Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 57


__ADS_3

Still Tika POV.


Ke esokkan paginya, aku bangun tidur, masih dengan ekspresi wajah yang tersenyum-senyum sendiri. Berkaca pun masih tersenyum. Sampai ritual mandi dan menggosok gigi masih saja bibir ku tersenyum mengingat kejadian tadi malam.


Pagi ini ku putuskan untuk tidak jogging. Aku langsung bersiap untuk pergi ke kantor. Baru saja aku membuka pintu kamarku, sudah ku temukan sebucket mawar merah terdampar di lantai. Aku tertawa kecil. Sepertinya aku tau ini dari siapa?


Ku ambil bucket itu lalu aku berjalan menuruni tangga menuju dapur. Dan sesuai dugaan ku, di kursi meja kitchen sudah duduk seorang pria yang aku kenal. Dari punggungnya dan aroma parfumnya aku sudah sangat hafal. Dia lelaki yang tadi malam sudah melamarku.


"So sweet," ucapku sambil meletakkan bucket mawar merah itu diatas meja.


Jefri memutar duduknya mengarah padaku. Melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Aku pun begitu, melingkarkan kedua tanganku dipundaknya. Lalu dia mengecup keningku kilas.


"Suka?" tanyanya.


"Kenapa ga sekalian ngetuk pintunya? Ngagetin gitu," ejekku.


Jefri tersenyum, "Tadi aku minta tolong Bi Mince kok buat naroh itu didepan pintu kamu."


"Oh, kirain kamu sendiri yang naik ke atas."


"Ssstt, cukup sekali aku naik keatas. Ntar kalo kebablasan lagi aku ga bisa ngontrol loh!"


Aku terkekeh geli mendengar penuturannya. Lalu ku kecup pipinya kilas.


"Waduh waduh, kepagian nih kayaknya!" seru Haikal yang berjalan melewati kami menuju kulkas.


"Haikal?" seruku kaget, "Kamu tidur disini?" sambil melepaskan pelukanku pada Jefri dan duduk disebelahnya.


Haikal berbalik menghadap kami, "Kan aku masih punya kamar sendiri disini, masa ga boleh tidur disini?"


"Bu-bukan nya ga boleh, cu-cuman kan kaget aja," aku tiba-tiba gagap.


Malu cuy ke-GAP kakak sendiri lagi mesra-mesraan sepagi ini!!!


"Hah! Mamah belum bangun?" tanya Haikal padaku.


"Udah kok, tadi lagi didepan," sahut Jefri.


"Iya, Ibu didepan, lagi nyiram taneman," Bi Mince menimpali sambil membawa keranjang belanjaan.


"Bibi habis dari pasar?" tanya Haikal.


"Iya Den, Aden mau sarapan apa? Biar bibi bikinin," tawar Bibi.


"Oh, jadi Haikal doang yang ditanyain Bi? Kami berdua enggak?" kesalku, jealous.


Haikal tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Sedangkan Bi Mince hanya tersenyum.


"Bibi bikinin sarapan buat mereka aja, aku mau ke depan dulu nemuin Mamah," titah Haikal berlalu pergi.


Aku memonyongkan mulutku seketika, mengejek Haikal.


"Ga boleh gitu," tegur Jefri sambil mencoel ujung hidungku.


Bi Mince terkekeh geli. Sambil mengupas beberapa jenis buah untuk sarapanku.


"Kamu mau sarapan apa?" tanyaku.


"Enggak, aku udah sarapan di rumah. Kamu aja."


"Ini Non. Aden mau kopi?" Bibi menyodorkan sepiring buah pada ku.


"Nah kalo kopi boleh Bi," jawab Jefri sambil mencomot sepotong melon.


Aku memakan buah-buahanku dengan perlahan, sambil menatap layar ponselku. Melihat-lihat Instagram. Sedang Jefri juga sibuk dengan ponselnya.


"Ini Den, kopinya."


"Makasih Bi ya," jawab Jefri.


Aku masih dengan serius men-scroll IG ku. Sampai akhirnya aku merasa bosan. Ku tumpu daguku ke atas telapak tangan yang menjadi penyangga dengan sikuku. Ku letakkan ponselku di atas meja. Ku pandangi lelaki yang sedang duduk disebelahku. Dengan fokusnya dia menghirup secangkir kopinya perlahan. Lalu meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.


"Kamu ga ke kantor?" tanyaku yang baru saja bingung dengan tujuannya pagi-pagi datang ke rumahku.


"Ya bareng kamu lah!" jawabnya melihatku kilas.

__ADS_1


"Bareng? Aku bisa pergi sendiri kok," tolakku.


"No, aku anter kamu ke kantor!" tegasnya lalu menatapku, "Siangnya aku jemput kamu buat lunch sama Mama Papa aku."


Uhuukk..


Uhuukk..


Aku tersedak..


Dengan cepat ku raih segelas air putih ku dan meminumnya hingga setengah.


Jefri mengelus tengah pundakku.


"Are you seriously?" seruku.


"I-iya kenapa? Mesti keselek," sewotnya.


"Ya kamu kalo mau kasih info mendadak tuh liat sikon dong. Aku lagi makan minum gak. Kan kaget," balasku sewot.


"Ahahahaha iya iya maaf deh."


"Mama sama Papa kamu udah tau belom kalo kamu ngelamar aku?" tanyaku hati-hati.


"Tau kok."


"Trus trus?"


Jefri menoleh lagi menatapku, di putarnya lagi duduknya menghadapku, di genggamnya kedua tanganku, "Aku udah bilangkan, aku ga bisa janjiin kehidupan yang selalu mulus, lurus tanpa hambatan," ucapnya serius, "dan ini salah satu hambatan dari kehidupan kita," lanjutnya lagi dengan mantap.


Dadaku serasa sesak. Hatiku bergemuruh mendengar penuturannya. Otakku kacau. Tanganku berasa mati rasa. Spontan aku turun dari kursiku dan langsung memeluk tubuhnya. Aku takut!


Gawat!


Kedua orang tuanya pasti kecewa anaknya ngelamar cewek bar bar kayak aku. Cewek ga tau malu yang main nyelonong masuk dapur dan buka kulkas sembarangan. Cewek rakus yang makan kue emaknya hampir habis setengah. Aduuhh, batinku.


"Sejak kapan orangtua kamu tau?" lirihku dalam pelukkannya.


"Baru tadi pagi aku kasih tau."


"Trus trus?"


"Udah gitu aja?" aku menoleh padanya.


"Iya, gitu aja kok. Kenapa?" jawabnya santai.


"Ya aku gugup lah!"


"Santuy sayang, santuy!" serunya sambil memeluk ku kilas dan mengelus-elus pundakku.


Ku lepaskan pelukkanku, "Aku ganti baju bentar deh."


"Eh eh eh," di tarik Jefri lenganku, "kenapa ganti baju?"


"Ini bajunya terlalu ketat, trus rok nya terlalu pendek, bahannya juga terlalu mengkilat. Belum lagi sepatu aku, gak cocok banget buat ketemu orangtua kamu," ralatku dengan nada suara manja.


"Hei hei, dengerin ya, menurut aku udah sopan kok. Ini kan emang setelan pakaian kerja kamu," sewotnya sambil kembali melihat layar ponselnya.


Aku berpikir sejenak, "No no, aku harus ganti!"


"Enggak enggak, udah pake ini aja. Aku ga mau kamu jadi orang lain. Ini udah style kamu ngantor, jadi ya udah pake ini aja. Cantik kok, rapi, sopan, aku suka yang begini," tegasnya.


Dengan wajah cemberut, aku menepelkan bokongku kembali pada kursi. Aku terus meliati baju dan rok ku, memikirkan, pantas tidak bertemu calon mertua seperti ini? Ups! Calon mertua? Hm, gugup!! Batinku.


"Ada apa ini dari jauh Mamah denger ribut-ribut? Baru juga happy semalem, masa paginya udah ribut lagi?" sapa Mamah sambil mengambil gelas dan air untuk minum.


"Ga papa Mah. Tapi ini nih Jefri bikin kaget mulu," aduku.


"Katanya ga papa, malah ada tapinya," sambar Jefri.


Ku cubit pinggang dengan mata melotot, Jefri hanya meringis sambil terkekeh pelan.


"Orangtua aku mau ketemu Tika, Tante," info Jefri.


"Panggil Mamah. Kapan?" ralat Mamah.

__ADS_1


"Oh iya, maaf Mah. Siang ini Mah, sekalian lunch."


"Apa perlu sekalian sama Mamah?" tawar Mamah.


"Oh jangan dulu Mah, Tika dulu aja," sanggah Jefri.


"Oh gitu? Kirain perlu sama Mamah, biar Mamah bantuin ngomong."


"Loh loh, yang anak Mamah kan aku? Ngapain Mamah bantuin dia ngomong ke orangtuanya?" sewotku.


Mamah dan Jefri sontak terdiam sejenak lalu tertawa terbahak-bahak mendengar protesku. Bi Mince yang sedari tadi disana juga ikut menertawakanku.


"Kenapa sih? Ada yang lucu?" aku ngedumel sambil memakan satu potongan terakhir buah pepaya dipiringku.


"Mah, hari ini Tika ke kantornya biar aku yang anter ya? Takut dia kelayapan kalo naik mobil sendiri," izin Jefri.


Aku yang mendengar kalimat itu sontak cemberut, "Apa-apaan sih!"


Mamah kembali tertawa.


"Duuh duhh, kepagian bikin baper sekitar woy!" seru Haikal yang langsung duduk dikursi sebelahku, meneguk habis air di gelasku.


"Idih!! Cemburu ya?" godaku sambil mencolek pinggang Haikal.


"Udah deh! Ga usah usil." ketus Haikal.


"Makanya kalo pingin gitu, cepetan cari cewek. Jangan kesibukkan di UGD mulu." sembur Mamah.


Aku dan Jefri cekikikan.


"Wah main keroyokan nih! Curang curang." sembur Haikal.


Setelah semua itu, tak lama aku dan Jefri segera pamit. Disepanjang perjalanan pun Jefri selalu bisa membuatku tertawa. Entah dengan joke-joke nya atau sekedar hanya bercerita tentang oranglain.


Dan tentu saja, tangannya tak henti-hentinya menggenggam tanganku atau hanya sekedar mengelus puncak kepalaku.


Sesampainya di kantorku.


"Jangan lupa nanti siang aku jemput, ya?" sambil mengecup punggung tanganku dan menatapku


Aku tersipu malu melihat tingkahnya itu, "Iya. Chat aja kalo udah on the way."


"Emang nomer ku udah ga di blockir lagi?" tanyanya masih dengan memegang tanganku.


"Kalo ga salah udah seminggu yang lalu aku unblocked!" jelasku innocent.


"Trus kalo udah seminggu yang lalu, kenapa ga ngabarin?"


"Masa iya aku harus say hallo duluan biar kamu tau udah di unblocked?"


"Iya juga ya, kan kamu masih jual mahal waktu itu."


Dengan refleks ku tarik tanganku dari tangannya dan ku pukul bahunya. Dia tertawa.


"I love you!" ucapnya lembut sambil menangkap kepalan tanganku.


"Udah ah, kalo kamu gini mulu rahangku bisa kaku."


"Gini mulu gimana?"


"Romantis-romantisan gini."


"Kayak gini romantis? Biasa aja deh."


"Oh iya aku lupa, kamu udah biasa gini kan ya sama Paula. Udah bertahun-tahun juga kan yah...," sarkasku sambil tersenyum.


Sebenernya sih dalem hati sakit banget ngucapin tu kalimat, batinku.


"Em. Apaan sih!" sanggahnya, "Udah kerja sana, nanti siang aku jemput lagi. Oh iya berarti siang ini aku gak ngirimin bekal ya!"


Yang tadinya aku rada badmood jadi sumringah lagi gara-gara mendengar ucapannya, "Iya iya."


Ku tarik tangannya yang menggenggam tanganku sedari tadi, lalu ku kecup bibirnya kilas.


"I love you too." ucapku seraya turun dari mobilnya dan langsung memasuki lobby kantorku.

__ADS_1


__ADS_2