
“Om,” panggil David sesampainya di sana. Rupanya Dagel benar-benar di sana. Pamannya itu memang pekerja keras.
“Ada apa, David? Kenapa kamu tidak memanggilku saja dan malah datang kemari?” tanya Dagel heran. Apalagi melihat wajah David yang berbeda.
“Siapa sebenarnya Sofia?” tanya David.
“A-apa maksudmu? Bukankah Sofia istrinya Rico?” Dagel bersikap bodoh.
“Jawab sejujurnya, Om!” sentak David. “Aku sudah tahu kalau yang bersama Rico adalah Amelia, Liaku. Lalu di mana Sofia? Apa mama yang membunuhnya?”
Rupanya tidak ada kebenaran yang bisa Dagel sembunyikan. David sudah tahu segalanya. Entah apa yang terjadi setelah kematian Mula. Semua menjadi semakin kacau.
“Kakak tidak pernah membunuh Sofia,” jawab Dagel jujur.
David langsung menggebrak meja. Brak! “Mama sudah tidak ada, Om. Jadi tidak ada gunanya membelanya lagi!”
__ADS_1
“Memang bukan kakak yang membunuh Sofia!” tegas Dagel. “Tapi aku ….”
David terperangah. Biasanya apa yang Dagel lakukan adalah perintah Mula.
“Saat kamu tiba di Indonesia untuk mencari Amelia, sebenarnya kakak menyuruhku untuk melenyapkan Amelia lebih dulu. Tapi aku malah salah membunuh Sofia. Sofia adalah satu-satunya keluarga yang Amelia miliki. Amelia datang ke Indonesia untuk tinggal bersamanya.”
“Om … bagaimana kamu bisa melakukan itu?!” geram David. Dia benar-benar putus asa.
Dagel segera keluar dari kawasan meja kerjanya. Dia berdiri di samping David. Lalu bersimpuh di atas lantai. Pandangannya menunduk karena tidak berani menatap David yang berapi-api.
“Ma-maafkan aku.” Dagel menyesal.
“A-aku akan meminta maaf kepada mereka juga.”
“Tidak perlu. Lagipula mereka sudah bersama di surga sana.”
__ADS_1
“A-apa maksudmu?” Dagel keheranan
“Di mana Om membunuh Sofia?” David malah menggantikan topiknya.
“Kenapa tiba-tiba ….”
“Apa Om masih tidak punya malu untuk menanyakan itu?!” sentak David.
“Aku menyuruh anak buahku membunuhnya di tempat sepi. Mereka membunuh Sofia di hutan yang berada di dekat sebuah desa. Aku tidak tahu bagaimana mereka membunuhnya. Bahkan aku baru tahu kalau Sofialah yang meninggal di sana," sahut Dagel.
Setelah mendengarnya, David berbalik untuk bergegas pergi ke sana. Namun, Dagel menahannya dengan pertanyaanm, “Ke-ke mana kamu akan pergi?”
David berbalik lagi mengarah ke Dagel. “Jangan pikirkan aku!” David mengarahkan telunjuknya kepada Dagel. “Pikirkan Om sendiri! Sesali kejahatan-kejahatan yang telah Om lakukan untuk mama. Jangan lupa untuk mampir ke kantor polisi selama beberapa tahun. Kalau tidak, kedua anakmu bahkan tidak akan bisa bersekolah dengan nyaman,” ancam David.
“Da-David ….” Dagel berusaha menahan David lagi, tetapi David sudah pergi. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya lagi. Apalagi jika kedua anaknya yang masih kecil itu disangkut-pautkan.
__ADS_1
Dengan keadaannya sekarang, David tidak bisa mengendarai mobilnya sendiri. Dia pun memanggil sopir untuk mengantarnya ke hutan itu. Cukup lama dia berkeliling di sana. Dia menjadi resah. Dia berharap bisa segera menemukan Amelia, tetapi bukan dalam keadaan tak bernyawa. Sayangnya harapan hanyalah harapan. Dari atas jurang, David melihat bangkai mobil yang sudah terbakar di bawah sana. Plat mobil itu persis dengan plat mobil Rico. Apakah ini yang Rico maksudkan?
David tidak berpikir panjang. Dia berniat mendarat ke dalam jurang itu begitu saja. Memikirkan keadaan Amelia di sana membuatnya menjadi gila.