Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 12


__ADS_3

Lisa POV.


Langit sudah begitu cerah, bahkan mentari pagi sudah berhasil terlewati tanpa disadari. Aku masih saja meringkuk di bawah selimut. Hingga suara alarn jam weker-ku berbunyi.


Krrriiiiiiinggg!!!


Aku bangun dengan badan yang serasa remuk. Mirip seperti habis melakukan pelatihan masuk militer yang sungguh menguras tenaga. Sambil mengerjabkan mata berkali-kali, salah satu tanganku meraba bagian ranjang di sampingku, kosong! Segera aku membelalakkan kedua mataku lalu mendapati di sampingku memang kosong, tidak ada orang, maksudku tidak ada Max.


Spontan aku langsung meloncat untuk duduk, menyebarkan arah pandanganku siapa tahu Max sedang di kamar mandi. Dengan cepat aku berdiri menuju kamar mandi dan menemukan kondisi kosong di sana. Sambil merapatkan piyamaku yang terbuka, aku segera membuka pinti kamar, mencari keluar. Mungkin saja ia sudah bangun lebih pagi dan sedang merokok? Ya, mungkin dia sedang merokok di halaman belakang rumah.


Dengan bergegas aku segera berlari membuka pintu belakang, nihil. Aku juga berlari membuka kamar kedua orangtuaku dulu, siapa tahu ia sedang menggunakan kamar mandinya agar tidak berisik dan juga tidak membangunkanku, nyata tetap sama, dia juga tidak ada di sana. Hingga tiba-tiba ponselku berdering dengan sangat nyaring dari dalam kamar tidur.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Aku bergegas, berlari ke kamarku untuk meraih benda kecil ajaib yang harga mencapai jutaan rupiah itu. Berharap yang menghubungiku adalah orang yang aku cari-cari. Tapi begitu aku berhasil menyambar benda mahal itu, betapa kecewanya aku. Bukan Max yang menelpon, melainkan pamanku, om Reza.


Beliau mengatakan jika sedang berada dalam perjalanan menuju ke rumahku. Sebab dua hari lagi aku akan segera pergi, jadi beliau ingin mengantarkan tiket pesawat serta sebuah koper besar yang dimilikinya. Agar aku bisa lebih banyak membawa barang. Dan sisanya akan beliau kirimkan setelah aku mendapatkan sebuat flat di sana.


"Nanti sisanya biar dikirim aja, kamu bawa yang penting-penting duluan. Om juga sudah hubungin keluarga dari ibu kamu di sana. Sementara kamu tinggal dengan mereka." Begitu kira-kira ucapan om Reza.


Selepas kepergian om Reza, aku langsung membereskan pakaian dan segala macam keperluanku untuk di sana nanti. Seharian penuh aku habiskan untuk melakukan kegiatan ini. Memilih barang mana yang akan lebih dulu aku bawa dan barang mana yang akan dikirimkan nantinya. Semua sudah aku pisah dan aku persiapkan, bahkan barang-barang yang akan dikirim sudah aku kemasi juga dalam beberapa kotak.

__ADS_1


Pikiranku melayang ke mana-mana. Terutama pada kejadian tadi malam yang membuatku merasa candu. Getaran yang kurasakan pada sekujur tubuhku begitu membuatku rileks. Apalagi begitu merasakan sentuhan yang terjadi akibat gelenyar lidah yang hangat. Aku memejamkan mataku sejenak, mendongakkan kepalaku, mencoba fokus membayangkan gerakan demi gerakan yang kulakukan tadi malam.


Aku memutuskan untuk pindah ke atas ranjang dan merebahkan diriku. Memejamkan mata sambil mengelus tubuhku sendiri. Mencoba mencari rasa yang mirip dengan kegiatan tadi malam.


***


Sehari lagi berlalu. Esok malam aku sudah harus pergi dari kota ini. Bukan hanya meninggalkan kota ini tapi juga meninggalkan semua kenangan yang ada. Termasuk meninggalkan keluarga Tika. Ya, keluarga yang selama ini selalu membantuku atau bahkan sebelum aku ada, mereka sudah membantu kedua orangtuaku terlebih dahulu.


Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Rencananya, hari ini aku akan pergi ke British Embassy untuk bertemu dengan beberapa orang lainnya yang menerima beasiswa perkuliahan ke London. Walaupun ada beberapa orang yang berbeda universitas denganku setidaknya, aku ikut menghadiri acara itu untuk mengenal mereka. Siapa tahu saat di sana aku bertemu dengan mereka. Atau bahkan bisa berteman dengan mereka.


Dengan menggunakan mobil milik ayahku, aku melesat pergi ke tempat tujuanku. Sesampainya di sana tidak banyak yang aku lakukan selain mengikuti aturan yang telah disampaikan oleh salah seorang pekerja yang mengurusi kedatangan kami sejak awal. Ya, kami, bukan hanya aku, tapi banyak calon mahasiswa mauoun mahasiswi lainnya yang mendapatkan kesempatan emas ini. Aku saja tidak menyangka bisa mendapatkannya. Mungkin jika tidak seperti ini jalannya, om Reza tetap akan menyekolahkanku ke sana, sebab di sana ada beberapa keluarga ibu yang menetap.


Selesai urusanku di kantor Embassy, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Tika. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, sekalian berpamitan. Namun yang kupikirkan tidak semudah yang terjadi. Tepat di dean pagar rumahnya aku memberhentikan mobil. Menatap getir pagar besi yang menjulang kokoh membentengi rumah itu.


Sekilas aku kembali teringat akan kejadian dua malam yang lalu. Keliaranku bersama lelaki yang tidak lain adalah kakak dari sahabatku sendiri. Terkadang aku merindukannya beberapa hari terakhir, tapi terkadang aku menyesali semua itu. Sebab karena hal itu lah yang membuatku untuk berpikir ulang jika harus menginjakkan kaki lagi pada rumah yang sekarang berada di hadapanku.


Walaupun saat itu aku menikmati semua permainan yang terjadi, tetapi entah mengapa, Max tiba-tiba malah menghentikan segalanya. Ia malah lebih memilih untuk mendekapku dan meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Ada sedikit rasa bersyukur sebenarnya, sebelum kami melakukan hal yang lebih gila.


Aku dikejutkan oleh sebuah suara ketukan kaca jendela mobilku. Dan yang lebih parahnya lagi, saat aku menoleh, yang mengetuk kaca itu tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang sedari tadi melintas dalam otakku. Membuat jantungku dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Sebelum akhirnya membukakan kaca jendela itu, dengan secepat kilat aku menarik napas sebanyak-banyaknya lalu mengembuskannya dengan perlahan sambil tersenyum padanya saat kaca jendela sudah terbuka lebar.


"Ngapain di sini? Gak masuk?"


"Em, ta-di balesin wasap dulu," ucapku berbelit sambil menunjuk ponselku yang tergeletak pada kursi jok di sebelahku.


"Oh, ya udah, ayo masuk. Apa mau aku yang bawain mobilnya?" tawarnya sambil membuka pintu mobilku. Dengan cepat aku menjawabnya, "It's ok, aku aja. Bisa kok." Ucapanku membuatnya terdiam sejenak sambil menatapku, lalu ia menutup kembali pintu mobil yang sempat dibuka olehnya lalu tersenyum.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis, lalu kembali menyalakan mobil dan memasuki halaman rumahnya. Sedangkan ia berjalan di belakang. Sesekali aku meliriknya melalui kaca spion mobil, ia pun menatapku dengan matanya yang tajam. Sebelum turun dari mobil, aku sempat beberapa kali menarik napas dan mengembuskannya, mengulanginya berkali-kali. Hanya untuk menenangkan hati. Sebab itu yang Tika ajarkan padaku saat aku selalu merasa gugup dan itu berhasil.


Perlahan aku menuruni mobil dan berjalan menuju pintu depan sambil sebentar menunggu Max yang tinggal beberapa langkah lagi juga sampai ke pintu depan. Dan tanpa mengatakan apapun ia membukakan pintu untukku lalu berjalan di belakangku.

__ADS_1


"Aduh, anak tante yang satu ini ...," seru mamahnya padaku, aku tersenyum sambil memeluk beliau. "Udah lama banget gak ke sini deh. Tante kangen, gimana keadaan kamu?"


"Baik, Tante," ucapku sembari duduk di samping beliau di ruang tengah. Namun, tante Ida malah membuang muka dan menatap Max, menyuruhnya untuk segera memanggilkan Tika.


"Gak usah, Tante. Biar aku naik sendiri ke kamarnya," sahutku sebelum Max melanjutkan langkahnya lalu kembali tersenyum pada tante Ida.


"Oh ya udah kalau gitu."


Aku berjalan pelan menaiki tangga setelah berhasil melewati Max yang terdiam di posisinya bahkan aku tidak berani untuk menatapnya.


"Jadi pesawatnya jam berapa besok?" tanya Tika yang sore itu baru keluar dari kamar mandinya, setelah aku masuk ke kamarnya yang tidak dikunci.


Aku mengatakan padanya jika pesawatku berangkat pada pukul dua belas dini hari atau bertepatan pada tengah malam. Tika menawarkan untuk ikut mengantarkanku dan aku menyetujuinya.


Tak banyak yang kami lakukan saat itu hingga waktu makan malam tiba. Aku ikut makan malam bersama mereka berkat desakkan tante Ida yang tidak sanggup untuk aku tolak. Saat semua itu terjadi, aku mencoba untuk mengontrol perasaanku sekali lagi, sebab duduk semeja dan menatap seorang Max adalah kelemahanku saat ini.


Niatku yang tadinya ingin melupakan semua yang terjadi pada kami sepertinya harus aku coba sekali lagi setelah ini. Sebab melihat perlakuannya yang terlalu santai dan tidak menghiraukan keberadaanku saat ini begitu menyayat hatiku. Hingga aku harus berpikiran seperti ini.


***


Sehari lagi berlalu ...


Hari ini adalah hari terakhir ku berada di kota ini. Pagi ini sengaja aku bangun dengan begitu cepat. Bahkan saat jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, aku sudah siap dan rapi dengan menggunakan pakaian casual. Rencananya, pagi ini aku ingin mengitari kota ini seorang diri. Sekalian mencari udara segar dan sarapan.


Namun, di saat aku hendak singgah pada sebuah mini market, dari kejauhan aku melihat seseorang yang aku kenali. Dari mobilnya bahkan sampai punggungnya aku kenal. Kutepikan mobilku lalu menunggu lelaki itu berbalik untuk masuk ke dalam mobilnya. Sebab yang kulihat sekarang, ia seperti sedang menunggu seseorang.


Jantungku seketika berdegup kencang, menantikan kebenaran dari tebakkanku. Tiba-tiba seorang wanita keluar dari mini market tersebut, lalu dengan santainya mencium kedua belah pipi sang lelaki. Diakhiri dengan kecupan singkat pada masing-masing bibir. Begitu lelaki itu berbalik ... mendadak hatiku remuk melihat wajahnya yang kukenali sebagai Max!


Napasku terhenti beberapa detik hingga mereka masuk ke dalam mobil, kemudian melaju pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Sedangkan mataku, tiba-tiba meneteskan air kesedihan sekaligus rasa penyesalan telah salah memberikan hati kepada lelaki buaya darat!


Bersambung ...


__ADS_2