
Selamat membaca ...
——————————
Still Max POV.
Setelah mengambil dompet dan ponselku lalu kumasukkan pada saku celana. Kami berjalan menuju garasi melalui pintu dapur kemudian membuka pintu garasi, mengeluarkan sebuah motor sekuter. Kami memang sudah sepakat untuk menggunakan kendaraan ini, sebab tempat yang kami tuju tidaklah terlalu jauh. Hanya di dekat komplek perumahan.
Aku meminta Tika untuk ikut mengenakan helm sebagai pelindung kepalanya, walaupun hanya pergi ke depan komplek. Begitu pula denganku.
“Kamu tadi ke mana aja sih sama Lisa?” tanya Tika sesaat setelah aku duduk di sampingnya dengan mengajukan sebotor air mineral. Kami memutuskan untuk duduk di sebuah lapak tikar yang di letakkan oleh abang gerobak penjual sate di pinggiran jalan.
Tadinya aku berpikir jika Tika tidak akan membahas masalah ini lagi padaku, sebab otakku sungguh terlalu rumit. “Kita bahas yang lain aja bisa, 'kan?” pintaku dengan nada suara yang memang sedikit tegas. Tapi tidak membuat Tika menolehkan kepalanya padaku.
__ADS_1
Ia terus saja menatap jauh ke dapan, ke arah jalan raya yang kini sudah mulai menyepi. “Lisa suka kamu, Max!” tegasnya yang membuatku sontak terperangah!
Aku menatap Tika dari samping, pelahan dia juga menggerakkan kepalanya dan menatapku. “Sudah lama aku tahu kalo dia suka sama kamu. Tapi selalu aja disangkal. Sampai hari ini tadi, beberapa kali aku liat dia perhatiin kamu dari jauh. Makanya aku kasih waktu buat kalian.”
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, terlalu memgejutkan untuk jantungku. Karena sebenarnya hal inilah yang aku takutkan sejak dulu. Bahkan hingga beberapa menita yang lalu.
“Aku gak tahu apa yang sudah terjadi, antara kalian setelah aku selesai bicara sama Lisa lewat telepon kamu. Yang jelas, tadi Lisa bilang kalo dia butuh waktu buat sendiri. Dan gak biasanya Lisa begitu.” Tika mengembuskan napasnya.
“A—aku ....”
Aku tertunduk memandangi kedua ujung jempol kakiku. Merasa bersalah karena sikapku tadi pada Lisa saat di rumahnya. Aku belum sempat mengatakan apa pun, bahkan untuk menyentuh hatinya saja tidak aku lalukan, lantas apa semua itu juga akan menyakiti hatinya?
Tadinya aku pikir tidak, sebab dengan begitu mungkin ia akan melupakanku. Dan sekali lagi kutekankan, ternyata tidak!
__ADS_1
Lalu apa yang harus aku lakukan?
Perlahan aku melahap sepiring sate yang sebelumnya di berikan oleh abang pedagang itu. Dengan otakku yang masih saja melayang, memikirkan kondisi Lisa yang kurang baik akibat ulahku tadi.
***
Waktu fajar telah tiba, aku masih terbaring di balik selimut putih lembut yang selalu menemaniku di setiap malam. Perlahan aku membuka mata karena cahaya terang yang masuk melalui jendela, yang tirainya lupa aku tutup tadi malam. Akibat terlalu letih. Bukan tubuhku yang merasa letih, melainkan jiwaku.
Aku menegakkan posisiku untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Lalu menatap lurus ke depan, ke arah dinding kamar yang terbuat dari kaca. Memperlihatkan pemandangan kolam renang beserta tumbuhan hijau yang ada di luar sana. Dari posisiku duduk sekarang saja, sudah jelas sekali terlihat jika udara di luar sana pasti terasa sangat sejuk dan nyaman.
Kemudian aku mencoba untuk beranjak dari tempat tidurku, melihat jam dan juga para gambar di dinding yang rasanya tiba-tiba saja ingin aku musnahkan. Tahu mengapa aku spontan ingin melakukan itu? Karena otakku tidak ada henti-hentinya memikirkan wanita itu. Wanita yang menjadi sahabat adikku, yang sering bertemu denganku di rumah ini.
Selintas, aku kembali mengingat semua perkataan Tika tadi malam. Satu per satu kata coba aku pahami dan aku cari maknanya. Dan sekarang aku mengerti, bahwa cinta bisa muncul hanya karena terbiasa.
__ADS_1
Terbiasa melihat, terbiasa mendengar, terbiasa memuja bahkan terbiasa karena keadaan.
Bersambung ...