
"Seneng banget bikin kulit aku begitu," lirihku.
"Biar kamu inget, kalo kamu punya aku. Tubuh kamu hati kamu, semuanya milik aku. Ga boleh ada orang lain yang nyentuh," ucapnya lantang.
"Oh okey!" Aku tersenyum lagi mendengar ucapannya itu.
Dengan sigap dia menggendongku, membawaku menuju toilet dekat sana. Aku tetiba tidak mampu berjalan dengan kedua kakiku sendiri. Berasa lemes dan kepala ku keliyengan.
Kami membersihkan tubuh bersama. Sambil sesekali Jefri menggodaku lagi, menyentuh punggungku dengan bibirnya. Aku menggeliat menghindar karena geli. Lalu saat dia bersabun ria, tiba-tiba saja bibirnya nyosor mencium tengkuk leherku. Aku keluar segera dari sana saat selesai lalu mengenakan pakaianku lagi.
"Yuk ngerokok di luar," ajak Jefri saat dia sudah mengenakan kembali pakaiannya.
"Kamu duluan aja, aku ambil rokok dulu ke kamar."
"Mau aku temenin ke kamar gak?" tanyanya dengan wajah innocent lagi.
Aku segera menggeleng lalu berlari menaiki tangga menuju kamarku. Kalau dia menyerangku lagi, bisa-bisa aku auto ga bisa bangun sampe besok, batinku sambil terkekeh sendiri.
--------------------
Seminggu berlalu.
Hubunganku dengan Jefri masih seperti biasanya. Pagi dia menjemput ku, mengantar ku ke kantor, sorenya juga pulang kantor bersamanya. Terkadang saat lunch dia mengirimiku makanan, terkadang lagi dia ikut aku dan Metta makan di kantin kantorku. Seluruh orang di kantorku sudah mengenal dia. Tidak jarang pula dia ku temukan sedang asik mengobrol dengan bos ku saat jam kantor usai.
Begitupun saat malam hari, kadang aku dan Jefri makan malam bersama. Makan di rumah bersama Mamah atau makan di resto, bertiga dengan Mamah. Sampai akhirnya orangtua Jefri datang ke rumah untuk melamarku secara resmi.
Ting.
Ting.
Suara notif ponselku.
Pesan WhatsApp dari Jefri.
Jefri :
Udah pada ngumpul di rumah?
Ini kami udah dijalan.
Me :
Udah, rame banget. Icel muter-muter pake mobilannya.
Jefri :
Rame?
Banyak orang?
Apa rame gegara Icel?
Me :
Tadi siang tante aku dateng sama anak-anaknya.
__ADS_1
Kan memang Mamah yang nyuruh dateng, biar adek Papah juga hadir.
Jadi banyak sepupu juga.
Jefri :
Oh ya udah, ini Jerry sekeluarga juga ikut.
Me :
Oke deh, kamu hati-hati dijalan, udahan ngechatnya.
😘
Ku letakkan kembali ponselku di atas buffet dekat tangga. Aku berjalan menuju dapur.
"Mahh, udah dong, Mamah duduk aja kenapa sih." sewotku.
"Tau nih Mamah, rempong banget. Itu biar Shilla sama Tesa yang narohin makanannya di meja." ujar Max sambil menggendong Elis.
"Hai hai semua! Sorry telat. Hey ponakkan Om yang paling centil. Loh kapan datengnya Tante?" seru Haikal yang baru datang.
"Tadi siang. Kok kamu telat?" sahut Tante Rey, adik Papah.
"Iya Tante, tadi di UGD lagi hectic banget. Tante sendirian aja?" sambil cipika cipiki.
"Enggak, tuh Roby sama Reza ada lagi ngerokok di belakang. Tesa lagi di dapur sama Mamah kamu sama yang lain."
Haikal langsung berjalan menemui kami di dapur, "Hai hai, sorry telat ya. Nih kue buat adek ku tersayang." lalu seketika Haikal mengecup pipiku.
"Ya habis gimana dong, ga ada istirahat buat UGD." kilah Haikal.
"Kamu udah mandi belum? Kucel gitu. Jangan bikin malu Tika ya." ancem Max.
"Udah dong. Ini keringetan gegara ngejar Icel di depan tadi. Menu nya apa aja nih?" ucap Haikal lagi.
"Tenang aja ayam bakar favorite kamu ada. Pokoknya semua makanan favorite tersedia." sambar Mamah.
Suasana ramai. Tante Rey pun akhirnya bergabung dengan kami di dapur sambil membawa Icel. Roby dan Reza juga ikut bergabung di dapur. Ruangan dapur penuh dengan celoteh dan gelak tawa. Sampai ku dengar ponselku berbunyi. Untung telingaku masih jeli mendengar ponselku berdering di tengah gelak tawa yang mereka ciptakan.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine...
🎶
Aku segera berlari mengambil ponselku.
Jefri calling.
__ADS_1
"Iya hallo?"
"Udah di depan, ga di persilahkan masuk nih?"
"Astaga, bentar."
Ku tutup sambungan telepon nya.
"Maaaahhh, Jefri dateng!" teriakku lalu berjalan menuju ke depan rumah.
Max segera menyusulku ke depan.
"Malem semua, ayo masuk." aku mempersilahkan mereka masuk dengan wajah sumringah berbinar bahagia (aduh pokoknya seneng deh!)
Ku salimi tangan Mama dan Papa nya Jefri. Lalu cipika cipiki dengan Jerry dan istrinya Nita serta ku cium gemas pipi Jordy anaknya. Terakhir ku peluk calon suamiku yang berotak sengklek.
"Kamu kok makin hari makin cantik sih?" bisik Jefri saat aku melepas pelukanku.
Ku pukul dadanya pelan, "Wah udah jago gombal!"
Max serta keluargaku menyambut kedatangan keluarga Jefri dengan suka cita. Mereka saling bercerita lalu mulai membicarakan hal-hal yang memang dibahas saat lamaran terjadi. Sampai akhirnya menentukan tanggal pernikahan.
"Iya memang lebih cepat lebih bagus, takutnya nanti tiba-tiba ada lelaki lain lagi yang melamar Tika. Kalau itu sampai terjadi saya ga bisa tanggung jawab Pak." canda Max yang mengundang gelak tawa kembali.
"Ya sudah kita tanya anak-anak nya saja maunya tanggal berapa, Tika?" tanya Mama Jefri.
Aku terkejut disodori pertanyaan seperti itu, ku arahkan pandanganku pada Jefri yang duduk disamping Papanya.
"Tika terserah aja, yang mana baiknya aja."
"Kalo gitu minggu depan aja gimana?" celetuk Jefri dengan wajah seriusnya.
Hening. Kemudian semuanya tertawa pecah. Jefri tersenyum menggoda menatapku sambil mengedipkan sebelah matanya, aku jadi salah tingkah dibuatnya.
"Udah kebelet banget lu Jef?" goda Haikal.
Jefri terkekeh malu, wajahnya merah. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Tawa ku pun lepas.
"Kalo menurut Mamahnya Tika gimana?" tanya Mama Jefri.
"Kalo menurut saya lebih baik diatas 3 bulan lagi. Jadi kita bisa mempersiapkan segalanya dengan matang. Kan anak-anak juga perlu surat pengajuan cuti dari kantornya."
Mama dan Papa nya terlihat meangguk menyetujui saran dari Mamah.
"Nah kalo untuk tanggalnya terserah anak-anak saja. Takutnya mereka punya tanggal khusus. Kita kan ga tau." lanjut Mamah lagi.
"Kalo gitu tanggal 11 Januari aja." celetuk Jefri lagi.
Semua kembali terdiam. Hanya ada suara Jordy dan Icel yang sedang bermain. Semua saling melempar pandangan.
"Oke kalo gitu. Tanggal 11 Januari tahun depan." utus Papa Jefri berseru sambil menabrakkan sendok teh di meja dengan cangkirnya. Menciptakan sebuah dentingan harmonis.
Semua setuju.
Aku menatap Jefri tersipu.
__ADS_1
Lelaki ini memang tegas, batinku.