
Bismillah. Semoga bisa update setiap hari.
Mohon dukungannya. Tiba-tiba saja, mood nulisku buat My Obsessive Boyfriend ini meningkat.
Cuz ….
z z z z z z
Setelah dua jam menanti, akhirnya mobil hitam yang dinanti datang memasuki pintu gerbang raksasa kediaman keluarga Bintara. Mobil itu begitu mewah, berkilau tertimpa terik mentari. Melesat cepat menggoyangkan dedaunan di sekitar.
Mobil itu berhenti, dalam jarak sepuluh meter di depan David dan Sofia. Seorang pangeran dengan tampilan elegan keluar dari pintu mobil yang dibuka oleh pengawal. Laki-laki itu berjalan gagah sampai di depan David dan Sofia. Kemudian menundukkan kepala sembari memberikan penghormatan.
“Aku pulang, Ma,” katanya. Kemudian menurunkan sedikit dari kacamata hitamnya untuk melirik laki-laki tinggi di samping Sofia. “… Ayah.” Kali ini, suara Dodik terdengar lebih lirih. Sejujurnya, ia masih tidak nyaman dengan penyebutan itu.
Sofia menyadari kecanggungan ini. Ia langsung mengunci Dodik dalam pelukannya untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
“Ayo masuk,” katanya mengajak Dodik.
Mereka berdua pun berjalan beriringan, sedangkan David mengekori di belakang. Setelan jas hitamnya membuatnya tak jauh berbeda dengan para pengawal.
Sofia menunjukkan beberapa setelan tuksedo kepada Dodik. Laki-laki itu harus memilih satu saja untuk dikenakan saat mengunjungi pesta nanti malam. Hari ini bertepatan dengan di mana Dodik menginjakkan kakinya pada usia dua puluh lima. Ternyata, waktu yang berjalan lambat, telah bergulir sangat jauh sejak hari-hari kelam di masa lalu.
David pernah berjanji kepada Sofia, akan mengungkapkan kenaran tentang orang tua Dodik saat anak itu berumur 25 tahun. Anak itu baru kembali. David pun tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi. Di saat anak itu berulang tahun, ia mengungkapkan kebenarannya. Sebenarnya, Sofia sempat melarang. Ia mengkhawatirkan perasaan Dodik. Namun, David tetap bersikukuh.
Usai pesta perayaan ulang tahun ke-25 tahun Dodik yang digelar dengan begitu megahnya, David dan Sofia, menyuruh Dodik untuk berkumpul di ruang kerja di rumah. David meletakkan sebuah amplop besar di atas meja. Dodik mengambilnya dengan keheranan. “Apa ini?” tanyanya sembari membuka amplop itu.
“Hasil tes DNA,” jawab David terus terang.
“Seperti yang dijelaskan di sana.” David mengarahkan tangannya ke hasil tes DNA itu.
“Kalau aku adalah anak kandungmu?” Dodik menertawai surat itu. “Bagaimana mungkin, sedangkan papa yang bersamaku sejak kecil adalah Rico, bukan kamu.”
__ADS_1
“Papa yang merawatmu sejak kecil memang Rico, tapi kamu adalah anakku!” tegas David.
“Sekarang kamu bilang kalau papa yang merawatku sejak kecil bukanlah papaku, sedangkan kamu yang baru datang dalam hidupku adalah papa kandungku. Mamaku juga merawatku sejak kecil. Apa kamu juga akan bilang kalau perempuan di depanku bukan mamaku dan mamaku ternyata orang lain?” ejek Dodik.
- o O o - h
o
o
o
Terima kasih banget buat kalian yang setia nunggu cerita ini, apalagi sampai mau tinggalin jempol, komen, ama poin ....
Kalian benar-benar berharga bagiku 😘😘😘
__ADS_1
Kapan-kapan baca ceritaku yang lain, kuy! Kebetulan ceritaku udah numpuk di MT. dan buat kalian yang punya aku WP, mampirlah ke akunku @penggemarfanatik
Terima kasih 🤗🤗