombol bel yang ada di depan pintu dari rumah itu. “Kamu masih mau di sini, 'kan?”
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Aku memang masih ingin tetap di sini, setidaknya beberapa hari lagi. Ingin menikmati negara ini dan masih ingin berjalan-jalan mengelilingi kota ini.
Pintu di depan kami terbuka dan sosok Haikal muncul dari balik pintu itu. Aku tersontak lalu berseru, “Haikal?” Lalu melompat memeluknya dengan gembira.
Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Terakhir saat papah meninggal dan selebihnya hanya melihatnya melalui video call langsung di ponselku. “Apa kabar kalian?” tanyanya sambil membelai kepalaku.
Aku merenggangkan pelukanku padanya. “Baik dong! Kamu gak kangen apa sama adek sendiri?”
“Kangenlah!” Haikal kembali memelukku, “tas kalian mana? Ayo bawa masuk, Max.” Kemudian Haikal membawaku masuk ke dalam rumahnya. Lebih tepatnya rumah sewaan.
Haikal tinggal sendiri di rumah ini. Rumah yang lumayan nyaman dan juga rapi. Semua tertata dengan sangat strategis dan juga bersih. Aku sempat menggeserkan jariku di atas sebuah lemari bukunya. Tidak ada debu sama sekali. Haikal sangat bersih.
__ADS_1
“Lisa tinggal daerah mana sih? Kali aja ntar aku bisa sesekali jengukin dia,” tanya Haikal saat aku duduk di ruang televisinya.
“Tanya Max aja, aku gak tahu nama jalan di sini. Max yang hafal.”
Kemudian Max membawakan koperku dan tasnya turun. Meletakkannya di sampingku. Haikal bergegas menarik tangan dan koper itu, menunjukkan di kamar mana aku harus beristirahat. Sedangkan dia akan sekamar dengan Max, karena di rumah ini memang hanya ada dua kamar tidur.
“Kamu di sini, biar aku sama Max. Gimana enak 'kan?” tanya Haikal, sedangkan aku asyik memerhatikan isi kamar ini. Begitu nyaman dan juga wangi.
Aku menganggukkan kepala begitu duduk di tepi tempat tidur berukuran sedang itu. Kemudian Haikal mengajak aku dan juga Max untuk pergi keluar untuk sarapan. Max menyetujuinya.
**
Selama seharian penuh, Max dan juga Haikal mengajak aku berkeliling kota ini. Mencicipi berbagai macam makanan. Bahkan Haikal membawaku ke beberapa tempat wisata yang begitu bagus dan terkenal.
Hingga aku juga melakukan video call dengan mamah, memperlihatkan jika aku bersama dengan kedua saudaraku dan sedang bersenang-senang di sini. Aku juga mengatakan betapa bahagianya aku, karena mamah sudah mengizinkanku untuk ikut dengan Max ke negara ini.
Hingga waktu cepat berlalu dan petang menjelang.
“Kenapa aku gak boleh kabarin Lisa sih, kalau kita masih di sini? 'Kan dia bisa nyusul.” Aku kembali membuka suara saat kami bertiga makan malam di sebuah restoran.
Mataku menatap Max dengan lekat. Begitu pula dengan Haikal yang juga ikut menatap Max. “Aku gak mau ngerepotin dia. Dan kamu mana tahu jadwal kuliahnya. Nanti dia bolos kuliah hanya buat nemenin kamu jalan.”
“Oh iya, bener apa kata Max. Kamu jangan ngerepotin Lisa. Lagian juga ada aku, ngapain ngerepotin dia. Kasian juga kalau dia gak lulus kuliah ntar. Biaya di sini mahal, kasian Reza bayarin dia.” Haikal ikut menasihatiku.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi dan menundukkan kepalaku. Namun, apa yang dikatakan oleh Max dan Haikal ada benarnya jadi aku menurut saja dengan mereka berdua.
“Kalau mau hubungin dia, boleh aja, bilang kalau kamu sudah sampai. Tapi jangan bilang kalau masih di sini, masih di London. Jadi dia pikir kamu sudah sampai rumah,” ucap Max dengan cuek lalu menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya. Lalu dia kembali mengobrol dengan Haikal. Sedangkan aku mencoba menghubungi Lisa tetapi tidak ada jawaban.
——————————
Dave POV.
Selesai memasak dan makan malam bersama dengan Lisa. Aku mengajaknya bersantai menonton sebuah film. Yang mana filmnya dia sendiri yang memilihnya. Dia menyukai genre film romantis seperti wanita lain pada umumnya.
Karena bosan menonton film genre itu, mataku perlahan mengantuk dan sampai pada akhirnya aku terlelap sambil memeluknya di atas sofa lebar dalam ruangan televisi.
Rasanya baru sebentar aku terlelap tidur, belum bertemu dengan alam mimpi, tiba-tiba saja aku merasakan ada sebuah lidah yang masuk ke dalam rongga mulutku sambil mencecap bibirku satu per satu secara bergantian.
Tidak ada reaksi spontan yang aku berikan, hanya kedua kelopak mata yang perlahan aku buka dan mendapati melihat wajah Lisa yang begitu dekat. Ya, dia yang sedang mengecupku dengan kedua matanya yang tertutup rapat. Seolah menikmati permainannya sendiri. Aku juga tidak membalas kecupan itu, aku hanya membiarkan dia melakukannya sendiri sambil menikmati semuanya.
Hingga akhirnya, dia tersadar jika aku terbangun lalu melepaskan kecupan itu dan memukul dadaku. “Aw! Sakit ...,” seruku.
“Kenapa diem aja kali udah bangun?”
Aku terkekeh. “Ya habis enak ... gimana dong?!” aku eratkan pelukanku pada pinggangnya. Melarangnya melepaskan tubuhnya dariku lalu saling memandang satu sama lain.
“Kamu malam ini tidur di sini aja ya? Temenin aku.” Sambil membenarkan anakan rambut yang jatuh menutupi sebagian wajahnya lalu aku selipkan ke belakang telinganya.
"Boleh, tapi puasin aku.” Lalu Lisa kembali mengecupi bibirku kemudian menggeserkan ciumannya ke arah telingaku, membuat bulu romaku berdiri sempurna. Dengan jemarinya yang membelai lembut bagian leherku, menghidupkan sebuah gejolak membara dalam diriku.
Hingga akhirnya, tidak ada lagi kata-kata yang terucap berganti dengan suara-suara leguhan tipis yang berbicara, terdengar seksi sampai pada telingaku. Dan semua benda mati yang ada di sekitaran kami, seakan menjadi saksi bisu atas keliarannya dan juga hasratku padanya malam ini.
Lalu suara film yang sedang terputar seperti di belakang, seakan menjadi sebuah nada dasar dalam semua gerakan yang kami lakukan. Menyamarkan suara decakkan bahkan suara kenikmatan yang kami hasilkan berdua. Seirama bersatu dengan segala rasa yang coba saling kami sampaikan. Hingga malam yang terasa dingin itu, berubah menjadi sebuah kehangatan yang menyelimuti.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Babay 💋
__ADS_1
Terima kasih.
@bossytika