Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 4


__ADS_3

Tika POV.


Aku sengaja menanyakan tentang wanita tadi yang asyik mengobrol dengan Max, agar Lisa dapat mendengar jawaban dari Max secara langsung. Agar moodnya kembali ceria lagi, tidak seperti tadi. Tapi jujur saja, hal ini membuatku benar-benar penasaran, mengapa Lisa bisa menyukai Max? Apa yang istimewa dari diri Max?


Diam-diam aku memerhatikan mereka berdua dari posisiku duduk secara bergantian. Lalu secara tiba-tiba sebuah ide kembali terlintas, ide jahil untuk Lisa. Aku segera mengetikkan sesuatu pada sebuah pesan singkat, yang aku tujukan pada seseorang. Ya, seorang lelaki yang sedang mendekatiku dan sudah kutolak cintanya.


Sebenarnya aku sengaja menghubunginya, sekalian ingin tahu saja, apakah lelaki ini tetap mau berteman denganku setelah aku menolaknya? Entahlah, kita lihat saja nanti. Jika lelaki ini membalas chatku, artinya dia masih mau dekat dengan wanita yang sudah menolaknya.


Aku bukan menolaknya tanpa alasan, hanya saja aku takut, jika harus menerimanya kemudian terlanjur jatuh hati. Sedangkan aku sudah bertekat untuk segera keluar dari kota ini dan kuliah di Malang. Masa iya harus long distance relationship? No! Aku tidak mau itu.


Sudah kukirimkan beberapa pesan untuk lelaki itu sebagai pembuka, awal perbincangan dalam chat. Kemudian kutekan tombol kunci layar pada ponselku dan mulai menjalankan rencanaku.


"Max! Kita ke mall dulu yuks. Aku mau beli jepit rambut," rengekku sambil menggoyang-goyangkan bahunya. Ia terkejut dengan seranganku itu lalu berdecak kesal. Aku tahu, Max tidak mungkin akan marah ataupun membentakku jika ada orang lain yang sedang bersama kami.


Max hanya menjawab ajakanku dengan menganggukkan kepalanya. Lalu segera memutar balikkan arah tujuan mobilnya menuju ke pusat kota. Dan aku kembali duduk dengan santai sambil melayangkan pandanganku untuk melihat-lihat sisi jalanan.


Setibanya mobil Max berbelok, memasuki wilayah parkir dari sebuah mall besar dan memarkirkannya ke halaman indoor. Kemudian kami memasuki mal bersama-sama, tentunya aku menggandeng tangan Lisa. Lalu Max yang mengikuti langkah kami di belakang, seperti bodyguard.


Kami melangkah hingga memasuki sebuah store yang isinya menjual semua pernak-pernik tentang wanita. Tapi tiba-tiba saja Max mengatakan bahwa dia akan menunggu di luar store, sebab dia malu jika harus masuk dan menemani kami berputar-putar di dalam sana.


"Trus duitnya?" ucapku manja sambil menegadahkan tangan ke depan wajahnya. Max memutarkan kedua bola matanya. "Kan aku gak bawa dompet," timpalku.


Bukannya memberikan beberapa lembar uang, Max malah memberikan dompetnya padaku dan menyuruhku untuk tidak membeli hal yang tidak penting. Dengan senang aku meraih benda berlapis leather yang berlipat dua itu. Lalu masuk ke dalam store sambil menarik lengan Lisa.


Aku langsung menuju ke tempat jepitan rambut dan memilih-milih di sana sedangkan Lisa entah berjalan ke arah mana di dalam store ini. Setelah mendapatkan apa yang aku inginkan dan tanpa melirik ke tempat lain, aku segera berjalan ke arah kasir lalu mengantri di sana.


Namun tiba-tiba saja ponselku berbunyi, sebuah notifikasi dari pesan singkat. Aku segera melirik layar ponsel yang sedari tadi memang aku pegang. Ternyata sebuah balasan singkat dari lelaki yang tadi memang aku kirimi pesan. Dia menanyakan di mana keberadaanku sekarang. Dengan cepat jempolku menekan beberapa tombol pada layar benda tipis rata itu lalu menekan tanda send di sana.


Tidak berapa lama kemudian, ponselku kembali berbunyi.


🎶


So I'm gonna love you like I'm gonna lose you


And I'm gonna hold you like I'm saying goodbye


Wherever we're standing


I won't take you for granted


'Cause we'll never know when, when we'll run out of time


🎶

__ADS_1


Tapi kali ini bukanlah tanda notifikasi melainkan sebuah panggilan telepon. Kulihat nama lelaki itu muncul di layar ponselku bersamaan dengan foto profile wajahnya. Aku terkejut, kemudian segera ku geser tanda hijau pada layar untuk menerima panggilan telepon itu. Dan menempelkan benda itu pada telingaku.


"Hallo?" sahutku dengan santai tapi sedikit ragu. Aku tidak menyangka ia akan menelpon sebab sebelumnya aku sudah membalas pesannya dengan sangat jelas.


Sekali lagi, lelaki itu menanyakan keberadaanku yang kujawab dengan jujur, bahwa aku sedang berada di mall dan ia menyanggupi permintaanku dengan satu alasan. Dan aku juga menyanggupu permintaannya. Aku mengucapkan terima kasih.


"Ya udah kalo gitu, bye!" Aku memutuskan sambungan telepon kami dengan menggeser tombol merah pada layar. Lalu sesaat kemudian Lisa datang menghampiriku dengan beberapa benda yang jua ia beli.


"Siapa?" Lisa menanyakan siapa yang barusan saja menelponku itu sambil mengarahkan tatapannya pada ponsel yang kugenggam. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala dan tersenyum tipis. Kemudian kami melanjutkan proses antrian hingga pada akhirnya sampailah giliran kami.


"Jadiin satu aja, Mbak!" ucapku pada wanita yang duduk di balik meja kasir itu dengam sebuah mesin di depannya. Kemudian melotot pada Lisa yang hendak memprotes perkataanku hingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk membantah keinginanku.


Aku mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet Max lalu memberikannya pada wanita di hadapanku sebagai alat pembayaran barang yang kami beli. Setelah itu Lisa langsung menerima kertas bungkusan belanjaan kami saat aku sedang sibuk memasukkan uang kembaliannya ke dalam dompet Max lagi. Lalu kami melangkah bersama keluar dari store.


Mataku mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari sosok kakakku itu sampai tiba-tiba Lisa menepuk tanganku, aku menoleh padanya dan mendapatinya yang sedang memandang ke satu arah sambil memoncongkan mulutnya sebagai alat untuk menunjuk. Aku mengikuti arah yang ia maksudkan dan melihat sosok Max yang sedang berada dalam store yang berisi dengan alat olahraga.


"Nih, aku haus. Ngopi ya?" pintaku lagi saat kami sudah menemui Max sambil mengembalikan dompetnya. Max meraihnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya di bagian belakang. Ia menerima permintaanku untuk membeli minuman tapi setelah selesai menemaninya melihat-lihat di toko itu.


***


Kami sengaja memilih sebuah meja di pojokan café dan di smoking area, agar Max bisa dengan bebas dan kapan saja menyalakan rokoknya. Untuk beberapa saat kami berbincang. Max menanyakan apa saja yang kami beli di store pernak-pernik itu. Tapi di saat Lisa hendak menunjukkannya, tiba-tiba saja ponselku kembali berdering, membuatku terkejut.


Aku meminta izin pada mereka berdua untuk menerima panggilan telepon itu lalu berdiri, sedikit menjauh dari tempat mereka duduk. "Iya? Gua di Setarbak. Lu gak usah parkir, langsung aja. Ntar begitu udah di depan klakson aja, gua samperin." Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, aku segera memutuskan sambungan telepon itu lalu berbalik.


Bruk!


"Siapa barusan?!" tanyanya. Pertanyaan inilah yang membuat jantungku tiba-tiba saja berdegub dengan kencang. Sebab inilah rencanaku sebenarnya. Meninggalkan Max berdua dengan Lisa saat minuman mereka masih penuh. Jadi mereka memiliki waktu berdua. Sekaligus membiarkan agar Lisa bisa lebih leluasa jika ingin mengobrol dengan Max.


Bukannya aku setuju jika Lisa menyukai Max dan bukan pula aku tidak setuju. Aku hanya ingin memberikan jalan pertama saja kepada mereka berdua. Sebab pada akhirnya salah satu di antara mereka pasti akan menceritakan kejadian nanti saat aku meninggalkan mereka berdua. Dan lagi setahuku, mereka berdua sedang sama-sama kosong.


"Aku baru inget kalo ada janji sama temen aku. Dia udah di bawah, aku nitip Lisa ya? Gak apa-apa 'kan?" rengekku dengan menggenggam erat lengan Max dan ia hanya mengangkat kedua bahunya.


Dengan memelas aku meminta izin padanya yang mana akhirnya ia mengizinkan tapi setelah aku meminta izin pada Lisa untuk meninggalkannya. Aku segera berlari menghampiri Lisa. Lalu memberitahukan padanya jika aku melupakan sebuah janji dengan seseorang, padahal itu hanya akal-akalanku saja.


"Sorry ya?" rengekku sambil memberikan raut wajah memelasku, agar ia mengizinkanku untuk pergi.


"Trus gua sama siapa di sini? Itu minuman juga masih banyak, liat deh," sahutnya setengah panik.


Titt ...


Titt ...


Suara klakson dari sebuah mobil yang aku kenali sudah berada di depan sana, tak jauh dari tempat kami duduk. Aku segera berdiri lalu melambaikan tanganku. "Tenang, elu gak sendirian kok! Itu Max lagi beli bagel. Trus itu jepitan gua nitip ya! Bye!" Aku segera menempelkan pipi kanan dan kiriku pada kedua sisi pipinya lalu melambaikan tangan pada Max yang ada di dalam sana sedang mengantri membeli camilan.

__ADS_1


Aku berlari menuju ke mobil yang tadi membunyikan klaksonnya untukku. Ya, aku mengenali mobil itu lalu segera membuka pintunya dan duduk di kursi depan bagian penumpang. Dan tersenyum pada lelaki di balik setir kemudi itu. Lalu lelaki itu langsung kembali menginjakkan kakinya pada pedal gas agar segera melajukan mobilnya keluar dari gedung mall dan kembali ke jalan raya.


Di sepanjang perjalanan tak banyak yang kami berdua lakukan. Hanya sama-sama terhanyut dengan arah pandangan masing-masing, sambil mendengarkan alunan musik dari dvd audio yang mengalun dengan pelan. Hingga sebuah pertanyaan terlintas dalam benakku, untuk aku tanyakan pada lelaki di sampingku ini.


Aku menoleh menatapnya dan seketika ia pun membalas tatapan mataku beberapa detik sebelum pandangannya kembali ke arah jalanan yang ada di depannya. "Kenapa?" tanyanya dengan suaranya yang tergolong serak.


Beberapa detik aku mencoba menyusun kata-kata, bagaimana caranya agar pertanyaan yang akan aku tanyakan ini tidak menyinggung perasaannya. Tapi sepertinya dia bukanlah lelaki yang mudah tersinggung. Hanya saja aku mencoba mengantisipasi semua hal yang akan terjadi.


'Bukankah tidak lucu jika tiba-tiba saja mobilnya berhenti di pinggiran jalan, lalu ia memintaku untuk keluar dari mobilnya. Hanya karena sebuah pertanyaan konyol yang akan aku tanyakan padanya? Apalagi saat ini aku tidak membawa apa-apa," pikirku dan beberapa detik kemudian aku mengingat sesuatu yang lebih penting lagi dari sekedar pertanyaan konyolku.


"Astaga!!!" seruku dengan telapak tangan kiri yang kutepukkan pada keningku. Mungkin seruanku ini membuat lelaki di sampingku ini terpekik kaget. Dan benar saja saat aku menoleh ke arahnya, aku mendapati raut wajahnya yang kebingungan.


"Kenapa lagi?" sahutnya sambil sesekali menoleh padaku hingga ia menghentikan mobilnya pada saat lampu lalu lintas persimpangan jalan sesang berwarna merah. Lalu ia menatapiku, menunggu aku menjawab pertanyaannya dengan gerakkan kedua alisnya yang naik dan turun secara cepat.


"Gua gak bawa dompet trus tadi lupa minta duit sama kakak gua!" lirihku pelan, benar-benar pelan.


Bukannya bertanya balik, lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak. Entah menertawakan kepikunanku atau menertawakan kebodohanku. Yang jelas saat ini aku benar-benar merasa sangat sial. Apa ini ganjarannya sudah mengerjai kakak dan sahabat sendiri?


Sia*lan!


Lelaki yang kini sedang kembali memacu kecepatan mobilnya di sampingku ini, terus saja tertawa tidak ada hentinya. Lelaki yang aku maksudkan ini adalah Alex. Ya, dia adalah lelaki yang tadi siang aku ceritakan pada Lisa. Lelaki yang sudah mengatakan isi hatinya padaku, beberapa hari yang lalu. Dan langsung aku tolak dengan mentah-mentah tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.


"Ketawa aja terus! Haha Lucu!" ucapku kesal dengan menirukan sebuah tawa terputus. Perlahan Alex mencoba menghentikan gelak tawanya, walaupun masih diikuti dengan suaranya yang terkekeh.


Aku memasang wajah cemberutku lalu menatapnya dengan mata yang sengaja aku sipit-sipitkan. Hingga akhirnya Alex benar-benar berhenti dari tawanya. "Lagian kenapa tiba-tiba mikirin dompet sih?" tanyanya sambil sesekali menoleh melihatku.


Aku berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya itu. Dengan kepalaku yang menoleh ke arahnya dan bola mataku yang sesekali menatapnya dan sesekali menatap ke arah lain.


"Kan perjanjiannya udah jelas, gua jemputin elu di mall trus lu temenin gua ke toko mainan anak-anak. Bantuin gua milih kado buat anak kakak gua. Iya kan?" Alex sekali lagi menjelaskan isi perjanjian yang kami buat dengan secepat kilat di telepon tadi. "Trus elu perlu duit buat apa? Kan pulangnya juga gua yang anterin sampai rumah. Sampai depan pintu kamar lu kalo perlu!" ucapnya lagi.


"Iya juga ya?!" Aku baru menyadari semua kebodohanku yang terlihat sangat natural di depannya, sekaligus membuatku malu.


Dan lagi-lagi secara spontan, pertanyaan konyol sebelumnya yang ingin aku katakan padanya kembali terlintas. Aku menghela napasku, memantapkan hati untuk mengutarakan pertanyaan itu, lalu melipat kaki kananku ke atas tempat duduk dan menyampingkan posisi duduk dengan bahuku yang menyandar pada sandaran tempat duduk. Aku menatapnya dan bersiap melontarkan pertanyaan itu, setelah sebelumnya berkali-kali pula aku menghela napasku.


"Kenapa lu masih mau deket sama gua? 'Kan udah jelas-jelas gua nolak lu." Aku mengatakannya dengan sekali tarikan napas lalu berakhir dengan embusan napasku dengan perlahan. Alex menoleh menatapku sekilas.


Untuk beberapa saat ia terdiam, lalu memutarkan setirnya. Membuat kepalaku kembali menoleh untuk melihat ke arah luar yang ternyata kami sudah sampai pada tempat tujuan kami. Sebuah toko mainan anak-anak.


Alex memarkirkan mobilnya, mematikan mesin. Lalu mengajakku untuk segera keluar dari mobil. Dia melangkah lebih dulu di depanku memasuki pintu toko itu. Sedangkan aku hanya mencoba berjalan mengikutinya di belakang dengan berbagai pemikiran yang muncul di kepalaku. Pasalnya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaanku tadi. Dan aku pun tidak mencoba untuk menanyakannya lagi.


Aku sadar, pertanyaanku memang sedikit konyol atau bahkan terdengar sangat konyol di telinganya. Mana ada lelaki yang mau diakui jika dirinya sudah ditolak oleh seorang wanita. Dan bodohnya lagi, jawaban dari pertanyaan yang aku lontarkan tadi baru saja muncul di otakku.


Jelas saja dia masih mau dekat denganku, sebab dengan caraku menghubunginya tadi, itu adalah sebuah tanda atau bisa disebut dengan sebuah jalan lain untuk merebut hatiku. Benar 'kan? Apa aku salah?

__ADS_1


Entahlah, mungkin aku hanya terlalu percaya diri. Perlahan aku menggelengkan kepalaku untuk membuang jauh-jauh pemikiranku tadi. Sambil berjalan mengikuti arah langkah kaki Alex.


Bersambung ...


__ADS_2