Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 16


__ADS_3

Dave POV.


Bunyi alarm dari ponsel yang kuletakkan di atas meja tiba-tiba saja berbunyi. Membuatku mau tak mau harus bangun dan mematikannya. Perlahan aku menyingkirkan salah satu tangan wanita yang memelukku ini. Wanita yang tadi malam sudah menemaniku melampiaskan hasrat terpendam yang sudah lama aku tahan.


Gerakan yang kuhasilkan saat ini membuatnya kembali sadar dan terbangun dari tidurnya. Ia melenguh sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang mungkin terasa penat baginya. Sedangkan aku langsung menegakkan dudukku, bersandar pada kepala ranjang setelah berhasil mematikan alarm dari ponselku.


Bip!!


Wanita itu masih memejamkan matanya, lalu kembali menarik selimut yang menutupi tubuh kami. Hingga akhirnya ia memiringkan tubuhnya menghadapku baru membuka matanya.


"Aaaaaaaaaaakkk!!" Teriak wanita itu dengan kencang sambil menutup kedua matanya.


Spontan aku ikut menutup sebelah mataku dan menempelkan kedua telapak tangan pada telingaku. Melindungi gendang telingaku agar tidak pecah akibat suaranya yang melengking itu.


Aku sengaja membiarkannya berteriak sekencang-kencangnya dan sebebasnya, hingga ia sendiri yang merasa lelah dan kehabisan suaranya. Dan benar dugaanku, ia mengakhiri teriakannya sendiri tanpa aku minta. Lalu ia duduk tegap menatapku, sambil menggenggam erat selimut yang menutupi tubuh kami berdua.


Perlahan ia terus menarik selimut itu, hingga akhirnya aku menahan sisa ujung selimut yang menutupi area bawahku. Dengan matanya yang memincing dan keningnya yang berkerut. Kami berdua saling menarik selimut.


"Kalau aku lepaskan tanganku, jangan kaget atau teriak lagi. Di bawah sana terlalu polos tanpa penutup!" terangku berusaha untuk tetap santai.


PLAK!!!


Aku meringis kesakitan. Secara spontan wanita ini menampar pipiku dengan begitu keras. Masih dapat aku rasakan pedas dan panasnya bekas tangannya yang menyentuh kalap salah satu sisi pipiku. Namun aku tidak bisa berucap apa-apa. Sebab apa yang ia lakukan sungguh wajar menurutku, setelah aku berhasil menutup mata dan mengembuskan napasku dengan kasar.


Menatapnya dengan begitu serius hanya akan membuatnya semakin merasa dimanfaatkan. Walaupun sebenarnya tidak ada niatanku untuk melakukan semua itu, tapi setidaknya tadi malam ia juga tidak menolak. Aku tidak memaksanya minum, tidak pula memaksanya untuk telentang dan menyerahkan tubuhnya untukku.


"Maaf ... aku pikir kamu juga membutuhkannya tadi malam. Jadi aku—"


Tiba-tiba saja wanita itu berdiri sambil menarik semua selimut dengan mendadak, yang akhirnya membuatku duduk di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Dengan sigap aku mengambil bantal dan menutupi sebagian tubuhku. Sedangkan wanita itu langsung melangkah ke arah kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.


Aku langsung meraih celana dalamku dan mengenakannya, lalu berjalan ke arah lemari pakaianku, membukanya dan mengambil selembar celana training-ku. Mengenakannya dengan cepat.


Entah apa yang sedang dilakukan wanita itu di dalam sana. Aku kembali menghela napasku lalu sekilas meremat rambutku. Kepalaku masih terasa sedikit pusing akibat minuman beralkohol yang tadi malam kami tengak. Yah, aku saja merasakan sakit kepala yang luar biasa, apa lagi dia?


Aku rasa wajar jika tadi malam dia mabuk atau bahkan mungkin dia tidak sadar saat melakukannya bersamaku. Sekilas rekaman adegan panas di atas ranjangku yang kami lakukan tadi malam kembali melintas dengan jelas.


Kututup lemari pakaianku lalu kembali menuju ranjangku. Duduk bersandar seperti semula. Dengan ponselku yang kupegang, mataku kembali mengawang. Menatap ujung jempol kakiku yang sengaja aku selonjorkan dan bertumpang pada kaki satunya lagi.


Segala desahan, leguhan bahkan erangan yang keluar dari mulut wanita itu, sungguh membuatku semakin hilang kembali. Membuatku semakin panas dan tertantang untuk membuatnya semakin mengulangi semua itu. Belum pernah aku mengalami perasaan seperti ini. Biasanya, tidak ada rasa bersalah yang muncul setelah pagi menyergapku. Yang ada malah aku yang mencoba mengusir para wanita itu.

__ADS_1


Aku mengembuskan napasku lagi dan lagi. Meremat rambutku berkali-kali hingga sekilas aku melihat bayangan wanita itu muncul di ambang pintu kamar mandiku. Masih dengan selimut yang membalut tubuhnya. Sebab seluruh pakaiannya ada di kursi dan sebagian lagi berserakan di lantai sekitar ranjangku.


Kami saling menatap dalam kejauhan. 'Apa dia ingin aku memunguti pakaiannya lalu memberikan padanya?' batinku.


"Emm, kamu ... punya itu gak?" ucapnya pelan nyaris tidak terdengar. Dengan kedua tangannya yang masih berusaha memegangi selimut di dadanya agar tidka jatuh melorot.


Aku mengernyitkan keningku dengan sedikit membuka mulutku, "Hah?! Kamu ngomong apaan?"


Perlahan ia menundukkan wajahnya lalu kedua tangannya kulihat semakin kuat mere*mas selimut tebal itu. Aku semakin bingung dibuatnya. Lalu kuputuskan untuk berjalan melangkah mendekatinya, berdiri tepat di depannya sampai membuatnya terkejut dan mundur beberapa langkah. Tapi ia tetap menundukkan wajahnya.


"Aku gak akan menerjang kamu. Aku cuman mau denger kamu tadi ngomong apa?" Aku menjelaskan alasanku mengapa hingga aku berani mendekatinya.


"Kamu punya pembalut gak?" lirihnya tapi begitu jelas hingga membuatku sontak terkejut dan malah aku yang meloncat mundur, mendengar pertanyaan aneh yang ia lontarkan. Kemudian beberapa detik kemudian aku tergelagak, tertawa terbahak-bahak.


"Kamu lucu ya! Aku mana punya yang begituan." Masih dengan sambil terkekeh pelan. Namun tiba-tiba saja dia mengangkat wajahnya, menatapku dengan geram lalu menghentakkan sebelah kakinya dengan kencang. Diiringi dengan decakan mulutnya, ia segera menepis tubuhku lalu kembali memasuki kamar mandi dan menutup pintunya dengan kencang.


BRUUUK!!


Aku mengelus dada melihat tingkahnya itu. Otakku masih berusaha mencerna, mengapa wanita ini tiba-tiba mencari pembalut? Setelah aku membalikkan tubuhku dan pandangan mataku mendapati pakaian dalamnya yang masih tergeletak di lantai, barulah aku mengerti maksud dari pertanyaannya tadi.


Mulutku terbuka, menganga bulat sempurna dengan napas yang tertahan. Aku segera meraih berlari kecil mengambil dompetku di atas kursi dan juga kembali membuka lemari, mengambil baju kaos-ku. Lalu mengetuk pintu kamar mandi dengan brutal.


Tokk tokk tokk tokk!!


Tokk tokk tokk tokk!!


Dengan tergesa-gesa aku menekan tombol lift, sempat terpikir bagiku untuk meninggalkan list yang terlalu lama datangnya, lalu menggunakan tangga untuk menuju lantai basemen. Tapi segera kuurungkan niat itu, mengingat sekarang aku sedang berada di lantai sembilan. Bukannya bida cepat membawakan pembalut untuk wanita itu, yang ada aku malah pingsan begitu sampai di bawah.


Dengan panik aku menggigiti kuku jempolku, menyelipkan sedikit ujung jarinya. Dengan menepakkan ujung kakiku di lantai. Menantikan datangnya lift sialan yang terlalu lama bergeraknya.


Ting!


Pintu lift terbuka, membuatku segera masuk dan menekan kembali beberapa tombol yang ada di sana, untuk segera membawaku turun ke lantai basemen tempat mobilku terparkir.


Bergegas aku menancapkan pedal gas mobilku untuk segera menuju mini market terdekat. Dan akibat kepanikanku serta kebodohan maksimalku, aku sampai melupakan bahwa ada mini market di lantai lobby apartemenku.


Aku langsung memutar arah mobilku, setelah sebelumnya menepuk keningku sendiri dan menghempaskan kedua tanganku pada setir kemudi. "Bodoh!!" seruku penuh amarah.


***

__ADS_1


Sesampainya di dalam mini market di lobby apartemenku, aku segera melangkahkan kakiku menuju sederetan rak yamg menyediakan berbagai jenis macam popok. Aku mengamati satu persatu, mencari gambar wanita yang terpampang pada bungkusan itu.


Sebab jika untuk bayi pasti akan bergambar bayu, jika untuk anak-anak pasti bergambar anak-anak dan untuk dewasa ... aku mendekatkan mataku untuk memperjelas gambarnya, bersama dengan tanganku yang meluruskan bungkusan popok yang berkerut. 'Loh! Kok gambarnya kakek nenek sih? Gak ada gambar wanita cantik gitu?' pikirku galau.


Sudah hampir bermenit-menit aku habiskan waktuku hanya untuk sekedar melihat-lihat. Meneliti satu persatu gambar yang ada pada setiap bungkusan di satu rak besar itu. Hingga seorang pegawai yang biasanya menyapaku, berjalan mendekatiku.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Dave?" ucapnya sopan tapi sedikut membuatku kaget. Aku tersenyum canggung padanya. Aku menolehkan kepalaku, ke kanan dan ke kiri, untuk sekedar mengecek apakah banyak orang di sekitar kami saat ini?


Pelan-pelan aku mengarahkan mulutku pada telinganya dan berbisik, "Aku perlu pembalut untuk wanita kisaran umur dua puluh tahunan."


"Oh, jadi bapak nyari pembalut, saya pikir—"


"Ssssttt!!" desisku memotong ucapannya yang lumayan nyaring, sambil menempelkan jari telunjukku pada mulutnya. "Jangan keras-keras, saya malu!" tegasku lalu kembali menoleh ke kanan dan ke kiriku, aman.


Kemudian dengan sigap dan sambil setengah berbisik pelayan wanita itu memilihkan bungkusan berwarna pink untukku. Aku menerimanya. "Yakin ini?" tanyaku sekali lagi.


"Iya, Pak. Itu permukaannya sangat lembut dan dijamin tidak membuat iritasi atau gatal-gatal saat lembab. Saya juga me—"


"Sssstttttt!! Cukup! Aku beli sepuluh! Kirimkan ke kamarku segera, karena aku gak mungkin buat bawa sendiri ke kamar." Saar aku hendak berbalik lalu melangkah menuju meja kasir, tiba-tiba pelayan wanita itu mencoel lenganku.


"Maaf, Pak!" ucap pelayan itu membuatku kembali menoleh padanya dengan heran. "Bapak beli buat nambal kepala bocor apa nambal ituu?" tanyanya dengan akhiran kalimat penuh penekanan.


Aku menoleh ke sekeliling, "Maksud kamu?"


"Ya kalo bapak beli buat cewek, cukup satu bungkus, Pak. Ini isinya lima puluh pieces, Pak. Tahan buat dua minggu." Pelayan wanita itu menjelaskan dengan lantang padaku.


"Ya sudah, jangan banyak omong! Bawa itu ke meja kasir," perintahku.


Setelah selesai membayar, aku langsung melangkahkan kakiku untuk segera keluar dari mini market itu. Namun kali ini smag pelayan kasir yang berseru memanggilku.


"Pak, maaf, Pak!" Membuatku menoleh lagi padanya. "Ini belanjaannya ketinggalan."


Astaga!!


Aku benar-benar dibuat emosi pagi hari ini.


"Apa gak bisa kalian kirim ke kamarku langsung? Aku malu kalau harus berjalan melewati lobby yang ramai manusia dan menenteng benda itu."


Lumayan lama aku berdebat dengan mereka hingga akhirnya aku meminta mereka membungkuskan benda itu dengan selembar kertas koran. Dan koran itu pun aku yang membelinya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2