My Obsessive Boyfriend

My Obsessive Boyfriend
42. Dunia Baru 3


__ADS_3

Itu benar …. Amelia merasa putus asa.


Dengan mudah Amelia tahu karena gaun yang dikenakannya menampilkan jelas belahan dadanya. Amelia langsung berbalik untuk mengambil selimutnya. Sedangkan Amelia kembali mendekati David dengan wajah kesal, David malah tidak bisa menghentikan tawanya.


“Kau bilang kau tidak pernah tidur atau berhubungan dengan perempuan lain, tapi kau tahu tentang tidur dengan mengenakan bra tidak baik untuk perempuan,” sindir Amelia. Dia mengeratkan selimut yang dikenakannya dan mulai makan.


David belum makan sejak tadi. Sekarang pun dia tidak bisa makan karena terus tertawa. Pelan-pelan, akhirnya dia bisa menghentikan tawanya.


“Kalau aku sungguh pernah berhubungan dengan perempuan lain, perempuan-perempuan itu tidak akan mengatakan kalau bra tidak baik mereka kenakan saat tidur, tetapi mereka akan mengatakan kalau bra tidak baik mereka kenakan saat mereka bersamaku.” Kemudian David tertawa kembali sampai terpingkal-pingkal.

__ADS_1


Amelia yang awalnya kesal, mulai merasa nyaman karena candaan David. Akhirnya dia meletakkan sendoknya karena ikut tertawa.


Kedua orang itu mulai bercanda tanpa menghentikan tawanya. Mereka terus melakukan itu sampai membuat David harus terlambat berangkat kerja. Meski terlambat, David masih menyempatkan waktu untuk memakan sarapannya.


Setelah David berangkat, Amelia duduk di atas sofa sembari mengingat-ingat apa yang terjadi baru saja. David telah banyak menunjukkan sisi baiknya kepada Amelia. Amelia merasa menyesal karena berburuk sangka dan selalu merendahkan laki-laki itu dulu.


Cukup lama Amelia duduk di atas sofa. Saat menyadari kalau hari sudah sangat siang, dia bergegas ke dalam kamar untuk membersihkan badannya. Usai mandi, dia tidak segera mengganti pakaian. Dia masih terkagum menatap lemari baru di kamar itu, lemari paling besar dibanding lemari-lemari lainnya. Itu adalah lemari milik Amelia.


Saat menutup pintu lemari usai mengambil sepasang pakaian, pandangan Amelia tertarik pada tas yang berada di atas meja, satu-satunya benda miliknya yang dia bawa kemari. Karena terlena dengan kemewahan, Amelia sampai melupakan itu. Kemewahan memang candu yang tidak baik bagi tubuh. Amelia berusaha menikmatinya, tetapi terlalu menikmati mungkin akan memberatkan Amelia saat roda kehidupannya kembali diputar.

__ADS_1


Amelia mendekati tas itu. Selain dompetnya, dia hanya menemukan buku kecil, pena, charge, dan ponselnya. Ponsel itu sangat kuno karena ponsel itu hanya bisa digunakan untuk berbalas pesan atau menelpon. Sepertinya Amelia harus berusaha keras untuk memikirkan segala yang dibutuhkannya.


Amelia mengisi baterai ponsel itu dan menyalakannya. Meski tidak mungkin, Amelia ingin memastikan apakah ada pesan penting untuknya. Dia menerima banyak pesan dari rekan-rekan kerjanya—maksudnya mantan rekan-rekan kerjanya. Dia mengabaikan semua pesan-pesan itu karena yakin kalau pesan-pesan itu berisi pesan tidak penting. Mereka mungkin hanya mengkhawatirkan keadaan Amelia. Amelia hanya tertarik pada satu pesan dari nomor tak dikenal. Dia pun membukanya.


Nomor Tak Di Kenal:


Aku Gerald Mario. Laki-laki yang berurusan denganmu di restoran.


Aku tidak akan mengungkit lagi masalah di restoran itu dengan satu syarat, temui aku untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting*.

__ADS_1


***


__ADS_2