Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 3


__ADS_3

Still Lisa POV.


Awalnya, kami makan dengan suasana kondusif. Tapi secara tiba-tiba saja Tika mengoceh, menanyakan berbagai macam hal pada Max. Mulai dari Universitas terbaik, jurusan kuliah yang paling banyak diminati, pekerjaan yang pantas untuknya kelak dan masih banyak hal yang lainnya lagi. Membuat Max akhirnya harus menegur adiknya itu.


"Udah makan dulu deh! Nanti aja ngobrolnya, aku jadi gak bisa menikmati makananku sendiri ini." Max mulai protes, membuat Tika berdecak kesal sambil mencibir kakaknya itu.


Sedangkan aku hanya memperhatikan mereka berdua saja. Mengamati cara mereka berdua saling berinteraksi kemudian mendengarkan semua obrolan yang mereka bicarakan. Dari awal sampai sekarang. Begitulah diriku. Aku lebih banyak diam untuk mendengarkan mereka, lagi pula aku juga tahu diri. Walaupun ada kemungkinan Max juga menganggapku sebagai adiknya, tapi hal itu tidak merubah apa yang sudah otakku dapatkan.


Aku sungguh mengagumi semua hal dan apa pun yang menempel pada tubuhnya. Dia terlihat sempurna sebagai seorang lelaki. Bahkan dia bagaikan seorang pahlawan bagi Tika, bagiku juga. Sebab aku tahu, saat aku kehilangan kedua orangtuaku, dia lah orang pertama yang membiarkanku untuk terus bersekolah hingga saat ini. Dia yang meminta kepada tante Ida untuk meneruskan biaya sekolahku.


Ya, aku ingat betul kejadian itu.


Tepat seminggu setelah kepergian kedua orangtuaku. Mereka sekeluarga masih berkumpul di rumahku. Sampai suatu malam, saat aku hendak ke dapur, aku mendengar mereka yang sedang berbicara pada om Reza di halaman belakang rumah.


"Udahlah, Mah, kan sebelum om Rizal sama tante Sinta pergi ke Maldives, mamah udah janji sama mereka buat jaga Lisa. Kalau sudah gini, mamah harus tepatin janji mamah dong." Max mengatakan sebuah perjanjian yang di mana semua itu seketika harus terjadi.


"Gak apa-apa, Buk. Biarkan biaya sekolah Lisa menjadi tanggungan saya. Lagi pula, saya sudah sangat berterima kasih masih diizinkan untuk terus bekerja. Malah saya diberikan naik jabatan." Om Reza ikut berbicara saat itu.


Aku mendengar jelas semua obrolan mereka bertiga. Terlebih lagi saat aku mendengar bahwa biaya sekolahku ternyata tidaklah murah, sebab aku satu sekolah dengan Tika. Aku sempat shock mendengar kabar itu, rasanya tidak percaya dengan keadaan saat itu. Dan karena perkataan dari Max itu lah, akhirnya tante Ida setuju untuk menjadi wali-ku di sekolah dan menjadi penanggung jawab atas semua biaya yang akan dikeluarkan nantinya.


Itulah mengapa aku semakin hari semakin mengaguminya saja. Belum lagi semenjak aku rutin menginap di rumah mereka, dia baik sekali.


"Lis? Lisa?!" tegur Tika yang lalu menyenggol lenganku. Aku terkejut begitu kesadaranku kembali terkumpul lalu menoleh padanya. Menjawabnya dengan sebuah dehaman. "Gua tadi nanya, itu kentang boleh dong dibagi?"


Aku melongo mendengar pertanyaan Tika yang ... sebenarnya tidak terlalu penting, tapi mungkin penting baginya saat ini. Aku tersenyum lalu menyodorkan piring makanku padanya, agar ia dapat mencomot kentang goreng yang ia inginkan.


Entah mengapa aku merasa Max makan dengan secepat kilat, sebab makananku dan Tika saja belum selesai, tapi ia sudah berhasil menyelesaikan makanan yang ia pesan, bahkan piringnya terlihat rapi, maksudku bersih.


"Kalian makannya santai aja, aku mau ngerokok dulu," ucap Max lalu berdiri, melangkah menuju tempat cuci tangan. Lalu kembali lagi melewati meja kami dan keluar untuk menyulut rokoknya.


Secara diam-diam, mataku terus saja memperhatikan lelaki itu. Tubuh kekarnya, dadanya yang bidang, tengkuk lehernya yang proposional serta bibirnya yang tebal membuatku harus dengan susah payah menelan saliva-ku. Sungguh lelaki idaman.


Rasanya tidak rela jika mataku harus berkedip saat ini, kehilangan beberapa detik gerak-gerik darinya. Memerhatikan caranya menghisap rokoknya, lalu mengembuskan asap itu. Dengan cueknya Max memainkan benda tipis persegi panjang yang sekarang ditatapnya. Rasanya hati dan otakku tidak ada henti-hentinya untuk memujanya, selalu saja terpesona.


"Heh! Lu perhatiin abang gua ya?" tegur Tika tiba-tiba, aku terpekik lalu menjadi salah tingkah dibuatnya. Akibatnya membuat lidahku kelu untuk berucap, sedangkan Tika terus saja menggodaku menebak-nebak yang aku lakukan dan menghubung-hubungkannya dengan kakaknya yang gagah itu. Ya bener sih, gagah aku akui. Tapi tidak, Tika tidak boleh tahu jika aku mengagumi sosok kakaknya itu. Jangan!


Dengan susah payah aku memaksakan lidah dan mulutku untuk berucap. "Apaan sih? Enggak lah, orang tadi kebetulan aja liat keluar." Aku mengelak, tapi elakkan itu belum terlalu sempurna.

__ADS_1


Sedangkan Tika seakan tidak mau mendengar alasan apapun, dia terus saja menggodaku, menyenggol-nyenggol lenganku sambil mengatakan sorakkan 'ciee'.


"Ah elu mah alesan mulu! Bilang aja lu suka abang gua. Biar ntar gua bantuin," tawar Tika padaku.


Ucapannya itu seketika membuatku menoleh menatapnya, sedangkan yang ditatap seakan cuek, terus saja melahap kentang goreng milikku lalu mencocolkannya ke tempat saos yang kini ia pegang. "Mau sama abang gua?" ucapnya sekali lagi, kali ini diikuti dengan lirikkan matanya yang sungguh dapat memikat hati. Untungnya aku wanita normal, jadi tidak akan terpesona melihat matanya.


"Apaan sih? Engga kok! Gimana bisa ngeliatin doang jadi suka. Lu ada-ada aja deh!" Aku memberikan alasan. Kali ini sepertinya Tika membenarkan alasanku itu. Buktinya dia kembali menjadi diam dan tidak bersuara lagi.


Kemudian aku berdiri, beranjak dari dudukku menuju ke tempat pencucian tangan. Membersihkan tanganku di sana sekaligus bercermin, memerhatikan penampilanku. Selesai mengeringkan tangan pada mesin pengering tangan yang menempel di dindind sekitar sana, aku merogoh tas selempangku. Lalu mencari sesuatu di sana.


Ketemu! Lip balm!


Aku menggunakannya. Saat ini aku hanya mengenal benda ini sebagai alat perias wajah. Belum mengenal benda ajaib lainnya dan tidak mau mengenalnya. Karena yang aku tahu, benda-benda itu memiliki harga yang fantastis dan aku belum memiliki cukup uang untuk membelinya. Mungkin suatu saat nanti aku akan memiliku semua benda ajaib itu.


Sekali lagi aku mengecek penampilan di depan cermin, sudah oke menurutku. Kemudian aku kembali menuju tempat dudukku dan mendapati Tika yang masih mencoba menghabiskan kentang goreng di atas piringku.


Namun seketika aku terkejut, saat melayangkan pandanganku ke arah luar, tepat di mana Max berdiri sedang menikmati rokoknya. Tubuhku seolah membeku melihat lelaki itu sedang asyik bercengkrama dengan seorang wanita. Jika dilihat dari sosok wanita itu, mungkin dia lebih setara dengan umuran Max, dibandingkan dengan umuran aku dan Tika.


Lagi-lagi Tika menyenggol lenganku, membuatku harus terpaksa menoleh padanya. Dengan mulut yang penuh dengan kentang goreng dan sambil mengunyah, Tika mengatakan padaku jika kakaknya itu playboy. Bisa dengan mudah menggoda wanita lain bahkan wanita yang tidak dikenalnya sekalipun. Tika juga mengatakan jika Max bukanlah lelaki yang cocok untukku.


"Loh, kenapa gak cocok?" selidikku menanggapi pernyataannya itu.


"Lu liat aja tuh, dia tuh pecicilan," unjuk Tika dengan memonyongkan mulutnya lalu melahap lagi sisa kentang goreng yang ada. "Tapi ya kalo lu mau sama bandot tua kek dia yang kegatelan sih, silakan. Gua gak peduli! Paling yang ada ntar dia dikirain pedofil kalo jalan sama lu." Tika bersiap berdiri saat mengatakan kalimat terakhirnya. Dan seketika aku menoleh padanya, tapi dengan gesit ia tertawa sambil pergi berlalu.


Sambil menghirup orange jus-ku melalui sedotan, aku menatap kakak Tika itu. Yang sedang tergelak tawa berbincang bersama wanita di hadapannya. Seperti sedang membicarakan hal yang begitu menarik. Dan wanita itupun terlihat begitu senang.


Jika dibandingkan dengan aku, wanita itu memang lebih unggul, aku akui itu. Sebab tubuhnya begitu seksi dengan kaos putih dan celana jeans yang pas dan nyaman dipandang. Terkesan santai tapi juga feminim yang terlihat dari high heels serta dompet di tangannya. Belum lagi bagian bokongnya yang kencang, pinggangnya yang melekuk berbentuk serta bagian bukit kembarnya yang semakin membuat tubuhnya sempurna. Dan sialnya lagi, wanita itu menggunakan beberapa benda ajaib di wajahnya yang membuat wajahnya terlihat lebih segar tapi tetap natural. Aku berdecak kesal mengakui kekalahanku.


Hingga akhirnya Tika kembali datang lalu duduk di sampingku. Aku mengalihkan pandanganku menatap Tika yang sedang meminum lagi orange jusnya hingga habis dan menimbulkan bunyi di gelasnya. Kemudian ia menunjukkan senyuman gigu pep*sodent-nya padaku.


"Udah? Yuk balik!" ajakku padanya spontan. Tika melirikku lalu melirik kakaknya. Kemudian senyuman jahilnya kembali muncul.


"Lu cembokur yaaa Max ngobrol sama tu cewe?" goda Tika padaku. Dan itu benar! Lebih tepatnya kesal melihat Max bisa seakrab itu dengan wanita lain, sedangkan denganku tidak. Tidak lagi aku menyahuti perkataan Tika, tapi dia seakan mengerti jika suasana hatiku yang tiba-tiba berubah menjadi badmood.


Dia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh lalu berdiri, melangkah menuju pintu kaca yang menjadi sekat di antara ruangan ber-AC dan ruangan luar yang memang dikhususkan untuk smoking area. Tanpa membuka pintunya, Tika hanya mengetukkan jemarinya pada pintu itu hingga membuat Max menoleh lalu Tika memberikan tanda dengan menunjukkan jarinya ke arah jam tangannya. Membuat Max mengangguk lalu tersenyum sambil mengangkat tangan dan membalas Tika dengan gerakkan memperlihatkan kelima jari serta telapak tangannya. Tika dapat memahami isyarat itu lalu berbalik dan kembali duduk di sampingku setelah sebelumnya melemparkan senyuman lesung pipinya padaku.


Aku menghela napas lalu menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Melipat kedua tanganku di depan dada. Dengan tangan bersedekap, aku kembali memerhatikan tingkah laku lelaki yang berhasil membuatku merasa badmood seketika.

__ADS_1


Max memberikan ponselnya pada wanita itu, lalu wanita itu seperti sedang menekan-nekan layar kaca benda tipis tersebut kemudian mengembalikannya pada Max. Dia menerimanya kemudian melakukan hal yang sama, hingga sang wanita itu membuka dompetnya dan mengeluarkan benda tipis serupa dari dalam sana. Lalu mereka berdua saling bertukar senyuman. Hingga akhirnya Max melambaikan tangannya tanda perpisahan.


Dalam hati aku sungguh kesal melihat kejadian itu.


"Cooling down, Lisa. Cooling down!" gumamku saat melihat Max membuka pintu dan berjalan ke arah kami duduk.


"Lu ngomong apaan?" tegur Tika mengejutkanku. Spontan aku menggelengkan kepalaku lalu terpaksa memberikan senyumanku padanya.


Belum lagi Max menjatuhkan bokongnya pada kursi, Tika langsung mengajaknya untuk segera pergi dari sini lalu berdiri, menarik lenganku dan mengajakku berjalan beriringan dengannya sambil merangkul lenganku. Meninggalkan Max, yang sempat aku mendengarnya mengembuskan napas dengan berat.


Dari kejauhan Max membukakan kunci mobilnya secara otomatis, Tika kembali mendesakku untuk duduk di kursi depan. Sedangkan dia memilih kursi belakang. Dari dalam mobil aku dapat melihat Max yang berjalan dengan santai sambil meyipitkan kedua matanya, akibat sinar matahari yang sangat menyilaukan mata.


Dengan cepat Tika mengulurkan tangannya menekan tombol power engine mobil lalu memutar pengendali AC (bukan pengendali api kek cerita kartun yaa, hihihi) sesaat sebelum Max membuka pintu mobil dan masuk.


Aku hanya diam, sedangkan Tika masih saja dengan lihai menekan-nekan beberapa tombol di sana. Hingga ia menyalakan audio untuk mendengarkan beberapa lagu. Setelah selesai dengan keinginannya, barulah Tika duduk dengan manis di kursinga di belakangku. Lalu Max bersiap untuk menjalankan mobilnya.


Setelah keluar dari zona parkiran Mekdi dan memasuki jalan raya, tidak banyak yang terjadi. Semuanya terhanyut dalam pemikiran masing-masing. Suasana begitu sepi tanpa kata. Tanpa keramaian sebelumnya yang dilakukan oleh Tika. Semua tampak tidak seperti biasanya. Hingga akhirnya Max membuka suara, menanyakan pada adiknya, tentang ke mana lagi tujuan mereka setelah perut terisi penuh.


Entah Tika menjawab apa, aku tidak tahu, sebab aku tidak menoleh ke belakang untuk melihatnya, sedangkan Max bisa dengan mudah melihat ke posisi duduk adiknya dengan sekali lirikan pada cermin spion yang terletak di tengah atas yang menghadap kepadanya.


Aku kembali sibuk dengan beberapa persoalan yang ada di dalam otakku. Ditambah lagi kekesalanku yang tadi melihat Max dengan akrab bersenda gurau bersama seorang wanita. Sampai pada akhirnya, Tika tiba-tiba memunculkan wajahnya di antara tempat duduk kami berdua.


"Max!" panggilnya yang disahuti hanya dengan dehaman oleh kakaknya itu, sambil masih terfokus pada kemudinya.


"Yang tadi siapa?" Pertanyaan adiknya ini sontak membuat telingaku melebar. Aku segera menegakkan dudukku pada sandaran kursi lalu memasang telinga dengan benar. Mendengarkan dengan seksama jawaban yang akan keluar dari mulut lelaki pujaan hati.


"Yang mana?! Cewek tadi?" Max balas bertanya untuk memastikan arah pertanyaan adiknya ini sesuai dengan pemikirannya. Aku hanya mendelik pada Tika, sambil mengangkat tangan kiriku, meletakkan siku pada pintu mobil dan menyelipkan jemariku pada tengkuk leher bagian belakang. Bersiap mendengarkan pengakuan dari Max secara langsung.


"Iya, cewek seksi yang ngomong sama kamu tadi. Yang sambil ketawa haha-hihi." Tika menekan kalimat akhirnya sambil mencondongkan mulutnya ke depan telinga kakaknya.


Aku mencoba bersikap normal, seolah acuh pada obrolan sepasang kakak dan adik ini. Dengan arah pandangan mataku yang sengaja aku layangkan ke luar jendela. Aku benar-benar menunggu jawaban dari mulut Max, hingga tanpa sadar jantungku berdegup dengan kencangnya, seperti genderang mau perang~


Salah! Itu lagu. Oke kembali pada situasi saat ini.


Aku menghela napasku dengan hati-hati. Mencoba perlahan menenangkan detak jantung ini.


"Dia temen kuliah. Sudah lama gak liat, tahunya dia pindah fakultas." Jawaban dari Max itu seolah membawa angin segar untuk jantungku. Aku dapat bernapas dengan lega, pelan-pelan aku keluarkan dari mulut yang sengaja kukerucutkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Tika yang menjawabnya hanya dengan huruf 'O'.


Bersambung ...


__ADS_2