
David benar-benar bahagia malam ini. Setelah meletakkan satu mawar merah di atas vas, senyumnya semakin lebar saja. Dia telah menyiapkan makan malam romantis di kamarnya. Dia yakin Amelia tidak akan menyiapkan yang seperti ini di kamarnya.
David terburu-buru menyiapkan semua itu. Akhirnya dia harus menunggu lama sampai jam tujuh malam tiba karena dia menyelesaikan persiapannya sangat cepat. Setelah jam tujuh itu tiba, David masih harus bersabar untuk menunggu kedatangan Amelia. Namun, setelah sepuluh menit pun, perempuan itu tidak datang juga. David tersenyum sinis. Dia mengira Amelia merasa malu untuk memasuki kamarnya sendirian. Tentu saja. Bagaimanapun, Amelia itu masih seorang perempuan.
David pun menyudahi masa menunggunya. Dia mengambil satu-satunya mawar di vas itu dan membawanya ke kamar Amelia. Pintu kamar itu tidak dikunci lagi. David menjadi semakin yakin kalau Amelia memang menunggunya. Jika tidak, dia tidak mungkin membiarkan David masuk semudah itu.
“Lia! Mawar merahmu datang!” kata David memberikan aba-aba kedatangan dirinya.
Setelah memasuki kamar itu, David menjadi keheranan. Kamar itu kosong. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan di kamar mandi pun tidak ada Amelia. David pun kembali ke kamarnya sendiri. Amelia juga tidak datang ke sana.
Ah, mungkin Amelia tengah menguji kesabarannya lagi. Itu biasa. Amelia sudah melakukan berulang kali.
David mampu menahan kesabarannya selama ini. Kali ini dia akan menang lagi. David pun duduk manis di kursi sembari menunggu kedatangan Amelia. Entah kejutan apa yang telah disiapkan oleh perempuan itu.
Akhirnya David menunggu. Dia terlalu asyik menunggu sembari membayangkan kejutan apa yang bisa Amelia berikan. Tanpa disadarinya, waktu malah berjalan sangat lama. Tengah malam bahkan telah tiba. Namun, Amelia datang juga. David pun tidak bisa diam saja. Dia mencari Amelia lagi di kamar perempuan itu, tetapi tidak ada. Kemudian dia mencari ke sekitar penginapan dan pantai, tetapi tidak ada juga. David yang putus asa itu pun kembali ke kamarnya sendiri. Dia berjalan dengan harapan Amelia telah berada di sana. Jika tidak, dia akan menjadi gila. Ke mana perempuan itu bisa pergi di tengah malam?
Setelah membuka pintu kamarnya, David langsung terkejut. Seorang perempuan sudah duduk di salah satu dari kursi yang telah disiapkannya. Kemudian David tersenyum lebar. Dia senang karena harapannya terkabul. Perempuan itu adalah Amelia yang duduk dengan mengenakan gaun pendek berwarna merah. Itu benar-benar Amelia. Perempuan itu tersenyum dengan mengangkat tangan kanannya.
Ingin sekali David memeluk Amelia sekarang juga. Namun, dia malah berjalan pelan-pelan. Amelia telah mengujinya. David tidak akan kalah. David malah menunjukkan betapa kerennya dirinya.
“Kenapa kau baru datang? Bukankah kita berjanji untuk bertemu jam tujuh nanti? Kau sudah melanggar janji. Bukankah kau tidak menyukai orang yang melanggar janji, bahkan jika itu dirimu?” tanya David setelah dirinya duduk.
“Maafkan aku. Aku punya urusan sebentar. Kau pasti lama menungguku?”
__ADS_1
Tentu saja. Anak kecil pun tahu itu. Dari jam tujuh malam sampai dua belas malam. Hanya orang meninggal yang tidak tahu betapa lamanya itu.
“Tentu saja tidak,” bohong David. “Apa kau tidak melihat kalau aku datang dari luar?” David menunjuk pintu keluar. “Aku hanya sepuluh menit menunggumu. Karena kau tidak datang, jadi aku berjalan-jalan di luar.”
Amelia menahan tawanya karena geli. Siapapun tahu kalau itu hanya kebohongan belaka.
“Benarkah?” tanya Amelia.
“Tentu saja.”
Hampir saja David mempersilakan Amelia memakan makanan yang telah disiapkannya. Namun, sepertinya makanan itu sudah tidak layak untuk dimakan. Makanan itu sudah didiamkan terlalu lama di udara terbuka. Akhirnya David menawarkan tangannya. Dia mengajak Amelia menari bersamanya.
Untuk waktu yang lama, kedua orang itu bergerak ke sana kemari, menari. Berbicara tanpa menggunakan mulutnya, melainkan senyum dan tatapan mata. Sungguh, David merasa tidak ada yang lebih beruntung darinya malam ini.
“Tunggu, David,” tahan Amelia. Dia langsung membuang muka saat David hampir menyentuh bibirnya.
“Ada sesuatu penting yang harus kukatakan kepadamu,” tambah Amelia.
“Kau sudah cukup lama menguji kesabaranku. Memangnya sesuatu penting apa yang bisa dikatakan di malam yang sepenting ini bagi kita? Jika itu benar ada, kita harus membicarakannya besok.”
David mendorong wajah Amelia agar menatapnya. Kemudian dia kembali bersiap mencium Amelia.
“Ini tentang ibumu!”
__ADS_1
Akhirnya David menghentikan gerakannya. Itu benar-benar sesuatu penting yang harus dikatakan sekarang juga. David pun bangun dan membiarkan Amelia turut bangun.
“Aku sudah bertemu ibumu,” kata Amelia jujur.
“Apa?! Kapan?! Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?!”
“Itu tidak penting untuk sekarang.”
“Apa maksudmu?”
Tiba-tiba Amelia bangun. David menjadi keheranan akan apa yang akan perempuan itu lakukan.
“Aku kemari bukan untuk menikmati malam romantis bersamamu. Ibumu mengancamku untuk pergi dari kehidupanmu.”
“Tapi-tapi kau tidak akan pergi kan? Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku selamanya.”
“Kalau aku tidak pergi, ibumu akan membunuhku. Aku masih lebih mencintai nyawaku dibandingkan dirimu.”
Amelia langsung berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
“Tidak! Kau tidak bisa pergi!” David langsung bangun dan bergegas cepat mengejar Amelia. Saat dia berhasil memeluk perempuan itu, David merasa senang. Namun, dia mulai menyadari kalau dia tidak merasakan apa pun dipelukannya. Saat dia membuka mata, rupanya tidak ada apa pun di dalam pelukannya selain angin. Amelia tidak ada di sana. David telah gagal memeluk Amelia. David mulai berputar untuk mencari Amelia di sekelilingnya. Namun, perempuan itu tidak ada, bahkan bayangannya. David menjadi panik. Dia bingung harus mencari Amelia di mana. Saat dia akan melangkahkan kakinya, kakinya malah terpaku di tempat. Dia tidak bisa bergerak. David menjadi semakin kebingungan. Dia tidak menemukan cara untuk menemukan Amelia. Akhirnya, dalam keputus asaannya itu, David mulai berteriak, “Amelia!” David berteriak berkali-kali. Namun, tidak ada siapapun yang menyahuti teriakannya. Dia pun terus berteriak. Sampai akhirnya—
“Amelia ….” David membuka kelopak matanya dan langsung mengangkat kepalanya. Rupanya dia masih duduk di atas kursi yang telah disiapkannya kemarin malam.
__ADS_1
***