Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 23


__ADS_3

Dave POV.


Aku memilih membawa Lisa untuk pulang ke rumahku. Sebelum aku menjalankan mobilku, aku sudah mendapat dirinya yang tertidur. Sepertinya dia mabuk berat malam ini. Aku pasangkan safety belt-nya dan aku turunkan sedikit sandaran kursi mobilnya, agar dirinya merasa nyaman.


Memang benar aku tidak menemuinya atau bahkan tidak menghubunginya selama tiga belas hari ini. Sebab aku takut jika ia masih marah padaku. Dan aku harus menyelesaikan beberapa urusanku yang tertunda.


Tapi jangan salah, hampir setiap malam aku melewati bangunan bertingkat, tempat di mana ia tinggal. Hanya untuk memastikan, dia sedang ada di apartemen-nya atau tidak.


Sama sepeti malam ini.


Aku melewati gedung apartemen-nya. Lalu melihatnya yang berjalan keluar dari sana. Menuju lorong rel tube. Dan secara diam-diam aku mengikutinya menaiki kereta itu. Lalu berakhir hingga di restoran ini.


Sembari menunggunya keluar dari restoran itu, aku menghubungi Dana. Asistenku dalam perusahaan yang sekaligus juga merupakan adik kandungku. Aku memintanya untuk menyusulku ke restoran ini lalu bertukar mobilnya dengan kunci mobilku. Dan menyuruhnya untuk mengambil mobilku yang aku tinggalkan di daerah apartemen Lisa.


"Dih, kok gini sih? Trus aku ke sananya naik apa coba?? Udah malem gini ...," protess Dana.


"Naik tube. Nih kartunya, jalan aja terus ke sana ntar ketemu tangga ke lorong bawah, masuk stasiunnya." Aku menjelaskan sambil memerhatikan Lisa dari dari kejauhan. Ya benar, aku memerhatikannya dari salam restoran di seberangnya.


"Sudah sana," ucapku lagi sambil mengibaskan jemariku, isyarat untuk menyuruhnya pergi. Anak itu akhirmya menuruti perkataanku setelah mengatakan bahwa ia memarkirkan mobilnya di parkiran basement bangunan di sebelah restoran Lisa saat itu.


Di sepanjang perjalanan membawa wanita ini pulang. Pikiranku kembali melayang. Sambil sesekali menoleh ke samping, melihat Lisa yang masih saja terpejam.


Setelah sampai di dalam apartemen-ku, aku segera meletakkannya di atas ranjangku. Lalu meletakkan tasnya di atas meja, di samping tempat tidur. Aku juga menarikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya benar-benar memerah, sama seperti di saat pertama kali ia aku bawa ke sini. Entah apa yang sudah diminumnya.


Aku hanya membantunya untuk melepaskan heels yang ia kenakan. Sedangan pakaian yang melekat di tubuhnya tidak ada satupun yang aku sentuh. Bahkan coat-nya sekali pun. Aku sengaja membiarkan semua itu. Lisa masih terlelap saat ponselku berbunyi.


🎶


Thinking you could live without me


Thinking you could live without me


Baby, I'm the one who put you up there


I don't know why


Thinking you could live without me


Live without me


Baby, I'm the one who put you up there


I don't know why


🎶


Sebuah panggilan telepon dari adikku, Dana. Aku menggeser tombol berwarna hijau itu dari layar ponselku. Untuk menerima panggilan telepon darinya.


"Hallo?"


Dana memberitahukan bahwa ia sedang ada di basemen gedung apartemen-ku saat ini. Ingin menukar kembali mobilku dengan mobilnya. Sebab ia membutuhkan mobilnya saat ini juga.


"Gak bisa besok-besok apa? Iya udah tunggu gua ke bawah."


Akhirnya aku mengalah, lalu memutuskan untuk mengambil kunci mobil miliknya. Dan meninggalkan Lisa untuk menemui adikku itu di bawah.


"Nih," ucapku sambil melemparkan kunci mobilnya. Dana berhasil menangkapnya. Lalu ia menyerahkan kunci mobil milikku.


Di saat aku berbalik, hendak kembali melangkahkan kaki untuk menuju lift tiba-tiba Dana berkata, "Besok gua pulang ke Indo. Jadwal check-up."


Ucapannya itu berhasil membuat langkah kakiku terhenti. Lalu tanpa menoleh padanya, apa lagi menghampirinya, aku berkata, "Butuh duit? Nanti gua transfer."

__ADS_1


Setelah itu aku kembali melangkahkan kakiku, menekan tombol lift lalu memasukinya. Aku melihat wajah Dana sekilas yang memandangiku saat pintu lift perlahan tertutup.


***


Keesokkan paginya ...


Aku terbangun dengan pakaian yang masih lengkap. Karena tadi malam aku memang tidak melakukan apa-apa dengan Lisa. Begitu pun dengannya, ia masih tertidur pulas di sampingku dengan tubuhnya yang tertutupi selimut.


Wajah begitu manis saat tertidur. Diam-diam aku mengambil ponselku dari atas meja di samping tempat tidur. Lalu membuka aplikasi kamera foto. Dan mengambil fotonya saat tertidur beberapa kali. Tak terasa pipiku selalu saja mengembang, tersenyum tak jelas saat melihatnya atau pun sekedar untuk mengingatnya.


Setelah itu aku memutuskan untuk bangkit dari tidurku. Meletakkan kembali ponselku pada tempatnya semula. Lalu melangkah menuju dapur. Entah mengapa pagi ini aku ingin membuatkannya sarapan. Mungkin sepiring omelette akan bagus untuk mengisi perutnya yang kosong.


Sesampainya di dapur aku segera mempersiapkan segalanya. Namun di saat aku sedang asik mengocok beberapa telur lainnya untuk membuat seporsi lagi, tiba-tiba saja wanita yang tadinya sedang di ranjangku mengintip dari balik pintu kamarku. Menjembulkan kepalanya dengan sebelah tangannya yang mengucek matanya. Lucu.


"Morning ...," sapaku yang meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada wajan di depanku.


Sambil berjalan mendekatiku, "Morning too ...," sahutnya lalu menarik kursi dan duduk di depan meja kitchen set-ku. Menatapiku yang sedang memasak.


Sesekali aku meliriknya, ia memangku kedua tangannya di atas meja lalu menatapku dengan senyuman yang ... tidak bisa aku jelaskan apa maksud senyumannya itu. Seperti tersenyum tipis, sangat tipis. Lalu kedua bola matanya asyik memandangi omelette yang hampir matang di atas wajan.


"Sudah lapar?" tanyaku pelan. Ia mengangguk.


"Mau bantu aku gak?" tanyaku lagi. Ia mengangguk lagi.


"Siapkan mimumnya, kamu mau minum orange jus atau susu? Pilih di kulkas," titahku.


Lisa langsung berdiri, beranjak dari kursinya menuju kulkas yang ada di belakangku. Kemudian ia menanyakan padaku ingin minum apa.


"Aku minum apapun yang ada di mulut kamu." Aku sengaja mengatakan itu saat meletakkan omelette-ku pada piring yang satunya. Setelah seleaai mematikan kompornya.


Lalu berbalik dan mendapati dirinya yang mematung tak bergerak karena ucapanku. Dengan perlahan aku mendekatinya, ia memundurkan langkahnya hingga tubuhnya menempel pada pintu kulkas. Dari raut wajahnya sudah terlihat jelas jika ketakutan, matanya membulat saat semakin dekat jarak mengikis di antara kami.


Dengan kedua tangannya yang memegang sekotak susu dan satunya lagi sekotak orange juice, ia memejamkam matanya. Aku menundukkan kepalaku agar sejajar dengannya. Lalu sengaja mengembuskan napasku melalu hidungku tepat di depan wajahnya.


Lalu aku kembali menegakkan tubuhku dan membuka lemari di samping kulkas. Mengambil dua buah jelas. Lalu salah satu gelasnya ku selipkan tepat di samping pinggangnya. Bahkan dengan sengaja aku menyentuh pinggangnya itu. Kedua tangannya kini merapatkan kedua kotak minuman itu di dadanya.


Celepuk celepuk celepuk!!


Bunyi beberapa bongkah es batu yang meluncur masuk ke dalam gelas di samping pinggangnya. Membuatnya sontak terkejut lalu membuka matanya dan menoleh pada sisi pinggangnya, di mana tanganku kembali ku tarik lalu tertawa melihat tingkahnya.


"Kamu—" serunya tertahan.


"Aku cuman mau ambil es batu kok." Lalu mengambil sekotak orange jus yang ada pada genggaman tangannya.


"Iiiihh!!" decaknya dengan kesal yang menimbulkan sebuah senyuman tipis pada ujung sudut bibirku. Lalu aku segera duduk pada kursi yang sebelumnya ia tempati.


Dengan santai aku menuangkan orange juice itu perlahan dan meliriknya sekilas. Ia menatapku dengan wajahnya yang cemberut. Lalu aku juga mengatakan padanya untuk mengambilkan sendok dan garpu di dalam laci di samping kulkas. Tepat di dekatnya berdiri.


Aku melepaskan celemekku saat ia berjalan mendekatiku dan kembali duduk di kursi satunya di sebelahku. Kusodorkan satu piring omelette buatanku padanya. Lalu ia juga menyerahkan sepasang sendok dan garpu padaku.


Perlahan aku mulai memotong omelette buatanku, menyendoknya lalu memasukkannya ke mulutku. Menikmati sarapan pagi ini dengan begitu hening. Hingga akhirnya wanita di sampingku ini membuka suaranya sambil menuangkan sekotak susu tadi di gelasnya.


"Makasih udah gak ngelepasin pakaian aku," ucapnya pelan. Membuatku terkekeh selintas.


"Aku kan udah janji." Aku menjawabnya lalu sekilas menoleh padanya lalu kembali melanjutkan sarapanku.


Begitu pun dengan dirinya yang ku dengar sudah mulai menyendokkan omelette-nya. Sampai akhirnya sarapan kami selesai. Aku menelan habis sisa orange juice yang ada pada gelas minumku saat tiba-tiba Lisa menarik bajuku lalu mengatakan bahwa ia menginginkan orange juice.


"Mau orange juice-nya," liriknya dengan wajahnya yang sungguh membuatku terpesona. Dia selalu terlihat cantik di saat pagi hari.


Belum semua orange juice yang ada dalam mulutku, aku telan. Kemudian dengan cepat aku menarik lehernya lalu menempelkan bibirku pada bibirnya. Kemudian kuselipkan lidahku sambil mengalirkan sisa orange juice yang ada di dalam mulutku.

__ADS_1


Uhuuk uhuuk!!


Lisa tersedak seketika yang membuat ku sontak melepaskan bibir kami masing-masing. Aku terkekeh geli melihatnya yang tidak siap menerima sikapku. Lalu dalam tawa aku mengucapkan permohonan maafku padanya.


"Kenapa gak di tuangin lagi aja sih?" protesnya yang meraih tissu dan membersihkan mulutnya.


"Udah habis gimana? Tuh!" Aku meraih kotak orange juice itu lalu menggoyang-goyangkannya di depan wajahnya agar telinganya dapat mendengar jika memang benar dalan kotak minuman itu sudah tidak ada lagi isinya.


Kemudian aku beranjak dari dudukku pergi meninggalkannya untuk kembali masuk ke dalam kamarku.


Aku meraih sebuah benda tipis yang berada di atas meja tadi lalu menekan nomer adikku, Dana. Aku segera duduk di pinggiran ranjang. Lagi-lagi aku ingin meminta bantuannya untuk membawakan satu setel pakaian kerja untuk wanitaku.


"Hallo, di mana?" Aku menanyakan keberadaannya saat Lisa perlahan kembali masuk ke dalam kamarku ini. Lalu Lisa berdiri di hadapanku.


"Antarkan satu set pakaian kerja wanita dengan ukuran small. Iya bawahannya rok. Oke, makasih." Lalu aku memutuskan sambungan teleponnya.


"Buat aku?" lirih Lisa di hadapanku.


Aku mendongakkan wajahku untuk memandangi wajahnya. Lalu mengerjabkan mataku pelan, mungkin hampir tak terlihat olehnya.


"Aku rasa gak perlu. Aku hari ini mau bolos kerja." Lisa dengan tegas mengatakan itu lalu menghempaskan tubuhnya ke tengah ranjangku. Hingga membuat aku yang juga sedang duduk di tepi ranjang menjadi sedikit terambung dari duduk semulaku.


Lalau dengan cepat aku merubah posisi dudukku. Kemudian menyandarkan telapak tanganku untuk bersangga di dekatnya sambil menatapinya. "Kamu yakin?"


Lisa mengangguk-anggukan kepalanya, dengan kedua matanya yang menyipit lalu senyuman yang mengembang di kedua pipinya. Kemudian tiba-tiba Lisa mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya lalu menggeliatkan tubuhnya.


Sedari bangun tidur tadi ia memang sudah tidak mengenakan coat-nya lagi. Namun ia masih menggunakan dress-nya dengan sangat rapi. Bukan mini dress, melainkan dress selutut tetapi masih sangat pas di tubuhnya. Hingga dress itu dapat mencetak sempurna lekuk tubuhnya.


"Jangan menggodaku!" Kalimat itu lolos begitu saja. Terlontar dengan sungguh tegas kepadanya.


"Jika aku memang sedang menggodamu, bagaimana?" Wanita di hadapanku ini sungguh menantangku saat ini. Membuatku sulit untuk menelan saliva-ku yang kini tiba-tiba terasa pahit.


Apa lagi saat ia menghentikan gerakan tubuhnya, tetapi dalam posisi yang membuat jantungku seketika berdetak tidak karuan. Napasku serasa berhenti seketika.


"Jadilah wanitaku." Aku kembali mengucapkan kalimat itu saat ini. Saat mata kami saling menatap dalam kebekuan.


Tiba-tiba Lisa menggerakkan bibirnya, ia menggigiti bibirnya sendiri. Napasnya mulai naik turun, terlihat dari dada sintalnya yang bergerak mengikuti embusan napasnya itu.


"Jawab aku." Sekali lagi aku membuka suara memintanya untuk menjadi satu-satunya wanitaku.


Namun wanita di hadapanku ini tidak mau menjawabnya, ia malah menggerakkan tangannya meraih ujung pinggiran pakaian sweater-ku. Lalu menarik-nariknya dengan pelan.


Kembali aku mencoba untuk menelan saliva-ku yang pahit ini, akibat melihatnya yang terus saja menggodaku dengan tubuhnya. Namun kutahan dengan kuat gejolak itu, walaupun di bagian sana, bagian bawahku sudah memintaku untuk berontak.


Perlahan Lisa bangun dari ranjang, duduk tegap di depanku lalu ia benar-benar mengujiku.


"Katanya udah janji gak bakalan apa-apain aku? Masih inget 'kan?" ucapnya dengan nada suara yang benar-benar sangat manja.


Ia kembali menggigit bibirnya lalu membasahinya.


"Kamu benar-benar nakal," ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku lalu meremat rambutku. Lisa tertawa terbahak-bahak melihat aku yang seakan frustasi padanya. Menghela napasku lalu mengembuskannya. Kemudian aku berdiri, beranjak dari dudukku untuk segera mandi.


Ya, akhirnya aku lebih memilih untuk mandi dari pada harus melihat gerakan sensual yang sengaja dibuatnya untuk mengujiku pagi ini.


Sambil berjalan menuju kamar mandi, aku sempat berucap padanya, "Kalau kamu terus seperti itu, jangan salahkan aku kalau aku kembali menggila." Sambil terkekeh aku pergi meninggalkannya di atas ranjang.


Bersambung ...


—————


Terima kasih sudah terus membaca.

__ADS_1


#salambucin💋


__ADS_2