Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 48


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dave POV.


Begitu sampai di apartemen, aku memutuskan untuk segera pergi ke dapur dan membasahi wajahku di wastafel. Sebagai penyegaran diri. Lalu mengambil sebuah botol minum dari kulkas dan membawanya ke ruang tamu.


Menghela napas lalu menelan sedikit demi sedikit minuman itu sambil memerhatikan ruang tamuku yang berantakan. Pikiran ini melayang seketika, memikirkan kembali bagaimana keadaan Lisa saat ini. Apa yang sudah terjadi dengannya dan apa yang dikatakan oleh wanita ja*ang itu pada Lisa. Saat ini tubuhnya pasti masih lemah tidak bertenaga di luar sana.


Aku meremat rambutku begitu keras, tetapi tidak aku rasakan nyeri di kulit kepalaku. Yang ada malah terasa tambah semakin pening di dalamnya. Saat ini, otakku memang hanya memikirkan Lisa. Tidak ada yang lain. Sambil bersandar pada sofa dan memejamkan kedua mataku, aku hirup oksigen dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan.


🎶


I said I'd catch you if you fall


And if they laugh, then **** 'em all


And then I got you off your knees


Put you right back on your feet


Just so you could take advantage of me


🎶


Lantunan lagu dari Hasley yang berjudul Without Me itu mengalun indah pada ponselku yang ada di dalam saku celanaku. Segera aku merogohnya tanpa mengubah posisi dudukku lalu membuka mata untuk melihat siapa yang sedang menelponku itu.


Sebuah nomer yang tidak aku kenal. Spontan aku menegakkan dudukku lalu berpikir sejenak. Berharap telepon ini adalah dari Lisa yang memintaku untuk menjemputnya. Ya, aku mengharapkan itu.


“Hallo?” jawabku perlahan. Aku memang sedang menantikan telepon dari Lisa, tetapi yang aku dengar malah sebaliknya.


“Hai, Dave. Ini aku Mike. Kenapa kamu batalkan acara makan malam kita? Aku sudah berdandan khusus untuk bertemu dengan wanitamu!” seru lelaki di seberang sana yang kemudian membuatku kembali malas begitu saja, tidak bertenaga.


Ya, dia adalah Mr. Mike Lewis, pelanggan furniture-ku yang beberapa hari lalu mendatangi exhibition yang diadakan di salah satu sudut kota kecil di kota ini. Dan baru tadi pagi Leo mengabarinya, jika aku menerima undangan makan malam darinya.


Tetapi tepat beberapa jam yang lalu, aku malah meminta Leo untuk membatalkan acara itu. Bukan tanpa alasan aku melakukan itu. Semua karena Lisa yang harus dirawat di rumah sakit dan sekarang tiba-tiba saja dia menghilang.


“Ah ... maafkan aku. Sepertinya kali ini aku tidak bisa, sebab kekasihku ... kami ada sedikit masalah. Dan aku pusing memikirkannya.” Aku berusaha tetap sopan menolak ajakannya itu.


“Oh ayolah, Dave! Tanpa kekasih kamu pun tidak apa-apa. Kamu sungguh tidak menghargai usahaku untuk berdandan malam ini ya?”


Aku semakin tidak nyaman saat beliau mengatakan kalimat itu. Dan lagi aku takut semua ini akan berdampak pada perusahaanku. Pada barang yang beliau pesan beberapa hari kemarin. Nominalnya cukup besar bagiku.


“Baiklah ... baiklah. Tapi aku akan datang sendiri, jika Anda tidak keberatan.” Akhirnya aku mengalah dan menerima kembali undangan makan malam itu.


“Tidak apa, kita jadikan malam ini untuk kita bersenang-senang sebelum besok aku kembali ke kotaku.”


Setelah perdebatan panjang itu, aku segera berpamitan untuk bersiap menemuinya di salah satu restoran ternama di kota ini. Walaupun hatiku terasa sangat kacau dan tidak mendukung perjamuan ini. Tetapi aku juga tidak ingin mempertaruhkan kepercayaannya hanya karena aku menolak makan malam.


Dengan malas, aku segera berdiri lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan juga bersiap pergi untuk melakukan jamuan makan malam ini.


'Andaikan Lisa ada di sini sekarang, aku tidak hanya akan mengenalkannya pada Mr. Lewis tetapi aku akan meminta untuk bekerja sama dengannya lalu memberikan saham itu kepada Lisa. Untuk masa depannya nanti,' pikirku dalam hati.

__ADS_1


Selesai bersiap aku segera turun dari kamarku lalu menuju lobby, meminta seseorang untuk membersihkan apartemenku yang kacau-balau itu. “Iya, saya harap sebelum saya pulang nanti malam, kamar saya sudah kembali seperti semula.” Aku berkata pada dua wanita yang sedang berjaga di balik meja receptionist itu.


**


Sesampainya di salah satu restoran di kota ini, yang bernama Ting Restaurant and Lounge di salah satu gedung hotel Shangri-La, aku langsung diantarkan menuju sebuah meja yang memang telah Leo pesan atas namaku di sana. Dengan segelas red wine pembuka, aku duduk sendiri sambil menikmati minuman itu. Menunggu Mr. Mike Lewis tiba kemari.


Pemandangan di luar dinding kaca itu sangatlah indah. Mengarah langsung ke pusat jantung kota London. Dengan hamparan sungai Thames dan London Bridge yang menjadi fokus utama, semakin membuat restoran ini terasa romantis.



Lagi-lagi aku kembali mengingat tentang betapa manisnya kemarin malam saat Lisa bersamaku. Kami baru saja berbaikan, yang mana penyebab permasalahannya karena Tasha. Lalu kali ini, tetap dengan penyebab yang sama, tetapi lebih parah dari sebelumnya.


Berkali-kali pula aku merutuki kesalahanku yang terlalu memperlambat penjelasan padanya. Serta kelalaianku untuk meninggalkannya sendiri di dalam apartemen tanpa pengawasan. Aku sungguh bodoh.


“Hei, Dave!!” tegur seseorang yang membuatku menoleh dan mendapati Mr. Mike Lewis sudah berdiri di depanku. Aku berdiri untuk menyambutnya lalu memeluknya sekilas.


Beliau kemudian segera duduk berhadapan denganku. Seharusnya yang duduk berhadapan dengan beliau adalah Lisa dan aku di sebelahnya. Sebab malam ini rencananya aku juga akan melamarnya. Dan Mr. Lewis sebagai saksi kami, karena kami sama-sama tidak memiliki orang tua lagi. Dan bagiku Mr. Lewis sudah cukup untuk aku anggap sebagai orang tuaku.


Namun seketika rencana itu buyar begitu saja, aku tersenyum tipis, menertawakan hidupku saat ini yang rasanya, baru saja aku meneguk manisnya madu kehidupan. Kini sudah kembali diperlihatkan dengan pahitnya ampas kopi yang tetap harus aku nikmati.


“Sudahlah. Wanita memang rumit jika sedang dalam sebuah masalah. Kita sebagai lelaki hanya perlu untuk memberikannya waktu kalau perlu berikan jarak. Agar mereka tahu bagaimana rasanya merindu,” ucapnya santai yang kemudian tertawa.


'Andai saja bisa semudah itu, pasti akan aku lakukan,' bisikku dalam hati.


Hanya dengan sebuah seringaian tipis aku membalasnya. Lalu kami mulai memesan makan malam dan menikmati waktu yang berlalu dengan sangat begitu lambat, bagiku.


“Sayang sekali kekasihmu itu tidak dapat ikut kemari. Padahal kamu sudah menyediakan tempat seperti ini. Sangat romantis dengan pemandangan London Bridge pada malam hari.” Mr. Lewis terus saja menggodaku.


“Maaf tetapi sesuai request table pertama—”


“Ah, iya, aku minta maaf. Tinggalkan saja, terima kasih,” sahutku menyela ucapan pelayan itu lalu memintanya meninggalkan desert yang memang sengaja aku pilih untuk Lisa, pada awalnya.



Kemudian Mr. Lewis menanyakan tentang dessert itu, lalu aku menceritakan awal rencanaku padanya untuk malam ini, beserta rencanaku untuk melamar wanita itu, melamar Lisa malam ini di depannya.


“Aku minta maaf sudah membuatmu kembali bersedih, Dave. Seharusnya kamu bahagia malam ini,” simpatinya padaku.


Sebuah senyuman terpaksa kembali aku tampilkan di wajahku untuk Mr. Lewis. “Tidak apa-apa, semoga saja besok keadaannya semakin membaik dan kami bisa kembali bersama,” ucapku yang sekaligus harapan bagiku.


“Ya betul. Dan jika sudah seperti itu, langsung saja lamar dia dan nikahi. Sudah saatnya kamu kembali bahagia. Buatlah anak sebanyak mungkin agar istanamu selalu ramai.”


Aku mengangguk mendengar nasihatnya. Mr. Mike Lewis memang sungguh bijaksana, tidak salah pula aku menganggapnya sebagai orang tuaku, walaupun sebenarnya tidak pernah aku sampaikan padanya tentang anggapanku itu.


Malam semakin larut, dia semakin bersemangat menceritakan kehidupan pribadinya saat aku meminta tips-nya, tentang bagaimana caranya kembali memenangkan hati seorang wanita yang sudah aku kecewakan.


Beliau dengan senang hati membagikan pengalaman hidupnya. Bahkan untuk urusan di ranjang dengan istrinya saja, beliau tidak malu untuk menceritakannya padaku. Membuat aku sedikit merasa terhibur kali ini. Membuat aku merasa tidak sia-sia untuk tetap pergi makan malam dengannya.


Hingga tiba-tiba saja ponselku kembali berdering.


🎶


I said I'd catch you if you fall

__ADS_1


And if they laugh, then **** 'em all


And then I got you off your knees


Put you right back on your feet


Just so you could take advantage of me


🎶


Segera aku meminta maaf pada Mr. Lewis untuk melihat siapa yang menghubungiku saat larut malam seperti ini. Lagi-lagi aku mendapati nomer telepon yang tidak dikenal menghubungiku. Awalnya aku kembali ragu untuk menerima telepon itu, sampai akhirnya aku meminta izin untuk menerima sambungan telepon tersebut pada Mr. Lewis, beliau mengizinkannya.


“Hallo?” sahutku begitu selesai menggeser tombol hijau pada layar kaca ponselku, tanpa bergerak menjauh dari tempat dudukku saat ini.


“Hai, ini aku Athria. Wanita yang menghuni kamar sebelah dari Lisa. Dia sudah kembali saat ini bersama temannya.”


“Benarkah?” ucapku spontan seraya berdiri. Terkejut sekaligus merasa bahagia karena sudah mendapatkan informasi tentangnya. “Apa dia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?”


“Iya, dia kelihatannya baik-baik saja, hanya beberapa luka pada wajahnya. Dan dia baru saja meminta kunci cadangan untuk kamarnya. Katanya hilang,” jelas wanita di seberang sana.


“Apakah temannya yang mengantar itu seorang pria?” tanyaku penasaran.


“Bukan, hanya dua orang wanita yang kemungkinan umurnya sebaya dengannya. Ya sudah, aku hanya ingin mengabarkan itu saja.”


“Baiklah. Terima kasih, sekali lagi terima kasih banyak. Aku akan segera ke sana.” Kemudian aku memutuskan sambungan telepon itu dengan sebuah perasaan yang tidak mampu aku jelaskan.


Namun, tiba-tiba saja Mr. Lewis tertawa terbahak-bahak setelah aku selesai menerima sambungan telepon itu. Membuatku merasa aneh lalu kembali duduk pelan di depannya. Membiarkan hingga tawanya sedikit mereda lalu bertanya, “Apa ada yang lucu?” tanyaku bingung.


“Iya, tentu saja ada yang lucu. Apa kamu menyewa seorang detektif untuk memata-matai gerak-gerik kekasih kamu itu?” tuduh beliau.


Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, menyanggah ujaran Mr. Lewis yang tidak masuk akal bagiku itu. Lagi pula, apa harus aku melakukan itu untuk seorang wanita?


Benar, aku memang mencintainya, tapi apa itu artinya aku juga harus selalu mengintainya?


“Tidak, untuk apa aku memata-matai kekasihku?” sanggahku.


“Hei, jangan salah! Aku melakukan itu untuk istriku. Sebab dia terlalu cantik dan aku takut dia diganggu oleh lelaki lain atau dia menggunakan kecantikkannya untuk berselingkuh dariku,” aku Mr. Lewis dengan lugas.


Apa aku juga harus melakukan itu pada Lisa?


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2