Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 21


__ADS_3

Dave POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang kurang tiga puluh lima menit. Aku memutuskan untuk menyegarkan wajahku. Mencucinya dengan aliran air yang mengalir dari washtafel. Kemudian aku memandangi pantulan wajahku pada dinding cermin yang terdapat pada kamar mandi pribadi di dalam ruang kerjaku.


Aku merasa bukan seperti diriku yang sebelumnya, aku merasa menjadi Dave yang baru. Jiwa yang baru seakan kembali melakukan reinkarnasi.


Raut wajah ceria yang sudah lama aku tinggalkan saat itu. Lalu berganti dengan senyuman yang selalu menghiasi raut wajahku. Semenjak bertemu dengannya. Lagi-lagi aku merasa ada yang aneh pada diriku sendiri. Hingga akhirnya aku putuskan untuk segera pergi dari kantorku, menuju ke suatu tempat.


Siang ini aku mengajak Lisa untuk istirahat bersama. Padahal sebelumnya aku ragu untuk menghubunginya kembali. Tapi rupanya, gejolak dalam hati ini terlalu kuat. Hingga tanpa sadar tadi pagi aku menelponnya.


Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan menuju ke alamat yang sudah ia kirimkan melalui pesan singkat. Butuh waktu sekitar dua puluh menit agar aku akhirnya sampai di depan sebuah gedung yang Lisa katakan. Sebab tiba-tiba saja ia mengganti titik pertemuan kami.


Setelah aku menyetopkan mobil pada sisi bahu jalan, aku segera mengambil ponselku yang sebelumnya kuletakkan di atas dashboard. Lalu menghubungi Lisa. Tetapi tiba-tiba saja kaca jendela mobilku di ketuk.


Tokk tokk tokk!


Sontak aku menoleh dan mendapati wajah Lisa yang tersenyum di balik kaca jendela mobilku yang hitam. Aku langsung membuka kunci otomatisnya.


Ceklek!


Wanita itu membuka pintunya sendiri, kemudian segera masuk dan duduk di kursi penumpang di sampingku. Sambil tersenyum simpul menatapku.


"Lha! Kamu sudah lama nungguin aku?" tanyaku sesaat setelah sebuah senyuman mengembang dari wajah wanita cantik yang kini duduk di dalam mobilku. Di sampingku.


"Enggak juga. Begitu aku keluar dari depan pintu itu mobil ini udah ada, trus aku denger ponsel aku bunyi di dalam tas. Jadi aku pikir, pasti kamu yang telepon." Dengan lembut Lisa menjelaskannya.


Aku terkekeh mendengar penjelasannya itu lalu bersiap untuk kembali menginjak pedal gas mobil dan melaju pesat meninggalkan deratan gedung yang terususun rapi di daerah Beker Street. Sebuah daerah yang juga terkenal sebagai daerah kediaman dari Detektif Sherlock Holmes. Salah satu wilayah yang tersohor di kota London.


"Kamu ngapain main ke daerah sini? 'Kan ini jauh banget dari apartemen kamu trus juga jauh dari alamat kantor kamu." Aku penasaran dengan apa yang dilakukannya di kawasan Westminster ini.


Sekilas aku menatapnya yang ternyata ia sedang sibuk memandangi deretan bangunan di luar sana. Aku meraih tangannya lalu membuatnya sedikit terpekik dan menoleh padaku. Sekilas aku juga menoleh padanya lalu menggenggam erat jemarinya sebelum akhirnya kembali memandang lurus ke jalanan di depan.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, ngapain kamu di daerah sini? Hm?" Sekali lagi aku mengulang pertanyaanku saat genggaman tanganku kini ia tangkup dengan tangannya yang satu lagi. Lalu di letakkannya di atas pangkuannya.


"Ada yang aku urus."


"Jadi aku gak boleh tahu itu apa?" tanyaku sekali lagi dengan nada yang mendayu.


Lisa terkekeh kemudian dia kembali terdiam. Aku membiarkannya hanyut dalam pemikirannya sendiri. Hingga akhirnya aku membelokkan setir mobilku memasuki basement khusus tempat parkir.


Aku mengajaknya kembali berjalan kaki, melewati satu blok gedung dan sampai pada sebuah restoran mewah di sudut kota London. Dengan erat aku menggenggam tangannya lalu menariknya, mengajaknya masuk.


Selintas tempat itu tampak sederhana dari luar, tapi sangat kontras terjadi jika melihatnya dari dalam. Semua yang di tampilkan begitu mewah, begitu memesona mata, apa pagi dari sudut pandang mata wanita.

__ADS_1


Semua terlihat jelas saat seorang pelayan yang menghampiri kami. Lalu dia membantu Lisa untuk melepaskan coat yang ia kenakan. Sedangkan aku melepaskan coat-ku sendiri. Lalu memberikannya pada pelayan itu.


Kedua bola mata Lisa berbinar memandangi setiap sudut pemandangan yang tersaji di depan matanya. Lalu sekilas tersenyun manis padaku. Aku kemudian meminta pelayan tadi untuk membawa kami ke tempat yang sudah aku pesan sebelumnya. Lalu membimbing kami untuk mengikuti langkah kakinya.


Lisa berjalan di depanku dengan pakaian kerjanya yang begitu memukau. Terlihat pas di tubuhnya dan menonjolkan bagian terseksi dari tubuhnya. Mungkin bagi sebagian mata lelaki bisa mengacuhkannya begitu saja, tapi tidak dengan pengamatanku. Jika pakaian kerjanya saja bisa membuatku sulit untuk menelan saliva-ku sendiri. Apa lagi jika ia menggunakan pakaian lainnya. Seperti mini dress saat pertama kali kami bertemu itu salah satu contohnya.


Pelayan itu langsung mempersilakan kami duduk, saat sebuah meja dengan namanya sudah ada di depan kami, di lantai dua. Ia menoleh padaku lalu terkekeh pelan. Aku menyentuh kedua pinggangnya lalu menyuruhnya untuk duduk di kursi yang sudah aku tarik untuknya.


Siang itu, sudah satu jam penuh aku dan Lisa menghabiskan waktu bersama. Aku lebih banyak mengajukan pertanyaan untuknya, aku ingin mengetahui tentang kehidupannya sebelum berada di kota ini.


Aku ingin mengenalnya lebih dalam. Bukan hanya sekedar untuk pemuas na*su ku, tetapi juga untuk menemaniku di kota ini. Kota yang sudah lama aku anggap hampa.


"Trus kamu gak pernah balik lagi gitu buat nengokin keluarga kamu?" tanyaku padanya sambil menyuapkan sesendok dessert red velvet cake ke mulutnya.


Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku udah kehilangan kedua orangtuaku beberapa tahun yang lalu. Waktu ke sini, awalnya aku tinggal di rumah keluarga ibuku. Baru beberapa minggu aku menempati apartemen itu." Dia bercerita dengan lugas, tanpa ada yang ditutupi.


Semua pertanyaanku yang aku lontarkan, ia jawab dengan begitu santai dan tertata rapi. Mencerminkan dirinya yang berwawasan luas di mataku. Pola pikirnya pun tidak kolot seperti kebanyakkan wanita bodoh di luaran sana yang sudah pernah aku temui. Bahkan caranya memandang dunia sangat berbeda jauh dengan mantan-mantan pacarku yang lainnya. Begitu penuh tekat dan semangat.


Hal-hal kecil seperti itu lah yang membuatku semakin takjub dengan pesona dirinya. Wanita mandiri yang pantang menyerah, penuh keceriaan. Semakin membuatku ingin memilikinya.


Tiba-tiba saja ponselku berbunyi saat ia sedang bercerita tentang impiannya bisa memasuki wilayah kerja di Wall Street, New York.


🎶


My location unknown tryna find a way back home to you again


🎶


Aku mengangkat jari telunjukku sebagai tanda bahwa aku ingin menerima panggilan telepon ini.


"Aku permisi sebentar ya?" pintaku meminta izin darinya. Ia mengangguk pelan lalu aku mengelus dagunya.


Segera aku mengambil langkah cepat untuk menuju ke balkon restoran ini, lalu menerima panggilan telepon itu di sana.


—————


Lisa POV.


Dave pergi menuju balkon restoran ini untuk menerima panggilan telepon dari ponselnya. Aku memerhatikan caranya berjalan, memandangi punggungnya yang berjalan menjauh kemudian terselip di balik pintu kaca yang menghubungan balkon dengan bagian dalam tempat ini.


Ada beberapa meja di sekitaran kami yang juga terisi dengan beberapa pasangan lainnya. Yang mana, mereka juga sedang menikmati menu makan siangnya. Dengan riang dan penuh kehangatan.


Aku tidak bisa meninggalkan sejenak pandangan mataku, yang terus saja mengawasi lelaki yang telah mengajakku ke tempat ini. Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki seperti dia, seperti Dave. Sungguh! Rasanya seperti sebuah keajaiban. Dan dengan caranya memperlakukanku seperti ini membuat aku sedikit demi sedikit mulai bisa melupakan Max. Cinta pertamaku.

__ADS_1


Caranya tersenyum, caranya menatapku, caranya menggenggam tanganku bahkan caranya mengecup bibirku. Semua terasa lembut. Terasa sangat hangat.


Pikiranku kembali melayang, mengingat saat dia menjamah tubuhku untuk kedua kalinya. Ya, kedua kalinya, saat kami berdua sama-sama dalam keadaan sadar. Tanpa pengaruh alkohol seperti sebelumnya.


Aku benar-benar terhanyut dengan semua yang ada pada dirinya. Dan semua itu terjadi begitu cepat. Secepat aku mengerjabkan kedua kelopak mataku.


Tiba-tiba pandangan mata kami saling bertabrakan. Kami saling melemparkan senyuman lalu ia berbalik untuk kembali melanjutkan pembicaraannya pada orang yang menghubunginya itu. Sedangkan aku kembali membuang arah pandangan mataku, menyusuri satu persatu sudut ruangan ini.


Begitu mewah dan berkelas. Nuansa classy yang tersaji begitu kental dan sedap di pandang mata. Apa pagiy dengan menu masakan yang tadi sudah berhasil lolos melewati rongga mulutku dan meluncur bebas di tenggorokanku.


Tak lupa segelas wine di siang hari ini, yang menemani aku menikmati sepotong red velvet pilihan Dave sebagai makanan penutup.


Dave kembali menghampiriku, di saat aku sudah berhasil memghabiskan cake-ku itu. Wajahnya terlihat berlipat dan berkerut. Seperti selembar kertas yang sudah berhasil di acak-acak. Kumal.


"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanyaku dengan hati-hati sambil menyentuh punggung tangannya yang di taruhnya di atas meja.


Pandangan matanya berubah menjadi tajam. Dengan dadanya yang naik saat menatapku dan napas yang sengaja ia embuskan begitu kasar melalui mulutnya, ia meraih segelas wine-nya lalu menegaknya dalam satu kali angkat.


Berhasil menghabiskan setengah gelas wine, tidak serta merta dapat merubah raut wajahnya itu. Yang ada malah semakin terlihat jelas jika ia sedang kesal. Entah dengan siapa dsn karena apa. Aku malas mencari tahu.


"Ayo kita pulang, aku antarkan kamu kembali ke kantor kamu," ucapnya yang segera bergegas berdiri dari duduknya lalu melangkah cepat, meninggalkanku yang jauh di belakangnya.


Setelah keluar dari restoran itu dan kembali memasang coat masing-masing, kami berjalan berdampingan menuju tempat parkir mobil. Tidak seperti saat kami datang, kali ini ia asik dengan pemikirannya sendiri tanpa menghiraukan aku yang ada di sampingnya.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi aku sampai pada pintu mobil, tiba-tiba Dave menarik pundakku lalu merapatkan tubuhnya padaku. Saat punggungku mendarat sempurna pada dinding mobil di kala aku kehilangan keseimbangan akibat tarikkannya pada pundakku.


Beberapa detik mata kami saling beradu hingga akhirnya ia memutuskan untuk melahap bibirku dengan brutal. Menekan bahuku dengan lengannya yang memegangi tengkuk leherku. Lalu mengunci tubuhku dengan menempelkan tubuhnya. Aku dapat merasakan bagian bawah sana yang menyentuh pahaku.


Lalu mendadak ia menggigiti bibirku lalu menggerakkan pahanya yang terselip di antara kedua kakiku. Semakin lama semakin kasar dan cepat. Membuatku merasa sakit. Hingga akhirnya aku mendorongnya dengan tenaga yang aku miliki.


Percuma! Tenaga Dave begitu kuat saat ini. Tapi aku tidak menyerah, ku kepalkan kedua tanganku lalu kupukuli dirinya hingga aku berhasil mendorongnya lalu melayangkan telapak tanganku pada pipinya.


Plaakk!!


Dengan napas terengah aku menampar pipinya yang mulus itu. Telapak tangaku terasa panas, kebas, akibat kejadian itu. Bergegas aku memrapikan rokku yang tersingkap akibat kelakuannya.


Baru saja beberapa menit yang lalu aku mengagumi sikapnya yang lembut. Menyanjungnya karena caranya memperlakukan wanita dengan layak. Tapi tiba-tiba saja dia menjadi seperti ini. Sepertinya aku sudah salah menilai lelaku ini. Atau mungkin aku terlalu cepat memberikan penilaianku.


"Maaf ... Aku—"


"Antar aku ke kantor sekarang," selaku dengan tegas lalu berbalik menghadap pintu mobil menunggunya membukakan kunci pintunya.


Tiit tiit!

__ADS_1


Alarm yang sekaligus kunci pintu mobilnya terbuka. Dengan cepat aku masuk ke dalam mobilnya. Lalu membungkam mulutku selama dalam perjalanan. Begitu pun dengan dirinya, yang mungkin terpaksa diam karena ketidaknyamanannya padaku.


Andai saja ini di negaraku. Mungkin aku akan langsung berlari meninggalkannya ...


__ADS_2