My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
10. Kejutan 1


__ADS_3

Drrrt … drrrt … drrrt ….


Drrrt … drrrt … drrrt ….


Drrrt … drrrt … drrrt ….


Ponsel Amelia terus bergetar meski dia tidak menyalakan alarmnya. Ponsel yang terus bergetar itu membuat Amelia tidak hanya setengah bangun, tetapi sempurna bangun. Ponsel itu tidak membiarkan mimpi menyelinap sedikit saja tanpa jeda lebih dari dua detik.


Akhirnya Amelia memaksakan dirinya untuk bangun. Selimutnya turun, membuka wajahnya yang masam. Dia menoleh ke samping, menuju ponselnya yang berada di atas laci kecil. Ponsel itu masih bergetar. Tanpa melihat nama siapa yang memanggilnya, Amelia pun mengangkat. Bisa diduga bahwa orang yang menelponnya sepanjang pagi adalah orang yang sama. Siapa pun dia, Amelia tidak akan memaafkannya.


“Aish! Aduh!” umpatnya membuka perbincangan. “Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanyanya membombardir.

__ADS_1


“Hei, Amelia! Apa kau tidak bekerja?!” tanya suara di balik sambungan telepon itu. Dia adalah Emma. Amelia mengenalinya dengan mudah. Amelia memutar bola matanya dan menghela napas. Tentang pekerjaan itu rupanya. Emma telah menghancurkan paginya hanya untuk kebodohan.


“Sudah kubilang kemarin, aku tidak akan bekerja selama tiga hari dan aku masih sakit!” tegas Amelia sebelum menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Kejadian di pesta dua hari lalu masih mengganggu Amelia. Dia menyadari kesalahannya. Karena itulah dia menyesal. Dia juga khawatir jika perempuan pemilik gaun yang dikenakannya itu mencarinya dan berniat memperpanjang masalah itu. Karena itu, dia memutuskan libur bekerja selama tiga hari dengan alasan sakit.


Selama dua hari ini Amelia tidak banyak kegiatan. Dia hanya makan dan tidur. Itu saja. Dia bahkan tidak keluar rumah. Di hari terakhir liburnya, dia pikir akan menjadi hari yang sama seperti dua hari kemarin. Tetapi Emma sudah menghancurkannya.


Rekan kerjanya itu kembali menghubunginya. Amelia pun menutupi telinga dengan bantal agar tidak mendengar getaran itu. Sayangnya, Amelia lupa jika ponselnya berada di atas ranjang, di sampingnya, bukan di atas laci. Karena itulah, meski Amelia sudah tidak mendengarnya, dia tetap merasakan getaran ponsel tersebut. Amelia pun kembali bangun untuk mengangkat panggilan itu.


“Aku masih punya hari libur satu hari lagi. Jadi, jangan terus menelponku. BERHENTILAH MENGGANGGUKU!” Amelia memutuskan panggilan itu. Kemudian mengubah pengaturan nada deringnya menjadi diam.

__ADS_1


Setelah meletakkan ponselnya ke atas laci, Amelia menyapu pandangannya ke sekitar.


Dari jendela kecilnya, dia menemukan pagi telah hilang. Rupanya ini bukan lagi pagi, tetapi sudah siang. Karena merasa tidak bisa tidur lagi, Amelia pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mandi. Sudah dua hari dia tidak mandi. Dia benar-benar bermalas-malasan selama itu.


Setelah keluar dari kamar mandi, dia menyisir rambutnya yang basah. Melihat ponselnya yang diam, Amelia menjadi penasaran pada angka yang menunjukkan panggilan tak terjawab yang didapatkannya. Ternyata tidak sebanyak yang diduganya. Hanya tiga kali dan sebuah pesan dari Emma. Amelia pun membukanya.


Emma:


Hari ini liburmu dibatalkan. Jika kau tidak datang sekarang, besok dan seterusnya kau tidak perlu datang dan teruslah kesakitan.


Seketika Amelia membelalak. Dia tidak menduga jika itulah yang akan dikatakan Emma. Dia meremehkan Emma yang telah berusaha menghubunginya sebagai pengganggu. Amelia langsung bersiap untuk bekerja sembari menghubungi Emma. Namun, Emma tidak menjawabnya. Rupanya Emma berhasil membalas dendam kepada Amelia.

__ADS_1


***


__ADS_2