Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 9


__ADS_3

Lisa POV.


Akhirnya aku menerima tawaran Tika untuk pergi jalan-jalan hari ini. Karena Tika mengatakan akan mengajakku pergi ke pantai, kami belum pernah melakukan perjalanan yang seperti itu. Semacam piknik dan rekreasi. Sebelum pergi, aku katakan pada hatiku sendiri untuk bersikap biasa saja pada apapun yang terjadi nanti. Agar aku tidak masuk ke lubang cinta yang terlalu dalam pada Max.


Seharusnya aku tahu diri, tindakan Max beberapa hari yang lalu adalah sebuah penolakan secara halus untukku. Dan dia tidak ingin menyakiti hatiku atau bertindak kasar padaku. Tapi apakah Max tetap akan mau bertemu denganku jika tanpa ada Tika yang mengajaknya? Entahlah.


Aku terlalu banyak memikirkan hal ini, sampai aku lupa dengan kondisi perutku yang kini berbunyi. Baru saja aku memasuki mobil, cacing di dalam perutku sudah melakukan konser amal terbaiknya. Hingga aku harus menanggung malu saat ini.


"Kita makan dulu ya, Tik? Udah laper." Max mengucapkannya sesaat setelah Tika memasuki mobil dan duduk di kursi belakangku. Seperti biasanya.


"Oh, oke!" jawab Tika singkat. Aku hanya melirik melihat Max yang juga ternyata sedang melihat padaku.


Oh astaga!!


Kenapa jadi begini.


Aku berusaha untuk tetap diam dan kembali mengarahkan pandangan mataku untuk lurus ke depan. Lalu dia pun menginjak pedal gas hingga melaju melewati jalan raya yang ramai. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Mengendalikan sikap dan tingkah laku ini agar aku tidak berharap apapun padanya dan aku tidak salah mengartikan setiap perhatian yang ia berikan padaku.


'Come on, Lisa. Dia hanya menganggapmu sebagai adiknya. Wake up!' jeritku dalam hati.


Kualihkan fokus pikiranku untuk memandangi pohon di pinggiran jalan. Sambil mengagumi keindahan langit yang begitu cerah. Langit yang biru berpadu dengan awan yang menggumpal putih, seakan sebuah kapas yang bertebaran di hamparan angkasa. Sungguh indah.


Tak butuh waktu lama untuk Max memacu kecepatan mobilnya agar sampai pada sebuah rumah makan. Ia memnelokkan setir mobilnya dan memarkirkan mobil dengan sempurna. Kami turun dari mobil lalu bersama-sama memasuki rumah makan, memilih tempat duduk dan memesan menu masakan yang beragam. Tentu saja karena Tika yang memesannya.


"Baik, ada lagi yang ingin dipesan?" tanya sang pelayan. Tika mengangkat tangan dan menunjukkan telapak tangannya seakan menolak. Sang pelayan mengerti lalu meminta kami untuk menunggu.


Sarapan kali ini terasa seperti hari sebelumnya, biasa saja tanpa ada kata. Hanya detak jantungku saja yang masih menggebu.


***


Hari ini kami lewati dengan penuh kegembiraan dan canda tawa, akan tetapi aku tetap merasakan sepi. Berkali-kali aku mencoba menepis rasa kagumku pada Max dan berkali-kali pula aku mencoba mendustai hati ini. Dan ya, aku memang mencintainya.


Mungkin bagi sebagian wanita di luar sana, hal inilah yang paling menyesakan dada. Sebab hanya bisa melihat orang yang dicintai tanpa bisa untuk mencintai. Dan di sinilah posisiku saat ini.


"Mau tidur di rumah atau ...," tawar Max saat kami sudah dalam perjalanan pulang.


Aku menoleh padanya. "Aku pulang ke rumahku aja." Kemudian kembali menatap lurus ke depan, memerhatikan jalanan yang kami lewati saat ini, sebab saat perjalanan menuju ke pantai, aku hanya tidur karena kekenyangan. Begitulah ujar orang kebanyakkan, jika sudah kekenyangan, maka mata sudah tidak bisa lagi di kompromi.

__ADS_1


Langit kali ini begitu indah, sama seperti senja-senja sebelumnya yang sempat aku lewati. Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri, meratapi hidup. Diam-diam aku mencuri pandang, menatapi Max dari samping sambil mencoba untuk merekam wajahnya dalam ingatanku. Sebab hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan pergi.


Tiba-tiba saja Max menoleh saat aku sedang menatapnya. Aku salah tingkah dibuatnya. Kembali aku membuang muka, menatap jalanan di depan tanpa menghiraukannya lagi. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumahku.


"Makasih," ucapku menoleh pada Max lalu menengok ke belakang, ternyata Tika sudah terlelap sejak tadi. Max hanya mengangguk lalu aku segera turun dari mobilnya dan membiarkannya pergi menjauh. Menghilang di persimpangan jalan bersama dengan mobilnya.


Dengan langkah yang terhuyung-huyung aku berjalan menuju pintu depan rumah dan membuka pintu. Kemudian kembali menutupnya dan segera menuju kamar. Kuhempaskan tubuhku pada tengah ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar yang bersih berwarna putih, pikiranku kembali mengawang. Memikirkan bagaimana nantinya kehidupanku selanjutnya di London. Apa aku sanggup untuk hidup di sana dalam kesendirian?


Aku mencoba memejamkan mataku sejenak hingga akhirnya aku terlelap tidur tanpa aku sadari.


—————


Max POV.


Sesampainya di rumah, aku membangunkan Tika dan ia turun dari mobil langsung menuju ke kamar tidurnya. Sedangkan aku? Langkahku terhenti tepat di depan pintu kamarku. Teringat dengan Lisa yang belum makan malam. 'Apa di rumahnya ada makanan?' batinku.


Aku menoleh melihat Tika yang sudah menghilang di puncak tangga. Sambil kembali menimbang-nimbang lagi pemikiranku sendiri yang akhirnya, membuatku melangkahkan kakiku kembali menuju mobil dan melesat pergi, meninggalkan ranjang empuk yang rasanya sudah menantikan tubuhku di kamar.


Dalam perjalanan aku terpikir untuk singgah pada sebuah mini market dan membeli beberapa bahan makanan, mungkin bisa di simpan dalam kulkas, sebagai persediaan untuknya, hingga beberapa hari ke depan. Siapa tahu Lisa adalah tipe wanita yang sama dengan Tika. Yang bisa kelaparan di tengah malam.


Sesampainya di sana aku langsung memarkirkan mobil di halaman depan garasinya. Tapi setelah mesin mobil kumatikan, aku menjadi ragu untuk turun dan mengetuk pintu rumahnya. Apa aku harus menelponnya lagi seperti tadi pagi? Aku berpikir sejenak sambil mengetukkan kuku jariku pada setir mobil yang masih dalam genggamanku. Hingga pada akhirnya aku membulatkan tekatku untuk turun dari mobil dan mengambil bungkusan belajaan yang sebelumnya sudah aku beli tadi di kursi belakang.


Aku sempat mengembuskan napasku sebelum menggerakkan kaki untuk melangkah, menuju pintu depan rumahnya. Kulihat cahaya lampu dari dalam rumah sebagian telah padam. Apa mungkin Lisa sudah terlelap?


Langkah kakiku terus saja menapaki rerumputan tipis yang menghantarku hingga sampai ke depan pintu. Untung saja aku melihat sebuah lonceng di pinggir kusen pintu lalu menjentikkannya dengan jariku yang sebagian masih memegang belanjaan. Entah sejak kapan lonceng itu ada di sana, yang jelas tadi pagi aku tidak melihat benda itu.


Telingaku menangkap sebuah suara langkah kaki dari dalam sana, bukan, bukan suara langkah kaki, melainkan suara pintu yang tertutup. Lumayan keras. Sekali lagi dengan bantuan ujung jari telunjukku, aku membunyikan lonceng itu.


Teeng!


"Iyaa ... sebentar!" Suara teriak Lisa dari dalam, membuat aku mengembuskan napas dengan lega. Karena itu artinya dia belum tertidur. Tak lama aku menunggu, pintu terbuka dan muncullah sosok wanita yang membuatku terpesona. Ya kali ini aku terpesona dengan rambutnya yang tergerai bebas, hitam legam membuat wajahnya semakin terlihat dewasa. Hanya saja dia masih mengenakan pakaian yang sama.


"Max?!" serunya yang terkejut melihat aku yang berdiri di ambang pintu. Membuatku wajib memberikannya seutas senyuman manis dari kedua sudut bibirku.


"Kamu pasti belum makan. Tadi aku lupa, mestinya kita mampir dulu buat makan malam." Aku mengangkat kantong belanjaan yang ada di kedua tanganku, bertujuan untuk memperlihatkan kepadanya. "Boleh aku masuk?"


Lisa mengangguk dengan cepat kemudian mundur beberapa langkah untuk mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya. Aku langsung berjalan menuju ke dapur untuk meletakkan semua yang kubawa ini. Dia mengikuti langkahku setelah ku lihat ia menutup rapat pintu depan. Tidak menunggu lama, aku langsung membuka kulkasnya yang kosong dan mulai menyusun beberapa bahan makanan di sana.

__ADS_1


"Kenapa malah duduk di sana?" Aku bingung melihat Lisa yang sudah terduduk rapi di kursi meja makannya. Sambil memandangiku menyusun barang belanjaanku tadi ke dalam lemari pendingin.


"Loh, kalo mau minta bantuin, bilang dong!" Seraya berdiri dari kursinya, berjalan mendekatiku. Akan tetapi dengan sigap aku langsung memukul tangannya, sebelum jemarinya berhasil menyentuh seikat besar sayur pakcoy. Dia mengaduh kesakitan.


"Aw!!!" serunya yang spontan membuatku tertawa cekikikan. "Kenapa lagi? Salah lagi?"


"Ganti baju sana. Kita makan keluar." Aku mengatakannya sambil terus melanjutkan memasukkan sayur-mayur ke bagian chiller bawah yang di desain khusus untuk menyimpan segala jenis sayur. Agar tetap segar dan sehat untuk di simpan.


Aku tidak begitu memerhatikan lagi bagaimaana raut wajah Lisa, sebab aku sibuk menyusun sayuran yang kubeli dan ternyata terlalu banyak, hingga tidak cukup untuk aku masukkan semuanya ke dalam sana. Berkali-kali aku membongkar dan menyusunnya lagi, hasilnya masih sama. Selalu ada beberapa sayuran yang tidak bisa masuk.


"Ngapain makan keluar, kalo kamu belanjain ini kulkas aku?" Aku terdiam sejenak mendengar kalimat yang Lisa lontarkan barusan dan semua itu ada benarnya. Spontan aku berdiri lalu berbalik menatapnya. Ia sedang asik melihat beberapa bungkus camilan yang keluar dari tas belanja.


"Kalo gitu, kita makan capcay malam ini," usulku gembira, lalu membuka kancing lengan kemejaku dan menggulungnya ke atas. Ya, aku sejak pagi memang menggunakan kemeja, sebab aku sempat mampir dulu ke kantor mamah saat itu. Untuk mengurus beberapa berkas yang membutuhkan tanda tanganku. Saat ini perusahaan mamah yang memegang kendali, sementara aku belajar dan mempersiapkan diri untuk menerima jabatan itu.


"Memang kamu bisa masak?" Lisa bertanya dengan nada yang meremehkanku. Aku mengulum senyumku lalu berjalan mendekatinya. Kutarik dagunya lalu aku menurunkan tubuhku menatapi wajahnya yang sedikit terkejut membalas tatapanku. Dengan salah satu sudut bibirku yang terangkat sebelah, aku mengatakan padanya dengan percaya diri jika aku bisa memasak apapun yang dia kehendaki saat ini.


Namun dengan secepat kilat Lisa menarik kembali dagunya lalu memundurkan selangkah kakinya ke belakang. "Udah jangan banyak bacot, kalo mau masak ya udah, sana masak!" protesnya dengan wajahnya yang lucu menggemaskan. Aku terkekeh geli kemudian menarik lengannya untuk mengikuti langkahku menuju dapur. Aku memintanya menunjukkan di mana letak bumbu dapur dan juga beberapa alat yang aku perlukan untuk memasak. Setelah itu aku mengucapkan terima kasih kemudian menendangnya keluar dari wilayah dapur, membiarkanku menguasai tempat ini untuk sementara waktu. Aku memulai keahlianku.


"Max!" serunya yang tiba-tiba muncul di belakangku, membuatku menoleh dan mendapatinya yang sedang memegang sesesuatu, seperti selembar kain. Lalu dengan sigap ia mengalungkan sebuah tali yang menyambung pada kain itu dan pada saat itulah aku baru menyadari jika kain itu adalah sebuah celemek. Ya, sebuah kain yang digunakan sebagian orang untuk melapisi bagian depan tubuhnya, agar tidak kotor saat sedang memasak. Sebab saat memasak tidak jarang ada cipratan minyak yang akan meloncat keluar dari penggorengan.


Lisa juga membantuku untuk mengikat bagian belakang tali dari celemek itu. Bukan dengan menyuruhku berbalik arah agar ia bisa lebih mudah untuk mengikatnya, melainkan dengan cara yang lebih sulit. Yaitu dengan tetap membiarkan tubuh kami saling berhadapan, ia melingkarkan tangannya seperti hendak memelukku. Karena masing-masing dari tanganku sedang memegang wajan dan spatula, jadilah aku mengangkat tanganku setinggi-tingginya, agar ia dapat menengok tangannya yang sedang menyimpul tali itu di sana.


Deg!!


Tahu-tahu jantungku langsung berdetak kian cepat, karena jarak tubuhku yang terlalu dekat dengannya. Bahkan aku dapat melihat wajah Lisa yang hampir menempel di dadaku. Posisi ini benar-benar mengikis jarak di antara kami. Membuat mataku bisa lebih jelas lagi melihat wajahnya dari dekat. Dan ini sudah yang kedua kalinya.


Tiba-tiba kejadian beberapa hari yang lalu kembali melintas, membayangi pikiranku. Dan jika aku bandingkan wajahnya, saat ini terlihat lebih anggun dan tulus. Lebih manis bahkan saat pandangan mataku turun ke sudut bibirnya yang kemerahan. Membuat aku harus menelan saliva dengan susah payah. Hingga akhirnya ia berhasil memasangkan celemek itu pada tubuhku dengan sempurna.


Aku mengembangkan senyumku padanya yang membuat pandangan mata kami saling beradu. Dari sorot matanya aku merasakan keteduhan kali ini. Ketenangan yang seolah akan mendamaikan hati. Membuat jantungku terus saja berdetak tidak karuan. Bahkan saat ia juga membalas senyumanku dengan ukiran yang sama di wajahnya, semua yang kulihat ada pada wajahnya mampu membuat bulu romaku bergidik. Bukan ngeri atau sebuah ketakutan, melainkan sebuah rasa yang tidak dapat aku deskripsikan saat ini.


Sikapnya saat ini seolah menghipnotisku, ada keinginan lain yang mendorongku untuk melakukan sesuatu dan entah apa itu, aku belum mengerti. Lisa mengerjabkan matanya berkali-kali saat sebelumnya kami saling menatap tanpa berkedip. Kemudian ia memalingkan wajahnya, membuatku seketika sadar dengan kebodohan yang kali ini aku lakukan. Sudah terlalu banyak teman di kampusku yang mengatakan, bahwa mataku ini membawa petaka.


Bukan mala petaka yang sesungguhnya, melainkan membawa masalah yang mampu memikat hati wanita mana pun hanya dengan sebuah tatapan intens. Dan bodohnya lagi, selalu saja aku mencoba hal itu pada beberapa wanita di kampusku. Lalu sekarang, aku melakukannya pada Lisa, walaupun tanpa sengaja, tapi tetap saja terjadi.


Aku menghela napas dengan berat hingga membuatnya menoleh, melirikku sekali lagi, sempat aku perlihatkan senyumanku sekali lagi, sebelum akhirnya aku yang berbalik badan dan kembali pada kegiatan memasakku. Sempat sekilas aku menoleh melihatnya menjauh dari area dapur dan tanpa berbalik lagi, ia juga mengatakan bahwa ia akan pergi ke kamarnya untuk segera mandi, membersihkan tubuhnya setelah seharian berada di bawah sinar matahari.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2