
Selamat membaca ...
——————————
Tika POV.
Setelah membantu Alex memilihkan beberapa barang untuk dijadikan sebagai kado ulang tahun keponakkannya, dia segera membayarkan semua di meja kasir. Kemudian kami menunggu sebentar agar karyawan toko tersebut dapat membungkuskan barang itu dengan menggunakan kertas kado.
“Lu laper gak?” tanya Alex sambil melirik jam tangannya, “udah sore ini.” Kemudian ia melirikku yang berdiri di sampingnya. Aku menggelengkan kepalaku dan mengatakan padanya jika aku masih merasa kenyang akibat makanan tadi siang.
Namun seolah tak mau menyerah, Alex kembali menawarkan padaku untuk sekedar menikmati secangkir kopi sambil melewati senja di kala itu. Akhirnya aku menerima tawaran itu, sebab aku merasa masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya aku ajukan padanya.
Kini semua belanjaan sudah terbungkus dengan rapi di dalam sebuah kotak besar dan sudah terbalut dengan lapisan kertas mengkilap dengan gambar lucu yang mengelilinginya. Alex mengangkatnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Ia meletakkannya di bagian kursi belakang, lalu bergegas masuk menyusulku yang sudah duduk di kursi depan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alex segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke salah satu kedai kopi yang tadi sempat ia katakan padaku.
“Jadi rencananya lu bakal kuliah keluar kota?” tanya Alex memecah keheningan di antara kami berdua, saat segelas kopi pesanan milik kami masing-masing telah tersaji.
Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya itu. Lalu menyeruput ice caramel latte di depanku dengan perlahan. Sebenarnya Alex adalah lelaki yang baik. Aku sudah cukup lama mengenalnya, sejak sekolah dasar dan hanya terpisah saat sekolah menengah atas. Dan kali ini kami kembali bertemu.
“Boleh gua nanya sesuatu?” Aku meminta izin padanya untuk mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi terlintas dalam otakku. Yang mana ia menjawabnya hanya dengan sekali dehaman.
__ADS_1
Di saat aku hendak melontarkan pertanyaanku, tiba-tiba Alex mengangkat tangannya, memberi tanda seolah menyuruhku untuk menahan pertanyaanku dulu. Ia menelan minuman yang sudah berada dalam mulutnya, lalu berkata, “Boleh nanya, asal jangan pertanyaan yang sama atau sejenis kayak tadi.”
Aku melongo, “Kenapa?”
“Apa masih perlu gua jawab?” Alex balik bertanya. Aku menimbang lagi jawabanku sebelum membalas pertanyaannya. Di saat aku kembali menatapnya, ternyata ia sudah terlebih dulu mematapku dengan lekat. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya lalu kulemparkan pandangan mata ke arah lain. Untuk menutupi irama jantungku yang terasa semakin berpacu.
Alex menghela napas kemudian mengembuskannya dengan kasar, terlihat seperti ia sedang mencoba untuk melepaskan rasa sesak dalam dadanya. Aku dapat mendengar dengan jelas desahan napas itu. “Gua cuman mau tahu aja, kenapa elu masih mau bantuin gua tadi. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, gua udah jahat banget nolak lu tanpa kasih alasan yang jelas.” Aku mencoba meluapkan rasa ketidaknyamananku pada lelaki di hadapanku saat ini.
“Sayangnya itu pikiran lu aja.” Alex menjawab cuek tanpa menoleh lagi menatapku. Ia sibuk dengan secangkir kopi v60 miliknya dan juga layar ponselnya.
Aku menatap langit di luar sana, piringan matahari yang secara perlahan bergerak menghilang dari cakrawala. Di mana terangnya langit akan berubah menjadi semakin gelap. Sebagai tanda bahwa semua kisah yang terjadi hari ini akan segera berakhir dan berubah menjadi sebuah kenangan. Begitu pun dengan hariku yang akan segera berlalu, tapi tidak untuk kisahku.
Aku dan Alex masih di tempat ini, duduk berdua tetapi tidak untuk saling bercengkrama. Kami terhanyut akan benda tipis yang masing-masing kami genggam sedari tadi. Hingga akhirnya aku melihat Alex melepaskan benda tipis itu dari tangannya. Meletakkannya di atas meja lalu menopang dagunya pada salah satu telapak tangan yang sengaja juga ia letakkan di atas meja, sebagai penyangga.
“Kenapa?” tanyaku pelan. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Aku merubah posisi duduk menjadi benar-benar menghadap padanya. Lalu memangku kedua tanganku ke atas meja, menatapnya dengan lekat.
“Jadi kenapa?” lirihku. Aku terus saja memandanginya.
“Apanya?” sahutnya santai kemudian tersenyum. Senyumannya memang terlihat manis. Kini aku yang menggelengkan kepala untuk membalas perlakuannya.
__ADS_1
Tiba-tiba aku teringat pada Lisa yang kutelantarkan bersama dengan Max saat di mall. Aku meminta izin pada Alex untuk menelponnya. Hanya untuk memastikan, apa mereka masih di sana atau langsung kembali pulang setelah aku meninggalkan mereka.
***
Sebuah cahaya kembali menyilaukan mataku, sesaat setelah mobil Alex keluar dari pagar rumah. Langkah kakiku terhenti sebelum mendorong pintu depan. Cahaya itu berasal dari sebuah mobil yang kukenali sebagai mobil Max. Ya, itu memang mobil Max yang perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan garasi.
“Baru pulang?” tegur Max yang kini berjalan mendekatiku.
“Iya,» sahutku yang kemudian menegok ke belakang Max, mencari sosok sahabatku. “Mana Lisa?”
Max menjawabnya dengan gelengan kepala lalu menyingkirkan tanganku dari kenop pintu, agar ia dapat mendorong pintu tersebut dan berlalu dari hadapanku. Aku sedikit merasa aneh dengan jawabannya itu.
“Aku 'kan minta dia buat nginep di sini,” ucapku lagi sambil berusaha mengejar langkah kaki Max yang lumayan cepat.
“Coba aja tanya dia lagi. Hapenya udah di charger kok. Aku capek mau tidur!” Max melambaikan tangannya sambil terus berjalan dan menghilang di balik pintu kamarnya yang berada di lantai bawah.
Aku mendengus kesal, merasa tidak puas dengan jawabannya itu. Lalu segera menaiki tangga untuk menuju ke kamarku yang berada di lantai atas. Sambil menaiki tangga aku mencoba menghubungi Lisa.
“Hallo, lu katanya mau ngambil baju doang, kok gak ikut balik ke sini sama Max?” protesku langsung setelah Lisa menjawab teleponku.
__ADS_1
Terdengar suara embusan napasnya yang begitu berat dari seberang sana. Membuatku sedikit khawatir dengan kondisinya. Kemudian Lisa mengatakan permohonan maafnya karena dia tidak bisa menemaniku malam ini untuk menginap di sini. Sebab ia tiba-tiba ingin menyendiri. Aku menghargai keputusannya itu. Tapi apa mungkin itu berhubungan dengan Max?
Bersambung ...