
Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Mamah sudah pergi untuk berlibur ke luar kota dengan menggunakan mobilnya sendiri. Ya tentu saja bersama teman-temannya. Tinggallah aku berdua dengan Bibi di rumah.
"Bi, Mamah berapa hari sih perginya?"
"Kata Ibu kemaren bilangnya sekitar 5 harian Non." sahut Bibi sambil menyajikan beberapa jenis buah-buahan untuk sarapanku.
Aku menganggukan kepalaku.
"Non, Bibi ke pasar dulu ya, di kulkas udah hampir habis."
"Iya Bi. Oh iya beras merahku masih ada gak?"
"Masih Non, masih banyak."
Aku menganggukan kepalaku (lagi), "Bi, aku ga bisa nganterin ya, soalnya mobilku masih sama Lisa. Atau Bibi aku pesenin ojek online ya?"
"Ga usah Non, kan di garasi ada motor matic, Bibi pakai itu aja."
Lagi-lagi aku hanya meanggukkan kepalaku.
"Bibi permisi ya Non,"
"Iya Bi, hati-hati."
Aku sendirian di dapur memakan buah-buahanku, sambil memainkan ponselku.
Rencananya hari ini aku akan ke kantor agak siangan, karena Bos ku ingin aku final meeting dengan Dana. Namun aku menolaknya, lalu ku limpahkan pekerjaan ini pada Metta. Jadi bisa dibilang ini merupakan salah satu aksi protes pada Bosku itu. Seenaknya saja dia merusak jadwal harianku.
Ya, aku dan Metta assistantnya. Kami lah otak dari segala bisnisnya ini. Karena lebih banyak kami berdua yang face to face dengan client dibandingkan dia yang hanya bisa duduk menghitung anggaran. Kantor kami ini memang kacau. Namun aku dan Metta betah untuk bekerja disini.
Kurasakan ada sesuatu yang melilit pinggangku dan dengan cepat mengecup pundakku. Aku kaget, ternyata Jefri.
"Kok bisa masuk? Emang pagar ga di gembok ya sama Bibi?" cerocosku.
"Aku yang gembok, tadi ketemu Bibi didepan."
"Ohh. Kamu udah sarapan?"
"Emm belum. Kenapa emang?"
__ADS_1
"Ya ga papa, nanya aja. Ada apaan pagi-pagi kesini? Ga kasih kabar juga."
"Surprise lah."
Aku memutar kedua bola mataku, "Ya trus mau ngapain kesini?"
"Loh emang ga boleh?"
"Ya enggak bisa seenaknyalah, emang kamu siapa?" cerocosku.
Jefri melepaskan tangannya dari lingkaran pinggangku. Kalimatku kasar ya? Batinku.
Jefri duduk di sebelahku, dia tersenyum garing, "Kamu kok jadi sarkas?"
Lama aku terdiam. Dengan susah payah aku meneguk air liurku sendiri. Aku tidak berani menatapnya. Kalimatku memang ada yang salah. Dan aku merutuki mulutku yang terlalu ceplas ceplos.
"Sorry," hanya satu kata itu yang mampu dikeluarkan oleh mulutku.
Suasana menjadi sangat awkward. Dan aku membenci kondisi ini. Aku memang bukan wanita yang pandai untuk mengatakan isi hati. Menurutku, cukup dengan perbuatan, itu adalah ungkapan hati paling jujur dimuka bumi ini.
"Kamu mau kopi?"
"Boleh," jawabnya seadanya.
Jefri mengerti betul bagaimana aku, dilepaskannya cengkraman itu, "Sini deh. Aku mau ngomong."
Aku berjalan mendekatinya, "Apa?"
Disentuhnya kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya. Aku menatapnya, "Kenapa?" tanyaku lagi.
"Ga papa kamu ngegemesin," kemudian dicubitnya ujung hidungku.
Belum sempat aku menjauh, dengan kecepatan si kancil dia mendekap tubuhku. Hidungku langsung mampu menangkap wangi maskulin tubuhnya. Aku terbius. Dekapannya begitu hangat dan aku merasa nyaman berada disana.
Sekilas aku kembali ingat akan hubungannya dengan kekasihnya. Ku julurkan kedua tanganku melingkari tubuhnya, aku membalas dekapannya, 'Aku mencintaimu,' ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian aku melepaskan dekapanku, dia membebaskan tubuhku. Aku kembali duduk di kursiku, menghabiskan sisa buah di piringku.
"Kamu ga ke kantor?"
__ADS_1
"Ntar siang. Kamu?"
"Aku izin ga masuk hari ini."
"Kenapa?"
"Ga papa, kepingin refresh aja."
"Ohhh, aku mau ke atas, ikut?" Astaga, mulutku nakal lagi. Apa-apaan aku mengajaknya ke atas!
"B-boleh," sahutnya ragu-ragu.
Aku bejalan menaiki tangga, sekarang tanganku terasa gatal, ku sentuh tangannya dan mengenggamnya. Ya ampun tadi mulutku, sekarang tanganku yang nakal!
Tadinya, niatku ingin mengajaknya untuk duduk di balkon sambil merokok, mumpung Mamah sana Bibi ga ada. Eh sekarang malah keterusan aku membawanya masuk ke dalam kamar!
Belum sempat aku berbalik menutup pintu kamar, Jefri menyerang bibirku. Di cengkramnya kedua tanganku diatas kepalaku.
Di lepasnya cengkraman pada tanganku, namun bukannya aku mengelak, tanganku malah sengaja ku jatuhkan melilit pada lehernya. Ku tatap matanya intense, ku sisipkan jemariku mengelus rambut belakangnya. Ku tempelkan tubuhku pada tubuhnya. Aku merindukan dirinya!
------------------------
Jefri POV.
'Ga salah denger nih? Tika ngajak ke atas?' Batinku. Padahal niatku ke sini hanya ingin bertemu dengannya sekalian mengantarkan dia ke kantor, karena Lisa sempat memberitahuku jika mobil Tika dipinjamnya.
"B-boleh," jawabku ragu.
Aku mengikutinya menaiki tangga, tiba-tiba dia mengenggam tanganku. Aku membalasnya. Ku ikuti langkah kakinya hingga membawaku masuk ke kamarnya. Tika sungguh menggodaku..
Aku berbalik dan langsung mencium bibirnya. Ku genggam kedua tangannya ke atas dan ku tempelkan ke dinding pintu. Dia seakan pasrah, menikmati setiap gerakkan bibirku. Semakin ku lahap bibir dan mulutnya sampai dia kehilangan ritme nafasnya.
Ku lepaskan ciumanku. Nafasnya terengah-engah sambil menatapku. Kini kedua tangannya malah melingkar dipundakku, menggenggam erat sela-sela rambut belakangku, membuat aku berhasrat. Dia mendekapku dengan tubuhnya, hingga aku dapat merasakan dirinya
"Nakal ya?"
"Emmh?"
"Kamu tuh bisa ba...."
__ADS_1
Cup....
Tika mulai menciumi bibirku. Memotong kalimat yang belum selesai ku ucapkan. Dia selalu selembut ini jika menciumku. Dan genggaman jemarinya di rambut belakangku sungguh membuatku menggila. Dia selalu mampu membuatku seperti ini jika sedang berduaan dengannya.