
"Kita mau kemana?" tanyaku saat Jefri menarik safety belt ku dan mengancingnya.
"Kan aku bilang rahasia." jawabnya tenang.
"Sama calon istri masih mau rahasia-rahasiaan?" ucapku lantang.
"Calon apa tadi? Aku ga denger.." tanyanya sambil mendekatkan telinganya padaku.
Ku dorong pipi nya dengan tanganku. Dia tertawa puas. Lalu dia menyalakan mobilnya dan membawaku entah kemana.
Tiba-tiba dia melepaskan dasinya lalu menyodorkannya padaku.
"Apa nih?" tanyaku bingung.
"Tutup mata kamu. Iket yang kenceng." titahnya yang seraya mengambil ponselnya.
Aku memutar kedua bola mataku, "Apaan lagi sih nih?" gumamku sambil menutup kedua mataku lalu mengikatnya dengan dasi itu.
Walaupun malas, tapi aku tetap saja mengikuti perintah Jefri yang nyeleneh. Ku rasakan mobil berhenti beberapa saat kemudian. Lalu terdengar suara Jefri membuka pintunya, lalu pintuku terbuka.
"Turun pelan-pelan." ucap Jefri sambil menyuruhku memegang tangannya sebagai pemandu langkah kakiku.
Aku berjalan mengikuti geraknya, entah kemana dia membawaku. Ku rasakan rerumputan menjadi alas dibawah heels ku sampai aku menyentuh lantai yang agak kasar tanpa keramik. Jefri terus menuntunku berjalan hingga hidungku mencium berbagai macam aroma harum. Lalu Jefri berhenti, aku pun ikut berhenti.
Dia memegang kedua bahuku, sepertinya dia di belakangku, batinku. Lalu tiba-tiba dia melepaskan ikatan dasi yang menutupi mataku. Dan......
"Surprise!!!!!!" teriak beberapa orang yang ada dihadapanku.
Aku dengan mata yang masih mencoba menyesuaikan, tersenyum sumringah. Ku lihat semua teman-teman ku ada didepanku. Teman-teman Jefri juga. Ku lihat sekelilingku, ternyata ini di halaman belakang rumah Lisa.
Jefri memeluk ku dari belakang. Anak-anak berseru mengucapkan kalimat selamat untuk ku dan Jefri. Bahkan sesekali Jefri mengecup tekuk leherku.
"Kamu sama anak-anak nyiapin ini?" tanyaku disela-sela suasana.
"Enggak, tadi nya anak-anak memang kepingin barbeque-an. Trus aku bilang sama mereka kalo malam ini mau ngelamar kamu di acara Max." cerita Jefri masih dengan memelukku dari belakang.
"Trus?"
"Ya trus karena kamu terima lamaran aku, aku ngabarin mereka, trus bawa kamu ke sini deh." dikecupnya lagi tekuk ku kilas.
Anak-anak yang lain kembali dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang masih membakar makanan, ada yang mengobrol, ada yang bercumbu bahkan ada pula yang bermain kartu.
Aku berbalik menghadap Jefri, ku kalungkan kedua tanganku di bahunya. Tangannya tersemat erat di kedua pinggangku. Tatapan kami saling beradu. Lalu dengan perlahan ku sematkan jemariku pada rambut belakangnya, ku cengkram halus lalu ku jinjitkan kedua kakiku. Ku kecup lembut bibirnya kilas.
Dengan percaya dirinya, dia membawa tubuhku berdansa. Mengikuti alunan lagu yang mendukung suasana.
"I love you.." ucapnya berbisik.
Aku tersenyum lalu mendekapnya erat, "I love you too.."
Kami berdua benar-benar tidak menghiraukan sekitar lagi. Seolah saat itu hanya milik kami berdua.
"Eheemm, gua mau kok minjemin kamar gua buat lu berdua." tegur Lisa yang asik duduk dengan Alex di sofa santai.
Kami melepaskan pelukkan lalu aku segera duduk di samping Lisa.
"Apaan sih." ucapku malu.
__ADS_1
"Mana liat dong cincinnya?" tanya Lisa seraya aku yang menjulurkan jari manisku.
"Wiih cantikkan ini yang, berliannya." ucap Lisa pada Alex.
"Ya wajarlah. Harganya juga emang mahalan itu." jawab Alex santai.
"Kok tau sih yang?" tanya Lisa.
"Kan beli nya barengan. Ups!" Alex keceplosan.
"Apa? Barengan?" aku kaget.
"Iya, satu set sama kalung berlian yang pernah Jefri kasih ke elu itu, yang elu balikin ke dia." jelas Alex santai sambil menyulut rokoknya.
"Kenapa?" tanya Jefri yang baru bergabung karena tadi dia mengambil kan aku minuman lalu memberikannya padaku.
"Kamu beli cincin ini bareng Alex?" tanyaku polos menatap Jefri yang duduk di hadapanku.
Sekilas terlihat wajah terkejutnya namun setelah itu kembali biasa, "Iya, barengan. Habis aku ga begitu ngerti." jawabnya santai.
Aku mengigit bibir bawahku sambil tersenyum padanya. Dia menggemaskan. Dengan cepat Jefri mengecup bibirku kilas.
"Adududuh pornografi!" teriak Lisa yang melihat kejadian itu.
Aku hanya tertawa kecil.
Tidak terasa sudah jam 11 malam, Jefri pamit ingin mengantarku pulang.
"Gua sama Tika duluan ya, ga enak gua sama nyokabnya."
Aku tertawa disamping Jefri.
"Sialan lu, udah yaa!" pamit Jefri.
"Gua pulang ya." pamit ku sambil cipika cipiki dengan Lisa.
"Dah semua." teriak ku sambil melambaikan tanganku pada yang lainnya.
Aku berjalan mengikuti langkah Jefri di belakangnya.
"Bentar dong jangan cepet-cepet." keluhku karena langkah kakinya terlalu cepat, sedangkan ujung heels ku selalu menancap pada rerumputan halaman samping rumah Lisa.
Diluar dugaanku tiba-tiba Jefri mengangkat tubuhku bak bridal style.
"Ouuu!" seruku kaget.
Jefri terkekeh sambil mengecup keningku kilas.
Aku tersenyum melihatnya, "Kok kamu jadi romantis gini sih?"
"Idih siapa yang romantis?" elaknya santai sambil tetap menggendongku menuju mobilnya.
"Ya ini?"
"Kasian kamu, pasti udah cape kan pake heels." ucapnya sambil menurunkanku lalu membukakan pintu mobilnya untukku.
"Duduk." suruhnya. Aku menurut masuk dan duduk di mobilnya.
__ADS_1
Lalu dia berjongkok, menarik kakiku dan melepaskan kedua heelsku. Aku melongo. Dengan sigap dia membuka pintu belakang dan mengambil sesuatu disana.
"Nih sendal kamu." sambil menyodorkan sepasang sendal yang dulu sempat ku tinggalkan di mobilnya.
Aku mengambil sendal itu dari tangannya dan memasangnya. Lalu tersenyum lebar menatapnya.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku masih dengan senyuman yang mengembang dikedua sudut bibirku.
Disepanjang perjalanan pulang, tangan Jefri tak henti-hentinya menggenggam tanganku sesekali di lepasnya hanya untuk memindah perseneling. Kemudian kembali menggenggam lagi sambil tersenyum kilas melihatku. Sampai akhirnya didepan rumahku.
"Aku langsung pulang ya?" pamitnya.
Aku menatapnya dengan senyuman lebar dikedua sudut bibirku. Lalu tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan mengecup lembut punggung tanganku sambil menatapku. Di balik remang-remang lampu jalanan, aku tertawa halus.
"Paling besok-besok juga udah gak begini lagi." ejekku asal.
"Kalo kamu mau setiap hari, aku sanggup." tantangnya.
"Ga usah deh, ntar aku lebih cepet jadi gilanya."
"Kok gitu?"
"Ya abisnya, senyum mulu."
Kami tertawa bersama. Lalu aku keluar dari mobilnya.
"Tunggu." serunya saat aku menutup pintu mobil.
Dia keluar dan mendatangiku, "Aku boleh minta peluk?"
"Kamu minta izin?" ucapku sambil terkekeh.
"Ya iya lah." tegasnya.
"Biasanya main sosor." godaku.
"Ya udah." jawabnya seraya memelukku, "Makasih ya malam ini kamu gak bikin aku malu." lirihnya lalu mengeratkan pelukannya.
"Malu?"
"Iya, kalo sampe kamu nolak aku, aku bisa malu berat. Udah dengan pedenya minta izin Max buat ngelamar kamu. Kan ga lucu kalo sampe di tolak." bebernya.
Aku makin memeluknya erat. Ku renggangkan pelukkanku lalu menatapnya.
"Aku yang makasih, kamu mau buktiin perasaan kamu pakai ini." ucapku sambil melihatkan benda berkilau yang tersemat di jari manisku.
Jefri mengecup keningku. Lalu memelukku erat lagi.
"Udah masuk sana, istirahat, besok masih kerja kan." titahnya sambil melepas pelukannya.
"Night.." salamku seraya memasuki halaman rumah.
"Eh heels kamu!" serunya lagi lalu mengambilkan heels ku yang tertinggal di mobilnya.
Aku kembali mendatanginya dan mengambil heels ku. Dan sekali lagi, dia mengecup pipiku kilas. Aku tersenyum lalu berbalik kembali berjalan menuju rumah.
__ADS_1