
Selamat membaca ...
——————————
Dave POV.
Selesai membelikannya makanan, aku segera kembali ke rumah sakit. Walaupun aku tahu, dia pasti akan mendapatkan makan malamnya dari sana. Tapi tetap saja aku lakukan.
Namun, begitu membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya aku saat melihat ruangan itu kosong dengan pakaian pasien yang sebelumnya Lisa kenakan, tergeletak di atas brankar.
Aku segera meletakkan bungkusan makanan yang tadi aku beli itu lalu berlari menuju meja jaga perawat dan menanyakan tentang keberadaan Lisa. Salah satu dari mereka mengatakan jika beberapa waktu lalu Lisa meminjam telepon mereka untuk menghubungi seseorang dan setelah itu mereka tidak melihat Lisa melintas meninggalkan ruangannya lagi.
Benar saja mereka tidak melihat, jika Lisa sudah mengganti pakaiannya, mana mungkin mereka akan mengenalinya. Seluruh perawat menjadi panik dan mulai mencari tetapi aku malah merasa jika Lisa pasti kembali ke apartemennya sendiri, bukan berkeliaran di sekitaran sini.
Tanpa menunggu lama, aku langsung berlari keluar gedung menuju ke tempat parkir di mana letak mobilku berada. Lalu memacu kecepatan mobil untuk segera menuju ke apartemen Lisa.
Langit sudah mulai gelap. Angin berembus dengan begitu kencang dan itu terlihat jelas dari daun di pepohonan pinggiran jalan yang menari kuat mengikuti arah mata angin berembus. Dan orang-orang di pinggiran jalan yang melangkahkan kakinya, terlihat sambil menarik kuat bagian depan mantel yang mereka kenakan lalu mendekapnya dengan erat. Cuaca kota London belakangan ini memang tidak stabil. Membuat aku semakin mengkhawatirkannya.
Aku melirik kursi di sebelahku, yang mana di atas kursi itu terdapat tas Lisa. Tas yang aku berikan padanya yang selalu ia kenakan. Di dalamnya pasti terdapat ponsel dan dompetnya. Artinya saat ini Lisa tidak membawa sepeser uang pun di tangannya, membuatku semakin khawatir lagi. Semakin gila aku menginjak pedal gas mobil ini untuk mempercepat laju mobil agar segera sampai di apartemen Lisa.
Sesampainya di apartemen itu, aku langsung berlari menuju lift dan menekan tombolnya beberapa kali, agar pintu lift cepat terbuka. Padahal itu hanya sugestiku saja, mana ada pintu lift yang akan cepat terbuka gara-gara kita menekan tombolnya beberapa kali.
Gedung apartemen Lisa ini, tidak sama dengan gedung apartemenku yang memiliki penjaga ataupun sebuah lobby di lantai dasarnya. Sehingga gedung ini terasa sangat sepi. Sebab bagian lantai dasarnya sudah merupakan beberapa kamar penyewa.
DRUK! DRUK! DRUK!
Aku menggedor pintu apartemen Lisa, setelah lama terjebak dalam lift yang membawaku ke lantai ini. Aku menganggapnya terjebak lift, sebab mesin itu bergerak dengan sangat lambat hanya untuk sampai ke lantai ini.
“Lisa?? Sayang ... buka pintunya!! Oke aku minta maaf karena sudah tidak jujur sebelumnya!!” Aku terus berteriak, mengatakan dengan lantang kesalahanku dan mengakuinya hingga sebuah pintu di ujung lorong terbuka dan menampilkan sesosok wanita yang mungkin seumuran denganku.
“Bukannya kalian kemarin pergi bersama? Aku belum melihatnya pulang hari ini,” ucapnya datar sambil bersandar di daun pintunya dengan kedua tangan yang berlipat di depan dada.
Berarti wanita ini selalu memerhatikan Lisa setiap hari. Sebab kalau tidak salah, kemarin saat aku ke sini, pintu lainnya terlihat tertutup. Aku mengembuskan napas lalu mengucapkan terima kasihku padanya atas informasi yang dia berikan. Lalu aku menitipkan pesan padanya jika saja Lisa kembali dan aku melangkah mendekatinya, untuk memberikan kartu namaku padanya.
“Hubungi aku jika saja kamu melihat dia sudah kembali. Terima kasih.”
Lalu aku segera pergi dari sana kembali ke mobilku. Aku menghela napas dengan kasar. Lalu memukul kemudi setir di depanku untuk melampiaskan kekesalan dan penyesalan terdalamku.
BRUK!!
Sialan!
Kenapa wanita itu selalu saja mengusik hidupku. Entah apa yang sudah dikatakannya pada Lisa hingga Lisa harus menghilang seperti ini. Aku meremat keras rambut di kepala lalu mengusap kasar wajahku. Harus ke mana aku mencari Lisa?
Aku menoleh, menatap tasnya yang ada di sampingku. Dia tidak membawa apa pun dan tidak memiliki uang. Aku takut terjadi sesuatu padanya di sini. Kota ini sungguh berbeda dari Jakarta dan dia tidak memiliki siapa pun. Lantas ke mana dia pergi? Mengapa dia harus pergi?
Penyesalan selalu datang terlambat. Aku menyesal sudah merahasiakan statusku dan aku menyesal tadi meninggalkannya dari depan pintu kamarnya.
Tapi ... apa mungkin dia kembali ke rumah tantenya itu? Yang dulu pernah dia ceritakan. Tapi di mana? Dengan siapa aku harus bertanya tentang keluarganya itu? Di mana alamat rumah keluarganya itu? Sialan! Mengapa aku jadi sebodoh ini?
Berkali-kali aku melirik tas tangannya itu. Seumur hidup aku tidak pernah membuka tas seorang wanita. Jangankan tas wanita, dompet adikku Dana saja tidak pernah aku buka, walaupun tergeletak di depan mataku.
__ADS_1
Aku urungkan niatku untuk membuka tasnya dan mengecek satu per satu isinya, itu terlalu privasi bagiku. Lalu aku memutuskan untuk mencoba mengelilingi kampus dan seputaran asrama di sana, siapa tahu Lisa menuju ke sana. Entahlah. Aku benar-benar kehabisan ide saat ini.
Di sepanjang perjalanan, mataku tidak henti-hentinya untuk memandang ke segala arah. Lambat sekali laju mobil yang aku kendarai ini. Berharap aku dapat menemukannya secepatnya. Entah itu di pinggir jalan ataupun di salah satu sudut kota ini.
Hingga malam semakin larut, semua tempat yang terlintas dalam otakku sudah aku jelajahi. Rasanya tidak ada satu tempat pun yang terlewat dan aku masih belum bisa menemukannya. Berkali-kali aku mengembuskan napas dengan kasar. Aku merasa frustasi dan gusar.
Aku benar-benar menyesal tidak mengatakan lebih dulu kepadanya. Semestinya tadi malam aku menceritakan semuanya. Tentang statusku, tentang masa laluku. Tetapi semuanya memang hanya rencana.
Seketika rasa kesal dan geram menyelimuti hatiku. Segera aku kembali masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil dan memacunya melintasi jalan utama kota London, menuju ke kediaman Tasha. Wanita sialan! Rutukku dalam hati.
Dengan kecepatan tinggi aku membelokkan kemudi setirku lalu menabrak tanaman Tasha yang berada di pekarangan rumahnya itu. Lalu keluar dari mobil dengan perasaan yang berkecamuk.
DEBUK! DEBUK!
Aku menggedor pintu rumah Tasha dengan penuh amarah. Tidak ada lagi rasa simpatiku padanya. Yang ada hanya kekesalan yang sedang berada dipuncaknya.
“Sebentar!! Apaan sih gedor-gedor. Bikin ribut aja!!!” teriaknya dari dalam rumah.
Aku sadar itu sudah terlalu malam untuk menggedor rumah orang lain dan aku yakin, suara gedoran pintu itu pasti terdengar oleh tetangganya.
Lalu tiba-tiba pintu terbuka dan aku dapat melihat wajah wanita itu yang sedikit memar dan terluka. Hampir sama dengan keadaan wajah yang di alami oleh Lisa.
“Dave? Akhirnya kamu ke sini juga. Apa aku harus terluka parah dulu baru kamu akan perhatian?” ucapnya lalu melompar bergelanyutan manja di lenganku.
Amarahku semakin memuncak dan hingga ke ubun-ubun. Aku menyentaknya dan mengarahkan cengkeraman tanganku tepat pada lehernya. Lalu mendorongnya masuk hingga ia tersandar pada tembok dinding.
“Persetan!! Andai kamu mati sekalipun aku tidak peduli. Kamu selalu saja menghancurkan kebahagiaanku!” Aku meneriakinya dengan emosi yang membara.
Namun, begitu aku melihat Tasha yang kehabisan napas dan juga suaranya yang hendak berbicara terbata, seketika itu aku tersadar lalu melepaskan cengkeraman tanganku padanya dan melangkah mundur.
Tasha ambruk jatuh ke lantai dengan napasnya yang tersengal. Telinga ini dapat mendengar jelas rintihannya dan juga deru napasnya yang begitu menggebu. Begitu pula dengan napasku yang seketika memburu dan detak jantung yang berdegup dengan kencangnya.
“Apa yang sudah kamu katakan pada Lisa?” tanyaku, masih dengan napas tersengal.
Tasha tidak menjawab, dia masih sibuk mengatur napasnya dan juga memegangi pegelangan lehernya.
“Katakan! Apa yang kamu ucapkan dengannya hingga dia harus semarah ini padaku?!” hardikku lagi.
Tasha mencebik. “Tsk!! Lantas, seberapa penting dia hingga kamu harus semarah ini padaku?” Perlahan Tasha menoleh kepadaku dengan tersenyum tipis.
“Aku hanya mengatakan kejujuran. Dia 'kan yang sudah membuat kamu berpaling dariku?” tambahnya lagi.
Entah bagaimana cara berpikir wanita di hadapanku ini. Dia sama sekali tidak merasa jika dirinya yang bersalah. Dia yang mengkhianatiku dan membuatku pergi darinya. Aku langsung kembali mendekatinya yang tersungkur di lantai dan mencengkeram erat kedua lengannya, mengarahkan tubuhnya berhadapan padaku. Lalu mendorongnya hingga bersandar pada dinding.
“Berbulan-bulan aku menderita karena pengkhianatan yang kamu lakukan. Dan aku baru saja bertemu dengan gadis itu, dia mengobati luka yang kamu berikan! Lalu sekarang kamu menuduhnya sebagai penghancur? Dasar wanita gila!!” Aku menghempaskan tubuhnya membentur dinding lalu kembali melepaskannya.
“Kalau sampai sesuatu terjadi pada Lisa, aku bersumpah akan membuat hidup kamu sengsara. Dan ingat satu hal, akan aku buat kamu menyesal sudah mengenalku.
Dari dinding di belakangnya, aku dapat melihat bercak darah yang mungkin muncul akibat benturan kepalanya pada dinding tersebut. Tetapi aku tidak ambil peduli lalu berbalik. Meninggalkan Tasha sendiri di sana dengan isak tangis dan juga rintihannya.
Aku segera memacu kembali laju mobilku untuk kembali ke apartemen, guna menenangkan diri. Sekaligus ingin kembali bertanya dengan petugas yang menjaga lobby siang tadi.
__ADS_1
——————————
Julia POV.
“Tadi ada yang menelpon ke ponsel kamu. Katanya namanya Lisa. Dia bilang mau ke sini sebentar lagi,” ucap Amelya, saudara jauhku yang baru saja datang mengunjungiku.
Aku mengusapkan rambutku yang masih setengah kering lalu duduk di tepi tempat tidur. Perasaanku tiba-tiba merasa tidak nyaman, sebab beberapa hari yang lalu aku masih bertemu dengan Lisa saat dia membawa temannya ke kampus dan saat itu dia terlihat baik-baik saja. Maksudku, dia terlihat tidak ada masalah.
Lalu mengapa kali ini dia tiba-tiba ingin mendatangiku ke sini?
Ya, aku dan Lisa memang akrab, dulunya, sebelum dia mengenal Dave dan ... ah iya, apa mungkin dia bertengkar dengan Dave? Bukankah beberapa bulan yang lalu dia mengatakan jika mereka sudah berkencan beberapa kali?
Teett teett!!!
Suara mesin bel interkom di luar kamar tidurku berbunyi. Aku segera berdiri dan mengangkatnya. “Hallo?”
“Juls, ini aku Lisa. Boleh aku masuk?”
“Oh, tentu. Sebentar aku buka.” Segera aku putuskan sambungan interkom itu lalu menekan pembuka kunci pintu di lantai bawah, agar Lisa bisa masuk dan mendatangiku di lantai dua.
Aku langsung menuju pintu depan apartemenku lalu membukanya, menunggu Lisa yang tiba-tiba terlihat berjalan terseok-seok di ujung koridor. Aku berlari menghampirinya.
“Kamu kenapa, Lis?!” Aku membopongnya menuju ke apartemenku lalu mendudukkannya di atas sofa.
“Aku bisa minta tolong? Aku belum membayar taksi di bawah. Aku gak bawa apa pun.” Lisa menggenggam tanganku lalu meneteskan air matanya. Aku menatapnya pilu. Ada apa ini?
“Amel ... Amel!!” Aku meneriaki Amel yang sebelumnya berada di kamarku. Terdengar suara derap langkah kakinya.
“Iya?” jawabnya yang menyembulkan kepala dari balik dinding.
“Ambil dompetku di dalam, lalu tolong kamu ke bawah, bayarkan taksi yang membawa Lisa kemari.” Aku memberikan perintah pada Amel, yang kemudian dipatuhi olehnya.
Amelya langsung melaksanakan titahku lalu keluar dari apartemen menuju ke bawah dengan membawa serta dompetku. Melakukan sesuai dengan apa yang aku perintahkan.
Sedangkan aku kembali menatap Lisa, lalu menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapanku. Dan seketika itu tangisnya pecah begitu saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain mengelus punggungnya untuk menenangkan dirinya.
Bersambung ...
——————————
Terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung karya ini. Maaf jika aku menggunakan nama kalian, aku menganggap itu sebagai bentuk rasa terima kasihku pada kalian semua.
Perlahan aku akan membuat satu per satu nama kalian. Dan jika ada yang tidak tersebutkan, aku meminta maaf, mungkin aku akan menggunakan nama kalian di karyaku yang lainnya.
#salambucin
Babay 💋
Terima kasih.
@bossytika
__ADS_1