
“Apa maksudmu?” tanya Rico.
“Maksudku … bisakah kamu melepaskan David? Dia tidak tahu apa pun tentang rencana-rencana Mula hingga kematian kakakku," jelas Amelia.
“Maksudmu, kamu akan menukar dirimu demi David?” Rico menghela napasnya. “Sungguh ide yang payah,” ejeknya.
“Bukan menukar, ini memang kesalahanku. Karena akulah kakakku yang tidak tahu apa pun terlibat dalam masalahku,” dalih Amelia.
“Lalu bagaimana dengan David yang terus mengejarmu?” tanya Rico mengingatkan Amelia pada kemarahan awalnya.
“Dia jatuh cinta padaku. Apa yang salah dari cinta? Kesalahannya hanya satu: memiliki ibu seperti Mula.”
“Jadi kamu sungguh jatuh cinta pada David? Bukankah kamu bilang kalau kamu tidak akan jatuh cinta lagi kepada David?” Rico juga mengingatkan Amelia pada tekadnya.
“Mau bagaimana lagi, cinta bukan datang karena aku ingin.” Itu dalah pengakuan.
“Kamu tidak mungkin lupa kan, dengan apa yang selalu kubilang: kalau kamu mengabaikan kematian kakakmu, aku yang akan mengingatkanmu.” Akhirnya Rico mengingatkan ancaman yang selalu dikatakannya.
“Aku tidak tahu bagaimana kamu akan mengingatkanku pada kakakku, tetapi percayalah aku tidak pernah melupakannya apalagi mengabaikannya," balas Amelia.
“Kalau kamu memang tidak mengabaikan kakakmu, kamu tidak akan memohon untuk David. Cinta David adalah sumber dalam masalah ini. Seharusnya dia tidak mengejarmu saat kamu pergi. Lagipula dia tidak bisa melindungimu. Dia bahkan tidak melakukan apa pun atau mencari tahu tentang kematianmu. Lihatlah dirimu! David meninggalkanmu hanya karena kematian Mula. Sedangkan kematianmu terabaikan,” kata Rico memperpanas suasana.
__ADS_1
“Itulah manusia: mereka lebih mencintai diri mereka lebih dari pada orang lain," timpal Amelia.
“Lalu kamu harus disebut apa? Malaikat?” sindir Rico.
“Aku juga manusia. Aku memohon padamu bukan karena aku lebih mencintai David dibandingkan diriku sendiri, tapi aku lebih takut harus hidup tenang dalam kebencian David," balas Amelia.
“Aku memang harus mengingatkanmu pada kakakmu!” tegas Rico.
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan?” tanya Amelia.
“Apa yang akan kulakukan? Tentu saja mengakhiri semua ini. Bukankah itu juga yang kamu inginkan?”
“Tentu saja. Lagipula dendam akan berakhir seperti yang kuinginkan," jawab Rico.
Senyum Amelia menurun digantikan kerutan dahi. “Apa maksudmu? Bukankah kamu bilang akan melepaskan David?”
“Iya. Aku memang melepaskan David, tapi aku tidak akan melepaskannya dari luka di hatinya," jawab Rico.
Seketika Amelia terbangun. Lalu berdiri di depan meja kerja Rico. “A-apa maksudmu itu?!” protesnya.
Tiba-tiba Rico menarik Amelia dan membawanya ke mobil di dalam parkir. Kemudian mobil itu melaju jauh ke sebuah tempat sepi. Mobil itu berhenti tepat di atas jurang—jurang kematian. Itu adalah tempat di mana Sofia mengembuskan napas terakhirnya. Amelia pernah ke sana sekali bersama Rico setelah memalsukan kematiannya.
__ADS_1
“Inilah yang disebut mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi,” kata Rico.
Jurang itu sangat tinggi. Sebelumnya Amelia tidak ketakutan melihatnya karena bola matanya telah tertutup amarah. Kini berbeda: dia menoleh ke Rico dengan ketakutan. Entah apa yang akan Rico lakukan di sini. Laki-laki itu bisa melakukan apa pun, seperti membunuh Amelia atau membunuh dirinya sendiri. Rico berbeda dengan David yang kerap menjadi tong sampah nyaring bunyinya.
“A-apa yang akan kita lakukan di sini, Rico?” tanya Amelia cemas.
Setelah berjam-jam, akhirnya Rico tersenyum—menyeringai.
“Bukannya sudah kubilang, aku akan mengingatkanmu dengan kematian kakakmu.”
“Apa maksudmu itu?!” seru Amelia.
Amelia tidak bisa diam saja dalam ketidakpastian. Dia pun menoleh ke samping untuk membuka pintu mobil. Namun, pintu itu terkunci. Tiba-tiba Rico menarik tubuhnya sehingga terpaksa menghadap ke laki-laki itu.
“Mengingatkanmu pada apa yang kakakmu rasakan: tersiksa dalam ketakutan, mati dalam kesepian, dan hangus terbakar sampai tidak ada siapapun yang berhasil mengenalinya.”
“Ri-Ri-Rico ….”
Bukan David, tetapi Ricolah yang gila karena cintanya.
***
__ADS_1