
Happy reading π
βββββ
Max POV.
Aku sengaja memilih keluar dari apartemen Lisa. Padahal waktu masih menunjukkan pukul dua belas siang di sini. Aku hanya tidak ingin jika hati ini tiba-tiba kembali merasakan desiran yang berbeda seperti dulu.
"Aku tidak boleh merasakan perasaan itu lagi," gumamku sambil menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, mencoba untuk mengelilingi kota London.
Kota ini tidak berubah tetap sama seperti beberapa tahun yang lalau saat aku seusia Tika sekarang. Papah membawaku berlibur ke sini bersama mamah. Menikmati euforia saat musim dingin di sini. Aku masih bisa mengingat jelas bagaimana liburanku saat itu.
Dengan bantuan GPS yang terpasang pada mobil sewaan ini, membantuku untuk melalui jalan-jalan sempit yang dulu pernah aku lewati. Seakan bernostalgia dengan kepingan ingatanku yang mulai memudar. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari sebuah alamat.
Bukan alamat rumah seseorang atau alamat tempat objek wisata, melainkan alamat sebuah bangunan yang merupakan cabang perusahaan papah. Reza juga mengirimkan padaku bagaimana ciri bangunan dan namanya.
'Sekarang aku sudah berada di jalan yang tepat. Mungkin aku harus berjalan kaki untuk mencarinya,' batinku.
Akhirnya aku memutuskan untuk membelokkan kemudi, memasuki sebuah basemen gedung hanya untuk parkir. Lalu berjalan keluar menyisiri jalanan tersebut untuk mencari perusahaan papah hingga aku temukan sebuah bangunan dengan nama Adiya Group Corp.
"Apanya yang bangunan kecil, ini sih gede! Gede banget!" seruku di pinggiran jalan sambil mempersiapkan kamera ponselku untuk memoto bangunan itu.
"Bagus ya bangunannya, unik." Suara seorang wanita sekonyong-konying mengucap di sampingku.
Belum sempat aku memoto bagunan itu, aku sudah menurunkan kembali kamera ponselku dengan mata yang menatap wanita itu. Awalnya aku merasa ragu untuk berucap tapi setelah kupikir-pikir lagi, boleh juga nih cewe buat nemenin jalan di sini. Aku berpikir demikian.
"Indonesian?" tanyaku dengan bodoh. Ya jelas saja Indonesian, bukannya tadi dia udah ngomong bahasa Indonesia, pake ditanya lagi!!
Wanita itu tersenyum, kemudian berbalik melanjutkan langkah kakinya. Berjalan menjauh dan semakin menjauh. Entah mengapa aku tidak mengejarnya, aku malah sibuk terkagum-kagum dengan senyumnya dan hanya memandanginya dari belakang. Hingga akhirnya ia menghilang di tengah kerumunan manusia.
Di saat ia menghilang, baru lah aku sadar. Bodoh!
Aku menghela napas. Oke, mari kita lupakan wanita Indonesian yang membuatku tersepsona eh terpesona tadi.
Kemudian aku tetap melanjutkan tujuanku untuk masuk ke dalam perusahaan papah itu. Menyeberangi jalanan dengan sangat hati-hati. Begitu aku memasuki bangunan kantor itu, betapa terperangahnya aku melihat arsitektur di dalamnya. Sungguh masterpiece!
Decak kagum tidak pernah berhenti terucap dari mulutku, "Waah! Gila! Keren ini. Kereen!!"
Kemudian dengan gesit aku langsung mengambil beberapa gambar dengan menggunakan kamera ponselku. Lalu tak berapa lama kemudian seseorang datang menghampiriku. Seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian yang sungguh rapi, lengkap dengan setelan tuksedo-nya.
"Excuse me, can I help you?" Lelaki itu menyapaku dengan sopan.
"Oh thank you, I just want to look around this building. Because from the outside, this building looks good." Aku memberi alasan.
"Of course, please!" Lelaki itu mempersilakan.
Aku kembali melanjutkan menjelajahi bangunan ini. Menurut informasi yang aku dapatkan dari Reza, bagunan ini sengaja di buat oleh papah dan om Rizal untuk memperingati ulang tahun perusahaan yang ke sepuluh dulu.
Lalu dalam dua tahun bangunan ini berhasil di resmikan, yang mana saat ini bangunan ini sudah menjadi cabang perusahaan papah. Itu artinya bangunan ini milikku, milik keluargaku.
Semakin aku melangkahkan kakiku memasuki ke dalam gedung ini, mataku semakin di buat melihat keindahan arsitektur yang sungguh luar biasa. Tatanan dan sentuhan bentuk yang tersaji di depan mataky benar-benar memukau. Beberapa kali aku lupa untuk mengambil gambar sebab karena sibuk mengagumi semua yang aku lihat. Sampai pada akhirnya aku berdiri di meja resepsionis.
Ting!!
__ADS_1
Terdapat sebuah bel di sana, aku menekannya. Mataku terus saja menyusuri sekelilingku sembari menunggu orang yang menjaga meja itu muncul.
"Sorry, can I help you?" Suara seorang wanita di belakangku terdengar sangat lembut dan sangat tidak asing di telingaku. Aku segera berbalik dan yap!! Benar, wanita yang berdiri di balik meja resepsionis itu memang aku kenali.
"Indonesian! Welcome!" serunya sambil menggerakkan kedua bahunya, terlihat sangat friendly.
Wanita itu adalah wanita yang aku temui saat di pinggiran jalan, di seberang bangunan sana. Tepat saat aku ingin mengambil gambar bangunan ini secara keseluruhan. Dan dari name tag yang tersemat pada pakaian seragamnya, aku ketahui wanita ini bernama, "Arabella Anjani," sebutku.
"Yups!! That is my name," ucapnya sambil tersenyum.
"Lalu aku panggil Arabella atau Anjani?"
"Bella, call me Bella." Wanita itu begitu lembut dan auranya begitu terpancar. Yah, mungkin istilahnya aura atau apalah itu namanya. Yang jelas aku merasakan ada yang berbeda dengan wanita ini. Sejak pertama kali dia menegurku di seberang jalan tadi.
"Oke, Bella. Kerja di sini?" tanyaku lalu melipat kedua tanganku di atas meja resepsionis ini lalu menyangga kepalaku di sana.
"As you can see, this is my job. Lalu ada yang bisa aku bantu?" tawarnya sambil menatapku dengan kedua bola matanya yang bersinar. Sungguh bersih dan berkilau. Aku seakan terhipnotis dengan kedua bola matanya, hidungnya yang mancung, alis matanya yang hampir bertaut. Bulu matanya yang panjang dan lentik semakin memperindah tatapan matanya. Kulit wajahnya yang halus dengan polesan make-up yang begitu tipis dan tentu saja semakin indah dengan bibirnya yang kini terpoles lipstick berwarna merah merona. Berani dan ... seksi.
"Helloo?" sapanya dengan lambaian tangan itu membuatku tersentak, tersadar dari lamunanku yang kembali membawaku ke bumi.
Kulepaskan tanganku dari meja resepsionis lalu berdiri dengan tegap. Berdeham beberapa kali sebelum aku mengatakan jika ingin melihat bangunan ini atas memo dari Reza.
"Aku mau keliling liat bangunan ini dan ... ini izinnya." Aku menyodorkan sebuah surat yang kuambil dari saku celanaku.
Bela melirikku saat ia sedang membuka surat beramplop itu. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana dulu."
Aku mengangguk lalu mataku kembali menatap ke sekeliling. Sedangkan Bella beranjak pergi, menghilang di balik pintu yang ada di belakangnya tadi.
Setelah aku diizinkan untuk masuk dan mengelilingi bangunan ini, ternyata Bella juga di tugaskan untuk menemaniku. Sebab dia juga mengetahui tentang di mana ruangan yang boleh di kunjungi dan mana yang tidak boleh. Sebab gedung ini juga memiliki privasinya.
'Ah, aku sudah menghayal yang tidak-tidak,' batinku.
βββββ
Lisa POV.
'Aku berharap mendapatkan kebahagiaan yang sempurna,' doaku dalam hati kemudian aku meniup semua lilin yang menyala di atas kue pemberian Tika.
Dia bersorak, aku tersenyum. Dia memelukku, aku tertawa. Kemudian Tika bangkit dari ranjang meletakkan kue itu di meja riasku. Lalu dia membuka pintu balkon kamarku, dengan pisau kue yang berbahan dari plastik di tangannya, ia kemvali meraih kue itu lalu mengajakku memakan kue itu di teras balkon sambil merokok. Aku segera melonjar dari tempat tidurku dan menyusulnya.
"Trus udah dua hari gak ketemu pacar, emang lu gak kangen apa?" tanya Tika padaku di sela-sela kegiatannya mengigit potongan kue di tangannya.
"Kangen lah. Tadi udah gua chat kok. Cuman kayaknya dia lagi sibuk. Jadi hapenga gak dinyalain." Aku menjawab pertanyaannya yang juga sambil mengunyah kue di tanganku.
Kue ulang tahun yang diberikan oleh Tika ini begitu enak dan lezat, aku menyukainya. Lalu kami menghabiskan sepanjang sore kami untuk bercerita dan bersenda gurau, duduk di balkon sambil menikmati sejuknya udara yang melintas.
Hari sudah semakin larut, langit yang tadinya cerah, terang benderang, kini sudah terganti menjadi gelap. Lampu-lampu di sepanjang jalan kini sudah menyala. Udara yang tadinya sejuk kini sudah berganti menjadi dingin. Yang mana akhirnya membuat aku dan Tika memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Kue ulang tahun tadi masih tersisa setengahnya, lalu Tika segera membawanya ke dapur dan menyimpannya kembali dalam lemari pendingin. Sedangkan aku menutup balkon.
Kemudian aku memutuskan untuk segera mandi dan membersihkan tubuhku yang sudah dua hari pula aku tidak mandi. Sementara Tika langsung kembali menyambar ponselnya lalu menempelkan benda itu di telinganya. Menelpon seseorang.
"Hallo? Di mana? Oh, trus kami makan malam gimana? Iiihh, ya udah sana! Awas pulang malam!" ucap Tika dengan wajahnya yang di tekuk. Membuatku penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Siapa? Kok cemberut gitu?" tanyaku yang kembali menghempaskan bokongku pada tepi ranjang.
Tika mendongakkan wajahnya lalu menoleh padaku, "Max. Dia masih sibuk. Dan gua laper."
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Tika itu. Dia memang benar-benar manja dengan kakaknya itu. Terlalu lucu!
"Ya udah, habis mandi kita jalan cari makan, sekalian gua ajak lu keliling London malam hari." Aku berdiri hendak meninggalkannya menuju kamar mandi tapi tiba-tiba Tika menarik ujung baju di belakangku. Aku pun menoleh.
"Serius? Lu udah gak sakit? Gua gak bisa nyetir mobil lu yang mewah itu."
Aku kembali tertawa, kali ini sungguh teramat lucu bagiku. Tika mengatakan tidak bisa menyetir mobilku, tetapi di rumahnya saja dulu berjejer mobil yang mewah juga. Ada Mercedes-Benz, Rolls-Royce, Mini Cooper dan banyak yang lainnya.
"Kok ketawa?"
"Jadi sampai sekarang lu masih belum belajar nyetir?" tanyaku dengan sisa tawaku dan itu membuat Tika mengangguk dengan polosnya.
Dan nyatanya, ya, Tika memang belum bisa menyetir mobil. Punya mobil mewah terparkir di garasi rumah, ternyata tidak lantas serta-merta bisa membuatnya menyetir mobil.
"Kenapa?"
"Max belum izinin," jawabnya kesal.
'Enaknya punya seseorang yang melarang seperti itu,' batinku.
Aku hanya menyeringai lalu segera beranjak berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan seluruh tubuhku.
Setelah aku selesai mandi, kini giliran Tika yang membersihkan dirinya. Sembari menunggunya mandi, setelah aku selesai berpakaian, aku kembali menuju balkon. Dengan membawa ponselku dan juga sebatang rokokku. Aku menyulut rokok itu.
Kembali membuka ponselku, lalu menekan nomer telepon Dave. Tidak aktif. Ponselnya tidak dapat aku hubungi.
Apa Dave marah padaku?
Apa saat itu sikapku terlalu kekanak-kanakkan?
Aku mengembuskan napasku lalu kuputuskan untuk meninggalkan sebuah pesan singkat padanya, siapa tahu nanti ponselnya kembali aktif dan ia bisa segera mendapatkan pesanku.
'Babe, i so sorry and i miss you now ....'
Bersambung ...
βββββ
Happy fasting ...
And happy reading ...
Jangan lupa subsrek (love, like, kasih ratting trus tinggalin komentar)
Folow my Instagram @bossytika
With love,
#salambucin! π
__ADS_1
Thanks.