
Lisa POV.
Hari-hari yang aku lewati bersama Dave sungguh di luar dugaanku. Seminggu setelah aku menyatakan bersedia menjadi kekasihnya, aku mengajukan surat resign ke kantorku. Yang mana surat itu baru disetujui oleh pimpinan perusahaan dua minggu kemudian dan berlaku pada dua minggu berikutnya.
Jadi, selama satu bulan aku menjalani masa terakhirku bekerja di sana, aku lakukan dengan sangat baik. Bahkan Julia juga membantuku dalam menyelesaikan tugasku. Begitu pula dengan Kimmy, Vanilla dan Jessica. Mereka juga membantu, tapi bukan membantu menyelesaikan masalah, yang ada mereka malah bergosip dan menambah daftar masalah untukku.
"Oh ya? Trus Natasha itu yang kemarin ketemu kita di supermarket itu 'kan?" tanya Kimmy pada Jessica.
Jesicca mengangguk pasti, "Dia baru dua bulan lalu cerai sama pengusaha barang antik."
"Pengusaha barang antik? Emang masih ada gitu yang suka begituan?" Vanilla bertanya penuh arti.
"Eh jangan salah, justru barang yang begitu itu sekali laku mainannya miliyaran loh." Kimmy menimpali.
Sebenarnya aku tidak merasa terganggu pada aktifitas yang mereka lakukan saat ini, hanya saja mereka bertumpuk di atas mejaku. Hingga aku merasa seakan sedang diintrogasi oleh para istri orang. Padahal mereka teman-temanku sendiri.
"Trus alasan cerainya kenapa?" selidik Kimmy lagi sambio menyenggol Jessica yang tiba-tiba asyik dengan ponselnya.
"Oh, katanya sih gegara ada orang ketiga."
"Katanya siapa? Natasha?" Vanilla membelalakkan kedua bola matanya, seperti hampir keluar.
Jessica kembali mengangguk. Dengan kedua bola matanya yang masih menatap layar ponselnya. Dan mereka bertiga terus saja bergosip membicarakan orang yang tidak aku ketahui dan tidak aku kenal.
"Berarti yang selingkuh suamimya dong?" Kimmy menebak menambahi.
"Bisa jadi, kan si suami termasuk kaya. Lu tahu lah ya sama tiga pusaka lelaki." Vanilla kembali membuat spekulasi yang tidak jelas.
"Apaan?" tanya Kimmy.
"Dih, masa lu gak tahu?" tanya Jessica pada Kimmy.
Kimmy sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat, seraya dahinya yang mulai mengerut akibat kebingungan.
Jessica dan Vanilla saling menoleh dan menatap. "Harta, tahta dan wanita." Mereka berdua serempak mengatakan itu.
Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar perbincangan mereka. Lagi pula aku juga tidak mengenal siapa itu Natasha yang sedang mereka bicarakan. Kemudian mereka kembalinlagi membicarakan semua itu di saat ponselku tiba-tiba berbunyi.
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
__ADS_1
Segera aku merogoh saku blazer-ku lau melihat nama Dave yang tertera pada layar ponselku. Kemudian aku meminta izin kepada mereka bertiga untuk menerima panggilan telepon ini.
"Hallo?" sapaku sambil beranjak berdiri, melangkah menjauhi teman-temanku yang terus saja asik bergosip.
Dave menghubungi ku hanya sekedar ingin menanyakan apa yang sedang aku lakukan saat ini, sebab ia beberapa kali mengirimiku pesan singkat dan tidak ada balasan dariku. Hingga itu membuatnya khawatir. Aku tertawa mendengar itu.
Kemudian Dave juga memintaku untuk melakukan makan siang harinini bersamanya. Dan aku menyetujuinya. Sebab sudah dua hari terakhir ini, dia tidak bisa menjemputku di pagi hari untuk berangkat bekerja bersama, karena ada urusan penting katanya.
"Oke, jam dua belas tepat ya? Bye. Muaach!" Aku mengakhiri sambungan telepon itu.
Sambil tersenyum-senyum, aku kembali duduk pada kursiku dan segera menyelesaikan tugasku. Tidak lagi aku dengarkan kebisingan mereka serta celotehan mereka tentang semua itu. Otakku hanya terfokus pada pekerjaan yang sedang ada di hadapanku saja. Agar cepat terselesaikan.
***
Akhirnya waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Aku bergegas untuk membereskan pekerjaanku dan segera mematikan komputer yang ada di hadapanku.
Setelah semuanya selesai, aku segera berdiri mengambil coat-ku dan juga tasku. Lalu beranjak pergi, segera berjalan menuju ke lantai bawah dan menunggu Dave datang.
Nyatanya Dave sudah lebih dulu datang hingga membuatku akhirnya langsung menuju ke mobilnya. Masuk lalu mengenakan safety belt.
"Hai," sapaku seraya menarik tali safety belt.
"Hai, mau makan apa siang ini?" tawarnya padaku. Tapi yang aku lakukan malah mengintip kursi jok belakang dan benar saja, aku melihat jas nya sudah berada di sana.
"Terserah kamu aja mau makan apa." Akhirnya aku menjawab, yang kemudian diiringi dengan senyuman.
Tak perlu menunggu lebih lama lagi, akhirnya Dave segera menginjak gas mobilnya kemudian melesat pergi melintasi jalanan ibukota. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke tempat yang Dave inginkan. Ya, selama di sini, selalu Dave yang menentukan ke mana dan di mana kami akan makan ataupun duduk untuk menghabiskan waktu. Sebab aku benar-benar belum hafal seluruh wilayah di kota ini.
"Why?" tanyaku penasaran saat melepaskan safety belt.
"Because it is one of the typical English food. Sejarahnya dulu di lautan inggris tiba-tiba kelimpahan jumlah ikan yang banyak, sehingga kelas menengah ke bawah bikin ikan goreng tepung sebagai makanan setiap hari." Dave menjelaskan kemudian turun dari mobilnya, begitupun dengan aku.
Sambil berjalan menuju tempat makan yang di maksudkan oleh Dave, dia menjelaskan jika dia akan membawaku untuk mendatangi sebuah tempat makan dengan 'fish and chips' sebagai menu utama restoran tersebut.
Tempat makan yang kami tuju merupakan pemenang award fish and chips terbaik nasional tahun 2014, yang juga salah satu resto fish and chips paling sepuh karena sudah buka dari tahun 1952. Namanya POPPIES.
Begitu mendekati tempat itu harumnya ikan goreng langsung merasuk ke dalam rongga hidungku. Membuatku seakan hanyut dalam aroma harumnya dan membuatku rindu dengan kampung halaman sendiri. Saat memasuki tempat itu Interiornya didesign ala ala vintage tahun 50-an lengkap dengan foto-foto lama di dinding dan jukebox di ruangan. Sangat menarik. Terkesan classy dan unik.
Saat menu makan siang kami datang pun, sangat membuatku terkejut. Porsi yang disediakan sangat besar dan ... banyak!
"Astaga! Besar banget. Aku gak habis kalo kayak gini," seruku. Belum memakannya saja aku sudah kewalahan melihat ukuran ikan goreng yang tersaji di atas piring di hadapanku. Namun Dave hanya terkekeh melihat reaksiku pada menu makan siang kali ini.
"Makan aja, pasti habis, enak kok itu!" ucapnya santai lalu memulai makan siangnya.
Kami kembali menikmati waktu-waktu kebersamaan saat berdua. Membicarakan banyak hal, saling bertukar cerita. Namun Dave selalu saja menghindar jika aku menanyakan tentang keluarga, tentang kehidupannya. Dia seakan tertutup untuk menceritakan tentang lingkungannya.
Oleh karena itu, tak banyak yang aku ketahui tentang kehidupannya sebelum bertemu denganku. Bahkan untuk menceritakan siapa wanita yang dulu bersamanya sebelum aku pun, dia tidak mau. Ujarnya, itu hanya sebuah kenangan yang hanya akan menjadi kenangan diri sendiri. Bukan untuk diceritakan kepada orang lain. Sebab dalam sebuah kenangan, ada sebuah pengalaman yang sudah berhasil di pelajari.
__ADS_1
Ya, begitu lah Dave. Semakin hari aku semakin mengerti dengan caranya berpikir, caranya memandang dunia yang membuatnya bisa sukses hingga saat ini. Katakan saja begitu, dia memang terbilang sukses untuk dirinya sendiri.
Lagipula untuk menjadi seorang lelaki yang mapan secara finansial itu sangat sulit bagiku. Belum lagi untuk mempertahankan bisnis itu sendiri. Aku kagum padanya. Kagum pada apa yang telah ia raih di usianya saat ini.
Usiaku dan Dave memang terbilang cukup jauh terpaut. Sekitar tujuh tahun. Jadi bisa di katakan saat ini umurnya sudah menginjak kepala tiga. Tetapi jika di bandingkan dengan raut wajah dan penampilannya saat ini, semua itu tertututi dengan apik.
Awalnya saja, aku mengira Dave berumuran yang setara denganku atau Julia, kepala dua. Tapi begitu semakin dekat dengannya, dia mau memberitahukanku.
Berbulan-bulan aku Dave menjalin kasih layaknya pasangan normal lainnya. Tidak ada bedanya. Bahkan saat aku sudah resmi kembali menjadi pengangguran pun, Dave masih sering mengajakku untuk makan siang bersama atau bahkan makan malam bersama.
Hampir setiap hari kami lalui bersama, tak terkecuali saat malam. Yah, tidak setiap malam kami habiskan waktu untuk bercinta. Aku semakin membatasi kegiatan itu. Sebab awalnya aku benar-benar sudah merasa kecanduan untuk terus melakukan hubungan seperti itu.
Awalnya menurutku itu menyenangkan, tetapi semakin lama aku semakin bosan dengan caranya memperlakukanku di atas ranjang. Sehingga aku memutuskan untuk mengurangi kegiatan itu. Agar hubunganku dengan dia juga bisa bertahan dengan lama.
Dua bulan setelah resmi menyandang predikat pengangguran dan juga bukan anak kuliahan, akhirnya aku bisa kembali merasakan duduk di bangku perkuliahan lagi. Tidak seharian berada di kamar apartemen saja.
Merasakan kembali bangun pagi hanya untuk mendengarkan dosen berbicara yang disempurnakan dengan mendapatkan banyak sekali tugas rumah. Dave juga jadi semakin sering mengajakku berkeliling di kota ini. Bahkan empat hari yang lalu, ia mendatangiku ke kampus untuk menjemputku yang sudah selesai kuliah.
BLAM!!
Aku menutup pintu mobilnya dan meletakkan tasku di kursi belakang. "Hah!" Aku mengembuskan napas dengan kasar setelah sebelumnya menarik napas dengan begitu mendominasi.
"Capek? Atau banyak tugas?" tanyanya.
Aku meliriknya, "Both!" Lagi-lagi aku mengembuskan napasku.
Dave langsung mengacak-acak rambutku kemudian ia kembali melajukan mobilnya, melintasi jalanan kota London di siang hari. Semakin sering ia mengajakku jalan-jalan mengelilingi kota London, semakin membuatku sedikit demi sedikit menghafal jalanan di kota ini.
"Kali ini kita mau ke mana?" tanyaku di sela-sela kemalasanku untuk duduk tegap di sampingnya.
Dave melirikku sekilas sebelum akhirnya ia kembali fokus pada setir kemudinya dan memerhatikan jalanan di depan. "Borough Market," ucapnya lengkap dengan aksen khas penduduk di sini.
Aku terkekeh geli.
Ini adalah kali keduanya Dave mengajakku ke tempat itu. Dulu Dave juga pernah mengajakku tapi hanya sebentar, saat kami kebetulan lewat dan mencari buah strawberry. Saat itu aku juga mencium aroma wangi dari salah satu penjual di sana, yaitu duck confit sandwich di Le Marche du Quartier.
Dengan harga yang cukup murah, aku bisa menikmati lapisan daging bebek di antara garingnya roti. Rotinya mereka menggunakan jenis ciabatta, jadi agak crunchy, ditambahkan french mustard and arugula. Sungguh surganya makanan.
"Gimana, enak?" Dave penasaran sebab sejak gigitan pertama, aku hanya diam saja. Asik mengunyah tanpa berkata apa-apa. "Babe!!" serunya yang memaksaku untuk menoleh padanya.
"The taste is finger licking good!" seruku tak kalah bersemangatnya. Dave tertawa terbahak-bahak mendengar komentarku saat itu.
Bagaimana tidak? Daging bebek yang begitu halus dan lembut saat di gigit, benar-benar memanjakan lidah. Ditambah lagi dengan bumbu andalannya yang membuat rasanya semakin luar biasa. Tidak kuhiraukan lagi bagaimana caraku menikmati makan satu itu. Berantakan tetapi puas dan nikmat. Ambigu? Yah, nyatanya memang seperti itu, haha!
Dave berhasil mendapatkan slot parkir, finally. Sebab sejak beberapa menit yang lalu kami kesulitan untuk mendapatkan parkir di wilayah ini. Pasalnya Burough Market yang lokasinya di Central London, berdekatan dengan Metro London Bridge. Dan bukan dekat lagi, tapi letaknya berhadapan.
Tempat ini juga sudah berdiri selama lebih dari 1000 tahun! Seriously! Film-film top dan popularnya Hollywood seperti Harry Potter dan Bridget Jones pun pernah syuting disini. Aku saja tidak pernah merasa bosan jika Dave mengajakku ke sini. Selalu ingin lagi dan lagi.
__ADS_1
Aku dan Dave terus mengelilingi tempat itu. Mencoba berbagai macam makanan yang ada. Hingga tak terasa waktu dua jam kami lewati dengan begitu cepatnya. Aku tidak perlu kembali lagi ke kampus, sebab tidak ada lagi mata kuliah yang wajib aku ikuti. Oleh karena itu, setelah dari market food terbesar di jantung kota London, Dave kembali mengajakku untuk ke tempat lainnya.
Dave benar-benar membuat aku menghafal seluk beluk kota ini dengan sangat baik. Dia tidak hanya membuatku jatuh hati padanya tetapi juga membuatku mencintai kota ini dengan segudang cerita sejarahnya.